Live a life with dream(s)

Karena faktor jarak kantor – rumah yang semakin jauh setelah menikah (dan ikut suami tinggalnya), saya memutuskan untuk memberikan sedikit ‘kemudahan’ untuk diri sendiri dengan naik taksi. Well, terkadang sampai di rumah masih ditunggu dengan beberapa pekerjaan domestik, so at least bisa menabung tenaga setelah seharian bekerja. Weits, jangan tanya juga sih seberapa sering akhirnya rencana pekerjaan domestik tinggal rencana ditinggal tidur di ruang tv. Life’s so hard, mama! hehe

Well, pengalaman dengan tukang taksi punya banyak cerita, dari pak supir yang mbisikin istrinya di telepon ‘i lupyu makk’, yang terkantuk-kantuk (mungkin karena melihat saya tidur kayak babi di belakang hahaha), sampai yang ngeyelan dan nyebelin. Banyak yang baik, gak ingat berapa banyak yang gak baiknya.

Ini ceritanya supir taksi express yang saya tumpangi sabtu lalu, perjalanan dari Tamini Square menuju PP. Agak aneh sebetulnya karena saya sudah menyeberang dan ditengah jalan (di pembatas jalan) saya balik lagi, dan pak supir ini memperhatikan kelakuan saya. Kata pertama yang dia ucapkan setelah saya duduk ‘Kunci pintu di sebelah pegangan pintu yang warna merah’. Hoho seperti anak ayam yang menemukan induk yang menyelamatkannya, saya terharu. Jalanan Jakarta berat bokk, hardly we trust each other. I feel safe. Jadi kita banyak ngobrol sepanjang jalan.

Pak supir ini berasal dari kota kecil Semarang. Waktu SD mereka terbiasa untuk tidak pakai sepatu ke sekolah. Wong jalannya masih tanah, ya mendingan gak pake sepatu. Tetapi, memasuki kelas 4 SD, jalanan sudah di aspal sehingga mau gak mau pake sepatu. Panas, katanya. Buat yang suka jalan-jalan di ruangan kantor sambil nyeker, saya mengamini barefoot adalah ‘sepatu’ terbaik buat badan jalan-jalan. Well, anyway, sometimes we need to change not because we want to but have to.

Dan dengan kesederhanaan situasi dan informasi yang mereka dapat akses, hal paling mewah yang dilihatnya sebagai anak desa adalah mobil yang juga jarang lewat. Dream the most ‘luxurious thing’ you could ever imagine. It might be hard to reach but once you have it, you’ll know that it’s not the end of your imagination. It might be another new journey to embrace. Cita-cita masa kecil supir taksi ini menjadi… SUPIR, dan akhirnya tercapai. Somehow, saya merasakan dia sendiri merasa lucu dengan cita-citanya. Setelah 10 tahun merantau di Jakarta, dia merasa tidak mungkin mengejar cita-cita lainnya. Sudah terlalu terlambat, mbak, katanya sambil tertawa.

Bapak supir sih bisa saja tertawa karena sudah mencapai cita-citanya dan sekarang masa untuknya menikmati perannya. I think he’s a good driver, a good person, and he’ll keep doing it. Tetapi perjalanan dan ngobrol 20 menit kemarin membuat saya berpikir. Apa sih yang jadi cita-cita gue? Seberapa banyak dari kita para pengejar karir yang masih mengejar cita-cita or sudah kehilangan? I don’t live a life for a career title. It’s not my dream, nor my passion. Well, it’s not either about resigning your job.

I just have a thought, as my husband said with a very sad tone, he lost in contact with most of his friends, he barely knew their update because each day he spent most of his time at work (he might be not realize that we have very few times as well, just because we still meet each other regularly).

Cita-cita saya semasa kecil banyak sih, dan banyak yang sudah tercapai (kayaknya, hehe) tapi kok sekarang kepengen bikin cita-cita lagi deh. I have a passionate life though, but need one or two things that keep my spirit focused. What it should be…

-i
Live a life that you won’t regret in the future.
(sambil mencari cita-cita yang hilang)

Advertisements