Part 9: IVF ~ Frozen Embryo Transfer

Warning:

Kalau sedang ikut program IVF, sedang menunggu jadwal ET atau FET, dan/atau bukan tipe berhati baja menerima kabar buruk, sebaiknya skip tulisan ini.

 

Beberapa hari sebelum embryo transfer dilakukan, saya bertemu dokter kembali untuk pemeriksaan. It was a wonderful day. Dokter Devindran sepertinya sedang in a really good mood karena sepanjang pemeriksaan banyak tertawa. Dia menanyakan pendapat saya tentang dr. Voon (saat saya sedang menstruasi beliau sedang cuti jadi digantikan oleh dr. Voon yang adalah isterinya sendiri). Dia cerita kalau dr. Voon sering mengaku sebagai his girlfriend instead of his wife, LOLs. Actually, I had really a good time with dr. Voon, my first female Obgyn. She was really nice and gentle.

Saya akan menjalani proses embryo transfer sendirian karena suami sedang ada pekerjaan di kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Adik saya yang di Bandung masih belum mendapat jadwal antrian passport padahal sudah dari beberapa bulan lalu dia coba daftar (blame it to current online registration system!), dan adik ipar saya juga sudah menghabiskan cukup banyak cuti di awal bulan ini saat kami menemani mama mertua operasi di Penang juga. Entah kenapa, insting saya merasa saya lebih nyaman untuk melalui ini sendiri. I need to cherish every minute of the process alone *my introvert side spoke*

I wore my comfy new bought dark blue dress and strolled excitedly (and nervously) from new building to the clinic. Then, I met Ms. Lim,

Embryo-nya tidak bertahan setelah di thawing

Itu adalah kabar yang saya terima di jam 10 pagi. Saya mencoba tersenyum ke Ms. Lim yang berusaha menyemangati saya. Dua embryo berikutnya (our last embryo) sedang dicairkan dan hasilnya baru akan dikabari di jam 2 siang.

Saya menahan untuk tidak langsung menginformasikannya ke suami, keluarga dan teman di Jakarta karena saya tidak siap dengan segala bentuk emotional responses apapun saat itu. Saya bimbang antara pilihan balik ke hotel atau duduk menenangkan diri di antara pasien lainnya di ruang tunggu. I chose the later option.

Kebetulan, ada Fitri (room-mate saya di apartemen sebelumnya) yang sedang menunggu hasil OPU sebelum kembali ke Jakarta sorenya. Lucunya, kami menjalani OPU di hari yang sama di bulan Maret lalu, tetapi suami saya yang ngobrol dengan suami Fitri di ruang tunggu operasi. Selain itu, juga ada teman baru yang kebetulan namanya Fitri juga. Jadi kami ngobrol bertiga. Setelah berpisah, saya bertemu dengan cici Francy (isteri Edward Suhadi) juga, jadilah ngobrol dan berbagi pengalaman. Terakhir, saya bertemu Anggi, room-mate saya waktu di ruang rawat inap setelah operasi beberapa bulan lalu. Unfortunately, satu pun saya tidak ingat untuk ngajak foto bareng *teteup ya*

Sejujurnya, walaupun saya ngobrol sana-sini seperti biasa, tetapi di dalam hati seperti ada bolongan yang rasanya ngilu sekali. Embryologist pernah menginformasikan kalau ada kemungkinan embryo yang di-thawing turun atau naik grade, tetapi seingat saya tidak dengan kemungkinan embryo-nya tidak bertahan. I guess I was too shock about the news and too numb to cry. Saya pasrah dan merelakan kesempatan pertama kami hilang dan berharap yang terbaik untuk dua embryo berikutnya. I just need to wait couple hours more that felt so long…

Saya masuk ke ruangan klinik untuk dokter melakukan pemeriksaan terakhir saat jam menunjukkan hampir pukul 2 siang. Situasinya, dokter Devindran tidak banyak berbicara, sementara saya duduk dengan cemas menunggu karena embryologist belum memberi kabar juga. Ms. Lim mondar-mandir di belakang saya sambil menelepon, she spoke in Chinese, intentionally I guessed. Saat dia pindah ke sebelah dokter Devindran dan tersenyum barulah saya bisa bernafas lega. Embryo-nya bertahan. That’s the only news I need to hear.

Akhirnya, kami sampai juga di tahap embryo transfer. Prosesnya sendiri cuma sekitar 15 menit (kebetulan ada jam di ruang operasi jadi saya sempat mengecek waktunya), proses menuju tahap ini aja yang lamanya lumayan ya. Saat prosesnya selesai, Ms. Elaine yang menjemput saya kembali ke klinik untuk diberikan suntikan pregnyl di lengan. Ruangan klinik sudah sepi, tetapi saya masih bertemu Anggi dan suaminya.

Yang lucu adalah saat saya menjelaskan ke Ms. Elaine kalau saya akan jalan kaki pulang ke hotel (letaknya persis di seberang gedung baru rumah sakit, memang jalannya cukup jauh dari gedung lama tetapi kalau pelan-pelan harusnya tidak apa-apa), dia insisted untuk saya naik taksi saja. Sampai akhirnya, Ms. Lim yang mendengar pembicaraan kami menawarkan untuk mengantar saya pulang, sekalian dia juga sudah selesai jam kerjanya. See! I once told dr. Voon  that these nurses are really like a true sisters for me. I truly mean it.

Back to hotel, safe and sound, and so tired. So, here we’re now on our r(n)esting days! Be good and grow healthily there, our twinny embryos!

Advertisements

Part 8: IVF ~ Get Used to The Word ‘Surprise!’

Somehow, I did really look forward to start the IVF program (bring it on, needles!). Setelah tiga bulan terakhir telah melewati fase laparoscopic surgery, olahraga yang intens (3-4x yoga + 5-6x jogging per minggu), dan makanan organik yang lumayan menguras dompet, I was so damn ready, I thought.

Kenyataannya, banyak sekali surprise dan drama lanjutan yang terjadi. Setelah drama pesawat yang kembali ke Jakarta di cerita ini, ternyata ada drama lainnya yang terjadi di bandara.

Di kunjungan ketiga ke Penang, kami tiba lebih awal di bandara Soetta untuk penerbangan jam 12:40pm. Karena paginya baru makan buah untuk sarapan (baru!), kami memutuskan untuk brunch di salah satu restoran setelah mencetak boarding pass. Setelah brunch, suami memilih untuk pergi ke boarding lounge lebih dulu karena sekalian ingin ke toilet, kebetulan toilet di dekat tempat kami makan penuh. Karena masih kekenyangan, saya memutuskan untuk menyusul.

Jam 11 kurang, saya menuju ke antrian imigrasi. Untung sepi jadi tidak menunggu lama. Tetapi, ternyata boarding pass saya tertukar dengan punya suami. Petugas tidak mengijinkan saya lewat sesuai SOP. Jadi saya mencoba menelopon suami dengan asumsi dia belum masuk, karena pasti ditahan petugas juga. Eh, ternyata suami sudah di boarding lounge (lah lewat mana tadi pak suami). Alamak!

Jadilah, saya balik lagi ke mesin cetak boarding pass yang ternyata tidak bisa mencetak boarding pass yang sama 2x (note: jarak imigrasi ke lokasi mesin check in di T3 Soetta lumayan ujung ke ujung). Petugas menyarankan saya untuk ke counter check in drop bagasi. Udahlah gelisah kuatir ketinggalan pesawat, antriannya bergerak lama karena yang bawa bagasi banyak banget koper-kopernya, eh akhirnya sampai giliran saya petugasnya bilang tidak bisa di cetak lagi karena kuatir boarding pass saya disalahgunakan. Mau ngamuk enggak sih? *rapal mantra keep calm ask for solution*

Setelah didiskusikan dengan rekan/atasannya, akhirnya si petugas mencetak boarding pass atas nama saya dengan titipan pesan boarding pass satu lagi nanti segera dirobek agar tidak membingungkan petugas. Lalu, larilah saya kembali ke pos imigrasi. Untunglah antrian imigrasi cukup cepat sehingga saya tidak terlambat tiba di boarding lounge. Engap juga sih lari-larian sambil panik hahaha.

Di kunjungan kali ini, program IVF dimulai dengan menyuntik di bagian perut setiap hari di jam yang sama. Saat Ms. Lim (we call them sister or nurse) menanyakan siapa yang akan menyuntik, saya mengajukan diri dengan semangat. Sedikit cerita tentang sister Lim, dengan perawakannya yang mungil, dia yang paling sering mondar-mandir menemani dan sumber informasi untuk pasien IVF, dari cara menyuntik diri sendiri sampai menemani ke ruang operasi (terakhir Ms. Elaine, the newest addition of the nurse team, gantian melakukan peran ini).

Awalnya memang agak cemas dengan proses meracik obatnya, takut ada tahapan atau takaran yang salah. Tapi ya, sebagai seseorang yang punya kecenderungan perfeksionis, saya lebih cemas kalau orang lain yang melakukannya terus salah hahaha. Pas disuntik, cuma sebentar kok ada rasa ‘sakit’nya (seperti ada cairan yang mengalir di sekitar perut dengan sensasi menggigit). Katanya lebih sakit buat orang yang perutnya rata atau tidak berlemak (thanks to my fat belly!).

Saya berangkat bersama suami di hari Jumat, tes darah dan bertemu dokter hari Sabtu, kemudian hari Minggu kembali ke Indonesia dengan bekal 1 tas berisi obat dan jarum suntik. Menurut informasi sister, tidak perlu bawa surat keterangan dokter untuk isi tas tersebut karena rumah sakit sudah bekerjasama dengan pihak penerbangan (note: kalau ada rencana penerbangan lain yang tidak terkait ke Penang, sebaiknya tetap minta surat keterangan).

Hari ke-7 suntikan, saya kembali ke Penang sendirian, siap dengan berbagai amunisi stay jangka panjang. Booking apartemen sebelah rumah sakit untuk 2 minggu, bawa beras merah dan alpukat segala (niat banget deh!). Sampai di Penang, saya bahkan sampai belanja groceries untuk persiapan masak sesudah ET.

Surprise! adalah kata yang sangat akrab di telinga para pejuang IVF. Datang dalam berbagai bentuk dan situasi.

Hari ke-8 suntikan, saat pemeriksaan dokter menemukan kalau ada gumpalan (endometriosis) kembali di rahim saya sehingga tahapan ET tidak bisa dilakukan setelah sel telur diambil (ovum pick up – OPU. Selain itu, sel telur saya masih kurang cukup besar jadi diresepkan tambahan suntikan 2 hari lagi, puji syukur jumlahnya cukup banyak.

Mata saja jelas sudah ngembeng saat dokter menjelaskan situasi tersebut. I felt disappointed and lonely (lah iyalah kan suami tidak ikut menemani konsultasi hehe). Dokter Devindran mengingatkan untuk sabar dan chance-nya yang masih cukup besar untuk pasien seumur saya.

Sehari setelahnya, saya mulai terkena flu dan sakit di tenggorokan. Mungkin karena cuaca yang memang panas dan gerimis dadakan bergantian dan juga karena sempat merasa down sebelumnya. Flu, sakit tenggorokan dan 9 putih telur setiap hari bukan kombinasi yang menyenangkan. Berbagai cara olahan putih telur dan campurannya saya coba tetapi tetap rasanya tidak enak. It was one of my emotional break downs.

Di masa seperti ini, dukungan suami, keluarga, dan teman-teman dekat dari Jakarta sangat membantu. Their thoughtful kind words were the treasures I hold during such times. Selain itu, saya mengingatkan diri untuk fokus pada tujuan. Beberapa hari lagi saya akan menjalani OPU, dan saya butuh kondisi fisik dan mental yang paling optimal. Jadi walau badan rasanya kemeng dan lidah berasa kebas, saya berusaha untuk tetap olahraga rutin dan makan yang sehat.

Tibalah hari OPU…

Setelah mengurus administrasi, saya dan suami yang tiba sehari sebelumnya diminta menunggu di ruang rawat inap. Sambil menunggu jam masuk ruang operasi, saya minta suami pergi makan dulu. Ternyata dia lama perginya, sampai sister yang bertugas membawa dari ruang rawat inap ke ruang operasi datang, suami belum balik juga. Ditelponin tidak diangkat, pas diangkat ternyata katanya lagi makan di Komtar (jaraknya sekitar 2KM dari rumah sakit) *why oh why can you eat at hospital canteen instead (katanya enggak selera sama makanan kantin). Sungguh memang punya suami yang tengil macam ini butuh kesabaran tingkat dewa. Jadilah, saya dibawa ke ruang operasi tanpa sempat pamitan sama suami. Untungnya pas banget di pintu masuk ruang operasi masih papasan sama suami dengan muka panik dan bersalahnya hahaha. Duh, naga-naganya anaknya pun nanti kelakuannya tengil juga nih kayak bapaknya *sigh*

Nah, drama berikutnya terjadi di ruang operasi.

Kalau baca blog orang lain, mantranya dokter Devindran sih sama, pasiennya disuruh relaks, tutup mata, dan senyum. He warned me though that I might hear them talking to each other and that’s normal. I did as instructed. Matter of fact, I was doing well, until…

I had this initiative to have a good conversation with the nurse who stood/sitted near my head. I felt/thought she patted my head, and that was so thoughtful and comforting. So, out of the blue, I asked her nicely how long the procedure would take time. She responded saying I didn’t need to worry about that, just back to my sleep. For her, I might just another ‘ngigo’ patient, but I do really appreciate how she comforted me.

Seingat saya, belum ada yang cerita kalau kita bisa merasakan sakit saat OPU *hiks* (mungkin memang kecil kemungkinannya). Jadi, setelah merasa seperti ‘tertidur’ saya merasakan sakit sekali. The pain recalled my memory of the time I woke up from curette surgery few years back, it had the similar pain-effect. So, I screamed couple times. I heard people said something that I couldn’t recall.

Dua kejadian ini terjadi dalam kondisi saya ‘tertidur’ (I don’t have any visual memory of the events) dan saya tidak ingat urutannya yang mana duluan.

Sel telur yang berhasil diambil sebanyak 27 (kalau punya riwayat PCO biasanya memang banyak katanya), yang berhasil jadi embrio sebanyak 11, kemudian yang disimpan: 2 grade 5 dengan pembuahan alami, dan 1 grade 5 dan 1 grade 3 dengan pembuahan buatan (ICSI). Note: grade level-nya dari 1 sampai 5, yang paling bagus grade 5.

Walau belum bisa menjalani embryo transfer, tapi bersyukur karena kita punya 4 embryo dengan grade yang bagus. Ini seperti punya sesuatu yang menunggu kita kembali ke Penang.

So, excited for our next trip back to Penang!