Tattoo and Pain

Kata teman saya bikin tato itu musti siap dengan ‘pain-granted’. Kebayang sih, kulit di gores-gores dengan sesuatu yang tajam untuk menghasilkan ‘sesuatu’ yang permanen. Tetapi herannya dari ber-abad dan ber-adab ribuan tahun lalu, manusia menggemari tato. Ini pendapat saya tentang tato loh ya (note: dari manusia yang enggak punya tato): proses pembuatan tato itu memang sakit tetapi hasilnya atau gambar yang dihasilkan seperti sebuah pengingat through pain I gain this beautiful mark, atau sebagai pengingat momen yang istimewa, sesuatu yang khusus atau sacred, dan sebagainya. Eits, ada juga sih yang tato buat gaya-gayaan, bisa juga sebagai pengingat penyesalan, dan sebagainya hehe.

Karena saya bukan pe-tato a.k.a memiliki tato, maka yang ingin saya tulis bukan tips and trik tato tetapi perjalanan saya ke Bali selama 3 hari 2 malam, beberapa waktu lalu. The main agenda was attending the 4th TEDxUbud event, and the rest are the un-planning agendas. Intro sama isi enggak nyambung hehe, but we’ll see 😉

Sometimes we’re just not sure about everything

Dari beberapa minggu sebelum the Day, saya sebetulnya sudah memiliki semua yang saya perlukan. To be honest, nothing special, no any spectacular sign that assured me to cancel the plan. It’s definitely a life-lesson, bahkan untuk situasi yang sedemikian well-prepared, keputusan bisa tetap sulit untuk dibuat (yaaampuun bookkk untung bukan pada saat berdiri di altar bersama si abang dapet rasa seperti ini, yasalam dah).

Saya sampai bolak-balik tanya suami diijinin dengan rela enggak isterinya pergi selama beberapa hari (ceilah, berasa ratusan hari aja neng). Sampai akhirnya saya menyampaikan ke Bapak saya di kantor kalau saya enggak jadi berangkat. Padahal Bapak’e yang menjadi sponsor tiket pesawat saya. Kuciwa dong dunia persilatan (dalam hayalan saya) tetapi itu seperti hati yang saya upayakan bulat tekadnya.

Sekali lagi, jangan tanya saya kenapa. I don’t why and how it bothered me so much.

Sampai akhirnya, pikiran terakhir saya (entah pintar atau bodoh) menyuarakan kalau berangkat enggak ada ruginya, sebaliknya kalau enggak jadi berangkat lebih mungkin saya kecewa. Jadi, 5 hari sebelum hari H baru saya beli tiket pesawat *minta digeplak sama sandal karet*

Ingatan yang paling kuat selama trip tersebut ternyata adalah kangen sama suami (prikitiwww, senyam-senyum sendiri). Pertama kalinya setelah menikah saya pergi keluar kota tanpa suami. I missed him so badly, walaupun kangennya enggak sampai bikin saya mau minggat cepat-cepat dari Bali juga sih. Ternyata menyenangkan merasakan kangen suami. Through that not-quite-so-sure-moment, I feel grateful because I’m sure about one thing: I miss my husband because I love him as much I love my life.

Money, money, money talks

Berapa budget ke Bali? Ehm, kalau boleh sih gratis kakak, ada yang mau bayarin semua enggak (mana suami mana suami manaaa). Buat saya cukup realistis untuk memikirkan budget saat ingin travel, semurah-murahnya harapan ingin mengeluarkan angka dari dompet. Enggak enak kan kalau jalan-jalan tapi ngitung terus  sisa budget berapa, itulah pentingnya menabung. Nah, karena tahun ini saya sudah 2x pulang kampung ke Medan jadi sebetulnya pos budget buat jalan-jalan sudah tidak ada. Untuk kali ini saya cuma bilang prinsipnya adalah preparations meet the opportunity (mengutip tante Oprah).

Kantor tempat saya bekerja biasa menerima permintaan untuk penulisan artikel. Seingat saya fee tidak pernah menjadi concern. Di awal tahun ini, sebagai lanjutan salah satu seminar bersama client yang saya kebetulan ikut di dalam tim, meminta dibuatkan artikel mengenai konten seminar untuk di-publish di majalah internal mereka. Well, saya co-author dengan Bapak saya di kantor dalam membuat artikel tersebut. Saya baru tahu setelahnya kalau ada fee (yang cukup besar menurut saya) untuk artikel tersebut. Fee ini nantinya yang mengcover sebagian besar tiket pesawat saya. We might be worry about money sometimes or many times, but please put that extra ‘energy to worry’ into our work or passion that helps us to create something beautiful, optimum, our best, no matter money involved or not.

The perfect plan is don’t plan at all

THIS is not always the best decision to have if you plan to do the travel. Situasinya adalah my works and also my life have that kind of signature which is PLANNING. I love to make the plan, as much as love the preparation stage (except packing), and I know I’m good at it. Jadi gimana rasanya enggak punya planning dan bisa enjoy setiap kali ditanya ‘habis ini kita mau kemana? Errr, enggak tahu’

Belajar untuk tidak stress pada hal yang tidak perlu di-stress-kan. Tokh, tidak ada target yang dikejar. Agenda utama sudah disecured, jadi selebihnya bisa menikmati ‘moment’. Di hari terakhir, saya mengelilingi pasar tradisional Ubud selama 1.5 jam (sebelumnya brunch di Babi Guling Ibu Oka ~ yang di 3 trip terakhir enggak pernah berhasil). Tidak ada yang special banget. Yang saya ingat justru 2 hal yang biasa tapi teringat aja gitu: Pertama, Mbak yang menerima order saya di rumah Ibu Oka terlihat tidak bahagia. Padahal baru jam 11, pengunjung baru sedikit jadi seharusnya bukan karena kecapean. Kedua, Mbak Yuli (dia orang Kupang yang menikah dengan orang Bali), yang mengantar saya keliling Ubud dengan sepeda motor hari itu, sangat senang dengan baju model kupu-kupu warna hitam yang dia beli bersama dengan rok tutu untuk kedua putri kecilnya. Note: padahal saya enggak beliin dia juga, wong dia udah selesai bayar sebelum saya selesai memilih baju yang saya inginkan.

Tadi sore, sebelum pergi fitness, salah satu OB di gedung kantor saya sedang membeli makanan di area lobby. Dua lontong + gorengan yang disiram dengan kuah kacang tumbuk. Enak deh. Yu Miroh, nama penjualnya. Pemandangan tersebut entah kenapa membuat saya sedih melihatnya. Mungkin teringat jaman kos waktu kuliah dulu, terkadang atas nama penghematan terakhir, makan terpaksa saya batasi, semurah-murahnya dan sejarang-jarangnya. Itu sedih sih karena sambil makan indomie di hari kesekian saya mengingat makanan di rumah orang tua yang selalu lengkap dan bisa dinikmati 3x sehari. I had only one choice at that time. Cheapest food. Mungkin karena itu saya sedih melihat orang yang hanya bisa menikmati makan ala kadarnya.

My last word, semua cerita diatas adalah rekaan semata (enggak deenggg hehehe). Pengalaman dalam cerita diatas mengingatkan saya kalau hidup itu memang lebih banyak tentang orang lain. Balik lagi ke tentang tato, hidup ini kan susah ya, seperti proses bikin tato itu tuh. Udah susah, ujung-ujungnya ‘gambar’ apa sih yang kita inginkan kelihatan dari perjalanan hidup kita? Mau yang disesalin atau dibanggain? It’s your choice! Life is not about me and myself only, but way much more about caring for others. Enggak percaya, tengok saja jadwal hari ini ditujukan buat siapa saja (bos, keluarga, anak buah, temen, macet, ihh banyak dahh). Lagian, nyebelin kalau ketemu orang yang hanya ingin mendapat perhatian untuk dirinya sendiri terus-menerus. Babai aja deh, just like now, bye-bye all!

Advertisements