Hal-Hal Kecil Dalam Keuangan

Suami saya jelas bukan tipe sport-man. Jadi, wajar kalau kerutan khas umur 30an makin jelas di wajah saya saat suatu malam dia kirim gambar via whatsapp sedang olahraga. Olahraganya setelah pulang kerja saat matahari masih bersinar lagi (biasanya laporan jam segitu enggak jauh-jauh dari kata L.E.M.B.U.R). Enggak tanggung-tanggung, olahraga yang dipilih golf! Bhaaayyy budget beli SK II! *isteri kalah nego budget awal tahun*

2017-01-19-photo-00003348

gaya pisannn euyy ;p *suami yang pake celana hitam*

Sejak menjadi ibu rumah tangga full time, otomatis perencanaan keuangan saya tergantung 100% pada suami. Sebagai isteri yang baik #ihiy saya yang memang kebanyakan waktu luang menyiapkan laporan keuangan sebagai bukti pertanggungjawaban apa saja pos-pos budget per-bulannya. Dulu saking rajinnya buatnya dalam format excel, lengkap dengan rincian pengeluaran harian (belanja sayur ke warung depan rumah saja dicatat). Sekarang, yang dicatat rincian yang nominalnya cukup besar dan khususnya yang menggunakan kartu kredit.

Nah, mulai tahun 2017 ini saya meniatkan diri untuk selalu membayar lunas [beneran] tagihan kartu kredit. Dari saya masih bekerja dulu, saya sudah memutuskan hanya menggunakan 1 kartu kredit saja. Walau godaan promo merchant sering gantian antar bank, tokh sebetulnya 1 kartu saja cukup dan ini terbukti mengurangi kepusingan saat membayar tagihan. Lagian suami memakai kartu kredit bank berbeda jadi kadang saya pinjam kartunya kalau ada promo yang lumayan menguntungkan. Ehm, seringnya sih jadi modus buat dibayarin suami hahaha *salim suami*

Bank penerbit kartu kredit saya hanya menagihkan transaksi per-setengah bulan berlalu dan berlangsung. Sebagai contoh, tagihan yang keluar di bulan Februari merupakan transaksi dari pertengahan bulan Januari s/d pertengahan bulan Februari. Nah, karena tanggal jatuh tempo pembayaran jatuhnya di awal bulan depan (dalam contoh ini berarti awal Maret), saya melakukan pembayaran ya mepet jatuh tempo juga *deadliner sejati*.

Hal ini sebetulnya sangat sederhana dan mendasar. Walaupun saya membayar sesuai angka yang tertera di halaman tagihan, sebetulnya ada transaksi selama setengah bulan yang belum dicatat dan dibayar. Padahal belanja akhir bulan biasanya cukup besar karena ada belanja keperluan dapur bulanan, tanggal tua, dll. Jadi, pada saat tagihan berikutnya datang kembali, jumlahnya masih tetap besar padahal 2 minggu pertama setiap bulan adalah masa belanja sedikit.

Belajar dari pengalaman ini, saya jadinya mencatat [secara manual] setiap transaksi yang menggunakan kartu kredit. Catatan ini kemudian digabung dengan catatan penggunaan transportasi berbasis online (uber, grab, go car) yang catatan tagihannya ada di aplikasi dan email. Gara-gara hal ini juga yang membuat saya sadar kalau ternyata untuk saya yang paling 1-2 kali dalam seminggu pergi beraktivitas dengan menggunakan jasa transportasi berbasis online tersebut, jumlah pengeluaran saya lebih dari 1 juta per-bulan. Rata-rata ongkos perjalanan saya sekitar 50ribuan per-trip. Kalau dikonversi sama dengan 1 gelas kopi di starbuck ukuran grande. Masuk dalam kategori hal kecil/sepele tetapi ternyata kalau digabung/dikumpulin jadi pos budget yang signifikan.

Ini lumayan sebagai pencerahan di pos-pos budget mana saja yang saya terlalu boros dan cukup membuat kepala bolak-balik lebih sering memberikan pertimbangan kalau ingin beli sesuatu.

Isu terkait pengaturan keuangan bagi yang sudah menikah memang gampang-gampang susah ya, dibangun atas dasar kepercayaan dan perencanaan bersama. Hal sepele bisa jadi isu besar kalau tidak ditangani dengan baik dan benar. Yang pasti, saya masih menunggu suami ganti hobi olahraga [mudah-mudahan dengan yang budget friendly] jadi bisa majuin lagi proposal SK II! *teteup usaha*

Advertisements