Jalan-jalan ke Bogor Bareng Geng Toka!

Okay, buat yang pernah dengar & kenal Geng Tokai, bisa sekip sajah paragraf pertama. Kheususs yang belum, silakan lanjut dibaca biar enggak terjijik-jijay bayangin tokai-tokai berendeng ngambang di kali ciliwung *lahh dilanjut bayanginnya. Jadi, nama geng bersama teman-teman kuliah ini terbentuk karena (((HOBI))) anggotanya buat ngehosipin siapa saja, gak pandang status mahasiswa, dosen, mantan pacar, teman sendiri, mantan teman, masa lalu… *semacam benih-benih lambe turah pada jaman media sosial hanya antara Friendster dan Facebook. Hosip-hosipnya berkembang dibumbuin tanpa diverifikasi dan seringnya didiskusikan secara intelek di (((DEPAN))) subyek hosipannya *untung pelaporan ke komnas HAM dan siber kraim belum heitss jaman itu hahaha. Dari nama yang iseng dilontarkan sampai sekarang karma nama tokai masih melekat sulit diganti (macam ketuanya yang juga sulit dilengserkan)

Setelah akhirnya lolos a.k.a lulus dari masa perkuliahan 9-10 tahun lalu (krezziii udah sedekade aja lamanya), kita masih sering ketemuan, baik dalam rangka bayi-bayi junior brojolan, pamer rumah baru (ecieeehh), rakornas buat menggulingkan ketua tapi selalu gagal, sampai akhirnya yang paling teranyar mau jalan-jalan bareng satu geng (yihaaaa). Untuk mengatur jalan-jalan berdua suami saja rempongnya amit-amit, nah kebayang kan kalau yang mau jalan-jalan 6 keluarga++ (red: bersama anak kecil dan extended family)? Remffoooongggg

Ide One Night Stand With Tokaiers (terjemahan bebas: ebu-ebuu begadang rame-rame, anak dititip sama bapaknya) berawal dari Kafe Abuella Bintaro Xchange, diprakarsai oleh Prima, ketua geng yang merasa terancam dikudeta oleh pihak internal dan eksternal karena dianggap tidak performs dalam bertugas *babak awal drama dimulai* Kalau enggak salah, pas rakornas yang jatuh di hari libur Cina (Februari). Jadi, ya bagi-bagi tugaslah dengan niatan mulia supaya rapih dan masing-masing orang terlibat. Pada kenyataannya, menyatukan 6 kepala++ tersebut lebih rumit dari usaha bikin contekan untuk kuliah Statistika. Diskusi di rakornas dilanjut di WA group tapi tetap enggak jelas juga mau dibawa kemana (kayak lagu #eaaa)

img_3259

rakornas di Abuella

Rembug mufakat akhirnya digelar kembali di ajang Warming House Tidak Resmi, di rumah Yuan yang baru pindah ke Depok, dekat pabrik Tokai (kebetulan banget kan). Sambil memamah hasil potluck makanan dan minuman dan laptop pinjaman dari tuan rumah. Targetnya sih gampang: booking hotel! Kenyataannya dari alternatif lokasi yang berubah, ketidaksepakatan antara mau ini tapi enggak mau itu, sampai akhirnya laptop ditutup macam tutup warung, dan matahari terbenam, hotel belum dibooking jugakk hahaha. Akhirnya konsensus pun terbentuk dengan mayoritas suara ‘ikut ajaa’. Kadang demokrasi tidak diperlukan memang.

img_4391

ceritanya berembug, tapi lebih mirip TKW siap dikirim ;D

img_4394

isshh akhirnya lengkap

Drama udah selesai? Belum kakaaa…

Ini belum ngomongin dress code (ehm!), agenda acara, sampai menjajaki wisata kuliner dan belanja oleh-oleh apa saja. Rempes serempes rempesnya minta dihempas angin badai hahaha. Eniweiii jadi juga kita holiday ala kelas menengah jongkok ke bawah pada akhirnya kok. Ini oleh-oleh ceritanya…

 

Departure (#eaaaa) – Sabtu, 27 Agustus 2016

Rumah kita pada dasarnya tersebar antara Tangerang – Depok – Jakarta Timur berpadu dengan kepentingan yang berbeza-beza untuk jam keberangkatan. Awalnya disepakati untuk bertemu di Kuntum Farm sebelum makan siang tapi kenyataannya ada yang berangkat belakangan karena kerja (atau nunggu suami pulang kerja), nunggu anak pulang sekolah, dan keriaan macetnya weekend. Melyn & rombongan seperti biasa paling ambisius sampai duluan hehe, kebetulan rumahnya paling jauh juga dari lokasi tujuan.

Sebagian besar rombongan akhirnya pergi ke Kuntum Farm setelah check in di Agria Hotel (tempat kami menginap). Buat yang punya anak toddler (yang sudah mengerti bermain, mengenal binatang) tempatnya seru untuk dikunjungi karena banyak aktivitas seru, seperti memancing, memberi makan binatang, naik kuda, dll. Enaknya lagi, jaraknya cuma 5 menit dengan kendaraan dari hotel tempat kami menginap. Jadi mengurangi resiko habis waktu di jalan atau kena macet. Saya sendiri tidak ke Kuntum Farm. Selain karena sore baru berangkat dari Jakarta, belum punya anak yang kesenangan diajak main hehe.

Saya dan suami berangkat sore dari rumah karena suami masih lembur hari itu. Tadinya saya mau berangkat duluan ke bogor *istri mandiri #sikap tapi suami menawarkan untuk saya yang nyetir ke Bogor *murahan kalau ditawarin nyetir* jadi akhirnya nunggu suami pulang sambil bikin muffin cokelat buat piknik besoknya. Oh, kami bukan rombongan terakhir yang berangkat. Masih ada Yuan & rombongan yang baru berangkat ke Bogor jam 10 malam karena masih ada job make up-in penganten *calon MUA kondang nih #etjiyeee

Jalanan lumayan macet dan hujan pas lagi deras-derasnya waktu kami berangkat, jadi suami yang akhirnya menyetir. Rencana awalnya mau makan malam di Kedai Kita baru ke hotel tapi ternyata Kedai Kita penuh dan parkirannya juga penuh. Akhirnya sambil menuju ke hotel kita mencari alternatif tempat makan lainnya. Bolak-balik cek Zomato buat referensi, ujung-ujungnya kami berhenti di warung tenda masakan sunda. Random banget sih ini milihnya karena rame yang makan disitu. Ternyata enyaakkkk dan murah pastinya hahahaha. Sambalnya juara! Nama tempatnya Warung Nasi Sugema Ibu Mimin. Perut kenyang, hati senang. Jalanan di Bogor menuju hotelnya juga tidak terlalu macet. Kita benar-benar mengandalkan waze buat memandu jalan. Sampai di hotel, ketemu Prima & the gang di parkiran. Mereka mau ke roti unyil katanya. Toplah ambisiusnya Ibu Ketua langsung beli oleh-oleh hehehe.

img_4542

bahagia itu sederhana (dan murah) XD

Agenda utama dari liburan bersama kali ini “we time”, jadi setelah makan malam, anak-anak yang diharapkan sudah capek main di Kuntum Farm dititipkan (bwahaha) ke Bapaknya masing-masing. Ebu-ebuu yang merasa remaja lagi ini pun hang out di Roof top hotel. Untung udah berbentuk kafe, jadi enggak prihatin banget hang outnya di atap hahahaha.

 

Tremonti Sky Lounge (Agria Hotel 7th Floor)

Tempatnya sepiiii… selain meja kita, cuma 2 meja lainnya yang terisi padahal tempatnya cukup luas. Tempatnya cozy dan menyenangkan untuk hang out atau ngobrol-ngobrol. Variasi makanannya juga cukup banyak, dari finger foods sampai yang makanan berat. Kita ngobrol dan foto-foto dari jam 21:00an sampai tempatnya tutup (sekitar jam 23:30). Jam tutupnya pas lah sama level kejompoan kita yang udah pada nguap-nguap juga hahaha.

Eniwei, kebayangkan kalau ebu-ebu yang hang out. Instead of ajeg-ajeg sampai tipsi, kita alim banget kok. Lebih mirip arisan malah karena makan sambil ngehosip *edarin kocokan* Yuan sampai ke hotel saat kafe-nya udah tutup order, jadi akhirnya cuma foto-foto aja *teteup

img_4553

belum ada Yuan. Muka udah ngantuk

img_4557

Yay ada Yuan sama dedek Kunka akhirnya

Nah, pas balik ke kamar terjadilah tragedi terkunci di luar kamar. Suami-suami kita juga jompo ternyata, bilangnya nonton bola tapi yang ada ketiduran juga hahaha. Jadi berasa beneran balik lagi ke jaman masih abegeh pulang telat terus dikunciin di luar rumah BWAHAHAHAHA

 

Day 2, Minggu, 28 Agustus 2016 (Sesi Pemotretan di Kebun Raya Bogor)

Pagi hari rombongan masih ketemu sarapan di restoran hotel. Lumayan dapat free breakfast *mamak2 perhitungan enggak mau rugi* Tapi, lagi-lagi rencana check out berbeza-beza, ada yang mau check out duluan karena mau shopping, ada yang belakangan karena tepar baru sampai hotel tengah malam, ada yang in between karena mau manja-manjaan dulu di kamar #eaaaa. Karena agenda utamanya piknik sekaligus sesi foto di KRB jadi akhirnya diputuskan untuk janjian ketemuan di KRB siangnya. Iyes, dengan resiko kepanasan dan kemacetan yang diprediksikan terjadi hahahaha

Saya dan suami memutuskan untuk mampir di Roti Unyil Venus sebelum makan siang. Kebetulan letaknya tidak jauh dari hotel dan searah dengan perjalanan menuju tempat makan siang. Ternyata rame pisannn ya roti unyil *elap keringat sambil antri* untungnya mereka sudah bikin sistem antrian jadi dijamin tidak ada yang rebutan. Lebih serem rebutan sama ebu-ebu daripada geng nero shaaayy.

Kita memutuskan untuk makan siang di Kedai Kita (iyakk di coba lagi keberuntungannya kakakk). Kita udah siapin mental buat susah parkir dan waiting list lagi sih, untungnya, adek saya yang memang tinggal di Bogor nanyain kita mau makan siang dimana, dan ternyata ada cabang Kedai Kita yang justru lebih dekat dari hotel kita. Dan tempatnya lebih sepi dan gampang parkirnya. Horeeeee *lempar confetti. Akhirnya kesampaian makan mie sapi lada hitam piring panas muahahahaha. Suami saya memilih spageti bolognaise yang diatasnya dikasih melted cheese. Kita juga pesan pizza kayu bakarnya yang Hawaiian style buat take away buat nanti makan malam. Semuanya enyak-enyakkkk

Dan tibalah waktu untuk agenda utama, photo session di KRB. Kita udah lumayan bolak-balik tanya dan cek info tapi tetap saja chaos euy perjanjian pertemuannya. Beberapa tips kalau rombongan terpisah janjian di KRB di weekend:

  • Mobil tidak bisa masuk ke dalam KRB, jadi janjianlah untuk masuk dari pintu yang sama karena jarak antar pintu I & II ke pintu III & IV jauhh makkk
  • Kalau meeting point di dalam KRB di Kafe Grand Garden, masuklah dari pintu III dan IV. Mobil bisa parkir di IPB atau Botani Square. Tinggal jalan kaki menyeberang lewat underpass ke arah KRB
  • Kalau meeting point di dalam KRB adalah danau dekat istana, masuknya dari pintu I atau II. Disini tempat parkirnya dekat pintu masuk, area parkir lebih terbatas tentunya
  • Yang direkomendasikan untuk dibawa: air minum, snack, topi, kacamata hitam, payung (selain karena panas, juga kemungkinan hujan), alas duduk (saya bawanya kain, enggak berat dan gampang di cuci lagi)
  • Pintu IV ditutup jam 4 sore!
  • Butuh ke toilet? Ke Grand Garden Kafe aja (bersih dan banyak toiletnya hehe)

Nah, karena rombongan terpisah dan kemudian parkir/masuk KRB dari pintu berbeda dengan waktu ketibaan yang berbeda maka agenda photo session hampir terancam batal. Rombongan keluarga Sasti dan Melyn akhirnya pulang duluan karena ada mendadak agenda lainnya antar provinsi dan bocah yang mulai rewel, sementara 4 keluarga yang tersisa berembug dengan keputusasaan karena jarak antar pintu yang lumiiiii jauhnya. Kalau orang dewasa aja mungkin masih gpp jalan 2-3 KM tapi karena ada bocah-bocah, nada-nada memelas mulai tersebar di grup WA. Akhirnya, geng pintu III dan IV mengalah (saya, Prima & rombongan). Semuanya demi pertemanan, demi photo session yang ketjeh dan demi ikut quiz (mwahahahaha).

_dsc0478

adek lelah bang :3

_dsc0491

geng pintu III & IV *ada geng di dalam geng shaayyy

Kita memilih lokasi sesi foto di dekat danau dengan latar belakangnya Istana Bogor. Hasilnya baguuuusss *terharu, lap ingus dan keringat. Sayangnya kita enggak bisa lama-lama… soalnya, ujaaannnnnn. Untungnya ada tenda putih tidak jauh dari pintu keluar jadi kita masih bisa berteduh menunggu hujan reda. Btw, ada larangan di papan petunjuk untuk berteduh di bawah pohon loh ya jadi penting untuk cari tempat yang aman untuk berteduh.

img_4601

ketjeeehhhh *pencitraan abis rukunnya

img_4579

*persiapan dibalik layar

Karena mobil kami parkir di IPB dan waktu sudah menunjukkan jam 4 lewat, akhirnya Riri bersedia memberikan tumpangan untuk kami berdua di drop di Botani Square (kesannyaa) hehehe. Thanks ya Ri, kenangan manis disetirin ipar lo akan abadi selamanya *ini apa sihh hahaha

Tol jagorawi masih macet (ya iyalah menurut ngana) saat perjalanan kembali ke Jakarta. Kami beruntung karena bisa keluar di cibubur jadi jarak tempuh hanya sejam dari Bogor sampai rumah. Sesoknyaa hibernasi langsung seharian. Baru berasa tepar dan capeknya hehe.

 

Saya bersyukur karena masih mendapat kesempatan untuk menghabiskan liburan bersama sahabat-sahabat saya ini. Dengan segala keremffongan dan friksi perbedaan yang ada, saya merasakan masing-masing orang berusaha untuk saling menghargai dan tidak menjadikan kerumitan yang ada sebagai drama baper-baperan. Namanya juga pertemanan, adakalanya kita memang perlu berjuang lebih untuk menjaganya tetap indah dan bahagia.

Until next ‘liburan rakyat jelata atau jetlife ataupun jetlag’ yaa ladiessss. I treasure you all! Semoga Eda Naomi pas lagi mudik ke Indo juga yaaa. Let’s make it as “Seven Couples and More Dramas” hahahhaha

 

Advertisements

Sayonara, Pawpaw!

Pawpaw, kucing orens yang sering mampir ke rumah kami, pernah pergi selama beberapa hari. Kali ini, dia pergi tapi tidak akan kembali lagi.

Saat suami pulang kerja, biasanya saya menunggu di luar pagar saat suami memarkirkan mobil ke garasi rumah. Garasi rumah kami cukup sempit, hanya pas untuk mobil parkir sehingga mobil parkir mundur ketika masuk garasi. Rumah kami berada persis di pertigaan letter T yang cukup ramai sehingga saya biasanya membantu memberi kode ke suami kalau jalanan sudah aman untuk mobil bergerak mundur. Biasanya Pawpaw ikut menunggu, diawali dengan dia duduk di tengah gerbang masuk garasi atau mengendus-endus sisi pagar seolah memastikan kami menyadari dia ikut dalam prosesi penyambutan ini. Jadi, biasanya saya sibuk memancing dia ke sisi luar pagar agar aman dari jalur mobil yang bergerak mundur ke arah garasi. Jadi kami berdua seperti tukang parkir ganda campuran gadungan yang mencoba membantu mobil parkir.

Malam itu, saya sendirian berdiri di pinggir jalan sambil mengawasi mobil dan motor yang bergantian lewat saat mobil masuk parkir ke garasi rumah. Pawpaw tidak ada. Sampai gerbang ditutup dan saya masuk ke rumah, Pawpaw masih belum kelihatan. Suami saya masih di luar rumah menurunkan barang-barang miliknya dari mobil. Saya baru memutar badan membelakangi pintu rumah saat mendengar bunyi mobil direm cukup kencang. Dari suaranya, saya memperkirakan kendaraan besar (truk atau bis) yang sedang mengerem di depan rumah. Kejadian ini memang bukan yang pertama kali, terutama saat pengemudi tidak awas dengan belokan tajam atau karena ada kendaraan lain dari arah sebaliknya atau bisa juga karena kucing atau anjing menyeberang mendadak. Perasaan saya mulai tidak enak saat melihat truk kuning perlahan meninggalkan pertigaan berbelok ke arah kanan. Jadi apa yang tertabrak sampai rem sekencang itu?

Awalnya saya melihat seekor kucing berbulu putih campur abu-abu tergeletak diam di tengah jalan. Sepersekian detik setelahnya saya baru melihat di sebelahnya tergeletak kucing lainnya, berbulu putih campur orens. Kaki kucing tersebut masih menggelepar menendang-nendang di udara. Seperti film yang berjalan lambat, rasa shock membuat saya terdiam di tempat. Saat suami masuk rumah baru tangis saya pecah. Suami saya segera menutup pintu rumah karena tangisan saya mulai histeris. Setelah menenangkan saya, suami keluar rumah mengecek TKP. Ternyata benar Pawpaw dan kucing milik tetangga sebelah rumah saya yang tertabrak. Menurut suami saya, Pawpaw sedang mengejar kucing putih-abu abu tersebut ke tengah jalan saat truk juga melintas cukup kencang. Pawpaw dan kucing satu lagi sudah dipindahkan oleh abang bengkel di seberang rumah saat suami saya mengecek kembali lokasi kejadian.

Saya selalu berpikir Pawpaw akan mati karena sakit atau usia. Belakangan ini bulu-bulunya semakin banyak yang rontok. Belakangan ini, luka di badannya juga semakin sering bertambah akibat berkelahi dengan kucing jantan lainnya. Paha kaki kiri belakangnya bengkak sehingga dia agak pincang kalau berjalan, kaki kanan depannya baru sembuh dari luka seperti tergores/tersayat benda tajam. Saya tidak pernah kepikiran kalau menyeberang jalan (hal yang dia sering lakukan karena rumah saya terletak berseberangan dengan rumah kucing betina yang saya asumsikan adalah pacarnya) pada akhirnya yang menyebabkan kematiannya.

Pawpaw memang bukan kucing milik saya. Saya juga tidak tahu siapa pemilik aslinya. Beberapa tetangga saya memiliki kucing tetapi saya tidak pernah melihat Pawpaw di sekitar rumah kami sampai beberapa bulan lalu dia muncul dan tidur seharian di pot dinding taman rumah kami. Sejak saat itu, dia bertahan setiap kali diusir. Sampai akhirnya saya yang menyerah dan membiarkannya sering berkunjung. Toh, di rumah juga sering ada makanan sisa yang bisa saya bagi. Pawpaw ternyata pintar menangkap tikus (dua kali dia menunjukkan hasil tangkapannya dan beberapa kali dia mengejar tikus di sekitaran rumah kami). Dan menurut saya, Pawpaw memang memiliki ketertarikan untuk berinteraksi dengan manusia. Dia cukup paham (walau terlihat jengkel) saat beberapa kali dilarang masuk rumah, dia akan tiduran di depan pintu atau disudut teras. Kadang saat saya tiduran di kursi atau duduk di lantai, dia menaikkan kedua tangannya untuk meraih kepala saya (seperti orang yang akan memeluk) dan menempelkan kepalanya ke pipi atau kening saya. Saya tidak paham kenapa dia melakukannya but it brought a comfort feeling. Pawpaw hanya sekali mencuri ayam di meja makan yang berakibat dia kena omelan panjang lebar. Sejak saat itu, dia tidak pernah naik ke atas meja, bahkan tidak ke atas kursi meja makan.

Beberapa hari setelah kepergian Pawpaw, saya masih sering berharap ada yang menunggu di depan pintu seperti biasanya. Sosok yang masih mengantuk, meregangkan badan seperti pose yoga downward facing, dan kemudian menyambut keriuhan aktivitas pagi kami. Saya masih berharap dusel-duselan manja di kaki saat malam hari kami bertugas sebagai tukang parkir gadungan. But, he’s not here anymore. He’ll be missed, forever.

Sayonara, Pawpaw!

img_4181

He loved plants so much, I guess

img_3984

catched him eating roots

img_3870

we shared nap times, a lot

img_3863

his face everytime he’s ready to hug my face ;’)

img_3844

he did this almost everyday, waiting for my husband’s car arrived at home

img_3136

he loved camera too