Mimpi

Tadi malam, setelah sekian lama, saya bermimpi sesuatu yang menyenangkan. Mungkin karena faktor U, banyak yang dipikirin, jadi komposisi mimpi saya umumnya bikin takut, bangun rasanya capek banget, atau tidak ingat sama sekali tentang apa. Sudah lupa kapan pernah mimpi yang bikin hati bahagia.

Sebelum tidur saya sempat ngobrol sama suami kalau situasi yang kami hadapi sekarang bisa dilihat dari 2 sisi. Pertama, obstacle. Kalau ingat energi, waktu, materi yang dihabiskan tapi yang dicari belum dapat juga, ya rasanya manusiawi kalau merasa ini adalah tantangan/ujian hidup yang bolak-balik kita nanya kapan ya selesainya? Kedua, opportunity. Dengan kita punya situasi/masalah, tentunya kita punya kesempatan untuk melihat penyelesaiannya berupa miracle terjadi. Ya bayangkan aja lagi di tempat tidur punya isteri ngomong kayak motivator kayak gini hahaha.

Pak suami seperti biasa setuju-setuju saja sambil tetap asyik main game *itulah kenapa perlu banyak bantal di kasur. Kalau isteri khilaf KZL sama suami yang disamber paling tidak aman buat nimpuk suami.

Awal mimpi sebetulnya bikin hayati lelah karena saya seperti dikejar sesuatu atau entah saya lagi punya misi menuju suatu tempat. Nah, saat sampai ditempat yang dituju ini mimpinya jadi jelas seperti film dengan kamera yang menyorot kesana kemari.

Cerita dimimpi itu, kami pindah ke rumah yang lebih baik. Fokus utamanya adalah kamar tidur yang zuper bezar. Bayangkan aja, di kamar tidurnya sudah dengan satu area untuk tempat tidur & furnitur pelengkapnya (side table, etc), terus ada area sofa dan TV sendiri dengan rak buku dari lantai sampai langit-langit, dan tentunya private bath room yang lengkap kap kap dengan semua kebutuhan untuk mandi sambil bersantai.

Hal yang membuat saya berpikir mimpi itu menyenangkan karena sepertinya semua yang saya butuhkan ada disitu. Lay out, furnitur, warna dan lainnya bukan yang versi modern, mewah, atau bikin jaw dropping kalau lagi nonton acara before-after renovasi rumah. Jadi benar-benar perasaannya kayak clicked, these all what I need the most. That’s it!

Pas bangun rasa bahagianya masih ada, sampai sempat selintas masih mikir wah bahagianya kita punya rumah baru. Tersadar realitas hidup saat alarm meraung kedua kalinya, pengingat waktunya ke dapur menunaikan tugas mulia menjaga kewarasan hari dengan mempersiapkan bekal pengisi perut sepanjang hari.

Saya tidak tahu apakah arti dari mimpi yang demikian (ya bukan ahlinya juga sih). Catatan ini sebagai pengingat untuk saya walau hidup kadang menyeramkan sampai ke mimpi pun, ada kalanya kita berkesempatan untuk mencicipi kebaikan yang menyenangkan, sekecil apa pun itu bentuk atau dampaknya.

Mudah-mudahan ini pertanda baik ke dunia realitas. Amin.

Advertisements

Yuk, Ke Pasar!

Waktu saya masih tinggal di Sumatera Utara, pergi ke pasar bukan hal yang luar biasa. Waktu SD saya terbiasa belanja sore ke pasar sederhana di aula pertemuan desa kami untuk membeli sayur dan lauk. Ibu saya malah menyerahkan ke saya untuk memilih sendiri mau beli sayur dan lauk apa, terkadang saya menemani ibu belanja dan seringnya jadi pergi belanja sendiri. Pernah juga, saya dan adik-adik dikirim bergantian di hari berbeda jualan sayur hasil kebun ke pasar. Hasilnya, adik-adik saya laris manis, sementara saya pulang dengan bakulan yang berkurang hanya sedikit. Dari kecil pun saya sudah sadar tidak memiliki bakat untuk jualan.

Waktu SMP, karena saya pindah ke kota kabupaten (ke rumah nenek), jadi terkadang saya ke pasar menemani ibu saya yang sedang ada tugas ke kantor kabupaten jadi sekalian belanja di Pajak (that’s how we call traditional market in north sumatera). Biasanya yang dibeli ikan teri medan, ikan yang diasinkan lainnya, ikan pari segar (jujur saya tidak mengikuti informasi apakah ikan pari termasuk dilindungi atau tidak), buah-buahan, dan terkadang termasuk beli baju baru. Terkadang, saya pergi ke pasar sendiri (atau bersama teman) untuk membeli aksesoris rambut, alat-alat make up (waktu itu sih sebetulnya sebatas bedak tabur merk shower to shower, dan sejenisnya hahaha), dan sewa komik. Yang bagian terakhir ini yang paling banyak menghabiskan jatah uang saku mingguan, sampai saya modus ikutan jaga tempat sewa komiknya biar bisa baca gratis hahaha.

Saat sudah pindah ke Jakarta lah kegiatan pergi ke pasar tradisional ini pun hilang. Kan lebih menyenangkan pergi ke pasar modern alias supermarket. Saya tidak termasuk yang jijikan berbecek ria ke pasar tradisional, hanya saja saya (lagi-lagi) tidak berbakat untuk menawar. Tepatnya, malas untuk menawar. Sementara tawar-menawar ini merupakan keseruan tersendiri di pasar tradisional. Berbeda dengan suami saya yang merasa belum afdol kalau belum menawar suatu barang. Yang saya lihat, dia memang menikmati proses percakapan tarik-ulur tersebut. Berhasil menawar cukup banyak merupakan bonus tambahan. Sementara, saya cenderung berbicara seminimaaaaal mungkin kalau bertemu dengan orang asing. He’s the real extrovert person, while I’m the opposite.

Setelah menikah, ibu mertua saya beberapa kali mengirim ikan segar untuk dimasak di rumah. Saya tahu beliau memang sering pergi ke pasar khusus untuk membeli ikan dan bumbu-bumbu dapur. Tidak enak kan kalau terus-terusan menerima saja, jadi saya mengajukan dirilah untuk diajak ke pasar. Sebetulnya, di tukang sayur depan rumah pun menjual ikan, tetapi menurut saya kurang segar dan jenisnya terbatas. Jadi, disuatu akhir pekan pergilah kami bertiga (adik ipar saya ikut sebagai supir terhandal hehe) ke pasar tradisional terdekat dari rumah.

Sebagai mentor yang terbhaique, ibu mertua saya menunjukkan penjual ikan dan ayam kampung langganannya. Selebihnya untuk bumbu-bumbu dapur tinggal cek yang mana yang kondisinya paling bagus. Barulah setelahnya, saya lebih sering pergi ke pasar sendiri, sesekali suami ikut menemani.

Ada beberapa tips yang ingin saya bagi terkait urusan ke pasar tradisional ini:

  1. Lebih murah dan lebih segar jika dibandingkan belanja di supermarket hehe. Misalnya hari ini, saya membeli ikan 4 jenis (5 banjar/kembung, 1 ekor cuek besar, 3 bawal ukuran sedang, dan 1 tenggiri seberat 1.5kg) hanya menghabiskan Rp260,000. Kemudian, sekalian ayam kampung jantan ukuran sedang seharga Rp90,000. Ini cukup untuk kebutuhan 2-3 minggu ke depan. Ikan dan ayamnya saya bagi dalam wadah-wadah 1x masak sebelum masuk freezer. Tentunya kita bisa minta mereka untuk memotong ikan/ayam sesuai ukuran yang kita inginkan (ikannya bisa di-fillet juga loh)
  2. Pergilah saat pagi hari, sekitar jam 6 – 8 pagi, di hari kerja (kalau memungkinkan) karena ramainya bisa 2x lipat jika di akhir pekan. Lorong-lorong di pasar tradisional biasanya tidak luas, di beberapa bagian bisa hanya muat dua orang papasan, jadi terasa lebih padat dan sulit untuk bergerak. Terkadang, rebutan ikan pun tak terhindarkan kalau belanja di akhir pekan hehe. Dan hindari belanja di H-1 hari raya besar agama (lebaran/natal), selain karena harga lebih mahal juga ramainya membuat kaki kepingin cepat minggat.
  3. Boleh menawar tapi jangan bikin drama sewot-sewotan (entah kenapa saya pun terganggu kalau ada pembeli yang nawarnya galak aja), dibawa santai aja menawarnya. Para penjual di pasar setahu saya mengingat pelanggan mereka, setidaknya wajah. Karena, mbak penjual ikan langganan saya cukup hapal sebagian besar pembelinya suka beli ikan apa aja (tidak cuma saya). Enggak nyaman kan kalau kita diingat sebagai pelanggan yang menyebalkan. Penjual ikan langganan saya tahu kalau saya termasuk golongan minoritas tidak pernah menawar. Terkadang, dia yang mengurangi sendiri harganya, walau cuma sekian ribu perak tetapi rasanya kami punya relationship yang menyenangkan (ya deh terserah mbaknya), apalagi dia selalu ingat saya sebagai si mbak yang jarang ke pasar hahaha (ya kan belinya buat stok 2-3 minggu).
  4. Biasanya di satu penjual sudah tersedia berbagai jenis (misalnya bumbu bawang, cabe, sampai ketumbar), jadi biasanya saya membeli dari 1 penjual sekaligus berbagai item. Khusus buat orang introvert, ini cara aman untuk mengurangi terlalu banyak proses tawar-menawar sih.
  5. Saya ke pasar biasanya belum mandi, badan bau masakan dan keringetan naik angkot (hahaha). Yang pasti, saya paling nyaman pakai celana selutut dan kaos aja cukup. Penjualnya terkadang lebih cakep dandannya malah dari saya. Ya ndak apa-apa, soalnya pulang dari pasar wajib hukumnya untuk mandi bersih, karena pasti becek dan aroma yang kurang sedap kerasanya ikut dibawa pulang.

Buat yang belum pernah ke pasar, awalnya pasti memang tidak nyaman. Tetapi urusan kantong dan kebutuhan dapur bisa jadi alasan kuat untuk ke pasar hehe. Saya sendiri cuma berani pergi ke pasar Ciracas, 2x naik angkot dari rumah. Mulai berasa nyaman dan biasa aja pergi ke pasar sendiri setelah beberapa kali percobaan. Yang penting, dicoba dulu ya kan.

Jadi, yuk ke pasar tradisional!

[book review] Elizabeth is Missing

IMG_8652

Berasa enggak sih, usia bertambah berbanding lurus dengan lamanya waktu untuk menyelesaikan buku bacaan? *langsung ngitung jumlah kerutan di dahi.

Sebetulnya, di rumah masih ada beberapa buku novel yang bahkan bungkus plastiknya pun belum dibuka hehe. Tetapi, karena penerbangan yang delay cukup lama di bulan Februari lalu, akhirnya saya beli buku secara acak. Waktu memilih sebetulnya sudah melirik antara Haruki Murakami atau Dan Brown. Pilihan Haruki saya coret akhirnya karena bukunya pasti sangat intens, kurang pas rasanya buat situasi saat itu. Walaupun saya suka tulisan Dan Brown tetapi buku barunya baru ada yang edisi hard cover. Berat buat ditenteng sambil traveling. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku dari penulis yang saya belum pernah baca sebelumnya. Kejadian beli buku random ini pernah terjadi waktu saya membeli novel Khaled Hosseini ‘A Thousand Splendid Suns’. Biasanya saya sudah punya informasi awal dulu baru beli novel. Nah, dari beli acak ini ternyata membuat jiwa muda (halah) saya yang waktu itu baru disiram teori-teori feminisme, terguncang dan ikut menangis membayangkan tragedi dalam cerita. Setelahnya, baru saya membaca novel ‘The Kite Runner’ yang lebih populer karya Mas Khaled (uhuk, sok ikrib!). Resmi, saya jatuh cinta dengan karya-karya beliau.

Kali ini, pilihan acak saya jatuh pada novel karya dari Emma Healey ‘Elizabeth is Missing’. Novel ini penerima Costa Book Awards, tahun 2014. Lalu, apa yang menarik dari ceritanya?

Gemashhhhh!!! Versi kata kekinian lainnya, emeshhhh!!! Si tokoh utamanya ini adalah oma Maud, yang sering mengalami kepikunan, kecuali untuk satu hal, menurut ingatan si oma temannya si Elizabeth hilang. Jadi kita ikut berpetualang bersama oma mencari temannya, yang bisa lupa apa yang sepersekian detik lalu mau dilakuin. Udah gitu, ingatan oma juga kecampur sama memori hilangnya kakak oma, Sukey. Selain gemas, jadinya ikut mikir beneran hilang enggak sih kedua orang tersebut? Pas kapan nih akan terjawab pertanyaan ini (kejawab enggak ya, hmm)? *yang baca ngintip bab terakhir tetapi enggak dapat clue soalnya hahaha

Selain itu, tentunya kepikiran kalau nanti ada keluarga yang mengalami kepikunan ini, seberapa sabar ya saya mau memahami dan membantu mereka. Dulu, kakek & nenek dari ibu saya mengalami kepikunan di beberapa tahun usia terakhir mereka. Mereka lebih rewel dan seringkali kami tidak paham apa yang sebetulnya mereka inginkan. Malahan, situasi ini menjadi bahan becandaan orang-orang dewasa di sekitar kami. Mungkin karena mereka pun bingung bagaimana menghadapinya.

Kembali ke novelnya. Baru kali ini setelah selesai baca novel, saya tidak merasakan apa-apa. Seperti baru putus pacaran yang sedih enggak, senang juga tidak. Lah, pacaran enggak sih namanya yang kayak gini? Pengalaman pertama yang membuat saya mempertanyakan kewarasan pikiran dan perasaan hahahaha.

Mungkin ini kali yang disebut akhirnya saya menemukan genre cerita yang bukan (mungkin belum) saya sukai. Walaupun kisahnya sangat relatable, tetapi tidak mengena sampai di jiwa. Alur ceritanya mengalir dengan lancar tetapi tidak ada yang sampai menohok tombol sedih atau senang. Saya memang penasaran akan apa yang terjadi dengan kedua tokoh yang diceritakan hilang tersebut, tetapi tidak sampai titik merasa kehilangan. Apa yang saya rasakan dan maknai dari novel ini tentunya sangat subyektif. Saya merasa novel ini setidaknya membantu saya semakin memahami ketertarikan akan jenis tulisan yang seperti apa.

Tapi kan ya karena anaknya ogah rugi menghabiskan waktu dua bulan baca buku cuma berlalu segitu aja, jadi dipikirin juga pelajaran hidup apa yang kena sebetulnya dari novel ini. Dan saya pun teringat siapa saja orang-orang yang hilang dari hidup saya *jrenggg. Novel ini mengingatkan saya akan orang-orang yang ‘hilang’ tanpa sempat cipika-cipiki atau ajak makan farewell dulu (duh mbaknya makan mulu yang dipikirin). Salah satunya, teman SMA dan satu ekskul, yang mendadak meninggal saat sedang latihan ekskul di tingkat provinsi. Dia sangat sehat dan merupakan ketua angkatan kami di ekskul. Sehari sebelum kejadian, dia masih minta tolong dibelikan makanan di kantin yang saya tolak karena saya juga malas turun dari lantai 3 kelas kami. I wish it wasn’t the last memory I had about him. Regret always comes last. Tentunya, ada beberapa sosok lainnya yang ‘hilang’ selain dia. Orang-orang yang terkadang muncul selintas dipikiran atau ada hal-hal yang mengingatkan akan mereka. Berbeda dengan oma Maud, saya tidak mencari mereka. Terkadang, jemari tangan masih mencari mereka melalui perangkat gawai sih, tetapi hanya sebatas itu.

Anyhow, ada yang pernah baca buku ini juga?