Portrait of a Turkish Family ~ Irfan Orga

Portrait of a Turkish Family - Irfan Orga

Portrait of a Turkish Family
Irfan Orga

2013
I went to Istanbul for company’s outing. I remember we once stopped by at a small book store near Blue Mosque, and this book was recommended by the owner of the shop.

2015
I read this book, finally (borrowed from our Bapak book’s shelf at office).

My book possession had shifted from chic lit to thoughtful / deep story since couple years ago. It maybe related with some ‘hard’ journey I had been through. After finishing 3 of Haruki Murakami’s books, I read this book. It took almost 2 months for me to finish this one.

This book is about a life of the main character, Irfan Orga, and his family. It’s about a shifting of a wealth family to their unimaginably lowest level of poverty because of the war. It’s about a shifting of his lovely kind hearted mother to a strong figure that tried keep the family survive, but at some events a betrayel from her children’s view. A father that they once had but left forever with a devastating story they knew years later.

It is definitely a devastated story of a family.

But, I found courage through his grand mother who never let anyone looked down on her. I found the beauty of determination of life as I know how it feels when life treats us so hard in many times and ways. This is a journal of Irfan Orga, so reading each passages just like having him told the story by himself, his gentle voice and sensitive gesture while recalling each memories he had. I found the beauty of the richness of words and writings can offered to my eyes and soul. Then, I found the beauty of tears because losing something precious. I wept. And, I fall in love more with this book.

I think our personal story has a kind of chemistry with the type of book we love to read.

Hope you enjoy the book as well!

Advertisements

Slammed!

Had my thumb slammed by cab’s door

Then had my face slammed by my Obgyn 

Both hurt. Can’t tell which one the worst.
Mendapatkan dokter kandungan terbaik itu ibarat beli lipstik. Cocok buat situ, belum tentu pas buat eike. Macam cari jodohlah kira-kira.
Sore tadi bikin appointment dengan Obgyn (dalam waktu 6 bulan, ini dokter ke-4). Kali ini pertimbangannya cari dokter yang dekat kantor supaya lebih gampang kalau pergi sendiri dan dari segi jarak enggak bikin frustasi macetnya. Dokter ke-3 soalnya melewati banyak titik2 rawan macet, jadi untuk urusan yang sekarang akhirnya memilih yang masih area Selatan. Kali ini ke dokternya juga langsung dari kantor karena ada yang urgent untuk dikonsultasikan. Akhir bulan Juni sebetulnya hasil test pack negatif, tetapi hari ini sudah telat datang bulan 50 hari dan ada flek dari 2 hari yang lalu. 
Intermezzo: kenapa ya keempat dokter kandungan ini telat dateng prakteknya?
Dapat urutan pertama buat konsul. Si Abang masih terjebak macet di Bekasi, jadi niat ditemani suami pun pupuslah sudah. Nah, kayak gini yang sadar banget kalau saya itu introvert sebetulnya. Seramah apapun dokternya tetap aja berasa gak nyaman buat ngobrol.
Disinilah ‘slammed’ kedua terjadi. Jadi sambil mata melihat ke perut (saya), dokternya bilang checknya mau pakai USG transvaginal atau tidak, karena lipatan fat (saya) akan membuat susah untuk melihat hasil USG melalui perut. Kepala rasanya ingin masuk ke dalam ubin lantai (setelahnya masuk ke tanah). Now is my worst weight, I guess. I don’t know apakah calon ibu lainnya mengalami dilema yang sama. Inginnya sih makan sesedikit mungkin tetapi mikirin nanti kurang gizi buat si calon baby. Inginnya rajin olah raga yang core, bakar lemak kayak bakar ban pas demo, tapi olahraga yang banyak pressure ke perut bikin deg2kan kayak mau ujian SPMB dulu. Gambling. Galau. At the end, pasrah. Gpp lah gendut sekarang sampai si calon baby dipercayakan untuk jadi tanggung jawab. Yah, gak enak memang rasanya walau kadang konteksnya bercanda atau gak maksud juga sih ngatain gendut. Well, makanya orang bijak bilang, be kind to everyone cause you don’t know what’s the battle they are facing (i like this quote than don’t judge the book by its cover).
Jadi ya gitu. Proses yang tidak nyaman lainnya yang musti dilewati demi si adek bayi. Semangat! (tepuk dada sendiri). Hasilnya memang ada semacam kantung yang bisa berarti 2 hal: kantung janin atau kantung menstruasi. Paling akuratnya ya cek darah di lab. Dapat oleh-oleh pulang surat rujukan ke Prodia (biar cepat prosesnya kata dokternya) dan obat asam folat. Kalau benar terjadi pregnancy, akan diobservasi 1-2 minggu kedepannya apakah kantung berkembang, posisi di dalam rahim atau diluar. Jika bukan hamil, maka akan dipancing buat menstruasinya keluar. Seems still long way to go for a big relief.
Well, menutup hari ini, buat sesama calon ibu ataupun yang masih belum berencana kesana, menurut saya beberapa hal ini bisa jadi pertimbangan buat memilih Obgyn:

1. Cari info Obgynnya. At least, kalaupun review orang gak sampe yang trending topic, at least kita tau dokternya tidak pernah tersangkut berita kriminal. Syukur2 ada blog2 yang mereview.

2. Location matters. Gak harus dekat rumah. Buat saya pribadi penentunya jarak terdekat dengan paling banyak beraktivitasnya dimana. Karena kalau ada yg emergency perlu ke dokter, jarak bisa jadi sangat membantu mengurangi stres level.

3. Ajak teman. Ya tentunya bisa suami, keluarga, atau sahabat. Setidaknya buat teman ngobrol karena antara menunggu antrian dan nunggu dokter yang telat datang. 

4. Biaya. Ke dokter itu mahaal bookk. Sekali periksa ratusan ribu pasti meninggalkan dompet deh. Jadi ya bikin strategi masing2lah buat ngakalinnya. Dari pengalaman 4 dokter ini aja udah kelihatan kok patternnya. Ada biaya dokternya yang lebih mahal, yang lainnya di biaya obat dan fasilitas medis yang dipakai. 

5. Believe in the good things. Kadang ya pasti merasa down, kadang bingung yang mana yang sebetulnya paling baik. Buat saya pribadi, I try to be open (menceritakan ke suami perasaan-perasaan yang dirasa), membuka diri dengan cerita-cerita pengalaman orang lain, dan terakhir berjuang untuk berpikir (memilih berpikir) untuk mempercayai yang terbaik. Kadang ya semacam menetapkan hati kalau memutuskan hal ini adalah yang terbaik dan menjalaninya sebaik mungkin.
Begitu kira-kira.