Saya dan Anjing

Seingat saya, di rumah orang tua saya selalu ada anjing. Sebagai tambahan informasi, rumah orang tua saya di salah satu kecamatan di Sumatera Utara yang memang lazim untuk memelihara anjing sebagai piaraan di rumah sekaligus teman berladang atau ke sawah.

Samar-samar, saya ingat Ibu pernah cerita kalau waktu kecil anjing piaraan kami menyelamatkan nyawa saya. Saat itu masih lazim anak bayi ditidurkan di ayunan per yang digantung kemudian dipasang sarung atau kain. Saya tidur dengan selimut kain di ayunan tersebut yang ternyata entah karena goyangan ayunan atau gerakan tangan kaki, selimutnya menutupi muka sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. Jadilah anjing kami ribut menggonggongi saya sampai Ibu saya datang mengecek situasi ayunan. Bisa dibilang, saya berhutang nyawa pada mahluk berbulu kaki empat ini.

Waktu SD, saya ingat anjing kami rajin mengikuti Bapak berangkat kerja. Pernah suatu kali Bapak saya pergi ke kota Kabupaten yang jaraknya sekitar 1 jam dengan mobil, ternyata anjing kami yang biasanya pulang ke rumah setelah sampai persimpangan, terus mengikuti mobil. Bapak saya baru menyadari setelah setengah perjalanan. Alamak, kepalang tanggung akhirnya anjing kami ikut Bapak ke kantor. Sepertinya, si Bleki (nama anjing kami) penasaran saja. Cukup sekali dan langsung kapok. Esoknya, dia kembali ke kebiasaan awal hanya ikut mengantar sampai persimpangan. Pulang dari ikut Bapak itu dia memang terlihat sangat capek hahaha.

Masuk usia SMP, saya tinggal di rumah saudara. Sejak saat itu, di rumah yang saya tempati tidak pernah memelihara anjing. Hingga, suatu waktu sebelum menikah, saya dan pacar (sekarang suami) akhirnya sepakat untuk mengadopsi anjing teman kami. Saya senang sekali karena mengingatkan kembali masa-masa saya memiliki anjing sendiri. Sayangnya, kejadian naas membuat kami kehilangan anjing tersebut, Cinnamon, anjing betina hitam campuran labrador-golden. Saya trauma. Sampai hari ini pun masih berasa bersalah karena saya masih mengingat, Cinnamon duduk dengan tenang di pangkuan saya tetapi matanya seolah bertanya kenapa induk dan saudaranya tidak ada bersama kami. Saya merasa bersalah karena tanggung jawab saya untuk membesarkannya tidak terlaksana.

Walau masih trauma, suatu hari kami menemukan induk anjing dan dua ekor anaknya. Ceritanya ada disini. Kemudian saya “bersahabat” dengan Pawpaw, kucing tetangga, ceritanya disini. Dan kemudian, datanglah si anak kicik berbulu kaki empat, Kenji Kenjiro.

Awalnya, saudara kami yang menawarkan untuk adopsi. Kuatir anjingnya dijual ke lapo, akhirnya kami memutuskan untuk mengambilnya. Waktu kami mengambilnya, anak kicik ini memang sudah kelihatan tabiatnya, lari sana-sini, pipis di ruang tamu, dan berani menantang anjing yang lebih besar (ya memang anjing besarnya dirantai sih). Nah, karena masih sangat kecil kami memutuskan untuk memeliharanya di teras lantai dua (sekalian disembunyikan, kalau ketahuan takut diambil lagi hahaha). Saya waktu itu sudah berhenti bekerja jadi bisa mengawasinya setiap jam. Tapi, saat harus pergi belanja ke supermarket atau keperluan lainnya, hati tidak tenang. Saya takut dia lompat ke celah pagar lantai dua atau kehujanan. Jadi itu masa-masa saya menghitung waktu pergi seminimal mungkin.

Sekarang, Kenji Kenjiro, si anak kicik ini sudah berusia lebih dari setahun (perkiraan kami 1.5 tahun). Dia penjaga teras rumah yang mumpuni karena suka menggonggong walau kadang tamu rumah tetangga pun ikut digonggongi (terlalu rajin!). Suka mutung kayak saya hehe. Pernah saya tinggal pergi beberapa hari, jadinya dia ngambek enggak mau makan. Kalau dimarahin, dia marah balik (duh, sama banget kayak saya! hahaha). Sama suami juga mirip, picky eater. Kalau dia tidak suka, tidak akan dimakan padahal lapar. Pernah kami ganti makanannya jadi dog food keluaran suatu brand, anaknya ngeloyor tiap kali dikasih makan. Jadi balik lagi ke masakan rumah, ayam campur nasi.

Kenji Kenjiro juga duta persahatan di kelurahan kami hahaha. Saya membawanya jalan pagi hampir setiap hari. Dan itu merupakan waktu paling dia nanti-nantikan, kadang jam 4 pagi dia sudah gedor-gedor gembok pagar minta dibukain. Dia senang mengendus rumah yang ada anjingnya. Positifnya, saya jadi tahu ternyata banyak juga yang memeliharan anjing di sekitar kami dan bonusnya jadi tahu jalan-jalan tikus di kelurahan kami. Karakter masa kecilnya masih kebawa, digonggongin anjing galak super, dia malah duduk mengamati anjing tersebut.

Minggu ini merupakan pengalaman emosional buat Kenji (err… tepatnya mungkin buat saya). Setelah TTP-an sama berbagai macam jenis anjing betina, akhirnya ada yang bersedia dikawinin sama Kenji (horee!). Tetapi, sayangnya besoknya pas mau dikawinin lagi, sudah ada anjing jantan lainnya yang mengklaim. Jadi daripada berantem, saya (paksa) ajak Kenji untuk mengalah. Minggu ini juga kami mengetahui teman main Kenji di komplek sebelah sudah dijual pemiliknya  huhuhu. Saya sempat berminggu-minggu menghindari jalur ke komplek tersebut karena bapak pemiliknya memang menawarkan untuk menjual anjingnya. Ternyata sudah dijual akhirnya.

Semoga Kenji panjang umur dan makin pintar. Happy 1+year old Kenji!

IMG_4745

hari pertama di Rumah9 – masih imut gemash

IMG_5062

photogenit (1)

IMG_5434

photogenit (2)

IMG_5465

Penjaga teras yang tertidur

IMG_5554

Opps, ketahuan main di tanah (lagi!) eniwei, like a mustache hihi

IMG_5740

Naik mobil ke… Vet lah pastinya hahaha

IMG_5758

Penjaga teras on duty!

IMG_6092

Salah satu gebetan yg main ke rumah

Advertisements

[review film] 3 film berturut-turut bagus semua

Biasanya, 99% saya akan mencari tahu informasi suatu film sebelum memutuskan untuk menontonnya. Dari baca blog, sinopsis cerita, atau minimal score di rotten tomatoes. Pada akhirnya, film yang menurut orang lain bagus (banget pun) belum tentu sesuai dengan “selera” film saya. Misalnya, saat ramai banget yang bilang film musikal “La La Land” bagus, menurut saya biasa saja dan saya beneran ketiduran di tengah film. Jadi terkadang memang bukan karena filmnya yang tidak bagus tetapi selera kita yang berbeda #okesip.

Nah, ini sebagai intro kalau seringkali walau sudah dilakukan antisipasi tetap saja ada kemungkinan menonton film yang tidak sesuai selera. Jadi, kejadian nonton 3 film berturut-turut yang level suka-nya tinggi semua, rasanya senang banget. Apa aja yang ditonton?

COCO

Saya dan suami nonton film ini random banget. Awal film ini keluar, saya pikir ini film dengan target anak-anak (semacam little pony movie gitu). Ke bioskop-nya pun hanya untuk nonton terus pulang. Yang mentrigger saya untuk menonton ini beberapa teman dekat saya posting status mereka menangis menonton Coco (masasih pilem kartun bikin nangis kak) dan ada juga yang review bilang gara-gara banyak yang bilang nangis, dia malah jadi enggak nangis nontonnya. Hmm, kayaknya saya akan masuk kategori yang terakhir ini deh. Jadi penasaran kan “mencobai” diri sendiri.

Awal sampai pertengahan film, kita malah ketawa-ketawa. Buat yang dibesarkan di keluarga besar, pasti paham dengan keruwetan hidup di antara generasi yang sudah sangat senior sampai generasi anak-anak kicik. Jadinya, saya kan menunggu-nunggu “kapan nih gue bakal nangis?” Ditungguin tak kunjung hadir air mata padahal filmnya sudah muncul cue akan segera berakhir. Nah, mungkin karena enggak nungguin momen kapan nangis lagi, justru jebollah pertahanan, nangis bombay banjir air mata eyeliner terhapus sudah pun (maklum belinya yang murahan).

Apa yang membuat saya akhirnya seperti anak tiri yang nangis dikasih makan nasi basi? Karena saya ikut merasa, saat sudah berupaya sedemikian jauhnya, dari pilihan jalan hidup yang salah mencoba hidup benar, tujuan sepertinya hampir tercapai sedikitttt lagi, eh kenyataan yang terjadi pahit banget. Pupus semua usaha sudah. Sedih yeekan. Apalagi diiringi dengan lagu OST utamanya yang versi awalnya seperti lagu penyemangat bahagia, lah kalau versi mellow jadi sad banget

 

Remember me

Though I have to say goodbye

Remember me

Don’t let it make you cry

For even if I’m far away I hold you in my heart

I sing a secret song to you each night we are apart

Remember me

Though I have to travel far

Remember me

Each time you hear a sad guitar

Know that I’m with you the only way that I can be

Until you’re in my arms again

Remember me

Pesan moral: kalau kita tahu apa cerita sebenarnya di balik suatu lagu, penghayatannya akan terasa berbeza sekali. Namaste.

Oia, filmnya berakhir bahagia kok. Setelah hujan ada pelangi, setelah tangis ada tawa #iyadehiyainaja

JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE

Skeptis! Yaiyalah, film lama diremake atau bikin sekuel, what do you expectlah? Lagian, genre film lawasnya tidak masuk daftar kesukaan saya juga. Tetapi, karena konsesus 2:1 (saya nonton bersama 2 orang adik saya) diputuskan untuk menonton film dengan pilihan suara terbanyak. Selintas saya baca review, katanya filmnya lucu.

ANYHOW…

GILINGAN ADA YA AKHIRNYA FILM SEKUEL ATAU REMAKE APALAH ISTILAH TEPATNYA YANG LUCU GILA DARI AWAL SAMPAI AKHIR *map gak sante lucunya hihihi

Awalnya (yaa 10 menit awal) agak boring sih karena semacam intro siapa aja 5 orang yang akan jadi pemain di permainan Jumanji yang ternyata bisa berubah mengikuti perkembangan jaman. Ini antara magic is real atau scary thing is so real, dude. Lah, kebayang enggak kalau Sadako ternyata enggak cuma bisa keluar dari layar TV tetapi bisa dari HP atau apa pun yang ada layarnya. Scary, isn’t? (well, too much imagination).

Setelah sesi intro boring tersebut lah kelucuan dimulai. Ku tak paham si The Rock itu bisa jadi apa aja ya. Dari mas-mas macho nenteng cenayang cantik di Scorpion King, jadi peri gigi di Tooth Fairy (obviously), sekarang jadi si “mata membara” di film ini. Dan menurut saya, dengan tokoh pemain sedemikian banyak, masing-masing orang mendapat porsi yang pas untuk diceritain kisahnya. Mungkin inilah yang disebut film berasaskan koperasi, keanggotaan yang setara #azeg #terserahyangnulisreviewajadeh.

Terus, menurut saya film ini juga baik sekali penutupnya, jelas dan tidak PHP. Kenapa? Di akhir cerita mereka masih dengar suara Jumanji ya bokk which is biasanya merupakan cue ciyee bagus kan kita main pilemnya, nantikan sekuel film kita ya gaes, eh film ini langsung loh permainan Jumanji-nya dibasmi pake bola bowling (lafff). Selain itu, jelas nasib salah satu pemain yang usianya 20 tahun lebih tua dari yang lainnya ketemu lagi dan he got his life back, move on, got kiddos. Menjawab rasa penasaran yang hadir selintas.

Nontonnya happy karena banyak ketawa dan selesainya puas enggak pake penasaran.

THE GREATEST SHOWMAN

Respon suami saat saya 1 detik menuju mengklik “buy the tickets” di mtix adalah “Ini film musikal?” dengan nada tidak yakin. Ya gimana enggak naik pitam perang suami isteri kesekian bisa terjadi lagi secara mendadak ini sih. Dan tahu kan, kalau membeli tiket mtix di website-nya pake HP itu cepat sekali time out-nya yang berarti mulai lagi dari awal klik-klik-klik pilihan film, studio, dst.

Baik. Tarik napas. Setelah drama distraksi tersebut, ajaibnya kami bisa menonton dengan damai hehe.

INI FILM SO BIUTIFUL SEKALI!

Buat saya yang hidupnya terbiasa susah dan penuh perjuangan (err, hidup keluarga kami tidak poor amat lah tetapi entah kenapa orang tua saya selalu berusaha meyakinkan saya bahwa kami harus berjuang untuk sekolah, hidup, dst. Semacam don’t take anything for granted gitulah) jadi saya merasa memahami kenapa mata om Hugh Jackman sangat berbinar-binar saat dia bertemu dengan orang yang memahami situasinya, tekad untuk anaknya tidak akan diperlakukan dengan buruk, dan seterusnya. Dan, walaupun gemas saat dia mulai balik badan dari barisan orang-orang seperjuangan dari titik nol saat ketenaran tercapai, kenyataannya memang sedemikian lah realitas kehidupan. Berapa banyak diantara kita yang karena jumlah followers di Instagram sekian puluh ribu terus ketemu dua orang baru di ruangan yang sama dan memperlakukan yang satu i know you are bla bla sementara the other one like I don’t care who my hair even look better than your presence in this room *mbak kok jadi curcol hahaha.

Balik ke om Jackman! Salah satu scene favorit suami saya (spoiler alert!) saat si om menerobos api untuk menyelamatkan mas Zac Effron, suami saya langsung bisikin “Dia enggak akan mati, soalnya kan Wolverine”. *ini suaminya minta dibungkus daun kemangi terus dipepes banget sih emang

Oia, lagu-lagunya juga bagus-bagus semuaaa. Menurut saya, ini film membawa aura bahagia banget memulai 2018.

Kira-kira demikianlah. Next, nonton apalagi ya?