Day 3: Kyoto, in between of traditional and modern #JapanTrip

Akhirnya bertemu pak suami hari ini. Yeay! (baru berapa jam ketemu udah berantem lagi sih, uhuk). Hari ini ada 3 titik point utama yang ingin kita kunjungi: Fushimi Inari, Gion, dan Arashiyama. Saya sudah pesan via online untuk paket Yukata-couple di Yumeyakata, Gion, sebelum berangkat ke Jepang. Sayangnya jadwal pagi sudah penuh, jadi kami ambil yang jam 14:30 siang. Kata atasan suami, ke Fushimi Inari baiknya pagi karena makin siang makin rame.
Nah, perkiraan kita akan mulai jalan jam 8 pagi, hanya saja suami ternyata baru sampai Kyoto sekitar jam 9 pagi. Untungnya, sambil menunggu suami, saya sempat menghubungi host Airbnb kami untuk menanyakan apakah bisa nge-drop luggages pagi, dan cepat dapat balasan. Lumayan menghemat uang sewa loker. Dan ternyata, tempat menginapnya dekat banget sama stasiun Kyoto. Jadi letaknya strategis banget untuk kemana-mana.


Kami memutuskan untuk beli buss one day pass karena mau menghindari naik turun tangga hahaha. Di beberapa lokasi tetap pindah naik kereta sih tapi lumayan lah mengurangi beban kaki.
1st stop: Fushimi Inari

Kalau niat dan punya tenaga ekstra, disini kita bisa menghabiskan waktu setidaknya setengah hari karena dari pintu masuk sampai ujung (katanya sampai bisa lihat gunung di puncak tangganya) itu luas banget.

Cuma kita memutuskan untuk lebih menikmati suasana di area dasarnya saja. Sempat gantian foto sama orang Indonesia, akhirnya punya foto berdua yang full body. Terus, suami minta dibikinin insta-story dia lari-lari seperti Chio di film Memoirs of Geisha (yang menurut saya jadi lucu banget hahaha), dan ditutup dengan beli jus jeruk yang diblender di dalam jeruknya, Mie goreng porsi super besar untuk berdua saja kenyang abis, dan takoyaki lagi karena suami belum makan takoyaki. Masing-masing harganya ¥500. Sepertinya untuk memudahkan para penjual dan pembeli. Mereka hanya menerima pecahan ¥500 paling kecil untuk transaksi pembelian. Btw, pas kita makan Mie goreng, sempat terjadi kejadian lucu. Si penjual menawarkan Mie gorengnya ke orang-orang yang lewat, tentunya dalam bahasa Jepang, dengan mengatakan (kurang lebih terjemahannya) “ayo yang gendut beli Mie goreng biar tambah gendut” hahaha. Btw, tidak ada tempat duduk disediakan jadi kita berdiri sambil makan atau duduk di pinggiran seadanya apa yang bisa diduduki. Kata suami (lagi), tidak sopan kalau makan sambil jalan.

2nd stop: Gion – mencoba pakaian tradisional Jepang

Memakai kimono merupakan cita-cita saya sejak kenal komik Jepang hehe. Nah, karena udah masuk musim panas, suami menyarankan pakai Yukata saja. Kimono lebih berat dan akan lebih gerah dipake. Untungnya saya setuju karena dengan Yukata saja udah lumayan tebal terutama di dibagian perut/dada karena berlapis-lapis.

Nah, prosesnya terbagi di 5 lantai (kasir/pendaftaran sampai tempat hair do/make up). Saya hanya memilih baju+hair do (tanpa make up) saja baru selesai sekitar jam 4. Prosesnya kurang lebih 1.5 jam. Tadinya kita mau mampir ke Gold temple karena searah sama Arashiyama tapi karena bajunya paling lambat dibalikin jam 19:30 (bisa besok dibalikin tapi extra charge ¥1.000/baju) jadi kita langsung ke Arashiyama naik kereta. Suami lumayan kerepotan dengan sandal bakiaknya dan bunyi lumayan kencang saat beradu dengan jalan/trotoar jadi lebih lambat jalannya hihi.

3rd stop: Arashiyama dan %Arabica

Menurut saya, kesini juga baiknya pagi atau sore hari karena areanya lumayan luas dan menyenangkan untuk jalan kaki santai. Buat yang mau nyobain naik ricksaw juga banyak disini. Abang-abangnya berotot dengan short pants, kalau beruntung dapat yang ganteng dijamin makin salah fokus hahaha.

Lokasinya berdekatan dengan coffee shop (beneran cuma jual kopi & biji kopi) yang terkenal di review, sampai antri panjang katanya. Menurut saya yang bukan coffee addict, kopinya biasa aja sebetulnya. Apalagi di Indonesia kita bisa dengan mudahnya pesan kopi Tuku di go-food atau ngopi cantik di SRSLY atau kopi Bersahaja di Roti Eneng (intinya banyak pilihan lah). Bahkan untuk duduk di dalam kafe-nya pun bayar (kalau gak salah ¥1000/30 menit). Nah, yang menarik justru di depan coffee shop nya ada sungai yang lebar dengan latar belakang bukit berpohon hijau gitu. Dan kita bisa duduk sambil bengong di tepi sungai.

Baliknya kita naik bus. Ini perlu banget untuk cek jadwal bus sebelumnya karena datangnya per-20 menit sekali. Jarak dari %arabica sebetulnya dekat ke halte bus, tapi karena kita jalan santai dan gak cek jadwal jadinya kita telat 1 menit aja sampai halte bus huhu. Sebagai isteri sekaligus manager keuangan tentunya lumayan panik karena takut telat balikin Yukatanya. Lumayan ¥2.000 bisa buat beli tumbler Starbuck #eh. Busnya sampai halte Kyoto tapi karena letak Gion sebelum halte Kyoto, kita perlu pindah bus 1x. Untunglah jalanan tidak macet jadi kita sampai di Gion sekitar jam 19:15.

Selesai ganti baju, udah lapar banget dong. Beda berapa bangunan dari Yumeyakata ada tempat makan (yang tidak ke-detect namanya di gmaps). Pertama kalinya saya nyobain beli makan dengan order di mesin, dibantu suami tentunya karena tidak ada bahasa inggrisnya. Happy hehe. Dan pertama kalinya saya makan ikan makarel yang bukan kalengan. Gede dan enak banget. Double happiness.

Sebelum balik ke penginapan kita beli tiket Shinkansen dulu sekalian mengecek jalur ke tempat naiknya. Stasiun Kyoto luas banget dan kejadian kita lupa simpan koper di loker area mana (ada 1 koper yang kita tinggal di stasiun biar gak berat dibawa jalan ke penginapan).


Balik ke penginapan, uwuuuww senang banget karena kamarnya luas dengan model tatami. Eh, ternyata kamar mandinya juga gede pisan. Macam horang kayah banget lah. Tapi saya hampir gak bisa tidur, takut telat bangun dan pas udah tidur mimpi buruk pula. Eh, suami juga mimpi buruk pake acara manggil-manggil nama saya lagi. Kebangun berapa kali sepanjang malam jadinya berasa banget kurang tidurnya pas pagi hari.

Nah, kita akhirnya keluar penginapan jam 5:30 (btw, jam 5 aja udah terang banget). Saya lagi-lagi takut telat dong ya karena masih perlu ambil koper di loker. Jadilah mamak satu ini lari di jalanan Kyoto ninggalin suami bawa koper satu lagi. Untunglah ku pernah lari pagi/sore dan yoga. Kita sampai di jalur Shinkansen jam 6 lewat dikit. Fiuh. Oh, episode lari ini ternyata berulang lagi di bandara. Till next story 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s