Down With Fever

Dari sebagian besar keluarga yang saya kenal (dan alami), figur ibu adalah pusat dari semesta-keluarga berputar. Saat bapak sakit, dunia masih berputar dengan damai. Ibu masih sibuk mengurus perintilan domestik dan atau sambil tetap bekerja. Nah, giliran Ibu yang sakit… semesta tidak otomatis berhenti berputar sih, tetapi chaos!

Tiga hari yang lalu…errr, sejujurnya dimulai dari minggu sebelumnya. Beberapa hari berturut-turut, saya dengan bodohnya makan bakmi yang disimpan di kulkas (tentunya dipanasin dulu sebelum disantap). Kalau sehari masih okelah supaya tidak basi dimasukkan ke kulkas terus besoknya dipanasin. Itupun udah masuk hitungan tidak sehat sih, kadar nutrisi yang sudah berkurang pada saat proses dimasak semakin berkurang saat dipanasin lagi (tiba-tiba kepikiran nutrisi rendang itu berapa sebetulnya setelah dimasak berjam-jam ya hahaha).

Kembali ke topik! Nah, dampak makan tidak sehat ini pun mulai terasa ibarat bola salju yang menggelinding dengan lincahnya. Yang terkena gelindingan pertama tentunya ke fisik. Saya mulai merasa meriang dan ngilu sampai ke tulang. Badan sakit semua. Kalau dokter tanya yang paling sakit dimana, paling saya jawab “sakit di hati, dok.” (BWAHAHAHA curhat mbaknya). Sakit hati karena suami yang ngaku sayang istri waktu pacaran dulu ternyata malah sibuk kerja padahal istri sudah lambai-lambai bendera putih ke kamera.

*tarik nafas panjang sampai ke pulau Weh

Menikah itu ibarat BELAJAR tulus mencintai sesama manusia apa adanya setiap saat selamanya. Belajar karena tidak setiap saat kita saling cinta atau dalam kondisi ideal. Kalau hati sudah tak sanggup menahan dan kesabaran kian menipis, pilihannya mau terus tarik nafas sampai semaput atau mari kita bicara (tidak pake teh juga tak apa kakak!). Jadi, di hari pertama sakit saya menyampaikan keberatan saya tentang apa yang saya harapkan dari peran suami saat saya sakit. Dan yang saya butuhkan sebetulnya sangat sederhana. Walaupun sakit, saya masih bisa merawat diri sendiri. Tetapi, saya tidak bisa menyayangi diri sendiri seperti layaknya suami ke istri. Lah, aneh juga kan. Nah, ternyata suami saya itu merasa dia sudah menunjukkan perhatian yang entahlah seperti apa dalam pikirannya. Menyamakan persepsi dan pikiran ini tidak mudah tapi perlu dan bisa kita lakukan. Pilu memang terkadang rasanya tetapi begitu lewat ya makin cinta. Ada amennnnn?

Gelindingan berikutnya sampai ke dapur dan segala urusan domestik lainnya. Dapur otomatis berhenti beroperasi karena cuma saya yang bisa masak di rumah. Lidah yang berasa kebas karena demam mau tidak mau pasrah sama makanan beli dari luaran. Mungkin karena mental #mamakgakmaurugi walau berasa tasteless tapi tetap semangat makan. Belinya pakai duit rugi kalau menyeh-menyeh makannya *sodorin piala #mamakjuaramakan Untungnya rumah mertua dekat jadi beberapa kali dapat kiriman makanan sodaappp. Sakit kok tetap maruk ya makannya?!

Dampaknya juga kena ke agenda kegiatan seminggu. Enggak ikut yoga penutupan menuju bulan Ramadhan padahal ada acara tukar kado sama makan-makannya. Sedih enggak bisa ikutan bagian makan-makannya (bwahahaha), ngiler sama foto-foto makanannya yang berseliweran di group WA. Batal DATE lagi minggu ini. Enggak jadi nyobain kebaya hasil minjem punya mertua buat acara pesta (adat). Padahal kebayanya lucu. Dan untungnya ukurannya muat (mwahahahaha) Horror ngebayangin seumur hidup bakal jadi hot topic kalau sampai kebayanya enggak muat. Macam mana pulak body belum beranak kalah sama inang beranak tiga! *bakar lemak-lemak bergelambir

Oh, penderitaan selama sakit dilengkapi dengan listrik yang turun terus. Orang PLN dan teknisi listrik sampai didatangkan untuk mengecek penyebabnya. Orang PLN-nya bilang kemungkinan ada kabel di dalam rumah atau peralatan listrik yang bermasalah. Tanggung jawab PLN hanya dari tiang listrik–kabel luar–mesin MCB. Kabel yang di dalam rumah dan peralatan listrik adalah tanggung jawab konsumen sehingga pemeriksaannya diserahkan ke teknisi listrik. Nah, teknisi listriknya merasa mesin MCB-nya juga bermasalah. Karena setelah ditemukan salah satu peralatan listrik yang bermasalah, listrik tetap turun. #akukudupiyeikimas ?

Balik ke perihal sakit penyakitnya. Hari pertama demam yang paling dikuatirkan adalah kena DBD, karena selain lagi musim, di rumah mertua udah 3 orang yang kena. Puji syukur hari ke-3 demamnya turun (lempar confetti). Hari ke-4 cek darah untuk memastikan lagi. Hasilnya bagus semua kecuali ada sedikit tipus jadi cuma perlu lebih jaga makanan.

Istri sudah sembuh, rumah udah enggak chaos lagi, dapur sudah kembali beroperasi, listrik masih sering turun. Sekian.

Advertisements