Part 3. The after – denial phase

I am thinking of nothingness.

Why?

I don’t want to think about anything.

A denial phase.

Apakah saya ikhlas? Antara ya dan tidak.

Apakah saya sedih? Iya

Apakah ada rasa sesal? Tentunya

Buat saya, seorang perempuan memiliki kemampuan untuk bertahan dan hatinya teruji dengan berbagai kesulitan yang dihadapi dalam hidup. Hati yang sedemikian tangguh juga runtuh saat kehilangan bagian dari dirinya, yang bahkan masih dalam hitungan centimeter. Saat sendirian (atau terkadang berdua suami), beberapa kali saya masih menangis. Hanya dengan mengingat atau melihat sesuatu hal yang sederhana bisa membuat kesedihan kembali. Terkadang sambil bercanda, saya dan suami membicarakan bagaimana saya tidak jadi berangkat outing kantor ke Belanda sekaligus tidak jadi hamil. That’s life. Sedih tentunya, tetapi dalam hidup kan memang ada porsinya untuk sedih.

That’s why, salah satu saran paling mendasar buat pasangan atau keluarga yang mengalami kejadian keguguran untuk memberikan support & pendampingan untuk si calon ibu, dan juga menurut saya si calon ayah. Kondisi fisik akan berangsur memilih antara dalam hitungan hari atau minggu tetapi tidak ada yang tahu kapan hati akan benar-benar pulih.

Buat saya sendiri, menulis membantu untuk proses pemulihan. Saya menyimpan memory-nya, baik bagian yang sedih maupun senang. At the end, our journey is a history for the future. There are time for crying, as much time for laughing. That’s life. Embrace it.

Kiss from a far to my little warrior. Mom loves you, always.

P.S.: a love from our garden. Bunga Sri Rejeki titipan mama mertua (well, semua tanaman di taman kecil kami punya mama mertua sih) berbunga lebih dari selusin. Kuncupnya menunggu mekar. Bunga ini termasuk sangat pemilih untuk berbunga, sehingga sering dianggap sebagai pertanda rejeki bagi pemilik rumah. Mengaminkan universe dan berkat-Nya selalu menyertai 🙂

a kiss from universe to cheer up our journey ~ bunga sri rejeki

a kiss from universe to cheer up our journey ~ bunga sri rejeki

Advertisements

Part 2. A week with our little warrior

Senin pagi, agenda pertama saya adalah 1-on-1 coaching dengan bapak’e di kantor. Saya tahu dia pasti sangat senang tahu kabar ini. Sebetulnya, dari hari minggu saya sudah ingin memberi tahu tetapi saya tahu the news is too big to pass indirectly. So, pagi itu saya berusaha konsentrasi menyelesaikan sesi coaching sebelum ‘meledak’ untuk memberitahukan kabar baiknya.

Finally, sesi coaching done. Kami pindah dari area pantry untuk diskusi ke area library dengan sofa besarnya untuk membahas career plan saya setahun kedepan. That’s the right moment I thought untuk menginformasikannya. Dan benar saja, pagi itu kantor heboh dengan kegembiraan kami, as a family, partner, friend. Lonceng gong yang dibunyikan hanya untuk special occasion pun terdengar pagi itu.

Keberangkatan saya ke Amsterdam juga akan dipertimbangkan, dari dokter tidak ada larangan karena di dunia medis sendiri tidak ada keterkaitan langsung antara penerbangan dengan keguguran. Yang menjadi concern adalah kondisi kesehatan fisik saya. So, saya mulai mempersiapkan rencana cadangan (menghubungi pemilik boat tempat kami tinggal di Belanda dan Garuda Indonesia jika saya sampai harus cancel berangkat) sambil bertanya ke beberapa teman yang pernah hamil apa saja yang menjadi concern mereka terkait trip.

Hello Ams!

Hello Ams!

I had a strong feeling bahwa saya tidak akan berangkat outing (again) kali ini. Tetapi, saya masih belum menyampaikannya karena toh terkadang feelings belum tentu menjadi kenyataan, pikir saya waktu itu. Masih kebayang berhari-hari kami meluangkan waktu untuk mempersiapkan outing kali ini, dari menyepakati lokasi, tiket pesawat, penginapan, sampai dokumen-dokumen yang perlu dilengkapi untuk pengurusan visa Schengen.

Hari Jumat, 16 Januari 2015…

Dari bangun pagi, saya merasa perut saya sedikit sakit. Googling dan tanya dokter, katanya hal tersebut normal. Saat janin membesar tentunya dia mendorong dinding rahim sehingga terjadi peregangan otot/syaraf yang menyebabkan perut terasa tidak nyaman. Saya berangkat lebih siang ke kantor agar bisa istirahat dulu di rumah.

Sakitnya ternyata tidak berkurang sampai siang. Setelah makan siang, saya sudah tidak konsentrasi untuk bekerja. Dan, tiba-tiba keluar cairan bercampur flek berwarna kecoklatan. Saya mulai menangis dan memberitahu ke teman kantor kondisi saya. Mereka segera menyiapkan sofa untuk saya dapat tiduran dan istirahat. I knew it wasn’t a good sign. Saya menghubungi 2 dokter untuk menanyakan tindakan apa yang saya perlu lakukan. Keduanya setuju untuk saya segera ke rumah sakit. Suami ijin dari kantor untuk menjemput saya. Awalnya, saya berpikir untuk ke RS terdekat (Brawijaya atau RSIA Kemang di Ampera) tetapi feeling saya akan butuh diopname sehingga saya butuh tempat yang saya sudah kenal. Akhirnya kami memilih ke RS Bunda Margonda Depok. Saya pernah 1x konsultasi ke dokter kandungan di tempat ini, jadi sudah kenal salah satu dokternya (dr. Chandra Asmuni, SPOG). Selain itu, dulu saya juga pernah beberapa kali ke rumah sakit ini untuk berobat karena jaraknya dekat dengan apartemen tempat saya tinggal dulu.

Untuk situasi seperti saya, pasien tidak perlu ke UGD atau Poly tetapi bisa langsung ke area bersalin (informasi dari front officer yang saya telepon sebelumnya) karena butuh tindakan penanganan langsung. Puji syukur, dr. Chandra sedang menangani proses kelahiran sore itu (biasanya dia hanya praktek pagi sampai siang kalau hari Jumat) sehingga dokter Chandra yang langsung menangani saya.

Hasil USG cukup melegakan. Kantung janin saya masih dalam kondisi baik. Besarnya menunjukkan usia 7weeks5days. Sedikit berbeda dari hasil USG sebelumnya (lebih besar). Dengan kondisi saya yang masih flek, saya diwajibkan untuk bed rest. Bisa di rumah atau rumah sakit. Mempertimbangkan di rumah hanya kami berdua sementara suami bekerja, kami memutuskan untuk bed rest di rumah sakit sehingga setidaknya ada yang merawat saya.

Hati saya yang mulai tenang ternyata hanyalah jangkar sementara. Dua hari kedepan adalah perjuangan antara ketakutan dan kesakitan saya bersama our little warrior. Flek berubah menjadi bleeding seperti menstruasi yang semakin lama semakin banyak. Dokter juga kemudian menemukan ada sariawan di dinding rahim yang diduga menyebabkan perut saya terus kontraksi dan sakit. Jika rasa sakit bisa menyelamatkan our little warrior saya bersedia menanggungnya. Saya tahu our little warrior berjuang untuk tumbuh selama 5 hari terakhir sejak saya tahu dia ada dalam perut saya, tetapi kondisi ibunya yang ternyata tidak siap untuk dia berkembang.

Hari Minggu…

Saya tahu keputusan segera perlu diambil. Saya minta suami untuk menemani saat periksa dengan dokter di Senin pagi. Hasil USG menunjukkan janin saya mengecil, dalam bahasa medis sebagian dari janin luruh sehingga bisa dianggap keguguran. Siang itu juga diputuskan untuk dikuret (minor surgery dimana pasien dibius total untuk mengeluarkan isi rahim). Dengan kondisi saya yang sudah kesakitan dan sudah tidak mampu bangun dari tempat tidur, saya dan suami menyetujui keputusan tersebut.

Saya mengingat para bidan yang bertugas berusaha menenangkan saya. Infus dipasang untuk jalur anastesi dan obat, tes alergi, tes darah dan tes berapa lama pembekuan darah. Ingatan saya berakhir dari dokter anastesi yang menanyakan apakah saya punya penyakit asma, jantung…

Saya terbangun dengan perut bagian bawah terasa sangat sakit sehingga saya berteriak-teriak memanggil suami. Mama mertua sempat masuk ke ruangan operasi untuk menenangkan saya, tidak lama suami gantian masuk setelah menyelesaikan beberapa administrasi. Saya mengingat suster menyuntikkan sesuatu ke botol infus sebelum saya tertidur kembali.

Saya terbangun kembali sekitar jam 4 sore, sepertinya tenaga saya sudah kembali. Saya sudah bisa menggulingkan badan ke kanan dan kiri, as suggested by nurse. Dan kemudian didorong di kursi roda untuk kembali ke kamar. It’s all done. We’re weaving a good bye to our beloved little warrior. Even though we knew it for only a week, we’re so grateful for having him/her in our life journey. All prayers from paman, uncles, and aunties are with you, our love.

We thank for generous love and support from my colleagues at Daily Meaning – they’re the best in moral support and taking over all the stuffs I couldn’t handle at work at this moment; My dearest sister who spent days and nights as a reliable companion. She’s the best; All support from big family, friends, Date Cipete 1; Doctors and Nurses, countless visit and patient.

Love from me, hubby, and little warrior.

Part 1. Finally, it’s too late…

Ada dua pertanyaan yang saya hindari seminggu terakhir. Pertanyaan yang (mungkin) orang lain ingin ajukan ke saya dan juga ingin saya ajukan ke diri sendiri.

Apa rasanya tidak jadi pergi outing kantor ke Belanda?

Sekaligus, apa rasanya kehilangan bayi dalam kandungan (keguguran)?

Di kantor saya, dari 5 perempuan 2 diantaranya sudah menikah. Satu mengalami keguguran (yaitu saya) sehingga persentase statistiknya adalah 50%. Di antara teman se-geng dari masa kuliah (7 orang perempuan, sudah menikah), 2 diantaranya mengalami keguguran sehingga persentasenya sekitar 30%. Dari beberapa kelompok pertemanan suami, setidaknya 1 orang diantaranya pernah mengalami keguguran. So, pertanyaan kedua merupakan pertanyaan yang sebetulnya ada di sekitar saya. Sebelum terjadi, tidak menjadi perhatian. Setelah terjadi, mereka berbagi cerita dan feelings yang dirasakan. Untuk itu, tulisan kali ini didedikasikan untuk  menjawab dua pertanyaan tersebut. At least, dari sudut pandang saya. Karena panjang, akan dibagi dalam 3 bagian.

Part 1. Finally, it’s too late…

Saat seorang perempuan mengetahui dirinya hamil, ini mungkin salah satu rasa excitement yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Saya pun demikian. Sampai hari ini, saya masih mengingat, seperti setiap detik, hari dimana saya mengetahui our little warrior said hi to us!

Aplikasi period tracker yang saya gunakan di HP sudah memberikan notifikasi merah dengan font besar LATE 4 DAYS. Tetapi karena memang sudah berapa kali terlambat (pernah sampai 17 hari), saya tidak terlalu mempedulikannya. Anyhow, 2 minggu lagi tanggal penerbangan saya ke Amsterdam sehingga untuk memastikan semua on the plan, saya memutuskan untuk melakukan test pack di minggu pagi, 11 Januari 2015. Garis pertama muncul seperti biasa dalam hitungan detik, saya sudah bersiap meletakkan test pack tersebut saat garis kedua muncul dalam hitungan detik berikutnya. Jantung seperti berhenti berdetak! I even did not know what should to think or do at the same time. Semua perasaan bercampur aduk dan antara ingin melakukan ini dan itu sesegera mungkin. Believe or not, salah satunya kepikiran kapan mulai belanja untuk persiapan kehamilan, so womeeeen…

Suami yang setengah tidur saat saya tunjukkan hasil test pack-nya juga sama campur aduknya. Antara dia masih ngantuk, senang, bingung… all those mix feelings. Kami memutuskan untuk ke dokter sore itu untuk memastikan hasil test pack sekaligus juga untuk konsultasi pertama apa yang perlu kami tahu dari pendapat medis.

Later on, saya baru tahu beberapa informasi penting terkait beberapa kehamilan awal yang menurut saya perlu diketahui oleh ibu-ibu muda yang berencana ingin hamil, antara lain: blighted ovum (kehamilan kosong), dalam bahasa sederhana walaupun kantung janin terbentuk tetapi isinya tidak ada; hamil di luar kandungan (hamil anggur), kantong janin menempel di luar dinding rahim; dan virus tokso (kalau tidak salah ada beberapa virus lainnya yang juga sama berbahayanya dengan virus ini) yang bisa dicek melalui test TORCH (biasanya direkomendasikan untuk melakukan test ini bahkan sebelum menikah / hamil).

Rumah Sakit terdekat dari rumah kami yang memiliki jam dokter kandungan praktek di Minggu sore ternyata RS Permata Cibubur, dari jam 4 sore. Rumah sakit-nya memiliki gedung lama (lobby utama) dan gedung baru (dekat parkir) sehingga untuk kami yang baru pertama kali ke tempat ini sempat bolak-balik antara gedung baru dan gedung lama karena minimnya petunjuk dan petugas satpam yang salah memberikan petunjuk jalan.

Puji syukur, dr. Purnawan yang memeriksa menginformasikan hasil USG menunjukkan kondisi kantung janin dalam kondisi baik, dalam posisi yang tepat. Karena masa menstruasi saya yang tidak teratur, hari pertama haid terakhir tidak menjadi patokan usia janin. Hasil USG menunjukkan usia janin 5weeks6days. Happy to the max! Dokter memberikan 2 jenis obat (penguat janin dan penambah darah). Konsultasi berikutnya tanggal 4 Februari untuk melihat perkembangan janin. Hal penting untuk di cek dipertemuan berikutnya adalah apakah jantung janin sudah mulai berkembang karena biasanya usia 8weeks jantung sudah harus berkembang.

Heboh dong ya kami berdua setelah menunggu 1 tahun 3 bulan setelah menikah, akhirnya mimpi untuk memiliki anak terjawab sudah. Pagi itu, di dalam doa saat bersyukur kepada anugerahNya, saya memahami kenapa seorang anak begitu berharga. Anak adalah cinta yang Tuhan titipkan dalam hidup kita. Precious love. Tugas orang tua untuk membuat cinta tersebut bertumbuh besar dan menjadi saluran cinta bagi lebih banyak orang. I feel blessed and loved.

Sebelum pulang ke rumah, kami mampir ke rumah mertua untuk mengabarkan berita kehamilan saya. Dan entah mengapa, mulut lebih ingin makan masakan rumah daripada beli makanan di luar jadi sekalian nebeng makan malam di rumah mertua, yang memang dekat dengan rumah kami juga. Selain itu, adik-adik kami yang berada di kota lain juga diberitahu. We’re all so happy. Mama mertua sempat menanyakan apakah saya ngidam sesuatu atau morning sickness. Belum ada gejala apa-apa, baru berasa begah dan perut seperti kembung tak berkesudahan.

Dan selamat datang hari-hari perut begah, hidung sensitive sama bau, dan badan terasa pegal seharian…

1st meeting with our little warrior :)

1st meeting with our little warrior 🙂