[Part 6] IUI Part.2 and The Lesson Learned

**Many times, writing is the best healing process for my soul**

Have you ever been in a situation where you asked your parent to give something you really want? You had proposed every reasons to justify your need is at top priority level that you must get that ‘things’ as soonest. You begged through the nicest to the rudest way. You did be the sweetest child ever to the meanest one who screamed about leaving the house if you didn’t get what you had asked for days or weeks.

Then, your parent still did not give approval for your request. Period.

The question is: what will you do after that series of drama?

***

Awalnya, kami berencana untuk mencoba program inseminasi (Intra Uterine Insemination / IUI) yang ke-2 di bulan Januari lalu. Saya bahkan sudah mengunjungi dokter kandungan kami di Morula IVF Jakarta (BIC) di pertengahan bulan, tetapi karena perkiraan jadwal inseminasi jatuh di minggu suami sedang sibuk di pekerjaannya maka kami memutuskan untuk menunda programnya ke siklus menstruasi berikutnya. Jadi, program IUI yang ke-2 akhirnya kami lakukan di awal Maret lalu.

Untuk program kali ini, dr. Irham Suheimi, SpOG menawarkan untuk mencoba cara alami. Biasanya sebelum proses inseminasi dilakukan, sel telur disuntik supaya tumbuh mencapai ukuran telur matang (kalau tidak salah 18-22mm). Kali ini proses menyuntik telur ini ditiadakan. Jadi, sel telur dibiarkan matang secara alami sesuai siklusnya. Saya tetap bolak-balik ke dokter kandungan untuk mengecek sel telurnya sudah cukup matang atau belum. Saat sel telur sudah matang, saya diberikan suntikan pemecah di pagi hari agar siap untuk dibuahi keesokan paginya melalui proses inseminasi.

Saya sendiri sangat excited dengan prosesnya, mungkin karena pengaruh ditiadakannya suntik obat-obatannya. Hanya saja beberapa kejadian dari malam sebelum proses inseminasi dan berlanjut dengan beberapa drama kecil dan besar setelah proses inseminasi cukup membuat saya merasa lelah secara fisik dan mental.

Dalam prosesnya, saya tetap meletakkan harapan di dalam Tuhan. Bahkan, beberapa kali saat saya merasa sedikit kram di perut bagian bawah, saya berdoa untuk Tuhan menjaga ‘kandungan’ saya, kalau tidak lebih baik Tuhan mengambil saya saja *uhuk, ngancem Tuhan bokk*. I prayed a lot. I tried to keep my mind in a positive stage.

Senin pagi, saya sudah telat menstruasi sekitar 3 hari. Hati sudah pasti deg-degkan untuk melakukan test pack. Sayangnya, yang pertama saya lihat saat akan melakukan tes kehamilan justru bukti nyata saya tidak hamil. I got my period that morning.

We failed again.

Saya kembali ke kamar dan memutuskan untuk tiduran karena badan terasa lemas dan seolah-olah tenaga saya menghilang begitu saja.

But, I didn’t cry. I just did not cry.

Selama dua hari saya merasa seperti ada lubang di hati dengan tanda tanya besar ‘why’. All questions comes to one unexplainable one: why do we fail again? I remember I cried once for about 5 minutes then I continued watching TV like nothing happened before.

Was my heart just getting cold?

I thought about some common normal scenarios: screaming, blaming, gave up. But the more I think about it, I know exactly I don’t have those scenarios in mind. In fact, I understand one important thing. As a parent, never ask God to choose between you or your child. You and your child are God’s children. He loves you both equally. He will never choose which one is more important than another.

Yesterday, while watching random TV’s series, I heard this dialogue “All good things come to an end”. For me, it’s not a complete script yet. It should be “All good things come to an end, so do bad things”. Life is a process. There’s nothing stay forever except the change itself. One day, my life will be changed. I will no longer have an empty womb. I’ll have my own children. I believe that. I still believe that.

I’m ready for the next cycle!

Advertisements

SPLIT – cerita tentang film dan saya

Saya bukan movie-goer tetapi karena suami senang sekali menonton film, ditambah alasan pergi ke bioskop merupakan agenda kencan berdua paling gampang (dan murah hahaha), jadilah saya cukup sering nonton film. Dua bulan terakhir bisa dibilang rekor menonton terbanyak. Film yang ditonton: Fantastic Beasts and Where to Find Them, Lala Land, Arrival, Split, Cek Toko Sebelah, Dangal, Lion, John Wick: Chapter 2.
Dari semua film tersebut, bisa dibilang saya suka semua walau ada juga yang setelah film selesai baru paham *salim Om Nunu*. Jadi bisa dibilang taste saya akan film masuk dalam kategori easy to please a.k.a murceeee yeee bokkkk hehe. 

Kalau dibilang mau bikin review kayaknya terlalu serius. Saya penikmat bukan pengamat. Tulisan ini pun secara cepat saya tulis setelah keluar dari ruang bioskop untuk menampung luapan emosi dan kata-kata yang berseliweran di kepala (tentunya melalui proses pengeditan lagi, 10 hari kemudian hehe).

Thriller bukan genre film yang saya suka karena saya takut dan tidak suka perasaan dikejar-kejar peran antagonisnya, ditambah adegan kejutan disana-sini #LemahHatiAdekBang Kalau TV kan gampang tinggal ganti channel, ini di bioskop ya kali minta pindah ruang theater.

Hari itu, saya keburu sudah di perjalanan saat rencana meeting ditunda. Terlanjur sudah ya nonton sajalah. Nontonnya juga tanpa persiapan. Ya enggak perlu ke salon cream-bath dan meni-pedi dulu sih mbak *lempar berondong jagung* Biasanya saya baca-baca review sambil cek score-nya di rotten tomatoes. Pokoknya siap hati, jiwa, dan raga. Kali kemarin, saya cuma baca sinopsis di website bioskop, itu pun untuk memilih film yang mana akan ditonton. 

TURNED OUT IT WAS A GREAT MOVIE!

*keluar bioskop masih bengong*

Oia, ini nonton film SPLIT ya pemirsaaa 😁
Filmnya bikin tegang? Iyaaaa! Tapi tidak membuat saya takut *tepuk tangan*. Yang ada justru penasaran, gemes, rasanya pengen masuk layar buat ikutan akting #abaikanmbak2modus. Dan saya terpesona sama charming-nya tokoh Ibu psikolog. Gimana si Ibu tetap bersikap profesional dan tidak terbawa kalutnya situasi yang dia rasakan ((apalagi kalau dibandingkan dengan situasi media sosial sekarang yang senggol sedikit bisa riweh baperannya ✌️😁)). 

Dari perspektif si Ibu Psikolog ini, saya merasa kondisi yang dialami si tokoh utama, yang memiliki 24 kepribadian, adalah realitas yang nyata seperti keberadaan manusia lainnya, yang memiliki 1 atau lebih kepribadian. Realitas yang lebih nyata dari tontonan reality show yang menawarkan utopia cerita hidup digariskan oleh kata-kata di dalam naskah.

Terus kenapa saya sampai bisa bengong keluar dari bioskop? 

Karena merasa tertampar dengan “kotak nyaman” hidup yang saya jalani sekarang. Ya tidak ada yang salah sih dengan hidup saya tetapi saya seperti melewatkan pemaknaan kata “limit”. Hidup saya terpola, cukup terprediksi, normatif, dan sesuai aturan. Pertanyaan ini yang muncul di dalam kepala saya:
What’s beyond my limit?

What will happen if I cross the boundary(ies)?
The answers are limitless. 
Dari thrilled kemudian menjadi thrilling, untuk memikirkan apa yang bisa dilakukan jika segenap kemampuan yang dimiliki dikerahkan & dikembangkan. Saat-saat terbaik dalam hidup paling berasa setelah kita mengerjakan sesuatu dengan all out ya kan. 

This movie inspired me to keep moving, do what I suppose to do, and never take life for granted.

How about you?