[book review] Never Let Me Go ~ Kazuo Ishiguro

img_41631

Buku ini merupakan oleh-oleh dari Bapak’e tempat terakhir saya bekerja waktu beliau pergi ke USA. Beliau tahu saya suka buku-bukunya Haruki Murakami dan bisa dibilang genre dari buku ini hampir sama.

Berapa lama yang diperlukan untuk menyelesaikan membaca buku ini? Errr… sekitar setahun lebih MWAHAHAHA *pengakuan dosa*

Saya juga ndak tahu kenapa saat baca buku Murakami bisa gas pol susah berhenti, sementara buku ini kalau saya masih bekerja malah mungkin tidak selesai bacanya. Asumsi saya, saat baca buku Murakami, saya juga lagi galau enggak jelas jadi dapat banget tuh chemistry-nya. Sementara, saat baca buku Ishiguro ini, saya sudah di zona laid back dikasih buku yang seloww deuy jadi seringnya ketiduran bacanya *mungkin faktor U juga kali ya hehe

Pembenaran lainnya dari situasi yang saya alami *teteup usaha ya seusss* saat membaca buku Murakami, saya penasaran dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Ceritanya memang berlatar kehidupan sehari-hari tetapi selalu ada faktor yang “tidak biasa” yang membuat saya berimajinasi. Sehari-harinya saja saya hobi menghayal, klop kan sama bukunya. Nah, buku “Never Let Me Go” ini beneran kehidupan yang “biasa” dari anak-anak yang spesial sampai mereka bertumbuh dewasa. Tidak ada hal “tidak biasa” yang membuat aura (bukan arwah) penasaran yang muncul. Awal membaca, saya malah berpikir ini tentang anak-anak dengan down syndrome *maklum bacanya sambil ketiduran ;P

 

Apa yang membuat saya memasukkan buku ini dalam daftar buku yang direkomendasikan?

Sehari-harinya, kita terbiasa bergerak cepat, dinamis, dan banyak proses yang bisa dilakukan dengan instan. Hal-hal yang “memperlambat” kita menjadi faktor yang tidak menyenangkan. Siapa yang tidak pernah marah karena pelayanan jasa yang lambat? Saya sendiri sudah beberapa kali “ngamuk” ke petugas yang rasanya tidak kompeten. Membaca saja kita terbiasa untuk menggunakan teknik scanning atau skimming. Biar cepat selesai yee kann.

Di bab-bab terakhir membaca buku ini saya belajar untuk membaca dengan tenang, menikmati setiap rincian kejadian. Ini buku kedua (sebelumnya buku “Portrait of A Turkish Family” oleh Irfan Orga) yang membuat saya sedih menyelesaikannya. Hubungan yang intim tidak dibangun dengan instan, proses dan waktu yang menguji seberapa dalam kita mengikatkan diri di dalamnya.

Memiliki teman “public figure”, timeline penuh dengan foto-foto holiday abroad, cutie babies, these things don’t bother me at all. Paling merasa terusik saat lihat foto makanan di jam lapar, which is every time hehe. Tokoh-tokoh di buku ini bisa dibilang didoktrin kalau mereka spesial, tetapi kehidupan mereka sehari-hari soooo… ordinary. Bahkan kisah cinta yang biasanya jadi pemanis cerita juga toooo… ordinary. But at the end, I found their ordinary story very intriguing. I create my own version of being “special” and embrace it. I felt them. I was with them. I was them. We are just a bunch of ordinary people. And, it feels OK.

We live for others. We live for now. Ini merupakan kebijaksanaan yang saya coba renungkan dari buku ini. Suka atau tidak, kita hidup untuk orang lain, kita memberikan waktu, tenaga, materi, pemikiran kita untuk orang lain. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk orang lain dalam sehari? Sepertinya memang desain dari sononya demikian, jadi ya maknai hidup kita untuk bermanfaat bagi orang lain. Tapi enggak berarti lupa sama diri sendiri loh ya. Lagian, saat kita memberi, hukum karma berlaku, akan ada juga orang-orang yang “memberikan” hidup mereka untuk kita. Well, sometimes it doesn’t exactly matched our expectation though.

Kita hidupnya tidak lama alias tidak abadi. Tetapi, pemikiran dan rencana kita seringkali lebih banyak untuk yang jauh disana dibandingkan pada apa yang sedang terjadi saat sekarang. Tidak salah tentunya untuk memiliki persiapan jangka panjang. Tetapi, jangan melupakan apa yang terjadi “sekarang” sama pentingnya dengan apa yang terjadi di “masa depan”. Live now!

Warning: anyway, kalau memang pada dasarnya tidak suka cerita yang lambat, detail oriented, less drama/romance, saya tidak rekomendasikan untuk baca buku ini.

 

Advertisements

[Part 5] Obgyn, Pilihan Saya

Di post sebelumnya, sebetulnya saya sudah membahas beberapa pertimbangan untuk memilih Obgyn. Tapi rasanya belum lengkap kalau belum sebut nama dan kenapa saya memilih mereka, walau ini bukan blog-berbayar (lah, beta siapalahhh sok2 endorsing ;P).

Handle with care. Fragile!

Menurut saya “label” ini tertempel dengan jelas di wajah setiap pasien dokter kandungan. Ya namanya ibu-ibu lagi program hamil itu bawaannya banyak resah gelisah galau gundah gulana menanti kapan akhirnya positif hamil. Ibu-ibu yang sudah hamil juga rentan ya sisstt dengan perubahan hormon, kaki bengkak, ketek menghitam. Eh, udah punya adek bayi, belum tentu pada berani mandiin sendiri di minggu pertama. Sebelum ada yang protes sambil pasang foto-foto moment bahagia ini dipersembahkan oleh… Eits, ini penyederhanaan ke sisi ekstrim hal-hal yang tidak menyenangkan terkait kehamilan dan teman-temannya. Tentunya ada juga yang prosesnya lancar jaya bebas hambatan happy joy joy sumilakitikities. Okesip?!

Saya 110% picky dalam memilih Obgyn. Kalau sama makanan sih enggak, not apple to apple comparison I know ;P.

Why?

Label “fragile” tersebut yang membuat saya menjadi the pickiest person ever terkait Obgyn. Ada fase dimana suami mulai bingung saat saya bilang mau ganti Obgyn (lagi). Lah, dese sih jarang ketemu Obgyn *curcol*, sekalinya ketemu juga gak ikut dipereksa-pereksa cuma duduk manis dengerin penjelasan dokter aja. Errr, dunia emang gak adil *curcol lagi*. Jadi, saya berhak untuk memilih yang terbaik untuk “mendampingi” saya melalui proses yang panjang dan penuh ups & downs ini. Daripada hestek #HayatiLelah terus yang kesebut ye kannn.

Through visiting 6 doctors in two years, I can say (at least for myself), what I need from an Obgyn are beyond those handsome, funny, popular, long chat, and other kesayangan’s terms. That’s additional bonus if we are lucky enough! What I need from an obgyn are the matter of competency, genuine, and availability.

I can trust his competency to handle my case. I can learn from him so I have better understanding on my own situation that helps me make better decision and to discuss the most important matter I should aware of. I am an introvert person (well, some of my friends will disagree on this) so I used to have only few questions to discuss (mostly, I had google any related info firstly). I don’t do chit chat too much. So, I expect to learn more information from my Obgyn, each time I visit him (pardon my gender term as I always have only male doctor). Repeating the similar info bored me.

From my last work, I learn how to build the connection with people. We call it as how to be a charming professional. It’s about understanding the what, who, how, and why of the people/issue/needs we are dealing with. Sometimes, it can be only about small gesture to make us feel being welcomed. Mostly, it takes some effort to have that level of understanding on the situation or profile. So, our gesture/response can be felt to the heart level. In short, it’s about being genuine towards each other. Yes, I am that freak’ kind patient observing how genuine the doctor treats us through every appointments.

Lastly, I need to be assured that my Obgyn will (always) be available (widih ngana posesif abiss hahaha). If you are in a pregnancy program, there are always things that make you question what the right thing to do, should I need to worry now, and so on. Yes, there are things that can be googled, lots of reliable sources about pregnancy program. But still, there’s time you just need someone on the other line answering your question. Even though, you don’t always meet him/her in person, you feel secured by their “companionship”.

Widih serius amat ya hahahaha. Anyhow, balik lagi ke masing-masing orang kok. Apa yang menurut saya paling terbaik, belum tentu pas untuk orang lain. Apakah mereka sempurna sesuai yang saya harapkan? Tidak selalu sih. Ya namanya juga manusia, ada kalanya juga saya merasa dokternya buru-buru padahal saya udah nunggu 3 jam *mutung sambil nangis di pojokan*. Dokter juga manusia, bisa capek juga. Mereka juga punya keluarga yang nungguin di rumah *opoiki, empati berlebihan hehe. Selama masih dalam batas toleransi yang bisa dimaklumi ya lebih mudah dan bikin hati lega kalau disabarin saja *aminnnn*. So, dari kriteria tersebut ada 2 dokter yang menjadi pilihan. Saya tidak review mendetails masing-masing orangnya. Beta bukan ahlinya *mundur teratur*. Silakan di googling aja namanya sekalian dikepoin akun medsosnya hehe

  • dr. Irham Suheimi, SpOG

Bunda International Clinic

IG: irham.suheimi

 

img_51111

with dr.Irham Suheimi, SpOG

  • dr. Ridwan, SpOG

RSIA Kemang Medical Care

IG: drridwanspog

*lupa buat foto bareng ;P

[Part 4] Cerita Inseminasi

Saya dan suami melakukan program inseminasi di bulan November 2016. Hasilnya? Belum berhasil *pilu*

Hasil dari konsultasi dengan Obgyn (setelah tahu programnya belum berhasil), dari data-data yang ada sebetulnya faktor-faktor terkaitnya sudah bagus. Jadi kemungkinan besar faktor penyebab belum berhasilnya pada kualitas sel telur saya. Stok dari telur yang matang mungkin masih terkena dampak dari perubahan hormon saya selama 2 tahun terakhir mengalami irregular menstrual period.

Apakah masih disarankan untuk melakukan inseminasi? Iya. Karena dengan perubahan life style yang saya lakukan selama 6 bulan terakhir, di bulan terakhir sebelum insem, siklus menstruasi saya sudah mulai normal (29 hari). Jadi, masih ada harapan. Tidak perlu langsung ke program bayi tabung (padahal program bayi tabung di BIC lagi ada diskon sampai akhir tahun 2016 *mamak2 tetap hobi sama diskonan shay*). Jadi saran dari dokter untuk tetap menjaga pola makan (salah satunya mengurangi asupan karbo) & banyak olahraga. Bisa langsung program Inseminasi lagi sebetulnya tetapi saya memutuskan untuk break dulu1-2 bulan untuk kembali mempersiapkan diri lagi.

Saya memilih untuk menceritakan hasilnya di awal karena biasanya suka gemash (pake “h”) tiap kali baca blog orang lain harus baca panjang lebar dulu baru tahu hasilnya. Terkadang hasilnya baru diceritain di postingan berikutnya. Ada juga yang malah tidak ada update. Kan penasaran ya hehe. Tentunya hak masing-masing ya untuk menceritakannya seperti apa dan serinci apa.

Nah, berbagi beberapa hal yang penting menurut saya terkait program inseminasi: data pertama yang perlu banget diketahui untuk kita siap dalam me-manage expectation yaitu tingkat keberhasilan cara inseminasi (pregnancy rate per cycle) untuk usia dibawah 35 tahun sekitar 11%. Lah, kecil amat ya? Kalau dibandingkan dengan cara alami, persentasenya malah dibawah 5% (infonya saya baca dari presentasi tim Morula di salah satu FB group). Jadi susah dong ya buat hamil? Kalau dipikirin secara logika dan fakta ya memang susah, banget malah. Tapi kan kehamilan merupakan urusan dengan yang di Atas. There are always unexplainable factors. All the effort might turn its way into miracle works. Sometimes, it’s just about the right time. Those data is not the only thing we shall count on.

Kenapa memilih inseminasi? Dari pengalaman kami karena hasil pemeriksaan kondisi saya dan suami tidak terlalu bagus, tetapi belum sampai level yang parah. Biasanya kalau sudah parah dianjurkan untuk program biaya tabung.

Program inseminasi kami dimulai dengan pemeriksaan telur di hari ke-3 menstruasi. Karena saya termasuk yang mengalami PCOs (Polycystic Ovarian Syndrome) jadi proses pematangan telur saya tidak terlalu baik. Dokter meresepkan obat oral yang diminum selama 5 hari. Setelah obat habis, dokter memeriksa sel telur saya kembali. karena ukurannya masih jauh dari ideal, dokter meresepkan suntikan untuk membantu perkembangan sel telur, disuntik 2 ruas jari di bawah pusar selama 4 hari berturut-turut di jam yang sama. Setelahnya, karena ukuran ideal belum tercapai, saya mendapatkan tambahan dosis 3 hari suntikan kembali. Sehari setelah suntikan terakhir, dokter kembali mengecek sel telur. Telur yang membesar lebih dari 1 (seingat saya ada sekitar 6 telur) dengan ukuran yang berbeda-beda. Karena sudah ada telur yang mencapai ukuran ideal (minimal 18mm) maka di hari tersebut saya disuntik obat pemecah telur sebagai persiapan akhir untuk proses inseminasi keesokan harinya.

Dari beberapa blog yang saya baca, ada yang mengalami sakit pada saat disuntik. Biasanya, suster yang menyuntik memang menanyakan apakah saya kesakitan (merasa perih) atau tidak. Saya sendiri tidak mengalami sakit sama sekali, hanya di suntik terakhir (pemecah sel telur), sorenya saya agak pusing dan mual. Still, it was bearable. Btw, suntiknya karena setiap hari dan harus di jam yang sama, boleh dilakukan sendiri atau dibantu orang lain di rumah (tidak harus ke rumah sakit). Suster di BIC juga bisa diminta untuk datang ke rumah dengan extra cost. Saya sih bolak-balik ke BIC hahaha. Pertimbangannya, saya tidak berani suntik sendiri (suami apalagi). Selain karena lebih murah biaya ke BIC daripada mendatangkan suster ke rumah, saya sekalian bisa jalan-jalan juga *mamak butuh hiburan murah meriah*

Tibalah hari untuk inseminasi. Kami diminta tiba di BIC sebelum jam 8 pagi untuk proses pengambilan sperma suami. Spermanya kemudian diolah (dipilih yang bagus) sekitar 2 jam. Saya memilih menunggu di Anomali Café (jaraknya sekitar 200m dari BIC), baca buku sambil menenangkan diri. Sementara suami kembali ke kantor. Tugas negaranya sudah selesai hehe. Btw, suami boleh banget mendampingi selama proses inseminasi. Selama proses inseminasi ini saya tidak mengkonsumsi teh dan kopi sama sekali. ini info dari IG Morula sih, kandungan kafein bisa mempengaruhi hormon kesuburan. Jadi, walaupun aroma kopi di café sungguh menggoda, saya memilih hanya memesan air mineral dan sandwich untuk dibawa pulang.

Sekitar jam 10, suster menghubungi untuk saya stand by di klinik. Dokternya sambil praktek di gedung yang sama, lantai berbeda. Jadi, saat sperma sudah siap baru dokternya naik ke lantai proses inseminasi. Saat semua sudah siap, petugas lab datang membawakan sperma yang sudah diolah, memverifikasi ulang data saya dan suami dan membacakan hasil (jumlah) sperma yang sudah disaring, barulah dokter melakukan proses inseminasi.

Kalau di googling, saya menemukan ada 4 cara inseminasi. Proses yang saya jalani disebut IUI (intra uterine insemination), bahasa awamnya dokter menyemprotkan sperma dengan bantuan alat ke saluran tuba saat ovulasi. Jadi, semacam short cut untuk membantu proses terjadinya pembuahan.

Setelah prosesnya selesai, saya masih harus tiduran selama 30 menit. Karena sendirian dan HP di tas, jadinya sempat bengong juga sih nunggunya hahaha. Next time, saya minta suami nemenin sih kayaknya. Dokter meresepkan obat penguat kandungan untuk diminum selama 2 minggu. Selain itu, saya juga minum asam folat (ini sih obat wajib buat ibu promil). Setelahnya, boleh beraktivitas dengan normal, makanan juga tidak ada yang dibatasi yang penting sewajarnya dengan nutrisi seimbang. Hasilnya baru diketahui 2 minggu setelah proses inseminasi. Suster menuliskan di buku kontrol tanggal yang saya harus test-pack jika tidak menstruasi.

Walaupun diperbolehkan beraktivitas normal, saya sendiri membatasi aktivitas hahahaha. Namanya juga usaha kan maunya yang maksimal ya. Saya memperbanyak menu makanan yang bagus buat ibu hamil dan menghindari yang mentah (bye, sushi!), olahraga yang ringan aja, dan banyak berdoa. Di minggu pertama, payudara lebih sensitif, ya semacam senggol – bacok kadarnya hehe. Jadi cukup optimis dengan hasilnya karena kan katanya itu salah satu pertanda orang hamil.

Nah, 3 hari sebelum hari test pack harapan saya mulai runtuh karena tanda-tanda yang muncul justru ke arah mau menstruasi. Tapi ya tetap berdoa dengan khusyuk banget pake amat sih (sambil mulai nyicil nangis sih). Dan benar saja, sehari sebelum hari test pack, sudah mulai spotting. Bhay bhay bhayyyyy!

Pagi itu juga saya laporan pengaduan ke Obgyn. Rasanya ya maknyus sih sedihnya. Sempat nangis beberapa jam (eh apa seharian ya hahaha). Apalagi pas ngasih kabar ke suami malamnya, ya memang bukan tipe suami yang comforting sih ya, reaksinya ya standar gitu aja. Malah lebih sedih dengan reaksi suami jadinya. Apalagi, setelah saya tinggal ke kamar, suami malah lanjut nonton TV karena lagi seru tim bola Indonesia menuju final *pedih ngetttt*

Sekarang, hampir seminggu dari hari menangis seharian tersebut, saya sudah aktif beraktivitas kembali (means: no more cry). Tidak berarti I have a cold heart. Saya cuma berpikir rasionalis saja. Pregnancy program is a long journey so I don’t want to spend all my energy on one moment only. I still need to improve my health condition, more exercise and maintain the food I consume every day. PR-nya masih banyak yee kann. Jadi, tetap semangat aja!

Rencananya kita mau program inseminasi lagi nanti di bulan Januari. Berdoa Tuhan mengabulkan harapan kita untuk mendapatkan keturunan di tahun 2017, aminnnn 🙂

Writing, Ignasius Jonan, and My Dream

Hello! Actually, I shall write about insemination process continuing previous post. I decide to postpone that topic because I had this question running over and over in my head, since few weeks ago.

Why do I write (any) thing(s)?

It’s so easy to find people around us write about various topic nowadays. Thanks to the fast-growing-dynamic of social media. From travelling’s note, product review, daily activities, even “curcol”, and many more, fill up our “time line” every minute through any social media apps. The writing’s world is already full, packed and colorful. So, why I still need to contribute my very own story into this crowded world?

I look to my first post on this blog reminiscing every possible answer I could get. I remember the mix feelings I had the day Posterous (one of blog domain provider at that time) shut downed their service so I lost all my written stories there. I feel sad and lost. I also remember how happy I was when re-reading again my old story posting on Facebook’s note. Sometimes, I just can’t believe how naïve I was (yes, slap my face, please! hahaha). The writing itself has special attachment to my soul, feelings, and mind. After all, through each story – how I lost my adopted cat to books that I drowned into – I write for myself.

So, here I am writing (again) for myself J

Three years ago, I had this very rare opportunity meeting Pak Ignasius Jonan for 1 hour intensive discussion. At that time, the experience was too personal for me. It was one of a big great experiences ever that happened during my entire life. I was assigned to curate the presentation of the winners of Best CEO. It should be a team work but due to some situations and considerations, I handled the project alone. There were two winners but (again) due to the time constraint, I only had the chance to meet one of the winners, Pak Ignasius Jonan (he was the CEO of PT KAI at that time).

I almost assumed the project had been canceled as we did not get the meeting confirmation till few days before the event. So, I was scheduled to meet Pak Jonan on Saturday while the presentation would be delivered on Monday. My first reaction was I got fever from Friday night. I guess my body responded the pressure situation too well (Sigh!). Still, I could not use sick reason to cancel the meeting (feel like back to old school time again hahaha). Then, I still had the fever on Saturday. It’s quite challenging to focus on the discussion while having “high-feeling” caused by the fever. Luckily, the adrenaline helped me stayed focus till the meeting finished.

Second challenge, Pak Jonan is widely known as a smart CEO through his career and education tracks. How could I help to curate his presentation? I have experiences curating various speakers for TEDxJakarta, but still this question haunted me. It was totally like meeting the big giant of nightmare. The burden was real.

Third challenge, I never saw Pak Jonan’s formal presentation (could not find via google or youtube). Ideally, we should have a “rehearsal” meeting so we could review the content, structure, story, and energy. I need to understand and see the multiple factors in curating process so we can determine how and what factors that make speaker comfortable in delivering the presentation. Basically, we “re-organize” those factors so the key message of presentation can be delivered in a more impactful way. Unfortunately, we did not get those luxury opportunity. Only one meeting, that’s it!

I knew I need a serious praying, like so serious than any other praying I’ve ever had. God must help me this time! And, I had to work on my own “homework” harder. I did researching any relevant information about Pak Jonan and his work. I contacted some friends whom I knew had worked with the KAI to get wider perspective.

The 1-hour meeting with Pak Jonan went smoothly. He’s definitely not a “bureaucratic” figure even though KAI is a state-owned company. He explained some core breakthrough changings of KAI, some story even got into detailed data. He truly understand the company itself like he had been working there for decades. Well, he made some jokes too! Suroboyoan signature jokes.

wp_001411

discussion with Pak Jonan

I had one day only to “summarize and re-organize” the meeting’s note and the presentation’s materials. I worked whole day to create the structure, re-organized the data, and re-touch the slide’s lay out. The next early morning, I sent the “reframing” presentation with some additional notes. I got the reply on 9am that Pak Jonan confirmed to use the presentation material. It made me dancing the whole day, definitely!

It was one of the happiest moment during my entire life. I was just lucky having the opportunity. Oh, I got another email from Pak Jonan at 6pm. It’s longer than previous one and sent only to me. A thank you email that he had read the material, happy with the result, and would use it for the presentation. I felt like jumping to the sky and cried at the same time, a happy one. It’s beyond words to get such acknowledgement especially after all the challenges and hard work.

Your dream is not big enough if it’s not scary you enough yet, wise words I’ve once heard. This note is a reminder for myself that another dream is awaiting. It’s not always as clear as the blue sky. It may be not related with big names or big scope of project. It’s just a big dream that my life have been set up to going through. Until the moment is coming, I need to train myself to be ready. Quoting GoT “Winter is Coming”.

Be ready, oh my soul!

[Part 3] Cerita Program Hamil

Setelah sedih karena patah hati berpisah dengan dokter kandungan favorit, akhirnya saya dan suami memilih Bunda International Clinic (BIC) untuk lanjutan program berikutnya. Oia, ada 4 hal/data yang diperlukan oleh dokter saat kita mau program hamil:

  1. Analisis sperma suami. Ini bisa kapan saja. Syaratnya puasa berhubungan 2-5 hari sebelum hari dilakukan analisis.
  2. Periode menstruasi apakah normal atau tidak. Untuk hal ini penting banget untuk punya catatan tanggal menstruasi kapan dan berapa lama. Btw, ada aplikasi untuk memudahkan kita menyimpan catatannya. Bisa di cari dengan key word ”period tracker”. Yang belum menikah juga sangat disarankan untuk memiliki catatannya jadi bisa membandingkan apakah ada perubahan siklus dari sebelum dan sesudah aktif secara seksual.
  3. USG pengecekan awal untuk dokter dapat melihat kondisi rahim dan perkembangan telur. Biasanya dilakukan di hari ke 2-5 menstruasi. Btw, sepanjang yang saya tahu ini USG-Transvaginal. Wajar kok kalau merasa tidak nyaman atau malu tapi percayalah prosesnya adalah hal yang lumrah (biasa) bagi dokter dan suster yang bertugas. Jadi dibawa santai saja
  4. HSG (untuk mengecek saluran tuba falopi apakah lancar atau ada sumbatan/gangguan). Tes ini dilakukan setelah sekian hari dari menstruasi (maafkan saya lupa hari ke-berapanya) dan puasa berhubungan minimal 1 hari sebelum tes

Note:

*Untuk tes HSG dan Analisis Sperma perlu surat rekomendasi dari dokter

**Tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas tes HSG & Analisis sperma. Jadi sangat mungkin dokter memberikan surat rujukan ke rumah sakit lain atau ke Prodia

 

Saya dan suami sudah memiliki data hasil HSG dan Analisis Sperma dari konsultasi ke dokter di KMC jadi membantu menjelaskan kondisi saya ke Obgyn di BIC. Hasilnya HSG pertama saya menunjukkan non patent kedua tuba dengan hydrosalping kiri. Obgyn menyarankan untuk saya HSG ulang supaya lebih yakin hasilnya. Itupun kalau saya bersedia karena prosesnya tidak nyaman dan kalau membayangkan prosesnya rasanya mau minta ampun sujud sama yang di Atas hehe.

Saya memutuskan untuk melakukan HSG ulang untuk memantapkan hati dengan tahapan berikutnya. Kalau hasil HSG ulangnya memang tidak bagus, maka kami perlu bersiap untuk tindakan Laparoskopi untuk “membersihkan” tuba falopi.

 

HSG (Hystero Salpingo Graphy)

Proses 2x HSG yang saya alami kurang lebih sama, jadi saya ceritakan proses yang kedua saja. Proses HSG-nya dilakukan di Unit Radiology – RSU Bunda (letaknya masih berdekatan dengan BIC). Biasanya suster akan memberikan surat pernyataan yang isinya kurang lebih menyatakan kita sedang tidak hamil (karena proses ini bisa berbahaya bagi janin), sudah mendapat penjelasan tentang prosesnya, dan seterusnya. Btw, saya selalu sendiri alias tidak ditemani suami proses HSG-nya *puk puk pundak sendiri.

Setelah tanda tangan surat pernyataan, kemudian saya diminta untuk ganti pakaian dengan semacam kimono (di RSU Bunda kimono-nya dari batik jadi lucu hehe). Fyi, ruangannya lumayan dingin karena memang mesinnya harus dijaga di suhu rendah. Dokter dan susternya sempat menanyakan apakah saya kedinginan (ya badan lumayan gemetaran sih karena tempat kita berbaring selama proses HSG dari semacam besi yang tentunya semakin memperdingin suasana). Jadi dokternya cerita mesinnya pernah rusak karena ada yang menaikkan suhu AC. Bangunannya menggunakan AC yang terpusat sehingga suhu dinginnya sampai ke ruang tunggu dan ruang tempat para dokter & suster bekerja. Ya kebayang sih kalau harus berada di ruang sedingin itu setiap hari lumayan berasa winter ya.

Ok, balik ke prosesnya. Setelah bagian V dibersihkan, dokter akan memasang si “cocor bebek” baru kemudian menyuntikkan cairan kontras untuk nantinya bisa difoto oleh mesin. Saya sendiri merasa perut lumayan mules (seperti lagi menstruasi) pada saat cairan tersebut dimasukkan. Nah, selama prosesnya saya bisa melihat layar monitor pergerakan cairan kontrasnya. Pertama, cairan akan mengisi uterus kemudian ke tuba falopi kanan dan kiri. Nah, tuba falopi kanan saya terisi dengan cepat dan banyak, sementara yang kiri yang lambat. Jadi kata dokternya dia akan “meniup” dulu untuk sisi kiri. Well, mulesnya aja sih yang nambah lagi hahaha. But it’s worth it. Karena setelahnya yang kiri juga terisi cairan kontrasnya.

Tips: prosesnya paling hanya 15 menit, jadi relaks aja. Bernapas yang panjang dan teratur. Walau enggak nyaman tapi cuma sebentar kok. It shall too pass :).

Setelah prosesnya selesai, kita menunggu hasilnya sekitar 1 jam. Pas lagi nunggu, saya lumayan keliyengan. Susternya menyarankan untuk saya tiduran aja dulu tetapi karena dingin banget, saya memutuskan untuk langsung ganti baju dan menunggu di ruangan tunggu. Susternya baik banget menawarkan untuk dibuatkan teh hangat *terharu teary eyes*.

Hasilnya berupa foto rontgen dan surat keterangan hasilnya dari dokter (yang tentunya saya langsung baca tidak menunggu waktu konsul berikutnya dengan Obgyn hahaha). Puji syukur, hasilnya bagus. Kedua tuba falopi saya PATENT *lempar confetti*

Nah, dari konsultasi berikutnya dengan Obgyn, kami memutuskan untuk mencoba cara alami terlebih dahulu. Karena siklus menstruasi saya cenderung mundur tidak teratur, maka saya beberapa kali balik ke dokter untuk mengecek ukuran telur sampai telurnya matang (“pecah”). Ternyata, masa subur saya di H+21. jadi pada saat telurnya sudah “pecah”, dokternya langsung menyuruh saya pulang untuk segera berbuat hahahaha. Cara ini kami lakukan selama 2 siklus menstruasi. Di siklus kedua, kunjungan ke dokter tidak sebanyak siklus sebelumnya karena masa subur saya sudah bisa lebih diprediksi.

Unfortunately, cara ini belum berhasil. Jadi kami memutuskan untuk mencoba proses inseminasi. Ternyata di pengecekan pertama, kebetulan sel telur yang matang di sebelah kiri. Karena kondisi tuba falopi saya lebih bagus yang kanan jadi saya dan Obgyn sepakat untuk menunggu bulan depan dengan nantinya dibantu obat-obatan.

So, cerita berikutnya tentang proses insemnya yaa… till then!

[Part 2] Memilih Dokter Kandungan

Bawaan dari waktu kuliah berlanjut ke kerja (well, mungkin bawaan dari lahirnya sih hehe), saya cukup banyak mengalokasikan waktu untuk mencari tahu dokter-dokter kandungan terbaik atau terpopuler di dunia maya. Saking niatnya untuk memilih dokter terbaik, saya sampai membuat tabel perbandingan dokter berdasarkan review dari blog-blog yang saya baca, hal-hal yang positif vs. negatif, praktek dimana dan jam berapa, sampai akun sosial medianya. Ini sih menjurus kepo ya hahaha.

Pada umumnya, dokter kandungan yang popular memiliki beberapa kategori yang sering disebutkan (tidak berdasarkan urutan mana yang paling sering): dokter senior (tua, berpengalaman), humoris jadi bisa mencairkan suasana, ganteng jadi semangat buat konsul (opoiki), banyak yang berhasil katanya.

Nah, dari hasil riset sana sini tersebut, how’s our obgyn’s story?

Saya dan suami mendatangi 6 dokter kandungan di 5 rumah sakit berbeda dalam kurun waktu 2 tahun terakhir (prokk prokk prokkk). Kenapa sampai ganti 6 dokter kandungan?

RS Permata Cibubur

Waktu itu, saya test pack dan hasilnya positif pas hari minggu. Saya dan suami ingin segera konsultasi ke dokter kandungan karena saya ada rencana terbang ke luar negeri di akhir bulan. Dokter kandungan biasanya jarang yang praktek di hari minggu. Nah di rumah sakit ini kebetulan ada yang praktek dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Saya memutuskan untuk tidak kembali ke dokter ini karena memang sudah punya incaran dokter kandungan lainnya hasil riset sebelumnya.

RSIA Bunda Depok

Saya cukup familiar dengan rumah sakitnya karena pernah tinggal di sebelahnya dan beberapa kali berobat ke dokter umumnya. Nah, dokternya salah satu yang cukup populer di blog dan forum ibu-ibu. Kami memutuskan untuk tidak kembali lagi karena di rumah sakit ini proses saya di kuret. Takut kebawa sedihnya lagi hehe

RS Premier Jatinegara

Kali ini saya sampai pertimbangan mau melahirkan di mana nantinya (optimis banget deh pokoknya hahaha). Bisa dibilang kalau ada tindakan medis serius, biasanya keluarga besar kami ke rumah sakit ini. Dokter kandungan yang saya pilih termasuk yang senior, rumah sakitnya klien kantor, jajanan di kantinnya enak-enak (abaikan yang terakhir hahaha). Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti karena dokternya sering telat berjam-jam karena ada tindakan #hayatilelahnunggudokter 😦

RSIA Kemang Medical Care

Rumah sakitnya dekat kantor dan searah dengan jalur saya pulang kantor. Dokter pertama saya datangi karena hampir 2 bulan tidak menstruasi. Ternyata sehari setelah konsultasi malah datang tamu bulanannya *tepok jidat.

Tahun berikutnya saya kembali lagi ke rumah sakit ini ketemu dokter berbeda. Nah, kali ini dokter kandungan favorit saya banget deh, berasa sama kayak ketemu jodoh hehehe. Dari antriannya yang dibuat per group-jam (sekian jam dibatasin sekian pasien, jadi tiap kali datang tidak terlalu lama menunggu), setiap kali kunjungan diskusinya bikin saya dan suami lebih paham, bahkan saat kunjungan terakhir pun dokternya masih praktek padahal besoknya sudah lebaran. He’s one of dedicated Obgyn I’ve ever know (mengutip teman saya yang lebih dulu jadi pasien dokter ini). Sayangnya, beliau dan rumah sakitnya tidak mengkhususkan pada fertilitas. Jadi beliau merekomendasikan saya untuk mengunjungi dokter yang lebih tepat (sediiiiihhhhhhh rasanya seperti patah hati)

Bunda International Clinic Jakarta

Nah ini karena paling banyak ceritanya, lengkapnya di artikel berikut sekaligus cerita tentang program hamilnya.

Dari pengalaman tersebut, menurut saya ada beberapa pertimbangan dalam memilih dokter kandungan:

  1. Competency dan chemistry dengan dokternya. Dokter kandungan juga memiliki sub-spesialis yang bisa jadi pertimbangan yang mana yang paling tepat untuk kita. Chemistry terasa dari apakah kita merasa nyaman dan yang paling penting kita lebih paham kondisi kita secara medis.
  2. Dokternya (hampir) setiap hari praktek di rumah sakit tersebut. Ini sangat membantu untuk kita memilih waktunya lebih fleksibel. Apalagi kalau nanti menjalani program hamil dengan treatment yang intens.
  3. Dokter terkenal vs. Dokter tidak terlalu terkenal. Dokter yang populer biasanya membuat kita lebih yakin tetapi juga biasanya sepaket dengan antriannya. Ya kan banyak juga yang mau sama dokternya. Tapi less exposed doctor bisa jadi sebagai pilihan yang bikin hati lebih adem kok. Yang penting tetap di cek back ground dokternya (kepo is a must hwahaha)
  4. Jarak dari/ke rumah/kantor karena semakin feasible jaraknya akan membantu mengurasi stress karena kemacetan dan lamanya travel time.

Mengenai biaya konsultasi dokter dan obat-obat yang diresepkan, so far, menurut saya masih standar. Ada yang lebih mahal tetapi tidak terlalu signifikan. Obat-obat yang diberikan juga masih standar kalau saya bandingkan dari review blog-blog lainnya.

Sekian dulu yaaa… till next story!

[Part 1] Our Pregnancy Journey

Hampir dua tahun sejak saya menuliskan tentang keguguran yang saya alami (ceritanya disini). Apakah masih berasa sedihnya? Iya, sedih kalau diingat-ingat lagi. Jadi ya jangan diingat-ingat hehe. Saya tidak melupakannya tetapi menyimpan kenangannya di dalam hati. Sesekali tentunya hati rindu jadi saya ijinkan hati untuk menghabiskan waktu bersama kenangan.

Then life still goes on… sampai hari ini, saya dan suami masih berusaha untuk memiliki si buah hati. Saya sendiri lumayan sering blog walking tentang pregnancy journey dari ibu-ibu ataupun calon ibu lainnya. Biasanya karena penasaran sama pengalaman dengan dokter kandungan yang sama, treatment/metode yang sedang dijalani, bahkan kadang untuk mencari info efek dari obat-obatan yang dikonsumsi selama program hamil.

Terus kepikiran kenapa saya tidak menuliskan pengalaman sendiri juga. Dari membaca pengalaman orang lain itu cukup menyemangati kalau saya tidak sendirian. Banyak bahkan yang perjuangannya lebih “intens” dari yang saya alami. Dan rasanya lumrah kalau kita memiliki sejuta pertanyaan tentang pengalaman terkait kehamilan sementara belum tentu ada ibu atau sahabat yang bisa menjadi teman diskusi. Jadi, saya memutuskan untuk berbagi pengalaman walaupun beberapa hal tidak dengan terperinci (saya masih menganut medical confidentiality term untuk beberapa isu hehe).

Disclaimer:

Pengalaman kehamilan setiap orang berbeda-beda karena kondisi kompleks badan kita pun memang berbeda. Jadi acuan resminya tetap ke dokter masing-masing ya

Let’s start the journey!

 

[Part. 1] Kapan perlu mendatangi dokter kandungan?

Ini pertanyaan awal saya dan suami setelah menikah setahun dan belum mendapat keturunan. Dari dokter pertama yang kami kunjungi menyarankan untuk mulai memeriksakan diri setelah setahun menikah. Menurut saya, jika usia sudah diatas 30 tahun, dengan kondisi sudah menerapkan berhubungan di masa subur, tetapi belum hamil juga, 6 bulan setelah menikah juga tidak apa-apa langsung ke dokter. Karena dengan gaya hidup kita yang tidak selalu sehat kondisi fisik kita tidak seprima usia 20an. Pertimbangan lainnya, program hamil merupakan program jangka panjang jadi semakin ditunda semakin bertambah usia ya kan. Apalagi kalau menikah diatas usia 40 tahun dan berencana memiliki anak (yes, it’s still possible), sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter kandungan setelah menikah.

 

Apa saja kondisi yang mempengaruhi kehamilan?

Ini saya rangkum dari pengalaman pribadi, cerita dari teman, dan blog-blog yang saya baca, yang menjadi pertimbangan untuk mulai mencari dokter kandungan.

Sesudah menikah, berat badan saya naik sekitar 10kg (tutup muka pakai bantal hahaha) dan ternyata ini mempengaruhi kondisi hormon. Siklus menstruasi yang biasanya normal dan teratur berubah sejak menikah menjadi mundur dengan siklus yang tidak beraturan. Dampaknya tentunya pada menentukan masa subur tidak bisa menggunakan patokan H+14 setelah hari pertama menstruasi. So, that’s the first sign of our pregnancy issue.

Beberapa teman bercerita kalau kondisi mereka siklus menstruasi tidak teratur bahkan ada yang ditambah dengan rasa sakit luar biasa, ada yang tidak mendapat menstruasi selama sekian bulan, dan ada juga yang mengalami lebih dari 1 kali menstruasi dalam satu bulan. Diagnosis dari dokter bisa PCO, kista/miom, endometriotis, dll.

Dengan semua kondisi tersebut, apakah mungkin untuk hamil tanpa berkonsultasi ke dokter kandungan? Tentunya mungkin :). Saya sendiri akhirnya hamil sebelum mulai program hamil (walaupun keguguran setelahnya).

Anyhow, jika kita tidak dalam kondisi yang “ideal” untuk memiliki keturunan, sudah berupaya dengan cara-cara alami tetapi belum membuahkan hasil, tidak ada salahnya untuk mulai menyiapkan jadwal untuk janji temu dengan dokter kandungan.

Till next story!