Day 4 & 5: Tokyo, an Affair with Unexpected Things

Dari awal bikin itinerary, sejujurnya saya tidak terlalu tertarik untuk pergi ke Tokyo. Hanya saja, rasanya sayang kalau sudah sampai Jepang tapi belum berkunjung ke ibukota-nya. Jadi, 2 hari terakhir kami habiskan di Tokyo dengan pertimbangan akan jadi hari berbelanja *big grin hehe


Dari Kyoto kami naik Shinkansen jam 6.14am, tiba di Tokyo jam 8.30am. Dari stasiun Tokyo, kami masih akan naik kereta ke Shinjuku, kemudian ganti kereta lagi yang mengarah ke Yoyogi Hachiman yang merupakan stasiun terdekat dengan penginapan. Tips: tiket Shinkansen-nya masih bisa digunakan untuk dari Stasiun Tokyo ke stasiun Shinjuku. Hal yang sama juga berlaku dengan tiket Narita Express (Narita Airport – Yokohama) masih berlaku digunakan saat ganti kereta di stasiun Yokohama ke stasiun Sakuragi-cho.

Karena ini adalah last minute reservation, saya sudah pasrah sih dapat tempat menginapnya seperti apa. Di website airbnb cuma ada 1 foto, yaitu kamar (tempat tidur dengan drawer merah di sampingnya). Saya cuma mempertimbangkan, harganya murah (sekitar 500rb/malam dan dekat stasiun).

Kami janjian jam 9.30am dengan host airbnb untuk drop barang baru rencananya akan jalan-jalan. Host kali ini adalah keluarga muda, dengan bayi, anjing jenis corgy, dan kelinci. Rame ya hihi. Nah, karena mereka tinggal di apartemen, saya udah pasrah kalau perlu angkat koper ke lantai berapa (udah gak kepikiran buat lihat detailsnya pas bikin reservasi). Di Jepang normal untuk apartemen 5 lantai tidak pake lift. Puji syukur mereka tinggal di lantai 1 *sujud syukur hahaha.

Kamarnya homey banget, ada welcoming snack dan air mineral 2 botol, flat TV yang lumayan besar, dan colokan serba guna *tepuk tangan berasa kayak di hotel*. Letak kamar kita di dekat pintu masuk dan berdekatan dengan bath room / toilet, jadi selain privasi juga enggak repot kalau butuh bolak-balik ke toilet dan pergi/masuk rumah. Host yang menyambut kita adalah isteri dan anak perempuannya (suaminya lagi kerja). Dia sampai jemput kita di stasiun karena kuatir kita nyasar haha (padahal dua host sebelumnya cukup memberi petunjuk arah). Selain ramah, dia juga senang cerita dengan bahasa inggris yang cukup lancar dicampur bahasa Jepang. Terkadang dia ngobrol dengan suami saya pakai bahasa Jepang, dan mereka lupa menterjemahkannya. Zzzzz. Rencananya kita mau drop koper saja karena jam check in jam 3 sore tapi malah sekalian istirahat sebentar di kamar untuk bikin ulang itinerary.


 

1st stop: Harajuku & Meiji Shrine

Letak penginapan kita itu dekat dengan Harajuku ternyata. Yeay! Host-nya bilang masih walking distance tapi karena kita udah jompo banget kakinya, kita memilih untuk naik subway metro (sekalian beli 1 day pass. Bisa dipake selama 24 jam, bukan hitungan per-hari/tanggal). Jaraknya pun cuma 1 stasiun.

Kita niat banget hari ini mau makan ramen. Kepengen nyobain Ippudo yang heits juga di Indonesia. Ternyata dari google maps, Ippudo terdekat di daerah Ebisu padahal kita terlanjur keluar stasiun di Harajuku *salah lihat info pas googling sebelumnya. Karena udah lapar dan cranky, akhirnya kita memilih ramen terdekat yang masih daerah Harajuku, yaitu Ichiran. Ulalaa… pilihan yang tidak terduga ini ternyata bikin kita menyesal banget. Rasanya semua ramen yang pernah kita makan lewat deh saking enaknya. Untuk pertama kalinya, saya dan suami makan ramen sampai kuahnya pun habis. Ichiran hanya menyajikan 1 jenis ramen, yang nantinya bisa kita pilih tambahan topping, jenis mie (lurus, keriting) & tingkat kelembutannya, dan side dish lainnya (pudding, etc). Dan mereka jual ramen yang bisa dimasak sendiri di rumah. Wuwuu… tentunya kita beli hahaha.


Setelah makan siang, kita baru jalan-jalan lagi ke area pertokoan. Baru masuk beberapa toko, saya sudah cranky lagi hahaha. Determinasi saya untuk jalan kaki jauh dengan jari kaki lecet, lutut mau copot, betis pegel ternyata hanya berlaku di wisata alam, budaya, dan kuliner. Masuk area belanja rasanya pengen cepat-cepat keluar lagi. Padahal suami senang banget keluar masuk toko. Seingat saya, kami hanya bertahan masuk 2 toko (ABC dan H&M). Melihat saya udah misuh-misuh tidak sabaran, suami mengalah dan mengajak untuk pergi ke Meiji Shrine (masih satu area dengan Harajuku). Beneran semangat 45 jalan lagi padahal jarak dari gerbang depan sampai ke dalam lumayan jauh.


Untuk melihat shrine-nya tidak perlu bayar, tapi kalau mau merasakan pengalaman para kaisar Jepang menghabiskan waktu berwisata di taman bunga (bunganya berganti sesuai musim pula), melihat danau dengan water lily, dan salah satu sumur bersejarah, ada area tur-nya yang berbayar ¥500 / orang. Menurut petugas, waktu yang dibutuhkan jalan kaki sekitar 20-30 menit. Kita memutuskan tidak ikut akhirnya. Entah kenapa, ini mengingatkan akan Kebun Raya Bogor.

 

2nd stop: Asakusa – shopping

Suami niat banget untuk agenda itinerary ini (tadinya mau ke Ginza dan Akihabara juga). Kali ini giliran saya yang mengalah, ngekorin suami belanja hahaha. Dari Harajuku, kami naik kereta metro subway menuju Asakusa. Nah, keluar dari stasiun, tepatnya masih di dalam area stasiun, kita sudah disambut berbagai toko. Mental ibu-ibu langsung sumringah lihat aneka hasil tani berjajar segar-segar dan besar. Keluar stasiun terhampar lah pemandangan yang membahagiakan suami. Jajaran toko-toko dan ada 1 jalan khusus untuk tempat berbagai penjual makanan (seperti china town). Dan itu rameee banget.

Pencarian pertama kami ke toko Magazine (btw, tokonya sama sekali tidak menjual majalah hehe) yang merupakan supplier resmi tas Anello (ada yang titip beliin tas merk ini). Ternyata saya juga suka dengan model tas ranselnya, resleting-nya dikasih tambahan rangka dalam jadi bentuknya firm saat di kancing.  Ini menjadi barang pertama yang saya beli sebagai oleh-oleh untuk diri sendiri. Dan, nantinya berguna banget untuk tempat oleh-oleh karena 2 koper kita + 1 tas jinjing besar ternyata tidak muat dengan berbagai macam pesanan dan oleh-oleh yang dibeli hahaha.

Pas lagi cari sepatu (titipan lagi), kita menemukan sepatu ASIC untuk laki-laki warna cokelat diskon 50%. Wuwuuw… suami senang banget karena pas dengan ukuran kakinya. Sepatu titipan malah enggak ketemu dicari sampai bandara *sigh. Setelahnya karena hujan cukup deras, kita mampir di restoran yang menunya seperti yoshinoya. Ada porsi mini jadi lumayan bisa berteduh sekalian menghangatkan badan dan perut enggak terlalu merasa bersalah hehe.

Setelah hujan tinggal gerimis, kita lanjut belanja ke Don-Q untuk beli oleh-oleh makanan dan lainnya. Ini semacam supermarket++, 5 lantai dengan berbagai macam barang ada (makanan, elektronik, sampai hal-hal untuk 18+). Nah, kalau belanjaan lebih dari ¥5.000, bisa klaim untuk tax free. Kita masuk dari sinar matahari masih ada, keluar udah gelap hahaha. Habis belanja lapar lagi dong ya hahaha. Sekalian mengarah ke subway, kita ketemu restoran yang menyajikan curry. TIPS: untuk porsi standar ternyata nasinya banyak banget + chicken katsu-nya juga dalam potongan besar. Saya setengahnya saja enggak habis. Nah, sebetulnya ada pamphlet di meja yang menjelaskan kalau nasinya bisa dikurangi, lumayan bisa menghemat dan biar tidak mubazir.


 

Last day in Japan

3rd stop: Shinjuku Shrine

Hari terakhir di Tokyo, kita sesantai mungkin. Bangun pagi, saya dan suami gantian mandi sekalian packing. Setelah beres tinggal diangkut baru kita pergi cari sarapan di convenience store. Btw, ternyata host kita bangun lebih siang. Kita pergi sarapan mereka belum ada tanda-tanda beraktivitas.

Di dekat penginapan, ada kuil yang usianya 8000 tahun (sayangnya saya lupa namanya). Jadi kita sekalian mampir dan lihat, penduduk lokal pagi-pagi berdoa di kuil. It was truly a peaceful morning. Yang menariknya lagi, saat mau berdoa, mereka akan minum air dari sumur, kemudian memutari gerbang bundar yang terbuat dari entah daun atau tanaman apa sebanyak 3x. Suasananya damai dan tenang banget. Tidak ada yang mengobrol. Semua orang melakukan kegiatannya dalam diam. Yang datang berdoa juga macam-macam, dari pekerja kantoran sampai yang masih pake baju lari.


Kembali ke penginapan, host kita sudah sibuk di area ruang tengah. Kita akhirnya berkenalan dengan suaminya. Suaminya bekerja untuk perusahaan otomotif Jerman dan sangat fluent berbahasa inggris. Setelah pamitan dengan host, kita memutuskan naik bus ke Shibuya. Jarak jalan kakinya lebih dekat ke halte bus daripada ke halte subway, selain itu kita juga tidak perlu naik/turun tangga. Sampai di Shibuya, koper kita simpan di loker, baru lanjut lagi jalan-jalan.

 

4th Stop: Shibuya ramble and Hachiko Statue

Agenda kali ini dipersembahkan oleh kegiatan mainstream para turis ke Tokyo yaitu bikin postingan di Shibuya ramble dan lihat patung Hachiko. Karena masih pagi, area pertokoannya banyak yang belum buka dan orang-orang yang jalan di Shibuya ramble juga tidak terlalu ramai. Pas lihat patung Hachiko, saya sebetulnya lumayan sedih karena mengingatkan saya dengan Kenji, anjing kami di rumah.

Sebelum menuju Ebisu untuk makan siang di Ippudo, kami beli tumbler starbuck. Pokoknya, jalan-jalan ala turis mainstream lah.

5th Stop: Ippudo, Ebisu

Daerah Ebisu sedikit lebih ramai daripada Shinjuku, ada mal kecil tapi cantik dan modern. Ini buat pertimbangan kalau next time memutuskan memilih area penginapan. Di stasiunnya juga banyak toko-toko dan tempat duduk kayu dengan tanaman bunga. Jadi areanya memang cantik. Letak Ramen Ippudo-nya masih walking distance dari stasiun. Kami sampai stasiun Ebisu sekitar jam 10, jadi saya sempat melihat isi mal-nya sementara suami menunggu di kursi stasiun ditemani bunga hehe.

Sepertinya, Ippudo ini banyak dikunjungi oleh turis atau non-Japanese, karena di depan restoran pun sudah ada nama Ippudo dalam huruf alfabet dan menunya pun sudah tersedia yang bahasa inggris. Yang bikin happy, di meja sudah tersedia toge (yang sudah dibumbui seperti kimci), jahe merah, dan satu lagi entah apa hehe. Jadi bisa puas-puasin tuh makan toge hahaha. Dari segi rasa, menurut saya lebih enak ramen Ichiran. Ramen disini rasanya mirip dengan ramen di Indonesia.

 

6th stop: Narita Terminal 2 Airport

Karena ini hari sabtu, host kami menyarankan untuk naik kereta ke airport. Kalau naik bus, takutnya lebih macet. Dari Ebisu kami kembali ke Shibuya untuk ambil koper. Tadinya saya pikir kami perlu ke Tokyo untuk naik kereta ke Narita karena Narita Express tidak berhenti di semua stasiun. Ternyata, Narita Express berhenti di Stasiun Shibuya, yeay! Kami kecepatan tiba di peron keberangkatan sekitar 30 menit. Ya maklum karena bawa tentengan banyak dan jarak dari pintu depan ke peron lumayan jauh, kami sengaja berangkat lebih awal.

Untuk kereta Narita Express, di tiketnya tercantum jam keberangkatan dan nomer tempat duduk (sistemnya hanya reserved seat). Sebelum jam keberangkatan kereta kita, ada kereta lainnya dan berhenti cukup lama (lebih dari 2 menit), jadi suami sempat nanya petugas/masinis kereta apakah boleh kita naik kereta tersebut walaupun tidak sesuai tiket kita. Ternyata boleh, yeay. Mungkin karena yang naik kereta tidak terlalu ramai. Jadinya kita duduk di kursi paling belakang (tidak sesuai no tempat duduk) dan berharap tidak ada yang memesan kursi tersebut, biar kita tidak repot pindah. TIPS: koper bisa ditaruh di area koper (cukup luas, dan 2 tingkat) di dekat pintu. Kalau koper kecil bisa ditaruh di depan kaki kita karena area untuk kaki lumayan luas.


Sampai di airport, setelah check in, tentunya suami heboh buat keliling lagi. Saya sampai ditinggal duduk sendirian (2x) untuk dia jalan-jalan sendiri. Buat yang tidak sempat belanja, jangan kuatir hehe. Di bandara masih banyak toko yang menjual berbagai makanan oleh-oleh, parfum, elektronik, sepatu, dll.

Pas ditinggal sendiri yang kedua kali inilah terjadi insiden hampir ketinggalan pesawat. Saya sudah ingetin suami kalau boarding time jam 5.50pm. Dia dengan pede-nya bilang masih lama. Padahal udah jam 5. Yaudah saya biarin dia pergi keliling lagi. Eh, ternyata sampai jam 5.45pm orangnya belum balik, saya panik dong. Padahal jarak antara meeting point kami ke gerbang boarding masih lumayan jauh. Ditelepon beberapa kali juga enggak diangkat. Saya lumayan panik dan kesal bukan main.

Akhirnya saya memutuskan untuk jalan duluan ke gerbang keberangkatan dengan membawa ransel saya yang berat + ransel suami yang berat juga. Makin kesal kan hahaha. Sambil jalan, saya bolak balik lihat ke belakang. Suami akhirnya muncul dari belakang jam 5.50pm. Saya memutuskan untuk menyimpan sesi ngomel belakangan karena kami berdua harus segera lari ke gerbang keberangkatan. Ugh, enggak cuma betis yang berasa ketarik, syaraf di betis sampai kepala pun berasa ketarik. Puji syukur, boarding time-nya delay sampai jam 6pm. Mau nangis rasanya lihat antrian di gate keberangkatan masih rame.

Saat duduk di pesawat, saya masih bisa mengingat semua rasa cape selama 6 hari perjalanan liburan kami. Fisik dan mental sejujurnya capek banget. Tapi, di dalam hati rasanya semangat banget untuk mengulang liburan lagi ke Jepang (amin!). Kalau dipikir lagi, perjalanan ke Jepang kali ini seperti survey untuk perencanaan liburan yang lebih matang berikutnya *amiiinnn lagi. Setidaknya, sudah 4 kota yang mulai dikenal ya kan hehe. Mudah-mudahan diberi umur panjang dan rejeki untuk kembali lagi. Aminnnn.

Hal-Hal Kecil Dalam Keuangan

Suami saya jelas bukan tipe sport-man. Jadi, wajar kalau kerutan khas umur 30an makin jelas di wajah saya saat suatu malam dia kirim gambar via whatsapp sedang olahraga. Olahraganya setelah pulang kerja saat matahari masih bersinar lagi (biasanya laporan jam segitu enggak jauh-jauh dari kata L.E.M.B.U.R). Enggak tanggung-tanggung, olahraga yang dipilih golf! Bhaaayyy budget beli SK II! *isteri kalah nego budget awal tahun*

2017-01-19-photo-00003348

gaya pisannn euyy ;p *suami yang pake celana hitam*

Sejak menjadi ibu rumah tangga full time, otomatis perencanaan keuangan saya tergantung 100% pada suami. Sebagai isteri yang baik #ihiy saya yang memang kebanyakan waktu luang menyiapkan laporan keuangan sebagai bukti pertanggungjawaban apa saja pos-pos budget per-bulannya. Dulu saking rajinnya buatnya dalam format excel, lengkap dengan rincian pengeluaran harian (belanja sayur ke warung depan rumah saja dicatat). Sekarang, yang dicatat rincian yang nominalnya cukup besar dan khususnya yang menggunakan kartu kredit.

Nah, mulai tahun 2017 ini saya meniatkan diri untuk selalu membayar lunas [beneran] tagihan kartu kredit. Dari saya masih bekerja dulu, saya sudah memutuskan hanya menggunakan 1 kartu kredit saja. Walau godaan promo merchant sering gantian antar bank, tokh sebetulnya 1 kartu saja cukup dan ini terbukti mengurangi kepusingan saat membayar tagihan. Lagian suami memakai kartu kredit bank berbeda jadi kadang saya pinjam kartunya kalau ada promo yang lumayan menguntungkan. Ehm, seringnya sih jadi modus buat dibayarin suami hahaha *salim suami*

Bank penerbit kartu kredit saya hanya menagihkan transaksi per-setengah bulan berlalu dan berlangsung. Sebagai contoh, tagihan yang keluar di bulan Februari merupakan transaksi dari pertengahan bulan Januari s/d pertengahan bulan Februari. Nah, karena tanggal jatuh tempo pembayaran jatuhnya di awal bulan depan (dalam contoh ini berarti awal Maret), saya melakukan pembayaran ya mepet jatuh tempo juga *deadliner sejati*.

Hal ini sebetulnya sangat sederhana dan mendasar. Walaupun saya membayar sesuai angka yang tertera di halaman tagihan, sebetulnya ada transaksi selama setengah bulan yang belum dicatat dan dibayar. Padahal belanja akhir bulan biasanya cukup besar karena ada belanja keperluan dapur bulanan, tanggal tua, dll. Jadi, pada saat tagihan berikutnya datang kembali, jumlahnya masih tetap besar padahal 2 minggu pertama setiap bulan adalah masa belanja sedikit.

Belajar dari pengalaman ini, saya jadinya mencatat [secara manual] setiap transaksi yang menggunakan kartu kredit. Catatan ini kemudian digabung dengan catatan penggunaan transportasi berbasis online (uber, grab, go car) yang catatan tagihannya ada di aplikasi dan email. Gara-gara hal ini juga yang membuat saya sadar kalau ternyata untuk saya yang paling 1-2 kali dalam seminggu pergi beraktivitas dengan menggunakan jasa transportasi berbasis online tersebut, jumlah pengeluaran saya lebih dari 1 juta per-bulan. Rata-rata ongkos perjalanan saya sekitar 50ribuan per-trip. Kalau dikonversi sama dengan 1 gelas kopi di starbuck ukuran grande. Masuk dalam kategori hal kecil/sepele tetapi ternyata kalau digabung/dikumpulin jadi pos budget yang signifikan.

Ini lumayan sebagai pencerahan di pos-pos budget mana saja yang saya terlalu boros dan cukup membuat kepala bolak-balik lebih sering memberikan pertimbangan kalau ingin beli sesuatu.

Isu terkait pengaturan keuangan bagi yang sudah menikah memang gampang-gampang susah ya, dibangun atas dasar kepercayaan dan perencanaan bersama. Hal sepele bisa jadi isu besar kalau tidak ditangani dengan baik dan benar. Yang pasti, saya masih menunggu suami ganti hobi olahraga [mudah-mudahan dengan yang budget friendly] jadi bisa majuin lagi proposal SK II! *teteup usaha*

Egi and Her Story 

Ini cerita bukan tentang Egi tetapi dari Egi (note: mudah-mudahan penulisan namanya gak salah kebangetan).

Beberapa kali saya mendapat kesempatan bertemu dengan anak-anak yang berjuang (lebih) keras dari anak-anak pada umumnya dan cerita mereka selalu membuat takjub. Sebelum ini, saya bertemu dengan anak-anak yang masuk dalam program pendidikan yang difasilitasi oleh Pak Yohanes Surya. Mereka pintar dan cerdas, sehingga saat Pak Yo bilang tidak ada anak yang bodoh melainkan cara kita mengajar mereka yang seringkali tidak tepat maka satu saya dan sebagian besar (mungkin semua) audience TEDxJakarta waktu itu setuju pake banget dengan pendapat tersebut.

Kali ini saya bertemu dengan Egi, salah satu anak sponsor dari program Wahana Visi Indonesia. Ehm, ini fotonya waktu berbicara di #TreasuresWomenConference2015

  
Ada beberapa hal yang membuat saya takjub dengan ceritanya:

Kesederhanaannya dalam menikmati hidup walaupun hidupnya tidak sesederhana ceritanya

Suatu hari Egi tanya ke tantenya, sebaiknyadia jadi apa nanti. Tantenya bilang pekerjaan yang mulia hanya ada 2: dokter atau pastor/pendeta. Kita, peserta TWC 2015, ketawa gak habis-habis dengar ceritanya Egi. Sebagian ketawa karena sederhananya pekerjaan lainnya jadi tidak mulia. Awalnya Egi ingin jadi pastor kemudian ganti jadi dokter karena selain bisa menolong orang, hidupnya tidak perlu suci-suci banget 😂😂😂 

Cita-cita saya menjadi dokter

Menurut Egi, yang paling tepat jadi dokter di Papua (Egi berasal dari Wamena) adalah orang Papua sendiri. Logika sederhananya, pernah ada dokter dari Jawa datang ke Papua. Dokter tersebut akhirnya kembali ke Jawa dan meninggal. Menurut Egi, dokter Papua lebih canggih. Mereka sudah kebal dengan malaria, yang menjadi penyebab kematian dokter tersebut.

Awal dari cita-cita Egi

Pada saat program WVI mulai di Papua, Egi bukanlah anak-anak pertama yang masuk program. Ada masa dia merasa iri melihat teman-temannya mendapat bantuan peralatan sekolah sehingga membuatnya bertekad untuk masuk dalam program WVI. Egi akhirnya berhasil pada waktu duduk di kelas 2 SD sampai programnya berakhir. 

Cita-cita awalnya sangat sederhana, dari surat yang dia terima dari orang tua sponsornya (berasal dari Kanada). Mereka tidak mengirimkan foto sehingga Egi sangat ingin bertemu mereka secara langsung. Beriringnya waktu berlalu, cita-cita tersebut berangsur menghilang digantikan dengan cita-cita menjadi dokter. 

Cita-cita ini yang membawa Egi bersaing dengan 100 anak lainnya untuk mendapatkan beasiswa, pindah ke Manado selama 6 bulan untuk kesetaraan pendidikan, ke Jakarta, balik lagi ke Papua. Jumlah yang masuk program awalnya 30 orang, sekarang tersisa 11 orang.

Apakah perjuangannya sudah selesai? Belum sama sekali. Egi baru kembali dari Jerman setelah 11 bulan tinggal disana karena pendidikan disana dianggap terlalu rumit dan dana Pemda yang belum cair. Rencananya mereka akan diberangkatkan ke Cina untuk melanjutkan sekolah.

Di akhir cerita, Egi menyampaikan bahwa sederhananya dia ingin membuat orang lain senang. She did it! (We laughed all the time even just watching the way she laughed at funny things happened in her life. She apologized for having sore throat as she had too much cold drink yesterday. Also, the way she missed the question from Hanna Carol by having hearing problem. Oh my, she definitely a lovely funny girl). Then, she thanked the sponsor (parents) who made her able to sit on the stage today.  

Cerita dari Egi meyakinkan saya untuk mendaftar sebagai orang tua sponsor. How about you, care to join this good cause?

Lastly, so lucky got the chance to have a pose with Egi after the session! 😘 

 

What is ‘normal’?

 The background

Yesterday, I watched a series movie ‘Cold Case’, then had this dialogue memorized in my brain:

“…Do you live a life that you want when you were 15?

Not really

Why?

It’s impossible. Now, it feels like I’m watching someone else’s life, from the front row”

This morning, I sit at the front row of a bus heading to my office. While the bus waited for its passenger to fill up, I observed each people passing by. Each of them has their own figure, walk fast – walk like a bitch, fat – flat tummy, tired – wondering face, in style – not so, so on. Yes, it is mixed with beautiful eyes, stunning skin color, braveness in their body gesture, and so on. I just observed their appearance, definitely I don’t know who they really are as a person.

And this question popped up in my:

What is normal?

No one has a super perfect life. We might be good or great at work, but our relationship at home was like oil and water. We might be beautiful like a porcelain doll, but inside there’s a porcelain heart as well, fragile. 

Do you ever meet someone that you think his/her life is a perfect one? We might jealous on him/her, but it’s not for the whole packaged of their life. We’re jealous for some part of their life. Well, people might feel the same way towards our existence.

Nothing is normal, for the sake of Mother Nature.

But…

The gesture of gratitude, acceptance, love, loved, spread kindness more, and so on…are the most normal thing of choice we can take each day. For me, that makes us live a life normally. Life is a complex factor towards many directions, and faces various schemes of offerings. 

So, maybe to feel a normal life is another state of mind.

Love, i.

Finally, we have…puppies

Just like other couple, we had a long arguing-seasons of having ‘additional’ member of our little family. My husband is a dog-person-who-hates-cat while I adore them, both. Sometimes, I teased him by allowing neighbour / street cats took nap at our veranda. We visited dog adoption day once and followed some updated info of dog for adoption. Nothing changed untill our first year marriage. We still lived by just two of us.

So one night, the rainy season had just started, I walked down the streets headed to our house finding a female dog running around from one side to other side of the street. So, I tried to call her to stay at the side of the street. It used to not many cars or bikes passing by but their speed could kill this little creature. Then, I found her puppies cuddling under the tree covered with dirt and rain. They might be died tonight if I didn’t do anything. That’s my one and only thought. So I called my husband asking for approval of rescue-mission. Fortunately, he’s not far away approaching our location. We had our first deal to save the puppies.

It was the first terrible night having two little ‘girls’ at home. They wake us at 2am cause they need to do their own business outside their bed-box (means pee and poop). First day had its own story as well. They accompanied my husband to pet shop then back to home at night with terrible nauseas, puke, and dizzy. I was worried at that time but remembering those moment again makes me smile successfully.

It is our second week already. They are getting bigger surely but sometimes I feel they still miss their own mom

How to Be a Better Writer: 6 Tips From Harvard’s Steven Pinker

Point taken!

TIME

U want 2B a better writer?

Good writing is often looked at as an art and, frankly, that can be intimidating. No need to worry. There are rules — even science — behind writing well.

Our brain works a particular way; so what rules do we need to know to write the way the brain best understands?

To find out the answer I gave Steven Pinker a call.

Steven is a cognitive scientist and linguist at Harvard. He’s also on the Usage Panel of the American Heritage Dictionary.

Steven was recently ranked as one of the top 100 most eminent psychologists of the modern era.

His latest book is The Sense of Style: The Thinking Person’s Guide to Writing in the 21st Century. And it’s great.

Below you’ll learn:

  1. The two key elements that will improve your writing.
  2. The biggest mistake we all make — and…

View original post 2,425 more words

Live a life with dream(s)

Karena faktor jarak kantor – rumah yang semakin jauh setelah menikah (dan ikut suami tinggalnya), saya memutuskan untuk memberikan sedikit ‘kemudahan’ untuk diri sendiri dengan naik taksi. Well, terkadang sampai di rumah masih ditunggu dengan beberapa pekerjaan domestik, so at least bisa menabung tenaga setelah seharian bekerja. Weits, jangan tanya juga sih seberapa sering akhirnya rencana pekerjaan domestik tinggal rencana ditinggal tidur di ruang tv. Life’s so hard, mama! hehe

Well, pengalaman dengan tukang taksi punya banyak cerita, dari pak supir yang mbisikin istrinya di telepon ‘i lupyu makk’, yang terkantuk-kantuk (mungkin karena melihat saya tidur kayak babi di belakang hahaha), sampai yang ngeyelan dan nyebelin. Banyak yang baik, gak ingat berapa banyak yang gak baiknya.

Ini ceritanya supir taksi express yang saya tumpangi sabtu lalu, perjalanan dari Tamini Square menuju PP. Agak aneh sebetulnya karena saya sudah menyeberang dan ditengah jalan (di pembatas jalan) saya balik lagi, dan pak supir ini memperhatikan kelakuan saya. Kata pertama yang dia ucapkan setelah saya duduk ‘Kunci pintu di sebelah pegangan pintu yang warna merah’. Hoho seperti anak ayam yang menemukan induk yang menyelamatkannya, saya terharu. Jalanan Jakarta berat bokk, hardly we trust each other. I feel safe. Jadi kita banyak ngobrol sepanjang jalan.

Pak supir ini berasal dari kota kecil Semarang. Waktu SD mereka terbiasa untuk tidak pakai sepatu ke sekolah. Wong jalannya masih tanah, ya mendingan gak pake sepatu. Tetapi, memasuki kelas 4 SD, jalanan sudah di aspal sehingga mau gak mau pake sepatu. Panas, katanya. Buat yang suka jalan-jalan di ruangan kantor sambil nyeker, saya mengamini barefoot adalah ‘sepatu’ terbaik buat badan jalan-jalan. Well, anyway, sometimes we need to change not because we want to but have to.

Dan dengan kesederhanaan situasi dan informasi yang mereka dapat akses, hal paling mewah yang dilihatnya sebagai anak desa adalah mobil yang juga jarang lewat. Dream the most ‘luxurious thing’ you could ever imagine. It might be hard to reach but once you have it, you’ll know that it’s not the end of your imagination. It might be another new journey to embrace. Cita-cita masa kecil supir taksi ini menjadi… SUPIR, dan akhirnya tercapai. Somehow, saya merasakan dia sendiri merasa lucu dengan cita-citanya. Setelah 10 tahun merantau di Jakarta, dia merasa tidak mungkin mengejar cita-cita lainnya. Sudah terlalu terlambat, mbak, katanya sambil tertawa.

Bapak supir sih bisa saja tertawa karena sudah mencapai cita-citanya dan sekarang masa untuknya menikmati perannya. I think he’s a good driver, a good person, and he’ll keep doing it. Tetapi perjalanan dan ngobrol 20 menit kemarin membuat saya berpikir. Apa sih yang jadi cita-cita gue? Seberapa banyak dari kita para pengejar karir yang masih mengejar cita-cita or sudah kehilangan? I don’t live a life for a career title. It’s not my dream, nor my passion. Well, it’s not either about resigning your job.

I just have a thought, as my husband said with a very sad tone, he lost in contact with most of his friends, he barely knew their update because each day he spent most of his time at work (he might be not realize that we have very few times as well, just because we still meet each other regularly).

Cita-cita saya semasa kecil banyak sih, dan banyak yang sudah tercapai (kayaknya, hehe) tapi kok sekarang kepengen bikin cita-cita lagi deh. I have a passionate life though, but need one or two things that keep my spirit focused. What it should be…

-i
Live a life that you won’t regret in the future.
(sambil mencari cita-cita yang hilang)