Hurting Physically & Mentally?

Awalnya, saya berpikir fisik dan mental saya yang terluka. Kemudian, waktu mengajarkan bahwa pemikiran berkembang ke arah mana kita menghidupinya.

Kejadiannya minggu lalu, di sebuah bus angkutan umum yang saya naiki dalam perjalanan pulang dari kantor. Saya duduk persis di kursi dekat pintu tengah bus. Kondisi bus sudah mulai sepi karena sudah hampir sampai di terminal tujuan akhirnya. Hal ini pernah terjadi sebelumnya pada saya, seorang laki-laki dengan jaket yang diselempangkan di lengan, dan tangan satunya beraksi ditutupi jaket tersebut mencoba membuka resleting tas saya. Kali ini, bukan saya korbannya tetapi seorang Ibu yang sedang bersiap untuk turun dari bus. Si Ibu tersebut seingat saya tidak sadar ‘drama’ apa yang terjadi di belakangnya, tapi tidak bagi saya. I remember it like a slow motion movie.

Saya sudah curiga saat si lelaki di belakang Ibu tersebut berdiri mepet ke si Ibu dengan jaketnya menempel ke tas si Ibu (yang kebetulan disampirkan ke belakang badan). Beberapa kali jaketnya tersibak karena gerakan bus, dan dua kali saya melihat tangan si copet sudah menempel di tas si Ibu. Sebetulnya, hati saya deg-degkan karena sesuatu hal yang salah persis terjadi di depan mata, sekaligus juga panik tindakan apa yang harus saya lakukan (well, muka tetap lempeng sih). Jadi, setelah ketiga kalinya jaketnya tersibak dan tangannya masih menempel ke tas, saya refleks menginjak kaki si copet. Refleks karena kepala saya ‘menginstruksikan’ untuk ‘stop it’, tetapi mulut tidak mau kerjasama, akhirnya kaki yang maju duluan.

Mungkin karena kaget atau kesakitan saya injak, si copet menatap saya dengan muka yang sangat marah, dan inilah dialog kami:

Copet: APAAN SIH LO??! *teriak mode on (sejujurnya kalau diingat lagi, hanya copet yang akan bereaksi begini. Orang normal pastilah akan bilang sakit taukkk). Dan, kemudian dia menendang kaki saya cukup keras. Sakit makkk!

…seumur-umur, jarang dibentak orang (palingan pas ospek jaman sekolah dulu), jadinya sama sekali enggak siap buat mengimbangi dialog si copet dan tendangan mautnya <—opo iki

Saya: Eeee… enggak, ada itu tuh tadi di bawah (*nada berusaha tenang, padahal panik dan kesakitan kakinya)

Kemudian si copet bergegas turun. Dan datanglah moral support dari kondektur bus, yang ternyata juga tahu bahwa si orang tersebut adalah copet. Katanya sih, kalau saya tadinya biarin copetnya, mau dia tangkap terus digebukin sampai mati. Lah ya bang, kalo copetnya berhasil mah dia udah sekalian turun dari bus terus kabur. Masa nungguin sampai ketahuan dia nyopet.

So…I was in between of pain and suffer. Untuk pertama kalinya, ada seorang manusia yang melakukan kekerasan fisik ke saya. Kaki terasa sakit. Sejam kemudian memang hilang bekasnya dan tidak meninggalkan bekas biru lebam. Puji syukur. That’s my pain. Kemudian, yang terjadi setelahnya adalah saya cukup ‘trauma’ untuk naik bus jurusan tersebut pulang kantor lagi. Takut ketemu copet itu lagi dan dia mengenali saya. Takut mengalami hal yang sama kembali. That’s my suffer. Fisik dan mental terluka. Seminggu saya pulang naik taksi. Akhirnya, kemarin mencoba untuk naik bus lagi, dan definitely, semuanya tidak sama lagi. Now, I’m too anxious of every little movement of the people around me during the bus trip.

Saya mengingat ngobrol dengan teman-teman saya di DATE. Bisa saja kejadiannya berbeda. Jika saya teriak copet, massa mungkin akan segera berkumpul dan tamatlah riwayat orang tersebut. A soul might be gone on that day. Kemudian, kesedihan saya akan jatuh pada kematian yang sia-sia. It might be a chance for him, another chance to not doing wrong things anyomore.

Kemudian, kemarin saya memikirkan hukuman untuk pencuri. Jika saja hukumannya dirasa terlalu ringan, mereka mungkin akan melakukannya kembali. Sebetulnya, tindakan pencurian tidak sekedar memindahkan ‘hak milik’ dengan paksa. Tindakannya penuh dengan collateral damage, seperti karena ketahuan si pencuri malah menyerang korban, atau sebaliknya. Nyawa taruhannya. Jadi, untuk keamanan dan pencegahan, seharusnya tindakan pencurian perlu dihukum berat juga.

Hingga pagi ini, suatu kejadian mengingatkan saya akan ‘humanity values’. Lagi-lagi kejadiannya di bus. Busnya cukup penuh, sampai yang berdiri juga cukup padat. Biasanya, tidak ada pengamen yang naik karena dimarahi supir bus, dianggap mengurangi jatah berdiri penumpang. Tapi kali ini, ada pengamen yang naik dan bernyanyi. Saya duduk paling belakang sambil mengobrol, jadi tidak memperhatikan (dan memang kehalangan orang-orang yang berdiri juga). Saat pengamen tersebut selesai dan sampai ke baris belakang bus, I was surprised. Perkiraan saya umurnya diatas 25, bersih dan bahkan sepertinya baru mandi (rambutnya masih agak basah gitu cuy hehe). Tidak banyak yang memberi sumbangan (termasuk saya pun tidak). Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan. Kami turun di tempat yang sama.

Nah, sekarang bayangkan si pengamen ini jalan di depan saya dengan badannya yang kurus, dengan saya di belakangnya dengan lemak bergelambir dimana-mana. It makes me sad. It makes me realize, diantara kita sesama manusia begitu banyak yang tidak memiliki cukup, sementara yang lainnya berlebihan. It sounds cliche. Yes, it is. But, that’s how we feel about what’s ‘sesama’ means, right?

It helps me understand why we still have compassion for others, even though we know that there’re good and bad people out there. It’s a human nature. So, for me, I’d learn to give more space for any bad experience caused by other human. I forgive that pickpocket guy for hurting me physically and mentally. And, I pray (and act) for a better world, better life for all humanity.

Peace!

Advertisements

Had my pants a break

So, ada beberapa cerita random belakangan ini terjadi. Enggak ada hubungan satu sama lain. Just like strangers intertwined along my path, but they all gave laugh and sweet thought to remember.

…and dogs sing a song like a choir too?

Beberapa minggu yang lalu, kejadiannya sewaktu pulang kantor di jalan menuju rumah. Tidak ada angkot yang lewat depan rumah kami jadi biasanya saya jalan kaki atau naik ojek dari jalan utama yang jaraknya sekitar 300m dari rumah. Naik ojek kalau lagi malas jalan, ‘merasa’ udah kemaleman (padahal baru jam 8 hehe) atau karena pengen berbagi rejeki sama tetangga. Seingat saya tukang ojeknya tetangga semua karena dari awal saya menggunakan jasa ojek mereka tidak pernah tanya kemana dan dengan penuh kepastian mengantar sampai depan rumah. Nah, kadang jalan kaki kalau berasa makan kebanyakan seharian (hahaha) atau matahari masih kelihatan.

Kejadian kali ini, saya jalan kaki sekitar jam 6 sore. Di jalan yang saya lewati tersebut, letak Mesjid dan Gereja berdampingan (gerejanya tempat kami sekeluarga beribadah juga). Nah, di gereja tersebut sering ada doggies punya gereja, punya tetangga, atau doggies yang kebetulan lewat atau kesasar suka berkumpul. Ya mungkin mereka punya kegiatan arisan atau geng kali ya hehe. Salah satu anjing senior a.k.a tua adalah si ‘Ogie’ (nick name yang kami bikin sendiri) anjing milik rumah sebelah gereja. Saking tuanya, Ogie sering terlihat berkeliaran atau tiduran di tengah jalan tanpa menghiraukan kendaraan yang lewat.

Tiba-tiba para doggies tersebut mulai melolong (yang seperti serigala itu) saling bersahutan dengan suara Adzan Magrib, kecuali Ogie. Ogie hanya duduk dengan kepala tertunduk. Jadi, mulailah saya mengarang cerita ke suami setelah sampai di rumah. Saya bilang para doggies itu bikin choir untuk Ogie karena dia paling senior dan mungkin waktunya enggak lama lagi. Mereka lama loh melolongnya, saya sampai berhenti beberapa menit menunggu apa yang mereka lakukan setelah melolong.

Seperti biasa, suami saya yang lebih logis membuyarkan cerita imaginasi saya. Jadi menurut dia, anjing memiliki naluri untuk memiliki ‘habit’, which is can be good or bad habit, seperti misalnya mereka dilatih untuk poop di satu area. Nah, kalau tidak ada yang ‘melarang’ mereka melakukan sesuatu yang sering mereka lakukan, maka mereka akan terus melakukan hal yang sama. Para doggies tersebut memiliki ‘jam’ suara adzan magrib yang konsisten setiap hari. Di beberapa video youtube kita juga bisa lihat para doggies bereaksi terhadap nyanyian dan mereka pun seperti menirukan suara nyanyian tersebut. Para doggies tersebut bereaksi terhadap adzan magrib as simply they enjoy the ‘habit’.

Hmmm, make sense sih… anyway, i love to see that doggies ‘melolong’, indeed like a choir 😉

Had my pants a break

I don’t like wearin pants as work outfit karena simply jarang ketemu yang size-nya pas hahaha. Nah, tahun lalu ketemulah celana hitam yang bahkan tinggal satu-satunya didisplay sebuah store. Happy dong ya. Tampilannya seperti celana bahan yang biasa untuk formal attire tetapi bisa stretch juga, so i love it.

Nah, kejadiannya pas lagi ada case study di kantor pulak. Lagi siap-siap di kantor sebelum para kandidat datang, saya ke toilet untuk buang air kecil. Pada saat celana tersebut mau ditarik ke atas terlihatlah lantai dari lobang yang ter-stretch dari celana tersebut aaakkkkkkk (somehow, i laughed at that moment). I don’t know why paginya enggak sadar sama sekali sama itu broken pants. Untunglah posisi robekan ditengah bawah jadi tidak kelihatan pada saat saya berdiri atau jalan. And it went well just like any other ordinary days of my life. Dan seperti biasa, saya malah menceritakan si celana robek tersebut ke teman-teman kantor. Lebih baik mentertawai sesuatu yang ya sudahlah daripada menyesalinya kan.

I love you, my black pants but it’s your time to have a break, finally (baru setahun padahal).

Well, things happened. That’s life right.

Crowning the return of my (fake) teeth

Salah satu gigi kanan atas saya patah separuh dari tahun lalu gara-gara makan acar timun di Rendezvous. Berhubung karena sempat hamil jadi baru bulan ini ke dokter gigi untuk minta dicabut aja. Gigi ini memang udah lama bermasalah. Ini sejarahnya:

– Tahun xxxx: gigi berlubang (parah) sehingga akarnya mati. Untuk itu dokter mengganti akar dengan sesuatu yang terbuat dari cengkeh (kalau enggak salah). Itu kejadiannya >5 tahun lalu lah. Kemudian gigi ditambal

– Tahun 2014: Tambalan copot. Setelah diperiksa sama dokter, tambalannya masih bisa di re-tambal

– Tahun 2015: Tambalan copot beserta separuh gigi hahahaha

Nah, saya minta dicopot aja lah giginya daripada daripada menambah sejarah baru. Ehtapi dokternya langsung kaget dan menolak usulan saya. Ish, dokternya lebih sayang gigi daripada yang punya gigi (piss yo dok hehe). Jadi ditawarinlah untuk di crown aja. Seperti biasa, gigi itu mahal biayanya jenderal! Biaya perawatan kulit saya saja enggak semahal ituuu. Karena dokternya baik dan yasudahlah mungkin gigi ini punya determinasi sendiri, jadi akhirnya di crowning pun saya punya gigi.

Well, ini udah hampir seminggu sejak selesai di crowning. Enggak enak euy. Yang asli emang selalu lebih baik.

Yaudahlahya gitu aja ceritanya. Setelah ini baru cerita going back to my obgyn.

Have a great day, folks!