Aceh, Kopi Sanger sampai Kota Santai Banget

Hello,

Jalan-jalan kali ini sebetulnya dalam rangka perjalanan dinas resmi (pergi dan pulangnya beneran ada sejumlah dokumen yang perlu diberesin) yang kerjaannya berhubungan dengan event Sail Sabang 2017. Kami pergi berlima, cuma 2 orang yang pernah ke Aceh sebelumnya, yang itupun sudah sekian tahun sebelumnya.

Saya termasuk dalam kelompok belum pernah ke Aceh walaupun lahir dan besar di provinsi sebelahnya, Sumatera Utara. Perjalanannya cuma 3 hari 2 malam, tapi selain mengunjungi Banda Aceh, kami juga menyeberang ke Sabang.

Karena cukup sibuk dengan kegiatan lain juga, bisa dibilang persiapan saya minim sekali untuk perjalanan kali ini. Sama sekali enggak baca review ngapain aja yang seru kalau bepergian ke Aceh, bawa baju pun seadanya koleksi baju gombrong dan pashmina dengan jumlah yang ngepas. Akibatnya, saya melewatkan sesi snorkling yang kata teman-teman bagus banget *cry*

Kalau kerjaan enggak perlu dibahas lah ya, jadi bagian seru-serunya aja.

Kopi Sanger Aceh

Saya bukan peminum kopi. Paling banter minum caramel macchiato di Starbucks. Cupulah intinya. Nah, penasaran kan minum kopi khas Aceh, jadilah saya ikut memesan Kopi Sanger panas (bisa pake es juga). Jadi gini, itu kopi rasanya pahit manis terus diakhiri kayak letupan alkohol sebagai penutupnya. Sedap banget kan! 

Walau kopinya dalam gelas kecil, saya akhirnya hanya minum setengahnya. Ngeri-ngeri sedap habis minum enggak bisa tidur hehe. Seriusan, kopinya wajib banget buat dicoba.

Fokus sama Mie Aceh & Kopi Sanger


Penginapan Banda Aceh (The Pade Hotel) & Sabang (Casanemo Resort)

Pemilihan hotel berdasarkan rekomendasi dari teman-teman baru kami yang tinggal di Aceh. Ekspektasinya yang penting aman, bersih, dan enggak aneh-aneh. Toh, paling cuma numpang tidur aja di hotel. Ternyata oh ternyata, tempat menginapnya kece-kece banget.

Yang saya suka dari The Pade, desain bangunannya ala Moroko gitu. Kamarnya luas dan bisa connecting door. Pas banget buat ngobrol2 sampai ketiduran.

Ternyata, Casanemo resort lebih cihuy lagi. Tempat tidurnya pakai kelambu putih dan pintu kamar mandinya dari kaca transparan #uhuy, langsung kepikiran buat honeymoon lagi hehe.

Paling juaranya, untuk kamar di area bawah langsung memghadap pantai, yang OMG bagus banget! Berasa kayak punya pantai pribadi.

Casanemo – berasa punya pantai pribadi

Front area The Pade Hotel

Bukit barisan view dari hotel lobby



Transportasi (pesawat dan kapal) 

Agenda kita dari kedatangan sampai Kepulangan cukup padat jadi sepakat untuk penerbangan dengan Garuda Airlines. Semua jadwalnya on time! Jadi runtutan agenda kegiatan masih bisa dikejar satu demi satu. Kejadian lucu pas diingat tapi gak banget pas kejadian, kami sebetulnya sudah tiba di T3 Soekarno-Hatta sekitar jam 9-10 pagi, penerbangan jam 12. Boarding pass udah di tangan, jadi kami ngobrol2 di salah satu kafe dekat counter check in. Kami baru jalan ke gerbang keberangkatan jam 11:30, semua berasumsi gate-nya dekat. Ternyata oh ternyata, Gate 24 itu paling ujung, mungkin jaraknya lebih dari 1KM dari eskalator turun. Jadilah 5 orang ini dengan ransel masing-masing lari ngepot. Capeeekkkkk.

Dari Banda Aceh ke Sabang, kami memutuskan untuk naik kapal cepat (45 menit). Fyi: kapal lambat (2 jam). Ini juga cukup bikin deg-degkan karena ada yang bilang jadwal kapalnya jam 10 pagi, jadi kita jalan jam 9 dari hotel masih santai. Ternyata Grab driver kita telpon temannya dan bilang kapal berangkat jam 9:30 pagi. Jadilah in a rush a.k.a ngepot sesi ke-2 kejadian lagi. Untunglah ternyata kapalnya beneran jam 10. Jadi masih sempat jajan snack dulu di pelabuhan (teteup!). Btw, di kapal bisa karaokean dengan koleksi lagu jaman Papa Mama hahaha.

Nah, udah 2 kali kan ya mengalami kengepotan (apa sih ini bahasanya hahaha), masih belum kapok pas pulangnya. Jadwal pesawat jam 12, jam 10 masih nyari oleh-oleh di pasar terus makan mie jala *mamak setress*. Untunglah jarak ke bandara dan proses check in cepat jadi enggak sampai kejadian ngepot part #3

Makan, makan, dan makan

Macam rombongan sapi lah ini berlima, makan terus kerjaannya. Tepatnya, saya yang mimpin agenda makan. Lapar bawaannya cranky shay hahaha.

Kita beruntung dapat teman lokal yang juga tahu tempat makan-makanan enak. Dari mie aceh yang juara banget bumbu dan pedasnya, sate gurita, mie sedap dan mie jala (yang menurut saya mirip sama bakmi di Medan), pizza di Kafe hotel yang proses pembuatannya di depan mata, sampai ikan bakar yang nunggunya sejam lebih tapi enaknya sampai bersih tinggal tulang (dan murah bangetlah).



Keramahan dan kebaikan

Aceh memang terkenal sebagai daerah yang menjalankan prinsip-prinsip agama Islam. Wajar menurut saya kalau kita kuatir salah bertindak dan konsekuensinya. Jadi, sebaiknya memang menyiapkan pakaian yang proper dan memperhatikan budaya setempat.

Di Banda Aceh, semua perempuan yang kami temui memakai jilbab. Kami pun mengenakan tutup kepala. Tetap dilihatin sama beberapa orang, karena tetap saja cara berpakaian kami berbeda. Tapi ini tidak sampai membuat kami merasa terganggu.

Hal lainnya, di jam magrib (sekitar jam 7 malam), semua aktivitas terhenti. Kami menyadarinya karena sedang bertemu salah satu vendor di tempat makan. Jadi, semua toko ditutup. Kita gpp tetap di dalam, lanjut ngobrol dan makan. Nanti jam 8 malam dibuka lagi.

Nah, kalau di Sabang, ada tambahan jam istirahat siang, jam 12 sampai jam 2. Siesta ala orang Sabang (kurang tahu apakah hal yang sama juga berlaku di Banda Aceh). Salah satu teman sampai bilang Sabang itu singkatan dari Santai Banget hehe.

Orang-orang yang kita temui juga ramah-ramah. Bahkan ada yang rela kita pinjam printernya karena lagi buru-buru mengejar tanda tangan Pemda setempat.
Overall, perjalanan kali ini menyenangkan dan ingin balik lagi suatu hari nanti. Semoga!

Advertisements