#birthdaynote 33

Pagi saya diawali dengan ucapan selamat dari suami. Kami berdua masih setengah ngantuk dalam formasi selimut, bantal, dan guling yang acak kadut. Saya minta kado yang tentunya suami langsung mengingatkan setiap belanjaan yang saya klaim adalah hadiah ulang tahun dari bulan-bulan sebelumnya hahaha.

Saya berusaha mengingat kenapa hari ulang tahun terasa spesial. Semakin umur bertambah, semakin sedikit atensi yang saya inginkan di hari ini. Walaupun hari ini saya inginkan sebiasa mungkin, tapi tadi pagi muncul niat mulia untuk menulis ke diri sendiri setiap saya ulang tahun, dimulai dari tahun ini. Semakin kesini kok ya semakin jarang menulis. Apa yang ingin ditulis lebih banyak berakhir dipikirin di pikiran berulang kali, seolah-olah perlu dipoles yang kece baru oke buat dipublish. Padahal, saya sendiri sebetulnya lebih suka membaca tulisan yang sekenanya tanpa harus memikirkan struktur awal sampai akhir. Ibarat kata, dibandingkan makan di kafe yang lagi heits, saya lebih merindukan makan di warung tenda malam-malam setelah terima transferan dari orang tua di masa kuliah dulu. It was a good moment to remember. It really was.

Dengan pembukaan yang sudah panjang lebar, mudah-mudahan niatannya terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Aminnnn.

 

Welcome 33!

Angka cantik ya hehe. Well, yang pasti hari ini saya merasa patah hati (lagi). Setelah telat 8 hari, udah lah GR dapat hadiah ultah dari yang di Atas terkabul doa hampir 4 tahun terakhir, pagi ini dimulai dengan babak berdarah alias datang bulan. Is life still good? Tentunya ada babak saya marah terus nangis terus marah lagi terus ketiduran. Kalau enggak begitu, drama kehidupan kan kurang berwarna ya hehe. Tetapi, kalau udah tua (ampun deh berasa tua banget hahaha) enggak cuma fisik yang cepet capek, emosi juga cepet capek kalau kelamaan marah. Dan banyak hal yang mengingatkan saya untuk segera baikan lagi sama yang di Atas. Kedalaman hati Tuhan tidak terukur hati manusia jadi kenapa mengukur hidup dengan pemikiran sendiri. Bisa dibilang, ini tahun yang saya belajar makna berserah. Ya tentunya bukan yang “terserah lo aja deh” gitu ya. Kalau kata teman saya, sikap hati kita seperti apa saat melewati ujian hidup. Tentunya ya berdarah-darah shay! Disanggup-sanggupin lah buat punya sikap hati yang benar.

Walau sudah nyicil beli kado (udah dipake juga sih), hari ini saya menghadiahi diri sendiri kado: 2 es krim. Soalnya cuaca lagi panas bokk, enak banget deh siang-siang sambil goler-goler di lantai makan es krim *hidup mamak-mamak abis nyuci gorden jendela 1 rumah (note: cuma 2 gorden padahal hehe). Pengalaman bertahun-tahun, walaupun senang dengan ucapan selamat di Facebook dari kerabat dekat sampai teman yang hanya ketemu di dunia maya tapi juga rasanya menguras energy untuk merespon satu demi satu. Kalau tidak direspon, saya yang merasa tidak enak hati. Serba salah ya kan. Minggu lalu saya akhirnya berhasil mengubah settingan hari lahir di Facebook sehingga hanya bisa dilihat oleh saya sendiri *uhuyyy bahagia. Intinya, ternyata semakin tua saya semakin menikmati hidup dengan hal yang kecil. I am a happy introvert person.

Saya merasa di titik sudah dan belum dewasa. Dengan tingkat kepedean sedengkul, ada hal-hal yang saya rasa bisa saya sikapi dengan dewasa, tapi pemikiran saya juga semakin pintar mengkritisi dirinya sendiri. Apa yang sudah saya tahu belum tentu sudah tahu sepenuhnya, termasuk kedewasaan. Saya jenuh melihat postingan di social media (khususnya instagram) yang sudah di “crafting”, sejenuh postingan hoax yang tidak jelas sumber beritanya. Saya tidak menikmati berada dalam kelompok yang membicarakan skin deep topic, tapi ya kan enggak mungkin juga cuma temenan sama yang ngobrol serius aja kan. So, I guess my 3rd lesson is to find the balance in every aspect of life.

So, that’s it! I am happy with the content of this post. Till next year 🙂

 

birthday from google

google says happy birthday!

Advertisements