Our IVF Result

Halo lagi!

Dua bulan terakhir, minat untuk menulis hilang sama sekali, bahkan instagram pun cuma bertambah 2 foto. Sebetulnya tidak ada maksud untuk menghilang tetapi selama dua bulan terakhir, pertemanan dengan kasur melebihi apapun yang terjadi di luar sana (terdengar eh terbaca lebay ya hehe).

 

30 Mei 2018 – Tes BhCG (pertama) 

Setelah melewati masa tunggu dua minggu (two weeks wait), kami dijadwalkan untuk melakukan tes darah untuk menghitung hCG (Human chorionic gonadotropin). Rasa di hati pastinya campur aduk karena setelah darah diambil, kami masih menunggu sekitar 2 jam untuk hasil tes keluar, ditambah sekitar 1 jam antrian dengan pasien lainnya.

IMG_8836

yang lagi stress nunggu hasil tes BhCG part.1

Saya pribadi sebetulnya pasrah apapun hasilnya. Tetapi, dalam berbagai cara, saya seperti selalu diingatkan, pasrah tidak berarti lemah atau menyerah. Pasrah saya seperti sebuah determinasi, cuma ada satu pilihan yaitu Tuhan memberikan apa yang kami minta. Apakah itu seperti memaksa? Tidak, menurut saya. Karena yang saya rasakan adalah suatu semangat dan keyakinan yang terfokus pada satu tujuan.

Hasil BhCG-nya menunjukkan angka 44!

Senang dong pastinya :). Dokter belum melakukan USG karena kemungkinan masih belum kelihatan juga. Dan kita juga lupa bertanya perkiraan usia janin (kemudian hari, setelah saya hitung lagi, usianya baru sekitar 3 minggu). Kami diminta untuk kembali 2 minggu lagi untuk tes BhCG (lagi) untuk memastikan janin bertumbuh atau tidak. Pesan dari dokter Devindran, jangan terlalu excited dulu karena worst scenario masih sangat mungkin terjadi. Jadi kami sepakat untuk membatasi informasi ke keluarga inti dan beberapa teman dekat saja, sekalian minta didoain #FakirDoa

Sesudah urusan rumah sakit selesai, sorenya kami langsung terbang kembali ke Jakarta. Masa tinggal saya di Penang sudah 29 hari, dan saya tidak mau ambil resiko harus perpanjang visa karena tinggal lebih dari 30 hari. Mungkin banyak yang bertanya apakah aman untuk naik pesawat? Pertama, tentunya dengan seijin dokter. Kedua, jika rute penerbangannya bukan daerah turbulensi luar biasa dan tidak terlalu lama, harusnya aman walau usia kandungan masih muda. Saya justru terkadang lebih kuatir naik mobil dengan jalan berlubang atau polisi tidur yang terlalu tinggi, lebih berasa hentakannya di perut.

Note: penerbangan kami sempat ditunda, pesawat kembali ke gerbang keberangkatan padahal sudah ke area lepas landas karena ada kendala teknis (info yang kami dengar ada kendala mesin tidak bisa lepas landas). Untunglah, cuma butuh sekitar 30 menit untuk perbaikan #DramaPenerbangan babak kesekian

11 Juni 2018 – tes BhCG (kedua)

Menuju hari tes BhCG kedua ini, rasanya jauh lebih stress. Saya tahu kalau sedang hamil tetapi apa rasanya kalau ternyata tes kedua malah jadi tidak hamil. Saya bolak-balik menelusuri artikel dan review apa makna dari angka 44, apakah ini angka minimal yang bagus atau sebetulnya bisa jadi terlalu rendah. Stress deh pokoknya.

Bulan Agustus 2017, saya sedang ada acara huddle bersama Nina dan Mas Sunu. Nina baru kembali dari silent retreat di Bali, dan dia menceritakan hal positif yang dia rasakan dari retreat tersebut. Saat itu, entah kenapa ada dorongan dihati saya untuk cerita, kalau tahun 2017 itu saya merasa didorong untuk berdoa yang spesifik terkait program hamil kami. Saya berdoa untuk mendapatkan anak kembar. Waktu itu, kalau saya pikir kembali, pertimbangannya karena usia, saya ingin menjadi orang tua yang maksimal, menemani pertumbuhan anak-anak kami selama mungkin. Jadi kalau anak pertama baru lahir di tahun 2018, berarti anak kedua paling cepat usia saya sekitar 37 tahun. Perhitungan sederhana dari logika matematika rumah tangga juga.

Dari blog yang saya baca, hasil tes BhCG dari kehamilan kembar biasanya diatas 500 sampai hampir 1000, jadi sebetulnya saya tidak terlalu memikirkan doa di tahun sebelumnya itu. Fokus-nya cuma si janin sehat, titik. Tetapi, saat duduk di ruang tunggu pasien, seperti ada pertanyaan yang muncul di hati (ehm, gimana ya menjelaskannya. Semacam pertanyaan yang muncul tiba-tiba padahal lagi enggak kepikiran lah), gimana kalau saya hamil anak kembar? Saya kaget sendiri sih kok tiba-tiba kepikiran pertanyaan tersebut. Sejujurnya, saya lagi takut dengan hasil tes darahnya dan ditambah pertanyaan tersebut. I said to God “I’m scared but let Your will be done because I know You will strengthening us to do Your will”.

Di meja dokter Devindran, secarik kertas hasil laporan tes BhCG kami menunjukkan angka 6,995. Dari hasil USG sudah kelihatan ada 2 kantong janin. Senangnya minta ampun, antara mau menangis, ketawa, campur aduk deh.

IMG_8877

oh, hello you two ;*

 

PHOTO-2018-05-31-05-03-27

Mandatory picture with our doctor & team (missing Nurse Mei & Nurse Lim)

 

PHOTO-2018-05-31-05-03-26

Found Ms. Lim, one of caring nurse we treasured

 

Dari angka statistik, untuk pasangan dibawah usia 35 tahun, kemungkinan program IVF berhasil hamil sekitar 40% (jumlah ini menurun lagi kalau dilihat sampai kelahiran, saya lupa persisnya). Jadi, bisa dibilang kami sangat beruntung berhasil di percobaan pertama. Walaupun penuh drama selama 5 bulan terakhir, bolak-balik Jakarta-Penang.

Keberhasilan ini tidak membuktikan kami lebih baik dari pasangan lainnya yang belum berhasil. Kami hanya sudah berada di ‘waktunya’ saja. To all my dearest TTC fellows, our thought and prayer are always with you. May the ‘right time’ come to your way, as soonest! Tetap semangat yaa…

Note: #DramaPenerbangan Penang-Jakarta, pesawat kami harusnya berangkat pagi tetapi kemudian pesawat dari Jakarta tak kunjung hadir, delay pertama kemungkinan berangkat siang/sore. Kemudian, ternyata delay lagi dan mungkin baru berangkat malam. Oh well, karena pengalaman sebelumnya pesawat dari Jakarta baru tiba di Penang jam 10 malam, kami tidak mau mengambil resiko. Untuk pertama kalinya, passport kami dicoret karena tidak jadi berangkat. Kami kembali ke hotel dan memesan tiket penerbangan esok hari, dengan maskapai berbeda. Refund tiket sudah diurus, karena delay-nya lebih dari 10 jam, tetapi sampai hari ini belum ada kabar.

Advertisements

Part 9: IVF ~ Frozen Embryo Transfer

Warning:

Kalau sedang ikut program IVF, sedang menunggu jadwal ET atau FET, dan/atau bukan tipe berhati baja menerima kabar buruk, sebaiknya skip tulisan ini.

 

Beberapa hari sebelum embryo transfer dilakukan, saya bertemu dokter kembali untuk pemeriksaan. It was a wonderful day. Dokter Devindran sepertinya sedang in a really good mood karena sepanjang pemeriksaan banyak tertawa. Dia menanyakan pendapat saya tentang dr. Voon (saat saya sedang menstruasi beliau sedang cuti jadi digantikan oleh dr. Voon yang adalah isterinya sendiri). Dia cerita kalau dr. Voon sering mengaku sebagai his girlfriend instead of his wife, LOLs. Actually, I had really a good time with dr. Voon, my first female Obgyn. She was really nice and gentle.

Saya akan menjalani proses embryo transfer sendirian karena suami sedang ada pekerjaan di kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Adik saya yang di Bandung masih belum mendapat jadwal antrian passport padahal sudah dari beberapa bulan lalu dia coba daftar (blame it to current online registration system!), dan adik ipar saya juga sudah menghabiskan cukup banyak cuti di awal bulan ini saat kami menemani mama mertua operasi di Penang juga. Entah kenapa, insting saya merasa saya lebih nyaman untuk melalui ini sendiri. I need to cherish every minute of the process alone *my introvert side spoke*

I wore my comfy new bought dark blue dress and strolled excitedly (and nervously) from new building to the clinic. Then, I met Ms. Lim,

Embryo-nya tidak bertahan setelah di thawing

Itu adalah kabar yang saya terima di jam 10 pagi. Saya mencoba tersenyum ke Ms. Lim yang berusaha menyemangati saya. Dua embryo berikutnya (our last embryo) sedang dicairkan dan hasilnya baru akan dikabari di jam 2 siang.

Saya menahan untuk tidak langsung menginformasikannya ke suami, keluarga dan teman di Jakarta karena saya tidak siap dengan segala bentuk emotional responses apapun saat itu. Saya bimbang antara pilihan balik ke hotel atau duduk menenangkan diri di antara pasien lainnya di ruang tunggu. I chose the later option.

Kebetulan, ada Fitri (room-mate saya di apartemen sebelumnya) yang sedang menunggu hasil OPU sebelum kembali ke Jakarta sorenya. Lucunya, kami menjalani OPU di hari yang sama di bulan Maret lalu, tetapi suami saya yang ngobrol dengan suami Fitri di ruang tunggu operasi. Selain itu, juga ada teman baru yang kebetulan namanya Fitri juga. Jadi kami ngobrol bertiga. Setelah berpisah, saya bertemu dengan cici Francy (isteri Edward Suhadi) juga, jadilah ngobrol dan berbagi pengalaman. Terakhir, saya bertemu Anggi, room-mate saya waktu di ruang rawat inap setelah operasi beberapa bulan lalu. Unfortunately, satu pun saya tidak ingat untuk ngajak foto bareng *teteup ya*

Sejujurnya, walaupun saya ngobrol sana-sini seperti biasa, tetapi di dalam hati seperti ada bolongan yang rasanya ngilu sekali. Embryologist pernah menginformasikan kalau ada kemungkinan embryo yang di-thawing turun atau naik grade, tetapi seingat saya tidak dengan kemungkinan embryo-nya tidak bertahan. I guess I was too shock about the news and too numb to cry. Saya pasrah dan merelakan kesempatan pertama kami hilang dan berharap yang terbaik untuk dua embryo berikutnya. I just need to wait couple hours more that felt so long…

Saya masuk ke ruangan klinik untuk dokter melakukan pemeriksaan terakhir saat jam menunjukkan hampir pukul 2 siang. Situasinya, dokter Devindran tidak banyak berbicara, sementara saya duduk dengan cemas menunggu karena embryologist belum memberi kabar juga. Ms. Lim mondar-mandir di belakang saya sambil menelepon, she spoke in Chinese, intentionally I guessed. Saat dia pindah ke sebelah dokter Devindran dan tersenyum barulah saya bisa bernafas lega. Embryo-nya bertahan. That’s the only news I need to hear.

Akhirnya, kami sampai juga di tahap embryo transfer. Prosesnya sendiri cuma sekitar 15 menit (kebetulan ada jam di ruang operasi jadi saya sempat mengecek waktunya), proses menuju tahap ini aja yang lamanya lumayan ya. Saat prosesnya selesai, Ms. Elaine yang menjemput saya kembali ke klinik untuk diberikan suntikan pregnyl di lengan. Ruangan klinik sudah sepi, tetapi saya masih bertemu Anggi dan suaminya.

Yang lucu adalah saat saya menjelaskan ke Ms. Elaine kalau saya akan jalan kaki pulang ke hotel (letaknya persis di seberang gedung baru rumah sakit, memang jalannya cukup jauh dari gedung lama tetapi kalau pelan-pelan harusnya tidak apa-apa), dia insisted untuk saya naik taksi saja. Sampai akhirnya, Ms. Lim yang mendengar pembicaraan kami menawarkan untuk mengantar saya pulang, sekalian dia juga sudah selesai jam kerjanya. See! I once told dr. Voon  that these nurses are really like a true sisters for me. I truly mean it.

Back to hotel, safe and sound, and so tired. So, here we’re now on our r(n)esting days! Be good and grow healthily there, our twinny embryos!

Part 8: IVF ~ Get Used to The Word ‘Surprise!’

Somehow, I did really look forward to start the IVF program (bring it on, needles!). Setelah tiga bulan terakhir telah melewati fase laparoscopic surgery, olahraga yang intens (3-4x yoga + 5-6x jogging per minggu), dan makanan organik yang lumayan menguras dompet, I was so damn ready, I thought.

Kenyataannya, banyak sekali surprise dan drama lanjutan yang terjadi. Setelah drama pesawat yang kembali ke Jakarta di cerita ini, ternyata ada drama lainnya yang terjadi di bandara.

Di kunjungan ketiga ke Penang, kami tiba lebih awal di bandara Soetta untuk penerbangan jam 12:40pm. Karena paginya baru makan buah untuk sarapan (baru!), kami memutuskan untuk brunch di salah satu restoran setelah mencetak boarding pass. Setelah brunch, suami memilih untuk pergi ke boarding lounge lebih dulu karena sekalian ingin ke toilet, kebetulan toilet di dekat tempat kami makan penuh. Karena masih kekenyangan, saya memutuskan untuk menyusul.

Jam 11 kurang, saya menuju ke antrian imigrasi. Untung sepi jadi tidak menunggu lama. Tetapi, ternyata boarding pass saya tertukar dengan punya suami. Petugas tidak mengijinkan saya lewat sesuai SOP. Jadi saya mencoba menelopon suami dengan asumsi dia belum masuk, karena pasti ditahan petugas juga. Eh, ternyata suami sudah di boarding lounge (lah lewat mana tadi pak suami). Alamak!

Jadilah, saya balik lagi ke mesin cetak boarding pass yang ternyata tidak bisa mencetak boarding pass yang sama 2x (note: jarak imigrasi ke lokasi mesin check in di T3 Soetta lumayan ujung ke ujung). Petugas menyarankan saya untuk ke counter check in drop bagasi. Udahlah gelisah kuatir ketinggalan pesawat, antriannya bergerak lama karena yang bawa bagasi banyak banget koper-kopernya, eh akhirnya sampai giliran saya petugasnya bilang tidak bisa di cetak lagi karena kuatir boarding pass saya disalahgunakan. Mau ngamuk enggak sih? *rapal mantra keep calm ask for solution*

Setelah didiskusikan dengan rekan/atasannya, akhirnya si petugas mencetak boarding pass atas nama saya dengan titipan pesan boarding pass satu lagi nanti segera dirobek agar tidak membingungkan petugas. Lalu, larilah saya kembali ke pos imigrasi. Untunglah antrian imigrasi cukup cepat sehingga saya tidak terlambat tiba di boarding lounge. Engap juga sih lari-larian sambil panik hahaha.

Di kunjungan kali ini, program IVF dimulai dengan menyuntik di bagian perut setiap hari di jam yang sama. Saat Ms. Lim (we call them sister or nurse) menanyakan siapa yang akan menyuntik, saya mengajukan diri dengan semangat. Sedikit cerita tentang sister Lim, dengan perawakannya yang mungil, dia yang paling sering mondar-mandir menemani dan sumber informasi untuk pasien IVF, dari cara menyuntik diri sendiri sampai menemani ke ruang operasi (terakhir Ms. Elaine, the newest addition of the nurse team, gantian melakukan peran ini).

Awalnya memang agak cemas dengan proses meracik obatnya, takut ada tahapan atau takaran yang salah. Tapi ya, sebagai seseorang yang punya kecenderungan perfeksionis, saya lebih cemas kalau orang lain yang melakukannya terus salah hahaha. Pas disuntik, cuma sebentar kok ada rasa ‘sakit’nya (seperti ada cairan yang mengalir di sekitar perut dengan sensasi menggigit). Katanya lebih sakit buat orang yang perutnya rata atau tidak berlemak (thanks to my fat belly!).

Saya berangkat bersama suami di hari Jumat, tes darah dan bertemu dokter hari Sabtu, kemudian hari Minggu kembali ke Indonesia dengan bekal 1 tas berisi obat dan jarum suntik. Menurut informasi sister, tidak perlu bawa surat keterangan dokter untuk isi tas tersebut karena rumah sakit sudah bekerjasama dengan pihak penerbangan (note: kalau ada rencana penerbangan lain yang tidak terkait ke Penang, sebaiknya tetap minta surat keterangan).

Hari ke-7 suntikan, saya kembali ke Penang sendirian, siap dengan berbagai amunisi stay jangka panjang. Booking apartemen sebelah rumah sakit untuk 2 minggu, bawa beras merah dan alpukat segala (niat banget deh!). Sampai di Penang, saya bahkan sampai belanja groceries untuk persiapan masak sesudah ET.

Surprise! adalah kata yang sangat akrab di telinga para pejuang IVF. Datang dalam berbagai bentuk dan situasi.

Hari ke-8 suntikan, saat pemeriksaan dokter menemukan kalau ada gumpalan (endometriosis) kembali di rahim saya sehingga tahapan ET tidak bisa dilakukan setelah sel telur diambil (ovum pick up – OPU. Selain itu, sel telur saya masih kurang cukup besar jadi diresepkan tambahan suntikan 2 hari lagi, puji syukur jumlahnya cukup banyak.

Mata saja jelas sudah ngembeng saat dokter menjelaskan situasi tersebut. I felt disappointed and lonely (lah iyalah kan suami tidak ikut menemani konsultasi hehe). Dokter Devindran mengingatkan untuk sabar dan chance-nya yang masih cukup besar untuk pasien seumur saya.

Sehari setelahnya, saya mulai terkena flu dan sakit di tenggorokan. Mungkin karena cuaca yang memang panas dan gerimis dadakan bergantian dan juga karena sempat merasa down sebelumnya. Flu, sakit tenggorokan dan 9 putih telur setiap hari bukan kombinasi yang menyenangkan. Berbagai cara olahan putih telur dan campurannya saya coba tetapi tetap rasanya tidak enak. It was one of my emotional break downs.

Di masa seperti ini, dukungan suami, keluarga, dan teman-teman dekat dari Jakarta sangat membantu. Their thoughtful kind words were the treasures I hold during such times. Selain itu, saya mengingatkan diri untuk fokus pada tujuan. Beberapa hari lagi saya akan menjalani OPU, dan saya butuh kondisi fisik dan mental yang paling optimal. Jadi walau badan rasanya kemeng dan lidah berasa kebas, saya berusaha untuk tetap olahraga rutin dan makan yang sehat.

Tibalah hari OPU…

Setelah mengurus administrasi, saya dan suami yang tiba sehari sebelumnya diminta menunggu di ruang rawat inap. Sambil menunggu jam masuk ruang operasi, saya minta suami pergi makan dulu. Ternyata dia lama perginya, sampai sister yang bertugas membawa dari ruang rawat inap ke ruang operasi datang, suami belum balik juga. Ditelponin tidak diangkat, pas diangkat ternyata katanya lagi makan di Komtar (jaraknya sekitar 2KM dari rumah sakit) *why oh why can you eat at hospital canteen instead (katanya enggak selera sama makanan kantin). Sungguh memang punya suami yang tengil macam ini butuh kesabaran tingkat dewa. Jadilah, saya dibawa ke ruang operasi tanpa sempat pamitan sama suami. Untungnya pas banget di pintu masuk ruang operasi masih papasan sama suami dengan muka panik dan bersalahnya hahaha. Duh, naga-naganya anaknya pun nanti kelakuannya tengil juga nih kayak bapaknya *sigh*

Nah, drama berikutnya terjadi di ruang operasi.

Kalau baca blog orang lain, mantranya dokter Devindran sih sama, pasiennya disuruh relaks, tutup mata, dan senyum. He warned me though that I might hear them talking to each other and that’s normal. I did as instructed. Matter of fact, I was doing well, until…

I had this initiative to have a good conversation with the nurse who stood/sitted near my head. I felt/thought she patted my head, and that was so thoughtful and comforting. So, out of the blue, I asked her nicely how long the procedure would take time. She responded saying I didn’t need to worry about that, just back to my sleep. For her, I might just another ‘ngigo’ patient, but I do really appreciate how she comforted me.

Seingat saya, belum ada yang cerita kalau kita bisa merasakan sakit saat OPU *hiks* (mungkin memang kecil kemungkinannya). Jadi, setelah merasa seperti ‘tertidur’ saya merasakan sakit sekali. The pain recalled my memory of the time I woke up from curette surgery few years back, it had the similar pain-effect. So, I screamed couple times. I heard people said something that I couldn’t recall.

Dua kejadian ini terjadi dalam kondisi saya ‘tertidur’ (I don’t have any visual memory of the events) dan saya tidak ingat urutannya yang mana duluan.

Sel telur yang berhasil diambil sebanyak 27 (kalau punya riwayat PCO biasanya memang banyak katanya), yang berhasil jadi embrio sebanyak 11, kemudian yang disimpan: 2 grade 5 dengan pembuahan alami, dan 1 grade 5 dan 1 grade 3 dengan pembuahan buatan (ICSI). Note: grade level-nya dari 1 sampai 5, yang paling bagus grade 5.

Walau belum bisa menjalani embryo transfer, tapi bersyukur karena kita punya 4 embryo dengan grade yang bagus. Ini seperti punya sesuatu yang menunggu kita kembali ke Penang.

So, excited for our next trip back to Penang!

The White Eggs Affair

Saya bukan tipe picky eater dalam hal makanan, jadi pada saat harus makan putih telur setiap hari dengan sekian jumlah, I thought I would be okay. Tiga hari pertama sih masih oke ya, setelah itu, mencium baunya saja aku sulit hehe.

Anyway, sebetulnya tidak ada pantangan tertentu apa yang tidak boleh cara masak/makannya, jadi berkreasilah sekreatif mungkin. Beberapa yang sudah saya lakukan:

 

My favorit (I found it after OPU, which I still need to eat white eggs till period came)

Telur ayam kampung direbus selama 9-10 menit (pakai timer, jangan pakai hati ngitungnya), setelahnya masukkan ke air dingin, setelah panasnya mulai tinggal hangat-hangat kuku, seperti pelukan suami di pagi hari #eaaa, kupas/belah dua, langsung dimakan.

Sebagian kecil putih dan kuning telurnya masih ada yang bentuknya creamy padat gitu (me laff) dan lebih enak dimakan pas hangat.

Apakah wajib telur ayam kampung? Enggak sih. Tetapi, menurut saya bau telur ayam kampung yang paling minimal dan bisa ditoleransi oleh hidung saya. P.S.: dan ukurannya lebih kecil hahaha

 

My 2nd favorit

Masak putih telurnya bersama kuah kaldu (apa pun yang sehat). Kuahnya jangan banyak ya, semangkuk kecil cukup. Caranya: panaskan kuah sampai mendidih, masukkan putih telur mentah (yang sudah dipisah dari kuning telur), aduk cepat sampai matang. Voila, jadi sup putih telur! Silakan kalau mau ditambah dengan toping lainnya.

Ini saya lakukan waktu tinggal di apartemen selama di Penang, kalau kita beli noodle soup, biasanya kuah-nya dipisah. Jadi kuah-nya ini yang saya pakai.

 

Other option (pake topping atau side dish yang disukai)

  • Dimasak dengan cara di-scramble (pake minyak/butter sedikit, panaskan, masukkan putih telur, aduk sampai matang) atau omelet (pake minyak/butter sedikit, panaskan, masukkan telur, gulung-gulung ke tengah atau ke salah satu sisi sampai semua telur matang)
  • Dimasak jadi telur mata sapi (tips: kalau suka atau pernah lihat telur mata sapi di warung makan yang bulatnya bagus dengan pinggiran yang crunchy kecokelatan, and you like them, cara masaknya gampang kok. Cuma perlu wajan masak yang cekung dan minyak yang agak banyak. Caranya: Panaskan minyak, pecahkan telur di mangkuk biar gampang pas dimasukkan ke wajan. Setelah minyak panas, masukkan telur perlahan. Biasanya telur akan naik sendiri ke permukaan, tinggal dibalik. Tunggu matang, baru angkat. Note: kadang untuk telur pertama suka lengket di wajan)

Nah, untuk topping/side dishnya yang pernah saya coba: tumisan sayuran (jamur, brokoli,toge, pok coy, asparagus, dll), buah-buahan (jeruk, blueberry, alpukat, dll), pernah juga pake grilled fish (salmon, snapper) tetapi malah jadi eneg *ngana pikir protein tambah protein jadi apa hahaha

Untuk menambah rasa bisa pake bumbu garam dan lada putih bubuk. Hindari menggunakan mayoneise dan sambal botolan. Well, lebih karena ada kemungkinan mengandung zat pengawet atau lainnya yang katanya tidak baik untuk tubuh.

Enjoy this phase (shall pass too) dan tetap semangat yaa!

 

P.S.: Beberapa foto-foto hasil masakannya (yang keingat buat difoto) ada di IG: @rumahkopi 🙂

 

 

Part 7: The A-Z of Our IVF Journey

Disclaimer:

Informasi yang saya bagikan berdasarkan pengalaman pribadi, tidak untuk menjadi referensi medis.

Saya baru sadar (setelah mengecek tanggal postingan blog), program hamil yang kami jalani ‘berhenti’ setelah gagal program inseminasi di bulan Maret tahun lalu. Kami kembali ke dokter lagi di bulan Januari 2018, jadi ada jeda sekitar 9 bulan. Cukup lama ya hehe. Memang kami sengaja memutuskan untuk mengambil ‘break’, dan saya pribadi membuat prioritas baru yaitu hidup yang lebih sehat (makanan organik masak sendiri dan olahraga yang semakin rajin).

Why?

Karena rencana berikutnya kami mau mencoba cara bayi tabung (IVF – In Vitro Fertilization).

Where?

Bagian ini yang cukup membuat galau. Sebetulnya saya cukup sreg dengan Bunda Morula Jakarta karena dari informasi fasilitas dan teknologi yang digunakan sepertinya salah satu yang terbaik di Indonesia tetapi jarak dari rumah dan proses antri pasien yang bisa seharian menjadi pertimbangan sendiri. Kami juga sempat mengunjungi Klinik Daya Medika dengan pertimbangan pasien ditangani oleh tim dokter jadi sepertinya tindakan medisnya akan lebih less bias (dan katanya harga paket programnya paling ekonomis). Tapi saat mengunjungi kliniknya kok sepi ya, cuma ada 3 pasangan, termasuk kami. Dan ya jaraknya bahkan lebih jauh lagi dari rumah kami. Opsi terakhir adalah Penang, tentunya setelah bolak-balik baca blog Andra Alodita, Edward Suhadi, Desi Diani, dan blog lainnya, cukup tertarik untuk mencoba ke Penang. Tetapi kan lebih jauh dan mungkin akan menghabiskan jatah cuti suami. Karena banyak galau tersebut, rencana program IVF-nya tertunda 9 bulan.

Hingga suatu hari di bulan Desember, ibu mertua saya menanyakan apa rencana kami berikutnya. Saya cerita masih galau apakah di Jakarta atau ke Penang. Ibu mertua dengan yakin mengusulkan ke Penang saja. Buat saya itu pertanda restu dari ibu negara untuk kami. Jadilah kami berangkat ke Penang di akhir tahun (sekalian liburan akhir-awal tahun).

So, here our story goes…

Wait! Beberapa teman sering menanyakan apa saja sih sebetulnya proses yang terjadi di program IVF, jadi sebelum berbagi pengalaman kami, saya rangkum prosesnya mengacu ke proses yang kami alami di Rumah Sakit Loh Guan Lye, Penang dengan dokter Devindran Muniandy:

Part 1 – Registrasi:

  1. Kita bisa registrasi dulu melalui perwakilan rumah sakit di Jakarta (sepertinya di kota besar lainnya juga ada representatif sendiri). Ini untuk menghindari kemungkinan dokter cuti, public holiday di Malaysia, atau jadwal sudah penuh. Kontaknya bisa via WA dan Email (Stephanie: 08896523638 / fanyjakarta@gmail.com) bisa juga kontak langsuk ke CS representative rumah sakit, Siaty: +60164643639 (biasanya dia akan merespon hanya di jam kerja, dan agak lama responnya). Sekalian daftarin data suami karena untuk pemeriksaan pertama, isteri dan suami wajib berdua datang!
  2. Kalau sudah sampai di Penang, perlu untuk registrasi ulang & mendapatkan kartu berobat yang dibawa setiap kali kunjungan (waktu itu saya di gedung baru – Wing 3), untuk kunjungan berikutnya bisa di registrasi di gedung lama. Registrasi baru buka jam 8am, tetapi kita bisa ambil nomer antrian registrasi sebelum jam 8. Wajib bawa passport.
  3. Setelah registrasi, petugasnya akan memberikan 1 lembar slip (biasanya nanti ini diisi sister untuk menebus obat di farmasi atau membayar treatment yang dilakukan) dan nomer antrian klinik dokter yang dikunjungi. Klinik dokter Devindran di gedung lama, lantai 1 (Room 127). Tinggal ikutin petunjuk arah jika masuknya dari gedung baru. Kemudian, masukkan kartu berobat+slip+nomer antrian ke box transparan di dekat pintu. Tinggal tunggu sister panggil nama kita untuk masuk ruangan.

Note:

  • Di pintu ruangan klinik ada tulisan ‘jangan ketuk pintu’, 4 orang nurse tim dokter Devindran akan bolak-balik keluar masuk ruangan, jadi tunggu mereka keluar saja kalau ada yang ingin ditanyakan. Kecuali ada beberapa fase, yang mereka minta ketuk pintu saja, then go ahead!
  • Mobile phone is a big big sin during consultation process (termasuk saat dokter melakukan kunjungan ke ruang rawat inap). Masukkan HP di tas/kantong baju dalam kondisi silent. Jika perlu mengecek data di aplikasi HP (misalnya kapan terakhir kali menstruasi), just let the doctor know you need to open your mobile phone 🙂

Part 2 – Pemeriksaan Awal:

  1. Dokter akan melakukan pemeriksaan awal (kondisi rahim/uterus dan teman-temannya) dan menanyakan riwayat program/kehamilan yang pernah terjadi. Jadi untuk pemeriksaan pertama bawa saja hasil lab, HSG, dll. Ada info yang menyebutkan paling efektif pemeriksaan awal di menstruasi hari ke-2, ini tidak wajib menurut saya. Kalau kondisi kita semua ok memang bisa langsung mulai program setelah pemeriksaan di menstruasi hari ke-2, tetapi kalau kondisi kita memang sepertinya akan perlu pemeriksaan lebih lanjut (menstruasi tidak teratur, ada riwayat endomestriosis atau kista, dan lainnya), tidak masalah datang ke dokter kapan saja kok.
  2. Kalau sudah melakukan pap-smear kurang dari 1 tahun, bawa hasil lab-nya. Kalau belum, dokter akan meminta untuk dilakukan pap-smear & tes darah untuk isteri dan sperm analysis & tes darah untuk suami. Tes darah termasuk mengecek HIV/AIDS.
  3. Di banyak kasus dokter akan menyarankan dilakukan laparoscopic surgery untuk melihat kondisi rahim lebih jelas sekaligus apakah perlu dilakukan tindakan medis (kalau misalnya ada endometriosis, kista, dll).
  4. Kalau ternyata perlu laparoscopic surgery, biasanya ada jeda 1 bulan baru program IVF-nya dimulai. Di masa jeda ini, dokter mungkin akan memberikan obat untuk diminum atau ada juga yang suntikan.

Part 3 – IVF

  1. Saya melalui proses laparoskopi dulu, jadi sebelum mulai disuntik untuk memperbesar telur, ada pemeriksaan darah kembali untuk mengecek estridol level. Jika hasil tes darah bagus, barulah proses suntik tiap hari di jam yang sama dilakukan selama 8-10 hari. Ada yang cuma diresepkan 1 suntikan (Menopur/Gonal), ada juga yang kombo sepaket dengan Suprefact. Selama disuntik wajib makan putih telur, banyaknya akan diinfokan oleh dokter/sister.
  2. Di hari yang sama, suami dan isteri juga bertemu embryologist untuk mendengarkan penjelasan mengenai proses pembuahan yang dilakukan oleh embryologist. Jika telur banyak, telurnya dibagi untuk proses pembuahan alami & buatan (intracytoplasmic sperm injection – ICSI). Suami wajib ikut dikunjungan ini, sekalian tanda tangan dokumen dari embryologist.
  3. Untuk proses suntiknya saya lakukan sendiri, jadi kami pulang dulu ke Indonesia. Suntikan hari ke-7 baru kembali ke Penang. Suami tidak wajib ikut.
  4. Di hari ke-8, dokter memeriksa apakah sel telur sudah cukup besar untuk dijadwalkan proses OPU (Ovum Pick Up), idealnya minimal 18mm. Jika belum cukup akan diberikan tambahan hari untuk suntikan.
  5. Setelah sel telur sudah cukup ukuran besarnya (hari terakhir suntikan), berikutnya adalah ovidrel injection, dilakukan tepat jam 9pm, yang menyuntik adalah sister yang bertugas di A&E (Accident & Emergency). Prosesnya, jam 8.45pm berikan buku berobat ke petugas di A&E (Room T2), nanti jam 9 mereka akan panggil masuk untuk disuntik.
  6. Ada jeda 1 hari antara ovidrel injection dengan OPU, jadi silakan bersantai (ke mal, nonton, makan), tapi hindari yang beresiko (diare, kecapean, dll). Biasanya suami diminta sudah tiba di Penang H-2 OPU, jadi ada waktu 1 hari full untuk istirahat, quality time sama isteri juga lah.
  7. OPU day! Prosesnya dimulai dari puasa dari jam 12 malam dan jam 6.30am sudah harus sampai di rumah sakit, untuk mengurus administrasi (note: ini bisa dilakukan 1 hari sebelumnya) baru menunggu di kamar rawat inap. Sambil menunggu dipanggil ke ruang operasi, suami bisa sarapan dulu (note: kantin rumah sakit buka dari jam 8am). Pada saat OPU, dokter hanya memberikan obat penenang (katanya beda dengan obat bius) jadi ada kemungkinan kita akan mendengar dokter dan tim ngobrol. Ada yang merasa sakit, ada yang biasa aja. Note: dibawa santai & relaks aja. Setelah selesai OPU, balik ke ruang rawat inap, istirahat beberapa jam (kalau tidak salah sore/malam bisa balik ke hotel/penginapan).
  8. Karena kondisi rahim, saya tidak langsung ET (Embryo Transfer) setelah OPU. Ada jeda 1.5 bulan (2 kali menstruasi). Jadi setelah OPU selesai, hari ke-3 konsul ke dokter untuk update perkembangan embryo (berapa banyak yang jadi dan grade-nya. Biasanya yang disimpan/frozen grade 3-5) setelah itu balik ke Indonesia. Saya masih wajib makan putih telur sampai menstruasi pertama datang.

Part 4 – Frozen Embryo Transfer (FET):

  1. Hari ke-2 menstruasi yang kedua, konsultasi kembali ke dokter untuk melihat kondisi rahim dan teman-temannya. Kalau ok, ada obat yang perlu diminum sampai jadwal appointment berikutnya
  2. Di appointment berikutnya, dokter akan memeriksa ulang kondisi rahim. Kalau ok, malamnya dijadwalkan ovidrel injection (jam 9pm, prosesnya sama persis seperti ovidrel injection sebelum OPU). Disini suami perlu datang lagi untuk tanda tangan persetujuan pencairan embryo (thawing). Kalau jadwal konsul dokter jatuh di hari kerja dan suami tidak bisa cuti, bisa dinego untuk suami datang di weekend sebelum OPU.
  3. Hari ke-4 setelah ovidrel injection baru dilakukan embryo transfer. Kalau bisa ada yang menemani (tidak harus suami), untuk yang bawain barang-barang saat kita masuk ruang operasi nanti & menemani kembali ke penginapan. Kalau tidak ada, bawa barang yang penting & seminimal mungkin, nanti titip ke sister. Prosesnya, setelah mengurus administrasi, embryologist akan menginfokan hasil thawing embryo. Setelahnya sister akan meminta untuk minum air mineral (bawa yang kemasan 1.5 liter), diminum bertahap agar tidak langsung kebelet.
  4. Saat di ruang operasi, sister akan mengecek kantong kemih (dengan USG perut) apakah cukup atau tidak. Saat sudah di ruang operasi, saya dapat info kalau dokter ada tindakan emergency lain jadi suster menawarkan saya untuk buang air kecil dulu, ditakar maksimal 300ml.
  5. Saat proses embryo transfer, dokter akan meminta untuk kita relaks. Prosesnya cuma sekitar 15 menit kok, jadi walaupun tidak nyaman dan kebelet pipis, usahakan untuk relaks, fokus pada nafas (tarik nafas panjang, hembuskan perlahan) dan pikirkan hal-hal yang menyenangkan
  6. Setelah selesai, kita diminta untuk tiduran dulu 15 menit lagi sekalian tahan untuk tidak buang air kecil dulu karena ada obat yang baru dimasukkan obat juga, baru pindah ke ruang paska operasi. Disini sebetulnya diminta untuk menahan pipis 15 menit lagi tetapi karena sudah tidak tahan, saya diperbolehkan untuk pipis pakai pispot.
  7. Setelahnya tiduran sekitar 1.5 jam, baru tim sister dokter jemput ke ruang operasi untuk kembali ke klinik untuk disuntik di lengan atas (pregnyl injection). Baru boleh balik ke penginapan

Part 5 – The 2 Weeks Wait (2WW):

  1. Sebetulnya wajib bed rest cuma 24 jam setelah proses embryo transfer. Itu pun boleh kok ke kamar kecil atau duduk untuk makan. Umumnya, kitanya yang memang merasa perlu untuk slowing down everything.
  2. H+3 akan ada pregnyl injection (untuk mendukung kehamilan) di lengan atas yang berbeda dari suntikan di hari embryo transfer.
  3. Setelah ini, dokter memperbolehkan untuk kembali ke Indonesia. Rencananya saya memang ingin kembali ke Indonesia tetapi karena pregnyl injectionnya jatuh di hari kerja jadi akan mengurangi cuti yang menjemput dan juga terlanjur sudah bayar hotel via traveloka (non-refundable) sampai H-3 waktu test BHCG (tes kehamilan) jadi diputuskan untuk akhirnya stay di Penang selama 2WW. Note: Kalau tidak salah menghitung 2WW dari waktu OPU (bukan ET), karena saya FET makanya agak bingung hitungannya.
  4. Selama masa 2WW ini, saya merasa ini waktu untuk resting and nesting days. Walau bosan stay di hotel terus tetapi juga memang tidak mood untuk pergi keluar. Setahu saya pasien lain ada yang pergi jalan-jalan ke mal kok di masa 2WW ini, jadi balik lagi ke orangnya masing-masing.
  5. Tes darah BCHG, wajib tiba di rumah sakit sebelum jam 8 untuk registrasi di lab darah. Setelahnya tunggu sekitar 2 jam (bisa sarapan dulu) baru balik ke klinik menunggu dipanggil dokter untuk dibacakan hasilnya.

Dari pengalaman 5 bulan terakhir, 7 hal ini menjadi lesson learned buat saya pribadi:

  • Setiap orang berbeda, jadi jangan menjadikan treatment orang lain sebagai acuan treatment diri sendiri.
  • Surprise! Kita boleh berencana tetapi hasil lab/pemeriksaan terkadang punya rencana berbeda (akhirnya bisa bilang becandaan kapan bemo/bajaj belok hanya dia dan Tuhan yang tahu is not the only ‘intriguing’ phenomena on earth).
  • Start healthy habit in advance! Jangan mulai rajin olahraga dan makan sayur dan buah pas mulai program, kalau bisa beberapa bulan sebelumnya sudah mulai jadi kebiasaan. Proses IVF-nya sendiri penuh dengan ups dan down, jadi jangan ditambah dengan struggle memulai kebiasaan baru.
  • Be happy! Kumpulkan hal-hal yang bisa membuat kita bahagia (bikin list film yang ingin ditonton kah, buku yang ingin dibaca, anything…). You will need them later, a lot!
  • Teaming with your doctor and nurses/sisters. They work professionally, but still they are human. It’s important to build a good relationship with them (will tell the story more later).
  • Hear your self (body, instinct, gut, etc) than anyone else. Akan ada banyak nasihat atau rekomendasi ini dan itu. Modar sih kalau diikutin semua hehe. So, trust yourself!
  • This shall pass too. Ada masa-masa yang membuat down atau tidak menyenangkan, but hey the most important thing is doing our best and let the universe take care the rest. Have faith in God! I think all religions teach the same basic rule that God, the Almighty, has supranatural power to do everythink beyond our thought and self.

Well, panjang juga ya hahaha. Cerita kejadian demi kejadian, dari drama timbangan berat badan sampai drama ruang operasi, di postingan berikutnya ya.

Till next time!