Menyetir dan Sekolah Lagi

“Belajar bahasa asing itu lebih susah seiring umur bertambah”. Hal ini yang acap kali saya dengar. Sejujurnya, buat saya belajar hal baru, apapun itu, ternyata sama juga susahnya saat umur makin bertambah.

Saya pertama kali menyetir mobil saat usia masih SD. Jangan ditiru ya adik-adik yang manis dan orang tua yang kece hahaha. Waktu itu, kejadiannya juga tanpa direncanakan dan saya tidak sepenuhnya memegang kendali. Dalam perjalanan pulang dari mengunjungi saudara di kota yang berbeda, Bapak saya yang memang sudah mulai merasa sakit gigi dari awal perjalanan kami, merasa sakitnya semakin tidak tertahankan. Jalan yang kami lalui banyak berlobang jadi guncangan mobil semakin memperparah sakitnya. Mungkin jalan berlobang semakin mengingatkan akan giginya yang berlobang hehe. Mobil kami, kijang kotak, memiliki kursi tambahan disebelah kursi supir. Sebetulnya kursinya dari kotak yang bisa di isi yang bagian atasnya diberi busa dan kain senada dengan kursi mobil. Jadilah saya duduk di kursi tambahan tersebut dan memegang setir mobil. Kopling, gas, dan rem masih dikendalikan Bapak saya. Mobil dengan kecepatan dibawah 20. Walau tugas saya sangat sederhana tapi rasanya bangga banget, berasa udah nyetir beneran.

Sejak saat itu, saya bertekad untuk suatu saat nanti bisa menyetir sendiri. Umur bertambah terus sampai usia layak membuat SIM pun terlewati tahun demi tahun, tekadnya mentok sebatas keinginan. Sampai akhirnya, sudah menikah dan usia diatas 30 tahun (tidak perlu sebut persisnya lah yaa hehe), akhirnya saya mengambil kursus menyetir *horeeee tepuk tangaan*

Suami saya sempat mengajari menyetir beberapa kali. Satu tangan cukuplah menghitungnya hahaha. Dia menyerah karena merasa bukan sebagai guru yang baik dan mungkin karena jengkel juga muridnya lebih galak dari gurunya hahaha. Jadi, saya didaftarkan kursus menyetir dekat rumah. DIDAFTARKAN! Karena saya sendiri setengah niat melihat biaya kursus dan membuat SIMnya. Kalau ditotal dengan tip untuk guru kursus (which is a must) dan biaya ojek/angkot dan jajan (hihi banyak jajanan soalnya dan tempatnya dekat McD, jadi suka nongkrong melepas lelah macam anak gaul setelah kursus), biayanya sekitar 2juta. Tapi, demi cita-cita masa kecil dan menghindari percekcokkan rumah tangga di mobil, saya mengambil kursus 12 jam menyetir dasar. Kursusnya dibagi dalam 6 pertemuan, masing-masing 2 jam. Bisa juga 1 jam per-sesi sih tapi saya inginnya kursusnya cepat selesai. Jam dan hari bisa dipilih dari jadwal yang masih tersedia.

Hari pertama menyetir, setelah pengenalan dasar berbagai tombol yang ada di dashboard mobil, langsung dong diajak jalan ke jalan raya. Panic attacked! Untungnya saya terbiasa menghadapi unexpected event sedemikian rupa (jumawa abiss haha), jadi sambil tertawa pilu saya mencoba mengubah keputusan guru kursus saya akan resiko yang dia hadapi. Kasian kan mobilnya kalau kenapa-napa hahaha

menyetir 1

masa-masa bahagia masih pake mobil latihan

Walau jalur latihan menyetirnya lumayan cadas (tsahh), melewati pasar, turunan-tanjakan, jalanan sempit masuk kampung, saya sukses tidak meninggalkan jejak goresan atau bonyok di mobilnya. Pernah sih sekali nyenggol ibu-ibu yang lagi jalan di jalanan kampung. Ternyata, ibu-ibu tidak hanya seram kalau bawa motor, kesenggol mobil dikittt aja juga sama nyereminnya. Maafin sekali lagi ya ibuu… *salim virtual

Di hari terakhir kursus menyetir, saya merasa sudah bisalah. Sudah lancar belok, naik, turun, paling kalau parkir yang perlu latihan lagi. Begitu SIM sudah di tangan, mulailah saya menagih suami untuk mengijinkan saya memakai mobil. Note: suami tidak pernah menjanjikan saya boleh pakai mobil sih sebenarnya, cuma sebagai istri kita kan wajib pintar berimprovisasi ya, yang tidak dijanjikan bisa saja dibuat sah untuk ditagih hahaha.

Sekilas info buat mamak-mamak yang belajar pakai mobil manual kemudian ganti ke mobil matic (mungkin tidak berlaku untuk semua orang, bisa jadi hanya terjadi pada saya sendiri), feeling yang sudah dibangun demikian harmonisnya antara kaki saya dengan kopling-rem-gas di mobil manual pada akhirnya terasa berbeza di mobil matic. Kaki saya terlanjur terbiasa dengan akselerasi bertahap di mobil manual yang terasa lebih firm saat diinjak. Saya sampai bertanya ke suami apakah mobil kami (matic) dimodif karena merasa pedal gas terasa lebih loose dan pedal rem lebih pendek. Ini sih usaha buat menghindari tuduhan ‘gagal nyetir’ hahaha

Dan tragedi pun dimulailah…

Karena perbedaan rasa tersebut, beberapa kali mobil lebih lambat atau lebih cepat dari seharusnya. Lebih lambat menyebabkan kejengkelan a.k.a bunyi klakson dari mobil belakang, terlalu cepat sehingga pernah hampir menabrak motor yang belok gak lihat kanan kiri (walau salah motornya, tapi kata suami yang waras yang ngalah jadi tetap saya yang salah), mobil hampir oleng karena kecepatan masih tinggi di belokan tajam, dan berbagai dosa lainnya yang membuat pertengkaran suami-istri di mobil masuk season 2. Tentunya, ada hal yang saya lebih jago dari sebelumnya yaitu mengkritik suami, misalnya kalau lupa kasih lampu sein atau kalau jalurnya terlalu ke kiri atau kanan, lewatin polisi tidur tidak smooth hahaha

Suami dan saya berpikir belajar di kursus cukup untuk melengkapi saya untuk turun ke jalan, pada kenyataannya ada lebih banyak hal lagi yang saya belum tahu, tahu tapi lupa, maneuver yang masih terlalu lambat, dan sebagainya. Sejujurnya, semakin sering menyetir mobil sendiri, rasa takut yang saya pikir akan semakin hilang ternyata masih betah saja. Sekarang, setiap kali mau menyetir saya berdoa dengan khusyuk (beneran) supaya skill saya bertambah dan tidak ada kecelakaan yang terjadi. Saya juga tahu betapa stress-nya suami kalau saya yang menyetir. Saya juga tidak bisa menjanjikan drama mobil season 2 ini akan berakhir kapan. Yang pasti, kami berdua tidak boleh menyerah. Guru dan murid, mengajari dan belajar.

menyetir 2

iissh bangga kata suamih ;*

Saya menulis hal ini karena melihat antusiasme momen hari pertama sekolah. Senang sekali melihat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk kedua orang tua terlibat di hari pertama anak mereka menjejakkan kaki di dunia pendidikan formal. Tidak hanya anak-anak, untuk orang dewasa pun, memasuki dunia baru yang asing bisa membawa anxiety atau stress tersendiri. Memiliki atau merasa sesuatu/seseorang yang menemani atau mendukung akan sangat berarti untuk mempermudah prosesnya. Dan, sekolah saja tidak akan cukup untuk membekali seorang anak untuk menghadapi masa depannya dan realitas dunia. Semoga para orang tua tidak hanya sekedar mendaftarkan dan menitipkan anak di institusi pembelajaran dan lepas tangan setelahnya. Yuk, mengajari dan belajar bersama!

 

Advertisements