Egi and Her StoryΒ 

Ini cerita bukan tentang Egi tetapi dari Egi (note: mudah-mudahan penulisan namanya gak salah kebangetan).

Beberapa kali saya mendapat kesempatan bertemu dengan anak-anak yang berjuang (lebih) keras dari anak-anak pada umumnya dan cerita mereka selalu membuat takjub. Sebelum ini, saya bertemu dengan anak-anak yang masuk dalam program pendidikan yang difasilitasi oleh Pak Yohanes Surya. Mereka pintar dan cerdas, sehingga saat Pak Yo bilang tidak ada anak yang bodoh melainkan cara kita mengajar mereka yang seringkali tidak tepat maka satu saya dan sebagian besar (mungkin semua) audience TEDxJakarta waktu itu setuju pake banget dengan pendapat tersebut.

Kali ini saya bertemu dengan Egi, salah satu anak sponsor dari program Wahana Visi Indonesia. Ehm, ini fotonya waktu berbicara di #TreasuresWomenConference2015

  
Ada beberapa hal yang membuat saya takjub dengan ceritanya:

β€’ Kesederhanaannya dalam menikmati hidup walaupun hidupnya tidak sesederhana ceritanya

Suatu hari Egi tanya ke tantenya, sebaiknyadia jadi apa nanti. Tantenya bilang pekerjaan yang mulia hanya ada 2: dokter atau pastor/pendeta. Kita, peserta TWC 2015, ketawa gak habis-habis dengar ceritanya Egi. Sebagian ketawa karena sederhananya pekerjaan lainnya jadi tidak mulia. Awalnya Egi ingin jadi pastor kemudian ganti jadi dokter karena selain bisa menolong orang, hidupnya tidak perlu suci-suci banget πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ 

β€’ Cita-cita saya menjadi dokter

Menurut Egi, yang paling tepat jadi dokter di Papua (Egi berasal dari Wamena) adalah orang Papua sendiri. Logika sederhananya, pernah ada dokter dari Jawa datang ke Papua. Dokter tersebut akhirnya kembali ke Jawa dan meninggal. Menurut Egi, dokter Papua lebih canggih. Mereka sudah kebal dengan malaria, yang menjadi penyebab kematian dokter tersebut.

β€’ Awal dari cita-cita Egi

Pada saat program WVI mulai di Papua, Egi bukanlah anak-anak pertama yang masuk program. Ada masa dia merasa iri melihat teman-temannya mendapat bantuan peralatan sekolah sehingga membuatnya bertekad untuk masuk dalam program WVI. Egi akhirnya berhasil pada waktu duduk di kelas 2 SD sampai programnya berakhir. 

Cita-cita awalnya sangat sederhana, dari surat yang dia terima dari orang tua sponsornya (berasal dari Kanada). Mereka tidak mengirimkan foto sehingga Egi sangat ingin bertemu mereka secara langsung. Beriringnya waktu berlalu, cita-cita tersebut berangsur menghilang digantikan dengan cita-cita menjadi dokter. 

Cita-cita ini yang membawa Egi bersaing dengan 100 anak lainnya untuk mendapatkan beasiswa, pindah ke Manado selama 6 bulan untuk kesetaraan pendidikan, ke Jakarta, balik lagi ke Papua. Jumlah yang masuk program awalnya 30 orang, sekarang tersisa 11 orang.

Apakah perjuangannya sudah selesai? Belum sama sekali. Egi baru kembali dari Jerman setelah 11 bulan tinggal disana karena pendidikan disana dianggap terlalu rumit dan dana Pemda yang belum cair. Rencananya mereka akan diberangkatkan ke Cina untuk melanjutkan sekolah.

Di akhir cerita, Egi menyampaikan bahwa sederhananya dia ingin membuat orang lain senang. She did it! (We laughed all the time even just watching the way she laughed at funny things happened in her life. She apologized for having sore throat as she had too much cold drink yesterday. Also, the way she missed the question from Hanna Carol by having hearing problem. Oh my, she definitely a lovely funny girl). Then, she thanked the sponsor (parents) who made her able to sit on the stage today.  

Cerita dari Egi meyakinkan saya untuk mendaftar sebagai orang tua sponsor. How about you, care to join this good cause?

Lastly, so lucky got the chance to have a pose with Egi after the session! 😘 

 

Advertisements