Baby Wish List

Sebetulnya agak ragu untuk memuat “Baby Wish List” ini di blog karena kesannya gimana gitu ya. Mempertimbangkan beberapa hal seperti: daftar ini sudah diinformasikan ke beberapa kelompok pertemanan terdekat dan respon mereka sangat positif, beberapa bahkan sudah mengirimkan kado-nya ke rumah *mamak terharu*. Pertimbangan lainnya tentunya dari pengalaman yang sudah-sudah, beli kado untuk bayi itu lumayan bikin galau gila, karena kuatirnya hadiahnya tidak sesuai atau sudah ada yang beliin jadi agak mubazir ya.

Jadi, harapan kami sebagai calon orang tua baru, mudah-mudahan daftar ini membantu keluarga & sahabat untuk memilih kado. Tentunya kalau memang ingin memberi ya, kalaupun tidak doa untuk lancar-lancar dan sehat sampai lahir ibu dan bayi-bayi juga tidak kalah pentingnya.

Listnya berisi: informasi barang, rekomendasi toko penjual, estimasi harga, dan harapannya kapan kado-nya diterima. Bagian terakhir ini saya tambahkan dari daftar awal karena beberapa barang dibutuhkan pada saat melahirkan (segera sesudah melahirkan), jadi kalau memang tidak ada yang memberikan kado tersebut, kemungkinan besar pak suami yang akan beliin sebagai kado buat isterinya hahaha. Jika kadonya sudah ada yang membelikan/memilih akan ditandai di akhir informasi.

Oh, jenis kelamin bayi kami sejauh ini hasil pemeriksaan dokter cowok dan cewek hehe (sekiranya diperlukan untuk memilih kado)

  1. Care Set (gunting kuku, sisir, dll), Mothercare, 1 set, Rp400,000,- (tante V & om A)
  2. Botol Dot, Merk Pigeon, bisa beli dimana saja, 6 pieces, Rp360,000,- (tante R)*
  3. Baby Crib (untuk baby A), Little Equi (sistemnya PO, sekitar 25 hari kerja), 1 set, Rp1,600,000,- (http://www.equifurniture.com/product/-baby-box-4-way-cloud)
  4. Baby Crib (untuk baby C), Little Equi (sistemnya PO, sekitar 25 hari kerja), 1 set, Rp1,600,000,- (http://www.equifurniture.com/product/-baby-box-4-way-cloud)
  5. Bumper bed-play mat, Lumba Baby (IG: lumbaplaymat), 1 set, Rp2,475,000,- IMBEX special price, (tante & om DATE Mahakam)
  6. Pink popcorn heart blanket, Mothercare, 1 piece, Rp360,000 (http://www.mothercare.co.id/pink-popcorn-heart-blanket.html)
  7. Blue popcorn heart blanket, Mothercare, 1 piece, Rp360,000 (http://www.mothercare.co.id/blue-popcorn-star-blanket.html)
  8. Car Seat, Joie Verso (convertible), 1 set, Rp4,300,000,- harga di Mothercare website (http://www.mothercare.co.id/joie-verso-0-1-2-3-child-car-seat.html) >> harga di online shop biasanya lebih murah
  9. Car Seat, Combi Cocoro (convertible) 1 set, Rp2,820,000 (https://shopee.co.id/Car-Seat-Combi-Coccoro-S-i.9022031.64646618)
  10. Stroller Nuna Mixx, 1 set, Rp4,700,000,- (https://www.blibli.com/p/nuna-mixx-2-kereta-dorong-bayi-berry/ps–CON-45320-00428?ds=CON-45320-00428-00001&ds_rl=1260385&gclid=CjwKCAiA9K3gBRA4EiwACEhFe4yO18wz4oTwLbV6SiG3T3RtPqwYPQ1sDWQvW_MV1LS5CN5XHFtv2BoCBN8QAvD_BwE&gclsrc=aw.ds)
  11. Stroller Hybrid Cabi, 1 set, Rp6,000,000,- (https://www.blibli.com/p/hybrid-curve-stroller-black-frame-khaki/ps–BAM-20189-04836?ds=BAM-20189-04836-00001&list=Last%20Seen)
  12. Baby Carrier/wrap, Chubby Baby Shop (toko di Mangga Dua, bisa juga via online shop di Tokopedia), 2 set, Rp500,000-700,000 (tante G, tante E)
  13. Nursing Apron, merk cotton seeds, petite mimi atau merk lainnya, 2 set, Rp100,000-200,000
  14. Gurita/stagen untuk Ibu, Bambo postpartum merk Mooimom.id, 1 piece, Rp610,000,- (harga paling murah di tokopedia chubby baby shop)*
  15. Breastpump, merk Cimiflo F1/Spectra 9+, online shop, 1 set, Rp2,000,000 (tante F, om R, dan om D)
  16. Baby toys, Mothercare, 2 pieces
  17. Clothing (Baju/Sepatu/Topi: direkomendasikan ukuran 1 tahun ke atas)
  18. Cooler bag (tempat penyimpanan ASI), merk apa saja. Sekalian dengan tas untuk pampers juga boleh 🙂
  19. Bantal menyusui, merk apa saja yang empuk

Untuk nomer yang ditandai (*) ibu & bapak si kembar mengharapkan sudah diterima paling lambat 31 Desember 2018 hehe. Terima kasih atas pengertiannya 🙂

Jika sudah memilih/membeli, mohon infokan ke ibu atau bapak si kembar ya supaya bisa ditandai barangnya.

Terima kasih 🙂

 

Advertisements

Syukuran Tujuh Bulanan

Momen tujuh bulanan buat kami memiliki makna khusus sendiri. Dari perjuangan 4.5 tahun untuk mendapatkan keturunan, dan puji syukur ada dua janin yang berkembang, tiap harinya merupakan sebuah “perjalanan”. Sampai di titik tujuh bulan merupakan kelegaan tersendiri karena setidaknya secara medis, kemungkinan bertahan hidup jika sampai lahir prematur sudah di angka 80-90%. Tentunya tidak ada orang tua yang mengharapkan anaknya lahir prematur, tetapi demikianlah salah satu resiko dari kehamilan, khususnya janin kembar.

Sejujurnya, saya ingin mengundang semua keluarga dan sahabat untuk menghadiri acara syukurannya. Karena merekalah yang “menemani” perjalanan kami, baik secara langsung maupun dalam pikiran dan doa. Tapi, karena acaranya dilakukan di rumah, tentunya kapasitasnya mengikuti ruang yang ada. Acaranya sendiri akhirnya dibagi dalam dua sesi, pagi-siang untuk keluarga dengan tradisi/budaya batak toba dan karo, sementara sorenya acara santai bersama teman-teman saya dan suami.

Ternyata semua teman kami menanyakan hal yang sama, acara tradisinya seperti apa? Jadi begini ceritanya…

Karena saya batak karo dan suami batak toba, jadi ada 2 prosesi yang dilakukan beriringan. Sebetulnya konteks dan nilai yang disimbolkan sebagian besar sama. Untuk batak karo acara ini disebut “Mbesur-besuri” sementara di batak toba disebut “Mambosuri”, keduanya bila diterjemahkan langsung ke bahasa indonesia memiliki makna memberi makan sampai kenyang si ibu agar kuat (siap) sampai persalinan nanti.

Pada saat kami menikah, saya mendapat orang tua angkat yang adalah Tulang atau Paman dari suami, marga Silalahi (kebetulan merupakan adik kandung dari ibu mertua saya), mereka inilah hula-hula kami. Dalam konteks Dalihan Na Tolu, hula-hula ini pihak yang paling dihormati dan merupakan sumber dari berkat. Nah, suami saya juga mendapat orang tua angkat (Tarigan), dan pihak yang memiliki derajat yang sama dengan hula-hula ini disebut kalimbubu, adalah marga Perangin-angin (marga dari ibu kandung saya).

Keluarga Silalahi membawa Dengke (ikan mas arsik) dan memberikan Ulos Mula Gabe. Sementara dari keluarga Perangin-angin membawa ayam utuh (yang sudah digulai) beserta semua pelengkap sajian makanan lainnya (minuman & snack wajib yang manis). Si calon ibu wajib makan sampai kenyang, dan jika ada makanan lain yang diinginkan boleh minta juga. Acara ini dilakukan hanya untuk anak pertama, jadi sebagai ibu silakan untuk dipuas-puasin deh hehe.

Dari pihak Purba (marga suami saya) menyiapkan daging B2 lengkap kepala sampai ekor untuk diserahkan ke hula-hula (dan kalimbubu) sebagai tanda terima kasih atas kedatangan dan berkat yang diberikan. Daging B2 ini nantinya akan dibagi-bagikan sebagai jambar untuk dibawa pulang oleh hula-hula.

Setelahnya baru acara makan bersama. Khusus di batak toba, acara makannya tidak boleh lewat tengah hari (saya lupa menanyakan kenapanya). Selesai makan baru dilanjutkan dengan pihak keluarga memberikan petuah/nasehat/doa untuk calon ibu & bapak. Ditutup dengan ucapan terima kasih dari penyelenggara acara (orang tua, calon ibu & bapak) dan doa.

Side story…

Karena kehamilan kembar, saya lumayan galau menyiapkan baju yang dipakai. Kepinginnya pakai kebaya yang rapi dan dandan. Niatnya jahit kebaya akhirnya pupus karena merasa sayang kalau nanti tidak bisa dipakai lagi. Akhirnya beli kebaya jadi, ukuran paling besar, 2 minggu sebelum acara. Tapi jadi deg-degkan apakah ukurannya masih muat nantinya hahaha. Perut saya memang sudah sebesar orang yang hamil 8 atau 9 bulan, dan kenaikan berat badan bisa 0.5-1 kg dalam hitungan hari.

Untuk acara karo, biasanya calon ibu dan bapak akan duduk di tikar khusus. Tapi karena saya sudah kesulitan bahkan untuk duduk di kursi pun, akhirnya diberikan dispensasi (hahaha) boleh duduk di kursi yang dialasi tikar.

Dandan akhirnya tidak jadi ke salon tapi dandan sendiri. Ya maklum ibu hamil maunya banyak tapi buat gerak kesana-kemari sulit. Tadinya mau pesan Go-glam tapi harganya 2x lipat salon langganan *mamak perhitungan banget soal duit

Demikianlah, puji syukur acaranya berjalan lancar dari pagi sampai sore. Doakan kami sehat-sehat sampai lahiran nanti 🙂

2nd Trimester Story

Kata orang, fase trimester ke-2 paling menyenangkan. Ada amin ibu-ibu? hehe 😉

Ada benarnya pendapat tersebut karena masa morning sickness biasanya sudah berakhir, energi sepertinya sudah kembali normal, perut belum terasa berat jadi masih enak untuk beraktivitas. Nah, ini beberapa hi-light dari cerita trimester kedua saya:

First kicking for papa

Saya sudah merasakan ada gerakan janin setelah usia kandungan melewati 22 minggu, tetapi gerakan janin saat saya meletakkan tangan di perut terasa pertama kali di tanggal 11 Oktober 2018 (rasanya bersejarah banget hehe). Hari itu, saya merasakan ada gerakan di perut dan saya ajak janinnya ngobrol untuk gerak lagi, eh beneran di perut sebelah kanan ada “tendangan” lembut *brb mamak nangis dulu saking bahagianya.

Jadi saya ceritalah ke suami kalau sekarang janin kembar kami sudah mulai tendang-tendangan hehe. Pak suami penasaran dong, jadi tiap kali pulang kantor atau pas bangun pagi, tangannya diletakkan di perut saya nungguin baby’s kicking. Eh, makin ditunggu anaknya malah diem-dieman hahahaha *Bapaknya yang pundung :)). Jadi, seperti biasa saya ajak anaknya ngobrol lagi supaya pas bapaknya ada, gerak-gerak lagi. Jadilah suatu hari, saya melihat di perut ada tendangan, jadi saya panggil bapaknya untuk lihat dan pegang. Dan beneran kali pak suami berhasil merasakan tendangan si janin (btw, kita tidak tahu apakah tendangan atau tangannya yang gerak sih ya hehe).

Sampai hari ini masih belum bosan menunggu tiap kali si janin gerak, tiap kali mereka bergerak saya ikutan elus-elus perut. Biar kayak lagi toss-tossan gitu. Dan, katanya memang perlu untuk membangun komunikasi dengan janin, baik melalui diajak ngobrol, sentuhan/elusan di perut, dan emosi yang kita rasakan sehari-hari.

 

Aktif beraktivitas

Dari yang mulai lagi rajin ke dapur (hampir setiap hari masak), jalan pagi sekalian ajak jalan anjing piaraan kami si Kenji, mulai ikut kelas yoga dekat rumah, dan ikut kelas prenatal yoga & gentle birth. Di trimester dua ini juga saya masih ikut membantu kegiatan TEDxJakarta ke-13 “Jagad Manusia” (ceritanya ada di IG saya @rumahkopi hehe). Rasanya seru sih karena walau kadang berasa lebih cepat lelah tetapi memang inginnya aktif beraktifitas.

Sedikit cerita dari kelas yang saya ikuti, di kelas gentel birth yoga, menurut saya wajib banget diikuti oleh ibu hamil dan suami. Kalau memungkinkan saat masih awal-awal kehamilan jadi bisa menerapkan ilmu yang didapat lebih maksimal. Kelasnya difasilitasi oleh bidan Yessi Aprillia (IG @bidankita) dan tim, materi yang disampaikan tidak hanya hal-hal praktis seputar kehamilan tetapi juga teori yang mendasarinya sehingga kita jadi lebih paham. Misalnya, saat fase pembukan 1 sampai 10, kalau tidak paham mungkin akan panik saat sudah keluar flek, padahal bisa jadi itu baru pembukaan awal yang mungkin banget masih lama sampai ke pembukaan 10. Kalau di awal sudah panik, justru keburu habis energi-nya saat tiba waktunya mengejan. Sayangnya kelas di Jakarta bukan kelas regular yang selalu ada, apalagi domilisi bidan Yessi bukan di Jakarta. Jadi, perlu banget untuk memantau IG-nya dan segera daftar kalau ada kelas di Jakarta.

Selain itu, saya ikut kelas prenatal yoga di ProVclinic Jakarta. Ini kelasnya juga digemari oleh ibu-ibu hamil jadi wajib daftar jauh-jauh hari. Untuk daftarnya bisa menghubungi no WA admin (ada di IG @provclinic), pendaftaran kelas-nya dimulai di pertengahan bulan (tanggal 15) untuk kelas 1 bulan kedepan. Untuk ikut kelas yoga-nya, usia kandungan minimal sudah 20 minggu. Saya ikut kelas Mbak Mila (@jamilatus.sadiyah) yang kabarnya sering waiting list hehe. Serunya sebelum yoga dimulai masing-masing ibu bisa bertanya apa yang menjadi kegundahan mereka. Mbak Mila-nya baik dan sabar banget menjawab setiap pertanyaan, dan rasanya adem mendengar setiap penjelasannya. Kalau dipikir kan bisa saja bosan ya ditanya pertanyaan yang sama dari para ibu hamil yang umumnya punya pertanyaan yang sama hehe.

 

Kaki kram, alamakkk

Dalam situasi normal pun kalau kaki terasa kram tidak enak ya, apalagi kejadiannya saat lagi hamil, baru bangun tidur mau meluruskan (stretching) kaki dari posisi tidur miring sepanjang malam, dan kemudian kaki terasa kram huhuhu. Saya lupa persis kejadiannya kapan, sehari sebelumnya kami ke Bogor menjenguk adik saya yang baru melahirkan kemudian ke Cibubur untuk menjenguk saudara yang sakit (bisa dibilang seharian di luar rumah), dan setelahnya sekitar jam 3 pagi saya kebangun dan kedua betis saya kram, bergantian. Karena tidak tahan sakitnya, saya akhirnya bangunin pak suami. Karena sudah dalam kondisi kesakitan, pikiran sudah kehilangan akal apa yang harus dilakukan. Pak suami juga mungkin panik lihat saya sudah setengah menangis jadi tidak maksimal membantu mengurangi rasa kram-nya. Untungnya tidak lama sakitnya mereka setelah kaki diangkat dan ditekuk. Jadi, setelah pikiran kembali jernih dari rasa sakit, pagi itu kami mendiskusikan apa yang harus dilakukan jika kondisi yang sama terjadi lagi.

Kram berikutnya terjadi lagi, kali ini cuma di salah satu betis lagi. Awalnya saya tidak mau membangunkan pak suami. Jadi saya berusaha mengangkat kaki sedikit dan melakukan pijatan lembut di betis tapi sakitnya tak kunjung berkurang. Akhirnya lagi-lagi minta bantuan suami. Kali ini kami lebih tenang, dan suami lebih sigap. Jadi setelahnya, saya masih bisa tidur lagi sebelum memulai aktivitas pagi.

Menurut saya, ibu hamil memang ada dalam kondisi perlu dibantu. Bukan karena kita dalam kondisi lemah tetapi bantuan dari orang lain seringkali juga menjadi dukungan emosional yang membuat situasi lebih nyaman lebih mudah/cepat.

 

Pengentalan darah

Morning sickness done. Sembelit done. Kaki kram done. Nah, muncullah hasil tes darah yang mengindikasikan saya ada pengentalan darah. Di trimester pertama saya, tes darah yang saya lakukan tidak termasuk mengecek pengentalan darah, menurut saya ini perlu sih dilakukan karena kalau baca-baca artikel komplikasinya bisa sampai keguguran. Nah, kami kebetulan ganti dokter kandungan di usia kandungan 4 bulan, jadi di pemeriksaan kedua dokternya minta untuk dilakukan tes darah ulang yang mencakup kekentalan darah. Ada dua komponen yang diluar batas standar normal, tingkat HB dan D.dimer. Karenanya, dokter kandungan merekomendasikan saya untuk konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam – hematologis. Jadilah, saya mendapat tambahan obat 3 jenis terkait pengentalan darah ini dan suntik 5x (yang dilakukan 2x seminggu). Semoga kunjungan ke dokter berikutnya hasilnya sudah membaik, amin.

Dari beberapa artikel yang saya baca, pengentalan darah memang normal terjadi di kandungan dengan janin lebih dari satu. Ini seperti reaksi alami tubuh terhadap kondisi yang tidak biasa dialami. Jadi semacam perlindungan tubuh tetapi bisa menyerang si Janin. Menjadi beresiko karena membuat janin kekurang asupan makanan yang datang melalui plasenta/saluran darah. Puji Tuhan pertumbuhan berat kedua janin kami masih normal, sesuai dengan usianya. Walau demikian, saya jadi mengecek lebih teliti perkembangan berat janin per-konsultasi. Di usia kandungan 16 minggu, selisih berat baby A dan baby C hanya 5 gram (baby C lebih berat), ternyata di minggu 20, baby A lebih berat 20 gram dari baby C *mamak langsung patah hati, padahal sebetulnya angkanya mungkin tidak signifikan ya. Jadi, setiap hari baby C diajak ngobrol supaya makannya banyak. Eh, baby A sepertinya sempat pundung jadi gerakannya tidak sesering baby C. Lagi-lagi, mamak yang koreksi diri jadi diubah afirmasinya untuk keduanya diajak makan yang banyak biar sehat-sehat sampai lahir nanti.

 

Masuk ke minggu 23, perkiraan berat masing-masing janin sudah sekitar 500 gram, jadi makin terasa beratnya. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti yoga yang dekat rumah dulu hahaha. Pertimbangannya karena yoga-nya memang untuk umum sebetulnya cuma kalau saya ikut, beberapa gerakan disesuaikan. Tetapi tetap aja, sepertinya ini saatnya untuk saya melakukan yoga di rumah dengan panduan youtube saja, jadi lebih fokus untuk gerakan yang bermanfaat untuk ibu hamil. Kegiatan jalan pagi masih dijalani karena si Kenji anjing piaraan kami bisa cranky kalau tidak diajak keluar. Sementara itu, dua project yang tadinya saya mau kerjakan akhirnya di drop dulu supaya tidak terlalu capek.

Kalau dibandingkan dengan perut ibu-ibu lainnya, saya itu sudah seperti hamil 7-8 bulan hahaha. Besar dan beratnya sudah mulai membuat nafas cepat habis. Saatnya untuk melengkapi persiapan kelahiran nanti dan membuat baby wish list kali ya, mumpung masih ada energi tersisa di minggu-minggu ini.

Any idea?

 

Hamil dan Sembelit

Keringat dingin yang sudah membasahi punggung dan mungkin area badan lainnya, tidak lagi menjadi perhatian dari pikiran saya yang bolak-balik menyesali kejadian dua hari terakhir. Saya terduduk lemas, masih berusaha mengumpulkan sisa tenaga untuk satu dorongan pemungkas. Apa daya, badan tidak mau bekerjasama. Di depan pintu, suami saya lagi duduk, menunggu…

Saya: Kamu lagi apa? (keheranan)

Suami: Lagi nungguin kamu

Saya: Hah! Buat apa?

Suami: Sekalian belajar kalau anak kita nanti mau buang air

**lokasi kejadian: kamar mandi rumah, dengan situasi isteri hamil 4 bulanan lagi sembelit parah 🙈😂

Sebetulnya, biasanya saya rajin makan buah, sayur, dan kadang ditambah yoghurt karena sudah pernah baca artikel sistem pencernaan ibu hamil melambat (untuk proses penyerapan lebih baik/banyak) tetapi berdampak pada kemungkinan sembelit lebih tinggi. Tetapi, dua hari sebelum kejadian tersebut, saya ada kegiatan seharian di luar rumah dengan menu makan seadanya. Jadilah malapetaka di hari Minggu itu pun terjadi. Berjam-jam saya cuma bolak-balik ke kamar mandi tanpa hasil. Suami pun sudah bolak-balik keluar rumah beli yoghurt, buah, dan obat yang direkomendasikan oleh dokter kandungan; sambil dia juga ke rumah saudara yang (lokasinya tidak jauh dari rumah) menjadi tuan rumah arisan keluarga kami.

Penyesalan memang selalu datang belakangan ya, kalau di depan jadinya pendaftaran.

Jangan ditanya prosesnya seperti apa mengeluarkan tinja yang mengeras sambil kepikiran jangan sampai kontraksi ke janin. Rasa sakit dan tidak nyamannya memang tidak tertahankan tapi yang lebih membuat saya kuatir dampaknya ke janin kembar kami. Takut hal buruk terjadi.

Hari itu saya berjanji apa pun situasinya, saya tidak akan membiarkan hal yang sama terulang kembali. Sembelit adalah faktor yang bisa dikontrol, no excuses.

Saya: Kamu yakin udah siap anter anak buang air? *suami saya terkenal jijikan waktu kecil. Saking parahnya, dia ke toilet aja pake sepatu karena tidak mau kena yang kotor

Suami: Yakin! (Mantap kali jawabnya). Aku udah kebayang diteriakin baby A dari kamar mandi, papaaaaa cebokkkkk!!

Saya: 😂😂😂

Ditengah rasa derita yang kemudian masih berbekas beberapa hari kemudian, ada saja hal-hal yang membuat hati terasa hangat dan senyum tak mampu dibendung. Saya yakin pak suami siap.

Moral of story: ibu-ibu hamil wajib BANYAK makan sayur dan buah. No excuses.

Dewasa Tantrum

Beberapa tahun lalu, ada satu kejadian yang cukup berbekas dalam ingatan. Waktu itu, saya hendak pergi makan malam romantis #uhuk sama suami. Suami dari kantor, saya dari rumah. Jadi kami janjian di salah satu restoran dekat rumah. Tidak perlu tempat fancy untuk membuat suasana romantis kan *iyain aja hehe.

Karena dekat, saya memesan ojek online yang ternyata membawa drama yang merusak rencana malam itu. Rumah saya persis di pertigaan, jadi biasanya saya memberitahu patokan entah warna pagar rumah atau ada apa di seberang rumah. Mungkin karena sudah malam, waktu itu GPS aplikasi belum seakurat sekarang, dan abang ojek online-nya pun bukan orang setempat, terjadi telepon bolak-balik menanyakan alamat. Ojek online-nya sampai memberikan telepon ke salah satu pemilik warung untuk menengahi pertanyaan arah yang ternyata memperkeruh karena si pemilik warung tidak bisa menjelaskan posisi warungnya dimana, dekat apa dengan patokan yang saya sampaikan. Ujung-ujungnya, ojek online menyalahkan saya karena saya tidak tahu nama warung yang dia sebutkan, dianggap tidak becus bertetangga. Yhaaaa!

Singkat cerita, ego saya terluka hehe. Saya marah balik. Dan saat abang ojeknya sampai depan rumah (yang ternyata dia tadi sudah dekat, cuma berada di jalan yang salah), saya teriak-teriak melampiaskan kemarahan. Dari yang akan melaporkan ke pihak pengelola aplikasi sampai saya kuliahi tentang emotional blackmail. You go far, I go farther (alias lo jual, gw beli marahnya)

Nah, minggu lalu saya waktu sedang mengurus sesuatu di CS sebuah bank, di belakang saya ada customer yang marah-marah. Intinya, dia ingin menarik sekian ratus juta di hari itu, sudah datang ke bank kemarin, dan menurut dia pihak bank menjanjikan uangnya bisa diambil hari ini. Jadi teriakan yang cukup terdengar “Saya tidak mau tahu…”, “Itu kan uang saya, kok dibuat susah…”, dan seterusnya. Kan ruangan bank-nya kecil jadi otomatis semua mata memandang ke sumber keributan tersebut. Si mbak CS yang ada di depan saya kemudian cerita kalau sebetulnya, dialog yang terjadi di hari sebelumnya adalah pihak bank akan menelepon si ibu saat uangnya sudah tersedia. Jumlah yang mau ditarik tersebut terlalu besar, tidak tersedia di kas bank. Jadi perlu ada prosedur untuk pengiriman uang dulu, dan seterusnya.

Dari dua cerita ini, bukan perihal siapa yang benar dan salah yang ingin saya bahas. Tentunya, akan selalu ada reasoning yang membuat/menjadikan kita berada di pihak yang benar atau berhak atas sesuatu. Tetapi, reaksi/respon kita terhadap situasi menunjukkan tingkat kedewasaan. Dan ini juga bukan tentang anggapan salah satu gender lebih emosian, saya sering kok melihat laki-laki juga gampang terpancing emosi hehe. Saat emosi mengambil alih pikiran, kita cenderung melontarkan ucapan sekenanya, tidak peduli itu benar/salah, menyakitkan/tidak, tepat/tidak. Itu seperti pelampiasan rasa kecewa dan marah. Yang terkadang membuat kita jauh dari pikiran logis untuk mencari solusinya. Ya kadang kita mendapatkan apa yang kita mau dengan melampiaskan emosi sih, tetapi ujungnya rasanya tidak enak, melelahkan.

Suami saya jauh lebih dewasa akan hal ini dibandingkan saya. Dia jarang menaikkan suara saat sedang marah atau menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Kalaupun suaranya naik beberapa oktaf, tetapi runutan kata-katanya biasanya masih logis. Salah satu kejadian terakhir saat mobil kami ditabrak truk dari belakang, di jalan tol dengan kondisi macet, yang mengakibatkan kaca belakang pecah total. Ada asuransi sih, tetapi membayangkan mobil masuk bengkel sebulan dan kerepotan yang ditimbulkan. Dia menanganinya dengan tenang (dari ceritanya saya asumsikan begitu). Dia minta surat tanda pengenal supir dan surat jalan pengiriman untuk jaminan ganti rugi dan sampai minta nomer kontak perusahaan yang memakai jasa truk tersebut. Akhir cerita, mobil masuk bengkel, ada mobil pengganti dari kantor, dan ganti rugi dari perusahaan pemakai jasa trus.

Saya masih perlu belajar banyak dari suami sih ini hehe. Soalnya kalau diingat lagi, pengalaman saya dan si ibu di bank tersebut, mirip sama anak-anak yang sedang tantrum. Maunya teriak-teriak melampiaskan rasa kesal dan marah tetapi belum tentu membuat orang yang mendengar menjadi mengerti apa yang kita inginkan. Yuk, belajar untuk tidak menjadi dewas yang tantruman, setidaknya mengurangi lahhhh….

1st Trimester Story

Apa yang terjadi selama trimester pertama kehamilan?

Sebelum hamil, saya cuma sebatas tahu kalau ada dua kategori (setidaknya) yaitu kehamilan yang mudah/lancar dan yang sulit (morning sickness, dll). Walaupun saya pernah melihat saudara/teman hamil, tetapi tidak pernah sampai pada pertanyaan apa yang sebetulnya terjadi dan perasaan yang mereka alami. Hingga tibalah giliran saya.

Jeng…jeng… *sedikit bumbu drama untuk memulai

Setelah dokter memastikan kami hamil anak kembar di pemeriksaan BHCG kedua, seluruh keberadaan fisik dan emosi saya sepertinya ikut mengaminkan perubahan situasi yang terjadi di badan saya. Saya mengalami mual yang cukup parah, sepanjang hari (uhuk); kepala pusing, padahal dalam kondisi normal saya jarang, hampir tidak pernah sakit kepala; eneg dengan berbagai hal (bau suami, makanan, aktivitas memasak, dll); cepat merasa lelah. Jadi bisa dibilang, sehari-hari saya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.

Urusan perdapuran sempat mengandalkan go-food selama beberapa minggu yang kemudian diganti dengan katering. Sementara urusan bersih-bersih rumah didelegasikan ke tetangga yang bersedia untuk datang 2x dalam seminggu (pulang hari). Jadi, kalau ada hari dimana rumah berantakan dan tidak dibersihkan, saya sudah pasrah (tepatnya tidak sanggup memikirkannya).

Puji syukur, nafsu makan tidak terganggu (hahahaha). Walaupun eneg, saya masih bisa makan. Hanya saja biasanya bawang goreng adalah penambah kenikmatan makan, kali ini berubah menjadi musuh #dropshay. Setelah makan, biasanya eneg lagi sih. Jadi, saya menerapkan tips makan 6x porsi kecil sepanjang hari, biar sedikit tapi sering. Mama mertua juga rajin mengirimkan makanan, padahal kaki beliau juga masih belum sembuh total dari operasi pengapuran. Dan, bisa dibilang rasa makanan mertua lah yang paling pas selama hamil. Beberapa makanan yang dibeli atau dari katering terkadang menimbulkan rasa pahit atau aneh di lidah setelah memakannya.

Hingga suatu hari, saya ngobrol melalui dunia maya dengan seorang yang saya panggil “Ibuu”, kebetulan dia baru melahirkan jadi awalnya saya hanya ingin bertanya seputar tips kehamilan. Di akhir obrolan, saya sempat cerita kalau ternyata trimester pertama cukup berat buat saya dan merasa bersalah kalau mengeluhkannya karena rasa tidak nyaman yang saya rasakan sekarang tidak sebanding dengan perjuangan mendapatkannya. I should survive this phase too. This too shall pass *rapal mantra. Dan kemudian satu kalimatnya yang menyadarkan saya akan emosi tersembunyi “I understand the feeling going through this kinda situation without your mom”. She lost her mom few year ago too. Jadilah kami berdua menangis di dunia maya.

Saya tidak melupakan ibu, tetapi terkadang memang seperti otomatis kenangan (dan harapan) untuk ibu saya masih ada disimpan di memory paling jauh untuk dipanggil lagi. Karena saya tahu tidak mungkin mengharapkan ada sosok ibu tempat saya mengadu atau bertanya tentang kehamilan, jadi memory ini seperti disisihkan sejauh-jauhnya. Tetapi, ternyata tidak sehat juga mengabaikan emosi/memory yang demikian. Setelah proses menerima harapan yang tidak mungkin ini, saya merasa lebih dikuatkan untuk melalui hari. Dan benar sih, masuk ke trimester kedua, semua gejala morning sickness bisa dibilang hilang atau jarang sekali terasa lagi.

Catatan ini mengingatkan saya betapa berharganya jika kita masih memiliki ibu saat menjalani kehamilan, sebuah pengalaman yang saya tidak akan alami. Jadi, kalau yang masih punya ibu, hayuk atuh disayang dan didoakan ibunya panjang umur. Kalaupun situasinya sama dengan saya, tidak apa-apa, kita juga akan dikuatkan karena kitalah yang segera menjadi ibu dan bisa mengajarkan anak kita untuk menyayangi orang tua dengan perspektif yang mungkin lebih dalam.

 

#birthdaynote 34

Ulang tahunnya sebetulnya bulan lalu, apa daya saat itu perjuangan sehari-hari berkutat dengan morning sickness jadi baru sekarang punya tenaga untuk menuliskan catatan per-tahun ini.

Ada beberapa hal yang terasa nyata di usia sekarang:

1. Makin sering lupa hitungan usia. Beberapa kali mendapat pertanyaan “Usianya berapa?” (khususnya saat mengisi berkas dokumen) dan saya lupa mendadak. Kalau dulu entah karena gelisah usia bertambah dibandingkan dengan “pencapaian hidup”, sekarang hampir tidak pernah memikirkan angka usia lagi.

2. Ini hidup terbaik, kalau mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu, saya memilih untuk tidak melakukannya. Memang beberapa pengalaman mengajarkan arti hidup yang pahit, tetapi itu pun berperan penting membentuk siapa saya sekarang.

3. Saya semakin mencintai suami (uhuk!). Tahun ini memang banyak perjuangan yang kami lakukan bersama, khususnya dalam perjalanan kehamilan. Apa yang dia lakukan membuat saya semakin menghargainya sebagai pasangan, dan menumbuhkan keyakinan yang semakin mantap dia akan menjadi ayah terbaik untuk anak-anak kami. Salah satu indikatornya, saya semakin nyaman untuk menceritakan hal-hal yang saya rasakan tidak nyaman sehari-hari.

Catatan ini untuk mengingatkan saya bahwa di tahun-tahun mendatang pengalaman mungkin membawa perspektif berbeda yang mengubah cara pandang, semoga ke arah yang lebih baik tentunya. Tetapi, untuk sekarang, saya mau bersyukur untuk semua yang saya miliki.

Mencintai kehidupan, apa adanya.

-i