A good bye…

Ruang bicara kita. Hanya berdua, entahlah apa diperuntukkan untuk kita berdua saja atau ada yang lain bergabung dengan waktu bicara kita. Selama ini kita berdua saja.

Cahaya mulai meredup saat kita sepakati pembicaraan dimulai. Yang kita bicarakan sederhana saja, tentang kematian. Kamu memulai dengan kemarahan, muak menghadapi orang-orang yang merasa tidak pasti hidupnya. Seolah-olah begitu sulit untuk menggenggam masa depan. Masa depan itu pasti, bodoh! Kita semua menghadapi satu kepastian masa depan. Kematian. Jadi apa yang kamu lakukan untuk menghadapi kepastian itu? Menikmati lemak-lemak yang bergulir dari sela-sela jemarimu sambil berharap mereka akan pergi dari tubuhmu esok hari. Membiarkan matamu menguasai waktu dengan berbagai permainan yang ditawarkan oleh si tangan. Entahlah, kamu sadar atau tidak, matamu memasukkan racun yang sebentar lagi menghancurkan hatimu. Yeah, kata dokter kecapean mempengaruhi kinerja liver. Livermu sakit, hatimu hancur. Sakit kan.

Kenapa marah? Tanyaku mencoba meredam suasana. Kita berdua bisa hancur kalau kemarahan yang menguasai ruang bicara ini.

I just lost my uncle, you said quietly.

I’m waiting if you may shed any tears so i could offer a comforting words or touch. But you don’t. You just sit still there.

He was a very kind person with a sense of humor that made everyone happy around him. I stayed at his house for 3 years during my high school years. I remember he used to sing a love song with funny way to tease my aunty. We laughed loudly anytime he reached the lyric which he called his wife’s name. It was so funny yet romantic.

He drove me to my dorm when I decided to stay near at college, entering freshmen year. He’s my ‘transporter’. He’s the one who persuaded my parents to give me a permission to study in Jakarta. So, I left my childhood memory across the ocean. The last time, we talked. It was on my wedding-preparation, called marhusip – maba belo selambar (kind of official proposed from the big family, before engagement). As usual, he give a sighed-gesture when he said something unpleasant or bothered him. That’s his signature, beside his laugh.

He leaves in peace. Only couple hours of sickness, I heard. He leaves when most of my family already arrived in Jakarta (for my niece’s wedding). So, he made it easy for the big family to attend his final moment.

I don’t shed a tear until I write about him. And now, let me be here for crying.

***

I leave you there, weaving a good bye.

I’ll see you again next time

 

Advertisements

Norwegian Wood ~ Haruki Murakami

Ah well, setelah lama gak baca buku (novel), pilihan saya jatuh pada buku Haruki Murakami ~ Norwegian Wood. Belinya pas May day, dan akhirnyaaa setelah 11 hari bacanya selesai juga. Btw, baru sadar bukunya ada 11 Bab, fyi 🙂

Image

12 May 2014 bukunya selesai saya baca untuk pertama kali. Means, saya akan baca buku ini lagi. Membaca pertama kali, yang saya inginkan adalah mengetahui apa cerita berikutnya. It’s so twisted and unpredictable. Pace ceritanya sangat detail sehingga sesekali saya mengingatkan diri untuk menikmati baris demi baris kalimat tetapi di banyak waktu lainnya saya memacu mata untuk menyelesaikannya. Well, rencananya saya akan baca lagi nanti untuk lebih menikmati its story, deeper. Saat buku ini selesai, yang saya rasakan adalah kelegaan telah menyelesaikan ‘pertarungan’ antara hati, pikiran dan lembaran kertas yang saya balik dengan tidak sabar. So, what’s this book about?

Kisahnya sesederhana cinta segitiga dan intertwisted dengan cinta lainnya, berbaur dengan cerita death & life. To be honest, saya menemukan my own peace, tranquility, calmness during the reading times. Agak weird memang karena yang diceritakan banyak mengenai kematian, cinta tak berbalas, ‘unspoken words’. Saya merasa seperti berada di belakang, kadang disamping atau di depan Watanabe (si tokoh utama) menjalani waktu demi waktu. Mencoba untuk memahami apa yang ada di pemikirannya sekaligus pemikiran saya sendiri. Mencoba merasakan apakah cinta selalu tentang rasa yang menggetarkan atau terkadang merupakan a silent darkness, but it is still a love. Memikirkan kejadian-kejadian yang sampai pada akhirnya tidak untuk dimengerti karena kematian terkadang memutus cerita dari yang ingin kita ketahui. Sesekali saya ingin melarikan diri juga karena tokoh-tokoh yang diceritakan juga banyak ‘melarikan diri’ dalam berbagai cara. Have you ever shut down yourself from any contact with others (outer world)?

Saya sendiri banyak mempertanyakan dan memikirkan bab demi bab ceritanya. I fall in love, not only once, and then, how each story goes in its own way. Some left with its unfinished story, the other way forgotten by time, some remain silent in the darkness which I don’t know what or how should I do with them, well, for sure, there’s love that stay perfectly in its right fit. I face some losing of beloved ones. Few of them left in peace but most left me with thousand unspokeable questions. And, I live here now, having my own story to continue with still more questions which coming in their own ways.

Well, I don’t have any right words to describe or review the story actually (which I knew how Naoko felt), while also have the feeling to embrace life more just like Midori did, and the other side feel the Reiko’s step to her new world after depth intake relation with the (love) story of others. Maybe, I just put myself into Watanabe’s shoes.

Buat yang suka bukunya Paulo Coelho, Rumi (dll), this book is highly recommended untuk dibaca. Hardly can’t wait to read Haruki’s next book. Maybe ‘The Wind-up Bird Chronicle’. Btw, Norwegian Wood udah ada filmnya juga. Mungkin tidak masuk Indonesia. Ini trailernya, fyi:

Cerita tadi malam

Hari ini (ya anggaplah kemarin malam itu diceritakan hari ini) si istri yang diperankan oleh saya pulang lebih cepat. Menuju rumah, kasih kode ke suami ‘martabak cokelat keju enak nihh’ hehe, akibat ngeliat martabak super pake toblerone di pertigaan ampera. Ini membenarkan teori, there is reason for everything. Jadi, wahai para penjual martabak dimanapun berada, jangan takut, saingan makin banyak tingkat demand juga meningkat karena iklan martabak gratis dimana-mana yang menggerogoti iman kedietan orang-orang seperti saya hehehe.

So, begitu sampai rumah, seperti anak kecil pulang sekolah langsung laporan sama ibu eh suami kejadian hari ini. Kisah si supir taksi yang nanya ‘ini hari apa ya?’, yang saya jawab ‘kamis pak!’ dan ternyata jawaban saya tidak sesuai harapan. Si bapak ngotot ini malam jumat, cocok dengan suasana magrib dan jalan yang akan saya lewati konon ada mistis-mistisnya gitu deh. Jadi saya kekeuh bilang, kan kemaren pemilu hari rabu jadi ya ini hari kamis dong *dengan nada mulai mengancam (kelesss hahaha). Ya tapi ini kan malam jumat. Hadeuhhh balik lagi si Bapak. Karena saya diam tidak menjawab, si bapak nambah dosa baru. Ini ujungnya cilangkap ya? Bukan, bambu apus! Jawaban sewot isteri yang lagi pengen makan martabak belum dapat lampu ijo dari suami.

Jadi yaa.. Entah karena suami saya itu baik hati dari sononya atau karena terhibur dengan story telling saya (huacciiieee), jadi dia berjanji beli martabak setelah mandi sebelum berangkat kerja. Ditinggalkan sendiri geratakan meja makan-dapur-kulkas-tipi, eehh jadi lupa sama si martabak. Jadi saya putuskan untuk makan sate beberapa tusuk dan apel sebuah (adanya memang cuma 1).

*bacalah dengan penuh perhatian terutama para suami* Nasehat buat para suami, kalo isteri kepingin sesuatu secara mendadak, ingatlah belum tentu dia beneran kepingin. Biarkan waktu mengademkan pikiran dan perasaannya. Jangan reaktif langsung diiyakan. Jadilah suami bijak. Btw, ini tidak berlaku buat keinginan yang sudah dipersiapkan & dipropose dalam jangka waktu lama ya *lirik berlian segede batu akik hahaha*

Jadi dengan bangga suami menyetujui keputusan saya. ‘That’s even better for you’, he said wisely. Dalam sukacita saya hantar dia ke kantor dan melanjutkan urusan domestik a.k.a memasak.

Ehm, enak nih ikan goreng disambel pake nasi panas.

Dan, batallah rencana diet malam kemaren. Horrewwww #BersyukurMasihGendut

Raising Hope a.k.a child

Hellooo…

Ini mau cerita kejadian hari Minggu lalu. Setelah acara arisan keluarga siang hari di daerah Jakarta Barat, saya dan suami menuju Bekasi untuk farewell teman kantornya. Phew, jauh amat. Tapi namanya juga hidup sosial, badan rontok pun dijabanin deh. Sampai di Grand Wisata Bekasi, saya pun ditinggal di Fresh Market karena acara farewellnya tidak bawa ‘buntut’ kata suami tercinta. Saya sih happy-happy saja karena kesempatan untuk saya ceki-ceki setiap baris rak selama mungkin hehe.

So, 1 jam belanja diakhiri dengan makan siomay yang dijual di depan kasir. Tiba-tiba, duduklah seorang bocah dengan buku warna-stickernya di depan saya. Kebetulan meja saya memang hanya saya sendiri. Jadilah kami duduk berhadap-hadapan. Dia asyik buka buku lembar demi lembar sambil menempel sticker, saya makan siomay sambil baca novel.

To be honest, kepinginnya sih tulis ceritanya yang aww-sweet-happy-ending gitu. Kenyataannya adalah saat saya berusaha (keras) mengajaknya ngobrol, yang ada dicuekin. Seriously, it was so akward. Ini bocah enggak minta ijin langsung duduk di depan saya tapi juga cuek bebek diajak ngobrol. Maunya opo seh ~.~ Ditengah upaya desperado saya, datanglah Bapak si anak. Situasi makin akward. Berasa Bapaknya mau nangkep saya karena dikirain mau nyulik anaknya hahaha

Well, ijinkan saya untuk mengatakan diluar dari overloaded-cuteness dari seorang anak atau baby, mereka adalah creature yang membawa complicated problems. Anak yang lucu dan menggemaskan itu bisa nangis kejerr sejam tapi gak ngaku kenapa dan gak tau mau diapain. Baju mereka yang cuma seperempat ukuran baju dewasa mahalnya bisa bikin kartu kredit habis limit *lama-lama ditabok sama ebu-ebu*

Maafkan saya jika menyampaikannya demikian. Tetapi having a child memang tanggung jawabnya gede. So, saat orang-orang tanya ‘Udah isi belom?’ jangan heran kalau saya santai aja jawabnya ‘udah isi lemak’ ~ sambil goyang getar bakar lemak. Kepingin punya anak itu ya sudah pasti iya tapi bukan ambisi dan bukan juga keputusan saya. I am surrender on Him.

Jadinya ya buat para calon ibu, jangan diambil hati apalagi frustrasi kalau ditanyain terus ‘udah isi belom’. Ingat, kalau udah isi, berarti udah dipercaya buat nanggung that complicated problems. Jadi disyukuri dulu aja yang sekarang sambil usaha ehehehe. Nanti akan indah pada waktunya kok, ameeeeennn sodara-sodara *kisskiss*