Dewasa Tantrum

Beberapa tahun lalu, ada satu kejadian yang cukup berbekas dalam ingatan. Waktu itu, saya hendak pergi makan malam romantis #uhuk sama suami. Suami dari kantor, saya dari rumah. Jadi kami janjian di salah satu restoran dekat rumah. Tidak perlu tempat fancy untuk membuat suasana romantis kan *iyain aja hehe.

Karena dekat, saya memesan ojek online yang ternyata membawa drama yang merusak rencana malam itu. Rumah saya persis di pertigaan, jadi biasanya saya memberitahu patokan entah warna pagar rumah atau ada apa di seberang rumah. Mungkin karena sudah malam, waktu itu GPS aplikasi belum seakurat sekarang, dan abang ojek online-nya pun bukan orang setempat, terjadi telepon bolak-balik menanyakan alamat. Ojek online-nya sampai memberikan telepon ke salah satu pemilik warung untuk menengahi pertanyaan arah yang ternyata memperkeruh karena si pemilik warung tidak bisa menjelaskan posisi warungnya dimana, dekat apa dengan patokan yang saya sampaikan. Ujung-ujungnya, ojek online menyalahkan saya karena saya tidak tahu nama warung yang dia sebutkan, dianggap tidak becus bertetangga. Yhaaaa!

Singkat cerita, ego saya terluka hehe. Saya marah balik. Dan saat abang ojeknya sampai depan rumah (yang ternyata dia tadi sudah dekat, cuma berada di jalan yang salah), saya teriak-teriak melampiaskan kemarahan. Dari yang akan melaporkan ke pihak pengelola aplikasi sampai saya kuliahi tentang emotional blackmail. You go far, I go farther (alias lo jual, gw beli marahnya)

Nah, minggu lalu saya waktu sedang mengurus sesuatu di CS sebuah bank, di belakang saya ada customer yang marah-marah. Intinya, dia ingin menarik sekian ratus juta di hari itu, sudah datang ke bank kemarin, dan menurut dia pihak bank menjanjikan uangnya bisa diambil hari ini. Jadi teriakan yang cukup terdengar “Saya tidak mau tahu…”, “Itu kan uang saya, kok dibuat susah…”, dan seterusnya. Kan ruangan bank-nya kecil jadi otomatis semua mata memandang ke sumber keributan tersebut. Si mbak CS yang ada di depan saya kemudian cerita kalau sebetulnya, dialog yang terjadi di hari sebelumnya adalah pihak bank akan menelepon si ibu saat uangnya sudah tersedia. Jumlah yang mau ditarik tersebut terlalu besar, tidak tersedia di kas bank. Jadi perlu ada prosedur untuk pengiriman uang dulu, dan seterusnya.

Dari dua cerita ini, bukan perihal siapa yang benar dan salah yang ingin saya bahas. Tentunya, akan selalu ada reasoning yang membuat/menjadikan kita berada di pihak yang benar atau berhak atas sesuatu. Tetapi, reaksi/respon kita terhadap situasi menunjukkan tingkat kedewasaan. Dan ini juga bukan tentang anggapan salah satu gender lebih emosian, saya sering kok melihat laki-laki juga gampang terpancing emosi hehe. Saat emosi mengambil alih pikiran, kita cenderung melontarkan ucapan sekenanya, tidak peduli itu benar/salah, menyakitkan/tidak, tepat/tidak. Itu seperti pelampiasan rasa kecewa dan marah. Yang terkadang membuat kita jauh dari pikiran logis untuk mencari solusinya. Ya kadang kita mendapatkan apa yang kita mau dengan melampiaskan emosi sih, tetapi ujungnya rasanya tidak enak, melelahkan.

Suami saya jauh lebih dewasa akan hal ini dibandingkan saya. Dia jarang menaikkan suara saat sedang marah atau menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Kalaupun suaranya naik beberapa oktaf, tetapi runutan kata-katanya biasanya masih logis. Salah satu kejadian terakhir saat mobil kami ditabrak truk dari belakang, di jalan tol dengan kondisi macet, yang mengakibatkan kaca belakang pecah total. Ada asuransi sih, tetapi membayangkan mobil masuk bengkel sebulan dan kerepotan yang ditimbulkan. Dia menanganinya dengan tenang (dari ceritanya saya asumsikan begitu). Dia minta surat tanda pengenal supir dan surat jalan pengiriman untuk jaminan ganti rugi dan sampai minta nomer kontak perusahaan yang memakai jasa truk tersebut. Akhir cerita, mobil masuk bengkel, ada mobil pengganti dari kantor, dan ganti rugi dari perusahaan pemakai jasa trus.

Saya masih perlu belajar banyak dari suami sih ini hehe. Soalnya kalau diingat lagi, pengalaman saya dan si ibu di bank tersebut, mirip sama anak-anak yang sedang tantrum. Maunya teriak-teriak melampiaskan rasa kesal dan marah tetapi belum tentu membuat orang yang mendengar menjadi mengerti apa yang kita inginkan. Yuk, belajar untuk tidak menjadi dewas yang tantruman, setidaknya mengurangi lahhhh….

1st Trimester Story

Apa yang terjadi selama trimester pertama kehamilan?

Sebelum hamil, saya cuma sebatas tahu kalau ada dua kategori (setidaknya) yaitu kehamilan yang mudah/lancar dan yang sulit (morning sickness, dll). Walaupun saya pernah melihat saudara/teman hamil, tetapi tidak pernah sampai pada pertanyaan apa yang sebetulnya terjadi dan perasaan yang mereka alami. Hingga tibalah giliran saya.

Jeng…jeng… *sedikit bumbu drama untuk memulai

Setelah dokter memastikan kami hamil anak kembar di pemeriksaan BHCG kedua, seluruh keberadaan fisik dan emosi saya sepertinya ikut mengaminkan perubahan situasi yang terjadi di badan saya. Saya mengalami mual yang cukup parah, sepanjang hari (uhuk); kepala pusing, padahal dalam kondisi normal saya jarang, hampir tidak pernah sakit kepala; eneg dengan berbagai hal (bau suami, makanan, aktivitas memasak, dll); cepat merasa lelah. Jadi bisa dibilang, sehari-hari saya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.

Urusan perdapuran sempat mengandalkan go-food selama beberapa minggu yang kemudian diganti dengan katering. Sementara urusan bersih-bersih rumah didelegasikan ke tetangga yang bersedia untuk datang 2x dalam seminggu (pulang hari). Jadi, kalau ada hari dimana rumah berantakan dan tidak dibersihkan, saya sudah pasrah (tepatnya tidak sanggup memikirkannya).

Puji syukur, nafsu makan tidak terganggu (hahahaha). Walaupun eneg, saya masih bisa makan. Hanya saja biasanya bawang goreng adalah penambah kenikmatan makan, kali ini berubah menjadi musuh #dropshay. Setelah makan, biasanya eneg lagi sih. Jadi, saya menerapkan tips makan 6x porsi kecil sepanjang hari, biar sedikit tapi sering. Mama mertua juga rajin mengirimkan makanan, padahal kaki beliau juga masih belum sembuh total dari operasi pengapuran. Dan, bisa dibilang rasa makanan mertua lah yang paling pas selama hamil. Beberapa makanan yang dibeli atau dari katering terkadang menimbulkan rasa pahit atau aneh di lidah setelah memakannya.

Hingga suatu hari, saya ngobrol melalui dunia maya dengan seorang yang saya panggil “Ibuu”, kebetulan dia baru melahirkan jadi awalnya saya hanya ingin bertanya seputar tips kehamilan. Di akhir obrolan, saya sempat cerita kalau ternyata trimester pertama cukup berat buat saya dan merasa bersalah kalau mengeluhkannya karena rasa tidak nyaman yang saya rasakan sekarang tidak sebanding dengan perjuangan mendapatkannya. I should survive this phase too. This too shall pass *rapal mantra. Dan kemudian satu kalimatnya yang menyadarkan saya akan emosi tersembunyi “I understand the feeling going through this kinda situation without your mom”. She lost her mom few year ago too. Jadilah kami berdua menangis di dunia maya.

Saya tidak melupakan ibu, tetapi terkadang memang seperti otomatis kenangan (dan harapan) untuk ibu saya masih ada disimpan di memory paling jauh untuk dipanggil lagi. Karena saya tahu tidak mungkin mengharapkan ada sosok ibu tempat saya mengadu atau bertanya tentang kehamilan, jadi memory ini seperti disisihkan sejauh-jauhnya. Tetapi, ternyata tidak sehat juga mengabaikan emosi/memory yang demikian. Setelah proses menerima harapan yang tidak mungkin ini, saya merasa lebih dikuatkan untuk melalui hari. Dan benar sih, masuk ke trimester kedua, semua gejala morning sickness bisa dibilang hilang atau jarang sekali terasa lagi.

Catatan ini mengingatkan saya betapa berharganya jika kita masih memiliki ibu saat menjalani kehamilan, sebuah pengalaman yang saya tidak akan alami. Jadi, kalau yang masih punya ibu, hayuk atuh disayang dan didoakan ibunya panjang umur. Kalaupun situasinya sama dengan saya, tidak apa-apa, kita juga akan dikuatkan karena kitalah yang segera menjadi ibu dan bisa mengajarkan anak kita untuk menyayangi orang tua dengan perspektif yang mungkin lebih dalam.

 

#birthdaynote 34

Ulang tahunnya sebetulnya bulan lalu, apa daya saat itu perjuangan sehari-hari berkutat dengan morning sickness jadi baru sekarang punya tenaga untuk menuliskan catatan per-tahun ini.

Ada beberapa hal yang terasa nyata di usia sekarang:

1. Makin sering lupa hitungan usia. Beberapa kali mendapat pertanyaan “Usianya berapa?” (khususnya saat mengisi berkas dokumen) dan saya lupa mendadak. Kalau dulu entah karena gelisah usia bertambah dibandingkan dengan “pencapaian hidup”, sekarang hampir tidak pernah memikirkan angka usia lagi.

2. Ini hidup terbaik, kalau mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu, saya memilih untuk tidak melakukannya. Memang beberapa pengalaman mengajarkan arti hidup yang pahit, tetapi itu pun berperan penting membentuk siapa saya sekarang.

3. Saya semakin mencintai suami (uhuk!). Tahun ini memang banyak perjuangan yang kami lakukan bersama, khususnya dalam perjalanan kehamilan. Apa yang dia lakukan membuat saya semakin menghargainya sebagai pasangan, dan menumbuhkan keyakinan yang semakin mantap dia akan menjadi ayah terbaik untuk anak-anak kami. Salah satu indikatornya, saya semakin nyaman untuk menceritakan hal-hal yang saya rasakan tidak nyaman sehari-hari.

Catatan ini untuk mengingatkan saya bahwa di tahun-tahun mendatang pengalaman mungkin membawa perspektif berbeda yang mengubah cara pandang, semoga ke arah yang lebih baik tentunya. Tetapi, untuk sekarang, saya mau bersyukur untuk semua yang saya miliki.

Mencintai kehidupan, apa adanya.

-i