[book review] Elizabeth is Missing

IMG_8652

Berasa enggak sih, usia bertambah berbanding lurus dengan lamanya waktu untuk menyelesaikan buku bacaan? *langsung ngitung jumlah kerutan di dahi.

Sebetulnya, di rumah masih ada beberapa buku novel yang bahkan bungkus plastiknya pun belum dibuka hehe. Tetapi, karena penerbangan yang delay cukup lama di bulan Februari lalu, akhirnya saya beli buku secara acak. Waktu memilih sebetulnya sudah melirik antara Haruki Murakami atau Dan Brown. Pilihan Haruki saya coret akhirnya karena bukunya pasti sangat intens, kurang pas rasanya buat situasi saat itu. Walaupun saya suka tulisan Dan Brown tetapi buku barunya baru ada yang edisi hard cover. Berat buat ditenteng sambil traveling. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku dari penulis yang saya belum pernah baca sebelumnya. Kejadian beli buku random ini pernah terjadi waktu saya membeli novel Khaled Hosseini ‘A Thousand Splendid Suns’. Biasanya saya sudah punya informasi awal dulu baru beli novel. Nah, dari beli acak ini ternyata membuat jiwa muda (halah) saya yang waktu itu baru disiram teori-teori feminisme, terguncang dan ikut menangis membayangkan tragedi dalam cerita. Setelahnya, baru saya membaca novel ‘The Kite Runner’ yang lebih populer karya Mas Khaled (uhuk, sok ikrib!). Resmi, saya jatuh cinta dengan karya-karya beliau.

Kali ini, pilihan acak saya jatuh pada novel karya dari Emma Healey ‘Elizabeth is Missing’. Novel ini penerima Costa Book Awards, tahun 2014. Lalu, apa yang menarik dari ceritanya?

Gemashhhhh!!! Versi kata kekinian lainnya, emeshhhh!!! Si tokoh utamanya ini adalah oma Maud, yang sering mengalami kepikunan, kecuali untuk satu hal, menurut ingatan si oma temannya si Elizabeth hilang. Jadi kita ikut berpetualang bersama oma mencari temannya, yang bisa lupa apa yang sepersekian detik lalu mau dilakuin. Udah gitu, ingatan oma juga kecampur sama memori hilangnya kakak oma, Sukey. Selain gemas, jadinya ikut mikir beneran hilang enggak sih kedua orang tersebut? Pas kapan nih akan terjawab pertanyaan ini (kejawab enggak ya, hmm)? *yang baca ngintip bab terakhir tetapi enggak dapat clue soalnya hahaha

Selain itu, tentunya kepikiran kalau nanti ada keluarga yang mengalami kepikunan ini, seberapa sabar ya saya mau memahami dan membantu mereka. Dulu, kakek & nenek dari ibu saya mengalami kepikunan di beberapa tahun usia terakhir mereka. Mereka lebih rewel dan seringkali kami tidak paham apa yang sebetulnya mereka inginkan. Malahan, situasi ini menjadi bahan becandaan orang-orang dewasa di sekitar kami. Mungkin karena mereka pun bingung bagaimana menghadapinya.

Kembali ke novelnya. Baru kali ini setelah selesai baca novel, saya tidak merasakan apa-apa. Seperti baru putus pacaran yang sedih enggak, senang juga tidak. Lah, pacaran enggak sih namanya yang kayak gini? Pengalaman pertama yang membuat saya mempertanyakan kewarasan pikiran dan perasaan hahahaha.

Mungkin ini kali yang disebut akhirnya saya menemukan genre cerita yang bukan (mungkin belum) saya sukai. Walaupun kisahnya sangat relatable, tetapi tidak mengena sampai di jiwa. Alur ceritanya mengalir dengan lancar tetapi tidak ada yang sampai menohok tombol sedih atau senang. Saya memang penasaran akan apa yang terjadi dengan kedua tokoh yang diceritakan hilang tersebut, tetapi tidak sampai titik merasa kehilangan. Apa yang saya rasakan dan maknai dari novel ini tentunya sangat subyektif. Saya merasa novel ini setidaknya membantu saya semakin memahami ketertarikan akan jenis tulisan yang seperti apa.

Tapi kan ya karena anaknya ogah rugi menghabiskan waktu dua bulan baca buku cuma berlalu segitu aja, jadi dipikirin juga pelajaran hidup apa yang kena sebetulnya dari novel ini. Dan saya pun teringat siapa saja orang-orang yang hilang dari hidup saya *jrenggg. Novel ini mengingatkan saya akan orang-orang yang ‘hilang’ tanpa sempat cipika-cipiki atau ajak makan farewell dulu (duh mbaknya makan mulu yang dipikirin). Salah satunya, teman SMA dan satu ekskul, yang mendadak meninggal saat sedang latihan ekskul di tingkat provinsi. Dia sangat sehat dan merupakan ketua angkatan kami di ekskul. Sehari sebelum kejadian, dia masih minta tolong dibelikan makanan di kantin yang saya tolak karena saya juga malas turun dari lantai 3 kelas kami. I wish it wasn’t the last memory I had about him. Regret always comes last. Tentunya, ada beberapa sosok lainnya yang ‘hilang’ selain dia. Orang-orang yang terkadang muncul selintas dipikiran atau ada hal-hal yang mengingatkan akan mereka. Berbeda dengan oma Maud, saya tidak mencari mereka. Terkadang, jemari tangan masih mencari mereka melalui perangkat gawai sih, tetapi hanya sebatas itu.

Anyhow, ada yang pernah baca buku ini juga?

Advertisements

[book review] Never Let Me Go ~ Kazuo Ishiguro

img_41631

Buku ini merupakan oleh-oleh dari Bapak’e tempat terakhir saya bekerja waktu beliau pergi ke USA. Beliau tahu saya suka buku-bukunya Haruki Murakami dan bisa dibilang genre dari buku ini hampir sama.

Berapa lama yang diperlukan untuk menyelesaikan membaca buku ini? Errr… sekitar setahun lebih MWAHAHAHA *pengakuan dosa*

Saya juga ndak tahu kenapa saat baca buku Murakami bisa gas pol susah berhenti, sementara buku ini kalau saya masih bekerja malah mungkin tidak selesai bacanya. Asumsi saya, saat baca buku Murakami, saya juga lagi galau enggak jelas jadi dapat banget tuh chemistry-nya. Sementara, saat baca buku Ishiguro ini, saya sudah di zona laid back dikasih buku yang seloww deuy jadi seringnya ketiduran bacanya *mungkin faktor U juga kali ya hehe

Pembenaran lainnya dari situasi yang saya alami *teteup usaha ya seusss* saat membaca buku Murakami, saya penasaran dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Ceritanya memang berlatar kehidupan sehari-hari tetapi selalu ada faktor yang “tidak biasa” yang membuat saya berimajinasi. Sehari-harinya saja saya hobi menghayal, klop kan sama bukunya. Nah, buku “Never Let Me Go” ini beneran kehidupan yang “biasa” dari anak-anak yang spesial sampai mereka bertumbuh dewasa. Tidak ada hal “tidak biasa” yang membuat aura (bukan arwah) penasaran yang muncul. Awal membaca, saya malah berpikir ini tentang anak-anak dengan down syndrome *maklum bacanya sambil ketiduran ;P

 

Apa yang membuat saya memasukkan buku ini dalam daftar buku yang direkomendasikan?

Sehari-harinya, kita terbiasa bergerak cepat, dinamis, dan banyak proses yang bisa dilakukan dengan instan. Hal-hal yang “memperlambat” kita menjadi faktor yang tidak menyenangkan. Siapa yang tidak pernah marah karena pelayanan jasa yang lambat? Saya sendiri sudah beberapa kali “ngamuk” ke petugas yang rasanya tidak kompeten. Membaca saja kita terbiasa untuk menggunakan teknik scanning atau skimming. Biar cepat selesai yee kann.

Di bab-bab terakhir membaca buku ini saya belajar untuk membaca dengan tenang, menikmati setiap rincian kejadian. Ini buku kedua (sebelumnya buku “Portrait of A Turkish Family” oleh Irfan Orga) yang membuat saya sedih menyelesaikannya. Hubungan yang intim tidak dibangun dengan instan, proses dan waktu yang menguji seberapa dalam kita mengikatkan diri di dalamnya.

Memiliki teman “public figure”, timeline penuh dengan foto-foto holiday abroad, cutie babies, these things don’t bother me at all. Paling merasa terusik saat lihat foto makanan di jam lapar, which is every time hehe. Tokoh-tokoh di buku ini bisa dibilang didoktrin kalau mereka spesial, tetapi kehidupan mereka sehari-hari soooo… ordinary. Bahkan kisah cinta yang biasanya jadi pemanis cerita juga toooo… ordinary. But at the end, I found their ordinary story very intriguing. I create my own version of being “special” and embrace it. I felt them. I was with them. I was them. We are just a bunch of ordinary people. And, it feels OK.

We live for others. We live for now. Ini merupakan kebijaksanaan yang saya coba renungkan dari buku ini. Suka atau tidak, kita hidup untuk orang lain, kita memberikan waktu, tenaga, materi, pemikiran kita untuk orang lain. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk orang lain dalam sehari? Sepertinya memang desain dari sononya demikian, jadi ya maknai hidup kita untuk bermanfaat bagi orang lain. Tapi enggak berarti lupa sama diri sendiri loh ya. Lagian, saat kita memberi, hukum karma berlaku, akan ada juga orang-orang yang “memberikan” hidup mereka untuk kita. Well, sometimes it doesn’t exactly matched our expectation though.

Kita hidupnya tidak lama alias tidak abadi. Tetapi, pemikiran dan rencana kita seringkali lebih banyak untuk yang jauh disana dibandingkan pada apa yang sedang terjadi saat sekarang. Tidak salah tentunya untuk memiliki persiapan jangka panjang. Tetapi, jangan melupakan apa yang terjadi “sekarang” sama pentingnya dengan apa yang terjadi di “masa depan”. Live now!

Warning: anyway, kalau memang pada dasarnya tidak suka cerita yang lambat, detail oriented, less drama/romance, saya tidak rekomendasikan untuk baca buku ini.

 

Portrait of a Turkish Family ~ Irfan Orga

Portrait of a Turkish Family - Irfan Orga

Portrait of a Turkish Family
Irfan Orga

2013
I went to Istanbul for company’s outing. I remember we once stopped by at a small book store near Blue Mosque, and this book was recommended by the owner of the shop.

2015
I read this book, finally (borrowed from our Bapak book’s shelf at office).

My book possession had shifted from chic lit to thoughtful / deep story since couple years ago. It maybe related with some ‘hard’ journey I had been through. After finishing 3 of Haruki Murakami’s books, I read this book. It took almost 2 months for me to finish this one.

This book is about a life of the main character, Irfan Orga, and his family. It’s about a shifting of a wealth family to their unimaginably lowest level of poverty because of the war. It’s about a shifting of his lovely kind hearted mother to a strong figure that tried keep the family survive, but at some events a betrayel from her children’s view. A father that they once had but left forever with a devastating story they knew years later.

It is definitely a devastated story of a family.

But, I found courage through his grand mother who never let anyone looked down on her. I found the beauty of determination of life as I know how it feels when life treats us so hard in many times and ways. This is a journal of Irfan Orga, so reading each passages just like having him told the story by himself, his gentle voice and sensitive gesture while recalling each memories he had. I found the beauty of the richness of words and writings can offered to my eyes and soul. Then, I found the beauty of tears because losing something precious. I wept. And, I fall in love more with this book.

I think our personal story has a kind of chemistry with the type of book we love to read.

Hope you enjoy the book as well!

Norwegian Wood ~ Haruki Murakami

Ah well, setelah lama gak baca buku (novel), pilihan saya jatuh pada buku Haruki Murakami ~ Norwegian Wood. Belinya pas May day, dan akhirnyaaa setelah 11 hari bacanya selesai juga. Btw, baru sadar bukunya ada 11 Bab, fyi 🙂

Image

12 May 2014 bukunya selesai saya baca untuk pertama kali. Means, saya akan baca buku ini lagi. Membaca pertama kali, yang saya inginkan adalah mengetahui apa cerita berikutnya. It’s so twisted and unpredictable. Pace ceritanya sangat detail sehingga sesekali saya mengingatkan diri untuk menikmati baris demi baris kalimat tetapi di banyak waktu lainnya saya memacu mata untuk menyelesaikannya. Well, rencananya saya akan baca lagi nanti untuk lebih menikmati its story, deeper. Saat buku ini selesai, yang saya rasakan adalah kelegaan telah menyelesaikan ‘pertarungan’ antara hati, pikiran dan lembaran kertas yang saya balik dengan tidak sabar. So, what’s this book about?

Kisahnya sesederhana cinta segitiga dan intertwisted dengan cinta lainnya, berbaur dengan cerita death & life. To be honest, saya menemukan my own peace, tranquility, calmness during the reading times. Agak weird memang karena yang diceritakan banyak mengenai kematian, cinta tak berbalas, ‘unspoken words’. Saya merasa seperti berada di belakang, kadang disamping atau di depan Watanabe (si tokoh utama) menjalani waktu demi waktu. Mencoba untuk memahami apa yang ada di pemikirannya sekaligus pemikiran saya sendiri. Mencoba merasakan apakah cinta selalu tentang rasa yang menggetarkan atau terkadang merupakan a silent darkness, but it is still a love. Memikirkan kejadian-kejadian yang sampai pada akhirnya tidak untuk dimengerti karena kematian terkadang memutus cerita dari yang ingin kita ketahui. Sesekali saya ingin melarikan diri juga karena tokoh-tokoh yang diceritakan juga banyak ‘melarikan diri’ dalam berbagai cara. Have you ever shut down yourself from any contact with others (outer world)?

Saya sendiri banyak mempertanyakan dan memikirkan bab demi bab ceritanya. I fall in love, not only once, and then, how each story goes in its own way. Some left with its unfinished story, the other way forgotten by time, some remain silent in the darkness which I don’t know what or how should I do with them, well, for sure, there’s love that stay perfectly in its right fit. I face some losing of beloved ones. Few of them left in peace but most left me with thousand unspokeable questions. And, I live here now, having my own story to continue with still more questions which coming in their own ways.

Well, I don’t have any right words to describe or review the story actually (which I knew how Naoko felt), while also have the feeling to embrace life more just like Midori did, and the other side feel the Reiko’s step to her new world after depth intake relation with the (love) story of others. Maybe, I just put myself into Watanabe’s shoes.

Buat yang suka bukunya Paulo Coelho, Rumi (dll), this book is highly recommended untuk dibaca. Hardly can’t wait to read Haruki’s next book. Maybe ‘The Wind-up Bird Chronicle’. Btw, Norwegian Wood udah ada filmnya juga. Mungkin tidak masuk Indonesia. Ini trailernya, fyi: