3rd Trimester: The Real Reality

Menuju garis akhir (eciyehhh hehe), buat saya cukup bikin deg-degkan. Semacam mau ujian masuk kuliah tapi tidak yakin apakah sudah cukup persiapan dan belajarnya #mamakstres. Puncaknya beberapa malam lalu, saya tidak bisa tidur dan akhirnya menangis 😔 Pas suami nanya apa penyebabnya, rasanya campur aduk, ada banyak hal yang berkejaran dipikiran dan saya merasa terlalu lelah untuk mendefinisikannya satu demi satu. Jadi, saya bilang saja lagi kuatir menuju hari kelahiran bayi-bayi kami. Seperti biasa pak suami punya aura menenangkan yang saya tidak ingat persisnya bagaimana akhirnya bisa ketiduran.

Saat menulis ini, kami sedang menghitung hari menuju hari persalinan. Tanggalnya sudah ditetapkan bersama dokter, suami sudah mengajukan cuti, dan kamar perawatan sudah dipesan. Hospital bag? Udah siap dari awal Desember lalu (mamak memang ambisius hehe). Iya betul sekali, kami memilih untuk melalui prosedur Caesarean Sectio. Kenapa? Ada beberapa pertimbangan tentunya:

⁃ Posisi kedua bayi dari awal sampai sekarang horizontal. Kepala mereka kadang ‘bertumpuk’ di kanan rahim, kadang kaki ketemu kepala. Apakah posisinya bisa diubah sehingga kepala keduanya kebawah? Tentu mungkin saja. Tapi, lebih sulit dibandingkan kehamilan satu bayi karena butuh keduanya untuk bergerak

⁃ Bayi sungsang pun mungkin kok lahir normal (pervaginam), kenapa tidak coba dulu? Dari kasus-kasus yang ada, memang bisa bayi pertama lahir pervaginam, tetapi resiko untuk bayi kedua semakin tinggi. Entah ibunya yang kelelahan sehingga pada akhirnya bayi kedua lahir melalui SC, atau bayi kedua terlalu lama ditangani sehingga membahayakan hidupnya. Itu resiko yang mungkin dihadapi. Apakah ini berarti bayi kembar pasti lahir harus SC? Tidak juga, ada juga yang lahir pervaginam kok. Tapi ya itu dilihat lagi kondisi medisnya dan kesiapan si ibu

⁃ Bayi kembar cenderung lahir lebih awal dari due date, dengan kondisi berat badan masih kurang. Jadi, kami punya target untuk mencapai usia kandungan minimal 37 minggu dengan berat 2.5kg masing-masing bayi. Ini adalah angka ideal standar untuk bayi yang dianggap matur, sehingga nantinya tidak perlu masuk NICU dan Inkubator. Kenapa tidak tunggu lebih lama? Ya sekarang saja usia kandungan 36 minggu dengan berat janin 2.7 & 2.3 kg, saya sudah kesulitan untuk bergerak, tidur, kaki bengkak, heart burn, dan sebagainya. Kalau kata dokter kandungan kami, kita usahakan usia kandungan ‘setua’ mungkin tapi tidak perlu sampai ‘tua’ banget sehingga bisa berbahaya bagi ibunya juga.

Sooo… beberapa update kisah nyata yang sesungguhnya terjadi di trimester 3 ~ menuju hari kelahiran:

I’d like to move it move it, momma!

Waktu Trimester 2, rasanya gemas-gemas lucu tiap kali janin bergerak. Saya dan Pak Suami terkadang sampai obsesif buat nungguin kapan ini bayi-bayi di perut gerak. Setelah lewat usia kandungan 32 minggu, yang gemas lucu tetap lucu sih, tapi lebih banyak meringisnya juga. Sedap bener deh kalau anaknya lagi konser di dalam (terkadang berupa tendangan bruce lee, yang terus menerus gitu loh; kadang seperti belly dancer yang muterin panggung eh rahim hehe). Mereka berdua juga mungkin berasa makin sempit area untuk bergeraknya ya, jadi kadang saya ajak mereka ngobrol (heart to heart ceritanya) kalau mama juga bisa merasa tidak nyaman jadi minta tolong mereka untuk konsernya dikondisikan hahaha. Dan seringnya mereka mengerti kok. Kalau ada yang bilang bayi/janin itu pintar, I couldn’t agree more.

What fell on the floor, stays on the floor

Kalau ada yang bilang “sayang, belum 5 detik”, atau mata langsung ijo lihat uang di lantai, buat mamak-mamak dengan perut besar prinsip ini jelas tidak berlaku hahaha. Kalau sudah jatuh, ya udah biarin aja karena perjuangan untuk bawa badan turun dan naik lagi dari level lantai itu tidak sebanding dengan apa pun yang sudah jatuh.

Nah, persoalannya adalah saat makan kan ada jarak antara piring dan mulut jadi probabilita ada benda yang jatuh diantara itu sangat mungkin terjadi. Ini seperti lagi latihan kalau nanti anaknya makan berantakan berceceran, yawoles aja ya mak, enggak usah ambisius langsung bebersih sampai cling lagi.

Underwear, shall we…

Dulu, waktu isteri sepupu abang cerita dia sampai harus minta suami untuk pakai celana dalam, saya ketawa ngakak ngebayangin lucunya situasi itu. Karma does exist, girl! It happened to me as well. Ya tidak selalu sih, tapi ada masanya kaki tidak sanggup untuk melakukannya sendiri *hela nafas kuda. Demikian juga dengan bra, rasanya hidup lebih menyesakkan walau udah pilih merk paling bagus (katanya), khusus untuk ibu hamil menyusui, dan seterusnya. Apa perlu kita bikin gerakan Ibu hamil trimester 3 tidak perlu pakai underwear? 😛✌️

Pregnancy Glow?

Tiap kehamilan itu berbeda. Ini mantra yang selalu saya ulang-ulang biar tetap happy lihat “glowing”nya ibu hamil lain. Saya mengalami stretch mark cukup parah, beberapa area kulit jadi lebih hitam (termasuk wajah pula), kaki akhirnya bengkak tidak kembali kempis sejak usia kandungan 35 minggu walau sudah minum bergalon-galon air dan rutin jalan-jalan (walau disekitaran rumah saja). Intinya, I feel ugly. Jadi, ada waktu yang saya ekstra berusaha untuk “bahagia”, untuk sekedar melempar senyum saat melihat suami pulang kerja lebih awal, untuk menyemangati diri sendiri saat turun dari tempat tidur ditengah malam kesekian kalinya karena baby A si anak malam sibuk nendang-nendang kantong kemih mamak, untuk tidak mengeluh dan jadi cranky dengan suhu AC paling rendah pun tetap keringetan, dan banyak hal lainnya.

Karena oh karena, selain bayi-bayi gemas diperut, banyak hal lainnya yang bisa disyukuri. Dengan bayi kembar, berat badan saya baru naik sekitar 15kg (so far), saya beruntung tidak perlu bekerja kantoran saat ini jadi bisa lebih fokus ke fase demi fase kehamilan, punya support sistem (suami, keluarga, dan teman-teman) yang banyak membantu, bisa memilih rumah sakit yang saya inginkan tanpa kuatir dengan biayanya, dan seterusnya. Jadi biarlah, pregnancy glow-nya dilihat dari hati yang bahagia dan bersyukur 😇

Di atas semuanya, semoga kami siap menjadi orang tua & kelahirannya berjalan lancar, ibu & bayi sehat sempurna. Mohon doanya yaa 🙏