Day 4 & 5: Tokyo, an Affair with Unexpected Things

Dari awal bikin itinerary, sejujurnya saya tidak terlalu tertarik untuk pergi ke Tokyo. Hanya saja, rasanya sayang kalau sudah sampai Jepang tapi belum berkunjung ke ibukota-nya. Jadi, 2 hari terakhir kami habiskan di Tokyo dengan pertimbangan akan jadi hari berbelanja *big grin hehe


Dari Kyoto kami naik Shinkansen jam 6.14am, tiba di Tokyo jam 8.30am. Dari stasiun Tokyo, kami masih akan naik kereta ke Shinjuku, kemudian ganti kereta lagi yang mengarah ke Yoyogi Hachiman yang merupakan stasiun terdekat dengan penginapan. Tips: tiket Shinkansen-nya masih bisa digunakan untuk dari Stasiun Tokyo ke stasiun Shinjuku. Hal yang sama juga berlaku dengan tiket Narita Express (Narita Airport – Yokohama) masih berlaku digunakan saat ganti kereta di stasiun Yokohama ke stasiun Sakuragi-cho.

Karena ini adalah last minute reservation, saya sudah pasrah sih dapat tempat menginapnya seperti apa. Di website airbnb cuma ada 1 foto, yaitu kamar (tempat tidur dengan drawer merah di sampingnya). Saya cuma mempertimbangkan, harganya murah (sekitar 500rb/malam dan dekat stasiun).

Kami janjian jam 9.30am dengan host airbnb untuk drop barang baru rencananya akan jalan-jalan. Host kali ini adalah keluarga muda, dengan bayi, anjing jenis corgy, dan kelinci. Rame ya hihi. Nah, karena mereka tinggal di apartemen, saya udah pasrah kalau perlu angkat koper ke lantai berapa (udah gak kepikiran buat lihat detailsnya pas bikin reservasi). Di Jepang normal untuk apartemen 5 lantai tidak pake lift. Puji syukur mereka tinggal di lantai 1 *sujud syukur hahaha.

Kamarnya homey banget, ada welcoming snack dan air mineral 2 botol, flat TV yang lumayan besar, dan colokan serba guna *tepuk tangan berasa kayak di hotel*. Letak kamar kita di dekat pintu masuk dan berdekatan dengan bath room / toilet, jadi selain privasi juga enggak repot kalau butuh bolak-balik ke toilet dan pergi/masuk rumah. Host yang menyambut kita adalah isteri dan anak perempuannya (suaminya lagi kerja). Dia sampai jemput kita di stasiun karena kuatir kita nyasar haha (padahal dua host sebelumnya cukup memberi petunjuk arah). Selain ramah, dia juga senang cerita dengan bahasa inggris yang cukup lancar dicampur bahasa Jepang. Terkadang dia ngobrol dengan suami saya pakai bahasa Jepang, dan mereka lupa menterjemahkannya. Zzzzz. Rencananya kita mau drop koper saja karena jam check in jam 3 sore tapi malah sekalian istirahat sebentar di kamar untuk bikin ulang itinerary.


 

1st stop: Harajuku & Meiji Shrine

Letak penginapan kita itu dekat dengan Harajuku ternyata. Yeay! Host-nya bilang masih walking distance tapi karena kita udah jompo banget kakinya, kita memilih untuk naik subway metro (sekalian beli 1 day pass. Bisa dipake selama 24 jam, bukan hitungan per-hari/tanggal). Jaraknya pun cuma 1 stasiun.

Kita niat banget hari ini mau makan ramen. Kepengen nyobain Ippudo yang heits juga di Indonesia. Ternyata dari google maps, Ippudo terdekat di daerah Ebisu padahal kita terlanjur keluar stasiun di Harajuku *salah lihat info pas googling sebelumnya. Karena udah lapar dan cranky, akhirnya kita memilih ramen terdekat yang masih daerah Harajuku, yaitu Ichiran. Ulalaa… pilihan yang tidak terduga ini ternyata bikin kita menyesal banget. Rasanya semua ramen yang pernah kita makan lewat deh saking enaknya. Untuk pertama kalinya, saya dan suami makan ramen sampai kuahnya pun habis. Ichiran hanya menyajikan 1 jenis ramen, yang nantinya bisa kita pilih tambahan topping, jenis mie (lurus, keriting) & tingkat kelembutannya, dan side dish lainnya (pudding, etc). Dan mereka jual ramen yang bisa dimasak sendiri di rumah. Wuwuu… tentunya kita beli hahaha.


Setelah makan siang, kita baru jalan-jalan lagi ke area pertokoan. Baru masuk beberapa toko, saya sudah cranky lagi hahaha. Determinasi saya untuk jalan kaki jauh dengan jari kaki lecet, lutut mau copot, betis pegel ternyata hanya berlaku di wisata alam, budaya, dan kuliner. Masuk area belanja rasanya pengen cepat-cepat keluar lagi. Padahal suami senang banget keluar masuk toko. Seingat saya, kami hanya bertahan masuk 2 toko (ABC dan H&M). Melihat saya udah misuh-misuh tidak sabaran, suami mengalah dan mengajak untuk pergi ke Meiji Shrine (masih satu area dengan Harajuku). Beneran semangat 45 jalan lagi padahal jarak dari gerbang depan sampai ke dalam lumayan jauh.


Untuk melihat shrine-nya tidak perlu bayar, tapi kalau mau merasakan pengalaman para kaisar Jepang menghabiskan waktu berwisata di taman bunga (bunganya berganti sesuai musim pula), melihat danau dengan water lily, dan salah satu sumur bersejarah, ada area tur-nya yang berbayar ¥500 / orang. Menurut petugas, waktu yang dibutuhkan jalan kaki sekitar 20-30 menit. Kita memutuskan tidak ikut akhirnya. Entah kenapa, ini mengingatkan akan Kebun Raya Bogor.

 

2nd stop: Asakusa – shopping

Suami niat banget untuk agenda itinerary ini (tadinya mau ke Ginza dan Akihabara juga). Kali ini giliran saya yang mengalah, ngekorin suami belanja hahaha. Dari Harajuku, kami naik kereta metro subway menuju Asakusa. Nah, keluar dari stasiun, tepatnya masih di dalam area stasiun, kita sudah disambut berbagai toko. Mental ibu-ibu langsung sumringah lihat aneka hasil tani berjajar segar-segar dan besar. Keluar stasiun terhampar lah pemandangan yang membahagiakan suami. Jajaran toko-toko dan ada 1 jalan khusus untuk tempat berbagai penjual makanan (seperti china town). Dan itu rameee banget.

Pencarian pertama kami ke toko Magazine (btw, tokonya sama sekali tidak menjual majalah hehe) yang merupakan supplier resmi tas Anello (ada yang titip beliin tas merk ini). Ternyata saya juga suka dengan model tas ranselnya, resleting-nya dikasih tambahan rangka dalam jadi bentuknya firm saat di kancing.  Ini menjadi barang pertama yang saya beli sebagai oleh-oleh untuk diri sendiri. Dan, nantinya berguna banget untuk tempat oleh-oleh karena 2 koper kita + 1 tas jinjing besar ternyata tidak muat dengan berbagai macam pesanan dan oleh-oleh yang dibeli hahaha.

Pas lagi cari sepatu (titipan lagi), kita menemukan sepatu ASIC untuk laki-laki warna cokelat diskon 50%. Wuwuuw… suami senang banget karena pas dengan ukuran kakinya. Sepatu titipan malah enggak ketemu dicari sampai bandara *sigh. Setelahnya karena hujan cukup deras, kita mampir di restoran yang menunya seperti yoshinoya. Ada porsi mini jadi lumayan bisa berteduh sekalian menghangatkan badan dan perut enggak terlalu merasa bersalah hehe.

Setelah hujan tinggal gerimis, kita lanjut belanja ke Don-Q untuk beli oleh-oleh makanan dan lainnya. Ini semacam supermarket++, 5 lantai dengan berbagai macam barang ada (makanan, elektronik, sampai hal-hal untuk 18+). Nah, kalau belanjaan lebih dari ¥5.000, bisa klaim untuk tax free. Kita masuk dari sinar matahari masih ada, keluar udah gelap hahaha. Habis belanja lapar lagi dong ya hahaha. Sekalian mengarah ke subway, kita ketemu restoran yang menyajikan curry. TIPS: untuk porsi standar ternyata nasinya banyak banget + chicken katsu-nya juga dalam potongan besar. Saya setengahnya saja enggak habis. Nah, sebetulnya ada pamphlet di meja yang menjelaskan kalau nasinya bisa dikurangi, lumayan bisa menghemat dan biar tidak mubazir.


 

Last day in Japan

3rd stop: Shinjuku Shrine

Hari terakhir di Tokyo, kita sesantai mungkin. Bangun pagi, saya dan suami gantian mandi sekalian packing. Setelah beres tinggal diangkut baru kita pergi cari sarapan di convenience store. Btw, ternyata host kita bangun lebih siang. Kita pergi sarapan mereka belum ada tanda-tanda beraktivitas.

Di dekat penginapan, ada kuil yang usianya 8000 tahun (sayangnya saya lupa namanya). Jadi kita sekalian mampir dan lihat, penduduk lokal pagi-pagi berdoa di kuil. It was truly a peaceful morning. Yang menariknya lagi, saat mau berdoa, mereka akan minum air dari sumur, kemudian memutari gerbang bundar yang terbuat dari entah daun atau tanaman apa sebanyak 3x. Suasananya damai dan tenang banget. Tidak ada yang mengobrol. Semua orang melakukan kegiatannya dalam diam. Yang datang berdoa juga macam-macam, dari pekerja kantoran sampai yang masih pake baju lari.


Kembali ke penginapan, host kita sudah sibuk di area ruang tengah. Kita akhirnya berkenalan dengan suaminya. Suaminya bekerja untuk perusahaan otomotif Jerman dan sangat fluent berbahasa inggris. Setelah pamitan dengan host, kita memutuskan naik bus ke Shibuya. Jarak jalan kakinya lebih dekat ke halte bus daripada ke halte subway, selain itu kita juga tidak perlu naik/turun tangga. Sampai di Shibuya, koper kita simpan di loker, baru lanjut lagi jalan-jalan.

 

4th Stop: Shibuya ramble and Hachiko Statue

Agenda kali ini dipersembahkan oleh kegiatan mainstream para turis ke Tokyo yaitu bikin postingan di Shibuya ramble dan lihat patung Hachiko. Karena masih pagi, area pertokoannya banyak yang belum buka dan orang-orang yang jalan di Shibuya ramble juga tidak terlalu ramai. Pas lihat patung Hachiko, saya sebetulnya lumayan sedih karena mengingatkan saya dengan Kenji, anjing kami di rumah.

Sebelum menuju Ebisu untuk makan siang di Ippudo, kami beli tumbler starbuck. Pokoknya, jalan-jalan ala turis mainstream lah.

5th Stop: Ippudo, Ebisu

Daerah Ebisu sedikit lebih ramai daripada Shinjuku, ada mal kecil tapi cantik dan modern. Ini buat pertimbangan kalau next time memutuskan memilih area penginapan. Di stasiunnya juga banyak toko-toko dan tempat duduk kayu dengan tanaman bunga. Jadi areanya memang cantik. Letak Ramen Ippudo-nya masih walking distance dari stasiun. Kami sampai stasiun Ebisu sekitar jam 10, jadi saya sempat melihat isi mal-nya sementara suami menunggu di kursi stasiun ditemani bunga hehe.

Sepertinya, Ippudo ini banyak dikunjungi oleh turis atau non-Japanese, karena di depan restoran pun sudah ada nama Ippudo dalam huruf alfabet dan menunya pun sudah tersedia yang bahasa inggris. Yang bikin happy, di meja sudah tersedia toge (yang sudah dibumbui seperti kimci), jahe merah, dan satu lagi entah apa hehe. Jadi bisa puas-puasin tuh makan toge hahaha. Dari segi rasa, menurut saya lebih enak ramen Ichiran. Ramen disini rasanya mirip dengan ramen di Indonesia.

 

6th stop: Narita Terminal 2 Airport

Karena ini hari sabtu, host kami menyarankan untuk naik kereta ke airport. Kalau naik bus, takutnya lebih macet. Dari Ebisu kami kembali ke Shibuya untuk ambil koper. Tadinya saya pikir kami perlu ke Tokyo untuk naik kereta ke Narita karena Narita Express tidak berhenti di semua stasiun. Ternyata, Narita Express berhenti di Stasiun Shibuya, yeay! Kami kecepatan tiba di peron keberangkatan sekitar 30 menit. Ya maklum karena bawa tentengan banyak dan jarak dari pintu depan ke peron lumayan jauh, kami sengaja berangkat lebih awal.

Untuk kereta Narita Express, di tiketnya tercantum jam keberangkatan dan nomer tempat duduk (sistemnya hanya reserved seat). Sebelum jam keberangkatan kereta kita, ada kereta lainnya dan berhenti cukup lama (lebih dari 2 menit), jadi suami sempat nanya petugas/masinis kereta apakah boleh kita naik kereta tersebut walaupun tidak sesuai tiket kita. Ternyata boleh, yeay. Mungkin karena yang naik kereta tidak terlalu ramai. Jadinya kita duduk di kursi paling belakang (tidak sesuai no tempat duduk) dan berharap tidak ada yang memesan kursi tersebut, biar kita tidak repot pindah. TIPS: koper bisa ditaruh di area koper (cukup luas, dan 2 tingkat) di dekat pintu. Kalau koper kecil bisa ditaruh di depan kaki kita karena area untuk kaki lumayan luas.


Sampai di airport, setelah check in, tentunya suami heboh buat keliling lagi. Saya sampai ditinggal duduk sendirian (2x) untuk dia jalan-jalan sendiri. Buat yang tidak sempat belanja, jangan kuatir hehe. Di bandara masih banyak toko yang menjual berbagai makanan oleh-oleh, parfum, elektronik, sepatu, dll.

Pas ditinggal sendiri yang kedua kali inilah terjadi insiden hampir ketinggalan pesawat. Saya sudah ingetin suami kalau boarding time jam 5.50pm. Dia dengan pede-nya bilang masih lama. Padahal udah jam 5. Yaudah saya biarin dia pergi keliling lagi. Eh, ternyata sampai jam 5.45pm orangnya belum balik, saya panik dong. Padahal jarak antara meeting point kami ke gerbang boarding masih lumayan jauh. Ditelepon beberapa kali juga enggak diangkat. Saya lumayan panik dan kesal bukan main.

Akhirnya saya memutuskan untuk jalan duluan ke gerbang keberangkatan dengan membawa ransel saya yang berat + ransel suami yang berat juga. Makin kesal kan hahaha. Sambil jalan, saya bolak balik lihat ke belakang. Suami akhirnya muncul dari belakang jam 5.50pm. Saya memutuskan untuk menyimpan sesi ngomel belakangan karena kami berdua harus segera lari ke gerbang keberangkatan. Ugh, enggak cuma betis yang berasa ketarik, syaraf di betis sampai kepala pun berasa ketarik. Puji syukur, boarding time-nya delay sampai jam 6pm. Mau nangis rasanya lihat antrian di gate keberangkatan masih rame.

Saat duduk di pesawat, saya masih bisa mengingat semua rasa cape selama 6 hari perjalanan liburan kami. Fisik dan mental sejujurnya capek banget. Tapi, di dalam hati rasanya semangat banget untuk mengulang liburan lagi ke Jepang (amin!). Kalau dipikir lagi, perjalanan ke Jepang kali ini seperti survey untuk perencanaan liburan yang lebih matang berikutnya *amiiinnn lagi. Setidaknya, sudah 4 kota yang mulai dikenal ya kan hehe. Mudah-mudahan diberi umur panjang dan rejeki untuk kembali lagi. Aminnnn.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s