You (can’t) be excellence in only few area

Beberapa hari lalu, terjadilah percakapan ini antara saya dan pacar diantara perdebatan rumus dan logika:

…………………………
Pacar (anak IPA): kamu pantesnya anak IPA ya
Saya (anak IPS): lah memang aku ditawarin sama wali kelasku untuk masuk IPA. Cuma syaratnya rajin belajar Kimia. Ya aku gak mau. Aku pinter Matematika sama Fisika tapi dodong kalo Kimia
(bandingkan banyaknya kata yg keluar antara pelaku perempuan dan laki laki)

Ini adalah serangkaian connecting dots di kepala yang membuat saya menuliskan We (You) can’t be excellence in only few area untuk survive hidup yang happy.

WHY?

Kita ke dunia kantor sekarang. Saya memperhatikan (diri saya sendiri tentunya), dari 2 kantor yang menjadi cerita perjalanan karir saya dan mengerjakan hobby volunteer di TEDxJakarta, saya mengembangkan ‘job-desc’ dari yang sekedar apa seharusnya menjadi tanggung jawab saya. Tanggung jawab saya misalnya memastikan management kantor berjalan dengan rapih dan sesuai standar policy yang ada, tetapi di sisi lain saya dengan senang hati untuk belajar jadi MC/Host, memanage website/social media, mengkurasi materi presentasi dan berbagai hal lainnya.

My job-desc is not the border of my career story.

My job-desc is not the only thing i would give my 110% of excellence work (and result), but also anything i have at my hand.

Well, mungkin beberapa orang akan bilang, itu passion. Senang melakukannya, sehingga mudah untuk melakukannya. Somehow itu betul. Tapi, saya gak selalu senang melakukannya. Beberapa kali saya juga capek, bosan dan ngantuk. Kepingin ngabisin weekend dengan DVD marathon atau tidur seharian, pulang kantor main ke mall/kafe, punya budget buat beli baju okeh tiap bulannya. Tapi kan hidup memilih. Yes, kadang saya melakukan apa yang memang ingin dilakukan. Enjoying the pleasure of life, spending time or money hehe. Tetapi di lebih banyak waktu saya memilih untuk bertarung. Bertarung karena sadar hidup saya bukan tentang diri saya sendiri tetapi banyak orang yang saya kenal dan tidak kenal yang terkena dampak dari tindakan saya, baik sekarang atau di masa mendatang.

I fight.

Selebihnya saya menikmati bonusnya: reward pekerjaan yang selalu dimudahkan dari kenaikan gaji sampai lingkungan kerja yang menyenangkan, yes I am so blessed. Bertemu orang-orang keren, baik tim saya maupun famous people yang inspiring. Dan selama ini, very few yang saya dengar atau tahu hidup saya merepotkan orang lain.

Definitely, I have a happy life 🙂

What about yours?

Advertisements

Pertunangan?

Ini cerita dari pacar. Kejadiannya waktu pengambilan hasil cek lab di rumah sakit karena ada indikasi fungsi hati yang tidak terlalu baik. Karena saya ada acara kantor, sementara hasilnya ditunggu segera untuk proses pembuatan asuransi maka akhirnya pacar yang mengambil hasilnya. Supaya dimudahkan prosesnya, setelah mengambil hasil cek lab, pacar pun menghadap dokter (kalau menghadap pendeta beda lagi ceritanya hehehe) dan mengaku sebagai tunangan. Kejadiannya awal tahun 2012, dan kita BELUM tunangan!! Hahaha

Well, memegang status tunangan somehow berasa ‘strange-feeling’. Seperti bulu kuduk dikelitikin sama bulu ayam, nah tuh berasa geli gimana gitu kan. Why? Karena buat saya status tersebut seriously serious bawa paketan tanggung jawab bersamanya. Nama besar kedua keluarga sudah dipertaruhkan di dalamnya (kalau ada apa-apanya). Btw, kapan-kapan kita bilang nama kecil keluarga lucu juga kayaknya hehe. Dan sekarang ini, kata ‘tunangan’ ini semakin sering muncul saat pacar memperkenalkan saya ke entah siapa (seringnya tanpa sepengetahuan saya, hehe).

Secara sah kami belum bertunangan, tapi dia memang sudah melamar saya. Dan sudah saya terima (gambar cincin lambang tunangan, dalam mobile phone!). So, yang saya bisa bilang, saya memiliki tanggung jawab sebagai seorang tunangan (soon to be official) si pacar.

10 hari lagi kedua belah pihak keluarga akan bertemu dalam acara Marhusip (disebutnya dalam adat Toba) atau Mbah Belo Selambar (disebutnya dalam bahasa Karo). Ini semacam langkah awal yang diakui secara resmi menuju proses pertunangan di Oktober nanti.

Dan saya belum punya bajunya, hahahaha. Yuk, mari kita hunting!

(ini sebetulnya mau nulis apa sih intinya??)