Pisang Sale Tidak Untuk Semua Orang

Hari itu, saya sedang duduk di depan TV, menonton acara sambil lalu. Pikiran saya masih mereka ulang kejadian seminggu terakhir. Dari telepon yang mengabarkan Bapak saya telah tiada, tiket pesawat yang saya pegang atas nama entah siapa (waktu itu, tiket pesawat masih pakai tulisan tangan dan ajaibnya bisa dipakai oleh bukan pemilik nama sesuai tiket pesawat), saudara yang seharusnya menjemput saya di bandara tidak muncul di terminal kedatangan sehingga saya nekat memutuskan untuk naik taksi “gelap” ke terminal bus, dan wajah Bapak untuk terakhir kalinya saya lihat dalam wujud nyata. Beberapa hari setelah pemakaman, saya memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta. Seingat saya karena ada Ujian Akhir Semester. Pikiran saya kosong tidak sanggup untuk membuka materi ujian. Dan saat itulah, berita tsunami Aceh muncul di layar TV. Air hitam yang membanjiri jalan raya, keluarga yang terperangkap di lantai atas rumah, dan kengerian terus berlanjut.

Pertengahan November 2017 lalu, saya dan tim kembali mengunjungi Banda Aceh – Sabang untuk survei kegiatan. Kali ini kami menyempatkan untuk mengunjungi museum tsunami. Rombongan kami yang biasanya berisik dan penuh tawa, kali ini serentak terdiam saat mulai memasuki area pertama museum, sebuah lorong sempit dan agak gelap yang menggambarkan suasana terjadinya tsunami. Memasuki area berikutnya, saya pikir awalnya menggambarkan sederetan nisan, ternyata ada layar untuk kita menonton video singkat kejadian tsunami Aceh 2004. Area berikutnya, menurut saya yang paling memberikan kesan mendalam, Blessing Chamber. Lantunan doa dikumandangkan terus-menerus untuk nama-nama para korban tsunami yang diukir melingkar memenuhi dinding ruangan. Ini seperti pengingat, banyak yang berduka atas musibah yang terjadi tetapi manusia dilengkapi dengan kemampuan untuk bangkit dari duka. Lantunan doa tidak hanya untuk mereka yang pergi mendahului tetapi juga memberikan ketenangan untuk mereka yang ditinggalkan.

Bangunan dari museum tsunami sendiri menurut saya salah satu yang terbaik dari segi desain karena setiap sudutnya memberikan makna. Kami sempat berdebat apa makna dari desainnya, bentuknya seperti air mata kalau dilihat dari atas. Seingat saya, ada penjelasan dari desainnya sebetulnya merepresentasikan gelombang. Tapi, kesan bentuk air mata yang justru paling saya ingat.

Kami sempat terpisah menjadi rombongan kecil-kecil karena ada yang memutuskan untuk istirahat di area sofa-sofa berjejer, ada yang masih mengelilingi area pameran. Saya dan beberapa orang memutuskan untuk menonton film kejadian tsunami di salah satu ruangan. Sebetulnya, hanya film yang diputar melalui proyektor dengan dinding sebagai layarnya. Sepasang anak muda di sebelah kiri saya malah asyik bercanda sepanjang film diputar. Tetapi, ibu di depan saya menangis tergugu, sampai film selesai dan kami meninggalkan ruangan, mata si ibu masih basah air mata. Buat mereka yang mengalami langsung, film tersebut tentunya jauh lebih memiliki arti dibandingkan dengan mereka yang hanya sekedar tahu dari media atau sumber lainnya.

Anehnya, kesimpulan yang sama kami sepakati kembali saat menikmati sebungkus pisang sale. Sebagian besar dari kami menyukainya dan bahkan ada yang sampai ketagihan, tetapi ada juga yang terang-terangan menolaknya karena rasanya memang sedikit aneh (kalau dipikir lagi). Pisang sale memang tidak untuk semua, tidak apa-apa. Tapi, buat yang ke Banda Aceh, menurut saya museum tsunami layak banget untuk dikunjungi semua.

IMG_7905IMG_7906IMG_7907IMG_7908IMG_7909IMG_7916IMG_7917

Advertisements