2nd Trimester Story

Kata orang, fase trimester ke-2 paling menyenangkan. Ada amin ibu-ibu? hehe ๐Ÿ˜‰

Ada benarnya pendapat tersebut karena masa morning sickness biasanya sudah berakhir, energi sepertinya sudah kembali normal, perut belum terasa berat jadi masih enak untuk beraktivitas. Nah, ini beberapa hi-light dari cerita trimester kedua saya:

First kicking for papa

Saya sudah merasakan ada gerakan janin setelah usia kandungan melewati 22 minggu, tetapi gerakan janin saat saya meletakkan tangan di perut terasa pertama kali di tanggal 11 Oktober 2018 (rasanya bersejarah banget hehe). Hari itu, saya merasakan ada gerakan di perut dan saya ajak janinnya ngobrol untuk gerak lagi, eh beneran di perut sebelah kanan ada “tendangan” lembut *brb mamak nangis dulu saking bahagianya.

Jadi saya ceritalah ke suami kalau sekarang janin kembar kami sudah mulai tendang-tendangan hehe. Pak suami penasaran dong, jadi tiap kali pulang kantor atau pas bangun pagi, tangannya diletakkan di perut saya nungguin baby’s kicking. Eh, makin ditunggu anaknya malah diem-dieman hahahaha *Bapaknya yang pundung :)). Jadi, seperti biasa saya ajak anaknya ngobrol lagi supaya pas bapaknya ada, gerak-gerak lagi. Jadilah suatu hari, saya melihat di perut ada tendangan, jadi saya panggil bapaknya untuk lihat dan pegang. Dan beneran kali pak suami berhasil merasakan tendangan si janin (btw, kita tidak tahu apakah tendangan atau tangannya yang gerak sih ya hehe).

Sampai hari ini masih belum bosan menunggu tiap kali si janin gerak, tiap kali mereka bergerak saya ikutan elus-elus perut. Biar kayak lagi toss-tossan gitu. Dan, katanya memang perlu untuk membangun komunikasi dengan janin, baik melalui diajak ngobrol, sentuhan/elusan di perut, dan emosi yang kita rasakan sehari-hari.

 

Aktif beraktivitas

Dari yang mulai lagi rajin ke dapur (hampir setiap hari masak), jalan pagi sekalian ajak jalan anjing piaraan kami si Kenji, mulai ikut kelas yoga dekat rumah, dan ikut kelas prenatal yoga & gentle birth. Di trimester dua ini juga saya masih ikut membantu kegiatan TEDxJakarta ke-13 “Jagad Manusia” (ceritanya ada di IG saya @rumahkopi hehe). Rasanya seru sih karena walau kadang berasa lebih cepat lelah tetapi memang inginnya aktif beraktifitas.

Sedikit cerita dari kelas yang saya ikuti, di kelas gentel birth yoga, menurut saya wajib banget diikuti oleh ibu hamil dan suami. Kalau memungkinkan saat masih awal-awal kehamilan jadi bisa menerapkan ilmu yang didapat lebih maksimal. Kelasnya difasilitasi oleh bidan Yessi Aprillia (IG @bidankita) dan tim, materi yang disampaikan tidak hanya hal-hal praktis seputar kehamilan tetapi juga teori yang mendasarinya sehingga kita jadi lebih paham. Misalnya, saat fase pembukan 1 sampai 10, kalau tidak paham mungkin akan panik saat sudah keluar flek, padahal bisa jadi itu baru pembukaan awal yang mungkin banget masih lama sampai ke pembukaan 10. Kalau di awal sudah panik, justru keburu habis energi-nya saat tiba waktunya mengejan. Sayangnya kelas di Jakarta bukan kelas regular yang selalu ada, apalagi domilisi bidan Yessi bukan di Jakarta. Jadi, perlu banget untuk memantau IG-nya dan segera daftar kalau ada kelas di Jakarta.

Selain itu, saya ikut kelas prenatal yoga di ProVclinic Jakarta. Ini kelasnya juga digemari oleh ibu-ibu hamil jadi wajib daftar jauh-jauh hari. Untuk daftarnya bisa menghubungi no WA admin (ada di IG @provclinic), pendaftaran kelas-nya dimulai di pertengahan bulan (tanggal 15) untuk kelas 1 bulan kedepan. Untuk ikut kelas yoga-nya, usia kandungan minimal sudah 20 minggu. Saya ikut kelas Mbak Mila (@jamilatus.sadiyah) yang kabarnya sering waiting list hehe. Serunya sebelum yoga dimulai masing-masing ibu bisa bertanya apa yang menjadi kegundahan mereka. Mbak Mila-nya baik dan sabar banget menjawab setiap pertanyaan, dan rasanya adem mendengar setiap penjelasannya. Kalau dipikir kan bisa saja bosan ya ditanya pertanyaan yang sama dari para ibu hamil yang umumnya punya pertanyaan yang sama hehe.

 

Kaki kram, alamakkk

Dalam situasi normal pun kalau kaki terasa kram tidak enak ya, apalagi kejadiannya saat lagi hamil, baru bangun tidur mau meluruskan (stretching) kaki dari posisi tidur miring sepanjang malam, dan kemudian kaki terasa kram huhuhu. Saya lupa persis kejadiannya kapan, sehari sebelumnya kami ke Bogor menjenguk adik saya yang baru melahirkan kemudian ke Cibubur untuk menjenguk saudara yang sakit (bisa dibilang seharian di luar rumah), dan setelahnya sekitar jam 3 pagi saya kebangun dan kedua betis saya kram, bergantian. Karena tidak tahan sakitnya, saya akhirnya bangunin pak suami. Karena sudah dalam kondisi kesakitan, pikiran sudah kehilangan akal apa yang harus dilakukan. Pak suami juga mungkin panik lihat saya sudah setengah menangis jadi tidak maksimal membantu mengurangi rasa kram-nya. Untungnya tidak lama sakitnya mereka setelah kaki diangkat dan ditekuk. Jadi, setelah pikiran kembali jernih dari rasa sakit, pagi itu kami mendiskusikan apa yang harus dilakukan jika kondisi yang sama terjadi lagi.

Kram berikutnya terjadi lagi, kali ini cuma di salah satu betis lagi. Awalnya saya tidak mau membangunkan pak suami. Jadi saya berusaha mengangkat kaki sedikit dan melakukan pijatan lembut di betis tapi sakitnya tak kunjung berkurang. Akhirnya lagi-lagi minta bantuan suami. Kali ini kami lebih tenang, dan suami lebih sigap. Jadi setelahnya, saya masih bisa tidur lagi sebelum memulai aktivitas pagi.

Menurut saya, ibu hamil memang ada dalam kondisi perlu dibantu. Bukan karena kita dalam kondisi lemah tetapi bantuan dari orang lain seringkali juga menjadi dukungan emosional yang membuat situasi lebih nyaman lebih mudah/cepat.

 

Pengentalan darah

Morning sickness done. Sembelit done. Kaki kram done. Nah, muncullah hasil tes darah yang mengindikasikan saya ada pengentalan darah. Di trimester pertama saya, tes darah yang saya lakukan tidak termasuk mengecek pengentalan darah, menurut saya ini perlu sih dilakukan karena kalau baca-baca artikel komplikasinya bisa sampai keguguran. Nah, kami kebetulan ganti dokter kandungan di usia kandungan 4 bulan, jadi di pemeriksaan kedua dokternya minta untuk dilakukan tes darah ulang yang mencakup kekentalan darah. Ada dua komponen yang diluar batas standar normal, tingkat HB dan D.dimer. Karenanya, dokter kandungan merekomendasikan saya untuk konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam – hematologis. Jadilah, saya mendapat tambahan obat 3 jenis terkait pengentalan darah ini dan suntik 5x (yang dilakukan 2x seminggu). Semoga kunjungan ke dokter berikutnya hasilnya sudah membaik, amin.

Dari beberapa artikel yang saya baca, pengentalan darah memang normal terjadi di kandungan dengan janin lebih dari satu. Ini seperti reaksi alami tubuh terhadap kondisi yang tidak biasa dialami. Jadi semacam perlindungan tubuh tetapi bisa menyerang si Janin. Menjadi beresiko karena membuat janin kekurang asupan makanan yang datang melalui plasenta/saluran darah. Puji Tuhan pertumbuhan berat kedua janin kami masih normal, sesuai dengan usianya. Walau demikian, saya jadi mengecek lebih teliti perkembangan berat janin per-konsultasi. Di usia kandungan 16 minggu, selisih berat baby A dan baby C hanya 5 gram (baby C lebih berat), ternyata di minggu 20, baby A lebih berat 20 gram dari baby C *mamak langsung patah hati, padahal sebetulnya angkanya mungkin tidak signifikan ya. Jadi, setiap hari baby C diajak ngobrol supaya makannya banyak. Eh, baby A sepertinya sempat pundung jadi gerakannya tidak sesering baby C. Lagi-lagi, mamak yang koreksi diri jadi diubah afirmasinya untuk keduanya diajak makan yang banyak biar sehat-sehat sampai lahir nanti.

 

Masuk ke minggu 23, perkiraan berat masing-masing janin sudah sekitar 500 gram, jadi makin terasa beratnya. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti yoga yang dekat rumah dulu hahaha. Pertimbangannya karena yoga-nya memang untuk umum sebetulnya cuma kalau saya ikut, beberapa gerakan disesuaikan. Tetapi tetap aja, sepertinya ini saatnya untuk saya melakukan yoga di rumah dengan panduan youtube saja, jadi lebih fokus untuk gerakan yang bermanfaat untuk ibu hamil. Kegiatan jalan pagi masih dijalani karena si Kenji anjing piaraan kami bisa cranky kalau tidak diajak keluar. Sementara itu, dua project yang tadinya saya mau kerjakan akhirnya di drop dulu supaya tidak terlalu capek.

Kalau dibandingkan dengan perut ibu-ibu lainnya, saya itu sudah seperti hamil 7-8 bulan hahaha. Besar dan beratnya sudah mulai membuat nafas cepat habis. Saatnya untuk melengkapi persiapan kelahiran nanti dan membuat baby wish list kali ya, mumpung masih ada energi tersisa di minggu-minggu ini.

Any idea?

 

Advertisements

Hamil dan Sembelit

Keringat dingin yang sudah membasahi punggung dan mungkin area badan lainnya, tidak lagi menjadi perhatian dari pikiran saya yang bolak-balik menyesali kejadian dua hari terakhir. Saya terduduk lemas, masih berusaha mengumpulkan sisa tenaga untuk satu dorongan pemungkas. Apa daya, badan tidak mau bekerjasama. Di depan pintu, suami saya lagi duduk, menunggu…

Saya: Kamu lagi apa? (keheranan)

Suami: Lagi nungguin kamu

Saya: Hah! Buat apa?

Suami: Sekalian belajar kalau anak kita nanti mau buang air

**lokasi kejadian: kamar mandi rumah, dengan situasi isteri hamil 4 bulanan lagi sembelit parah ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ˜‚

Sebetulnya, biasanya saya rajin makan buah, sayur, dan kadang ditambah yoghurt karena sudah pernah baca artikel sistem pencernaan ibu hamil melambat (untuk proses penyerapan lebih baik/banyak) tetapi berdampak pada kemungkinan sembelit lebih tinggi. Tetapi, dua hari sebelum kejadian tersebut, saya ada kegiatan seharian di luar rumah dengan menu makan seadanya. Jadilah malapetaka di hari Minggu itu pun terjadi. Berjam-jam saya cuma bolak-balik ke kamar mandi tanpa hasil. Suami pun sudah bolak-balik keluar rumah beli yoghurt, buah, dan obat yang direkomendasikan oleh dokter kandungan; sambil dia juga ke rumah saudara yang (lokasinya tidak jauh dari rumah) menjadi tuan rumah arisan keluarga kami.

Penyesalan memang selalu datang belakangan ya, kalau di depan jadinya pendaftaran.

Jangan ditanya prosesnya seperti apa mengeluarkan tinja yang mengeras sambil kepikiran jangan sampai kontraksi ke janin. Rasa sakit dan tidak nyamannya memang tidak tertahankan tapi yang lebih membuat saya kuatir dampaknya ke janin kembar kami. Takut hal buruk terjadi.

Hari itu saya berjanji apa pun situasinya, saya tidak akan membiarkan hal yang sama terulang kembali. Sembelit adalah faktor yang bisa dikontrol, no excuses.

Saya: Kamu yakin udah siap anter anak buang air? *suami saya terkenal jijikan waktu kecil. Saking parahnya, dia ke toilet aja pake sepatu karena tidak mau kena yang kotor

Suami: Yakin! (Mantap kali jawabnya). Aku udah kebayang diteriakin baby A dari kamar mandi, papaaaaa cebokkkkk!!

Saya: ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Ditengah rasa derita yang kemudian masih berbekas beberapa hari kemudian, ada saja hal-hal yang membuat hati terasa hangat dan senyum tak mampu dibendung. Saya yakin pak suami siap.

Moral of story: ibu-ibu hamil wajib BANYAK makan sayur dan buah. No excuses.

Dewasa Tantrum

Beberapa tahun lalu, ada satu kejadian yang cukup berbekas dalam ingatan. Waktu itu, saya hendak pergi makan malam romantis #uhuk sama suami. Suami dari kantor, saya dari rumah. Jadi kami janjian di salah satu restoran dekat rumah. Tidak perlu tempat fancy untuk membuat suasana romantis kan *iyain aja hehe.

Karena dekat, saya memesan ojek online yang ternyata membawa drama yang merusak rencana malam itu. Rumah saya persis di pertigaan, jadi biasanya saya memberitahu patokan entah warna pagar rumah atau ada apa di seberang rumah. Mungkin karena sudah malam, waktu itu GPS aplikasi belum seakurat sekarang, dan abang ojek online-nya pun bukan orang setempat, terjadi telepon bolak-balik menanyakan alamat. Ojek online-nya sampai memberikan telepon ke salah satu pemilik warung untuk menengahi pertanyaan arah yang ternyata memperkeruh karena si pemilik warung tidak bisa menjelaskan posisi warungnya dimana, dekat apa dengan patokan yang saya sampaikan. Ujung-ujungnya, ojek online menyalahkan saya karena saya tidak tahu nama warung yang dia sebutkan, dianggap tidak becus bertetangga. Yhaaaa!

Singkat cerita, ego saya terluka hehe. Saya marah balik. Dan saat abang ojeknya sampai depan rumah (yang ternyata dia tadi sudah dekat, cuma berada di jalan yang salah), saya teriak-teriak melampiaskan kemarahan. Dari yang akan melaporkan ke pihak pengelola aplikasi sampai saya kuliahi tentang emotional blackmail. You go far, I go farther (alias lo jual, gw beli marahnya)

Nah, minggu lalu saya waktu sedang mengurus sesuatu di CS sebuah bank, di belakang saya ada customer yang marah-marah. Intinya, dia ingin menarik sekian ratus juta di hari itu, sudah datang ke bank kemarin, dan menurut dia pihak bank menjanjikan uangnya bisa diambil hari ini. Jadi teriakan yang cukup terdengar “Saya tidak mau tahu…”, “Itu kan uang saya, kok dibuat susah…”, dan seterusnya. Kan ruangan bank-nya kecil jadi otomatis semua mata memandang ke sumber keributan tersebut. Si mbak CS yang ada di depan saya kemudian cerita kalau sebetulnya, dialog yang terjadi di hari sebelumnya adalah pihak bank akan menelepon si ibu saat uangnya sudah tersedia. Jumlah yang mau ditarik tersebut terlalu besar, tidak tersedia di kas bank. Jadi perlu ada prosedur untuk pengiriman uang dulu, dan seterusnya.

Dari dua cerita ini, bukan perihal siapa yang benar dan salah yang ingin saya bahas. Tentunya, akan selalu ada reasoning yang membuat/menjadikan kita berada di pihak yang benar atau berhak atas sesuatu. Tetapi, reaksi/respon kita terhadap situasi menunjukkan tingkat kedewasaan. Dan ini juga bukan tentang anggapan salah satu gender lebih emosian, saya sering kok melihat laki-laki juga gampang terpancing emosi hehe. Saat emosi mengambil alih pikiran, kita cenderung melontarkan ucapan sekenanya, tidak peduli itu benar/salah, menyakitkan/tidak, tepat/tidak. Itu seperti pelampiasan rasa kecewa dan marah. Yang terkadang membuat kita jauh dari pikiran logis untuk mencari solusinya. Ya kadang kita mendapatkan apa yang kita mau dengan melampiaskan emosi sih, tetapi ujungnya rasanya tidak enak, melelahkan.

Suami saya jauh lebih dewasa akan hal ini dibandingkan saya. Dia jarang menaikkan suara saat sedang marah atau menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Kalaupun suaranya naik beberapa oktaf, tetapi runutan kata-katanya biasanya masih logis. Salah satu kejadian terakhir saat mobil kami ditabrak truk dari belakang, di jalan tol dengan kondisi macet, yang mengakibatkan kaca belakang pecah total. Ada asuransi sih, tetapi membayangkan mobil masuk bengkel sebulan dan kerepotan yang ditimbulkan. Dia menanganinya dengan tenang (dari ceritanya saya asumsikan begitu). Dia minta surat tanda pengenal supir dan surat jalan pengiriman untuk jaminan ganti rugi dan sampai minta nomer kontak perusahaan yang memakai jasa truk tersebut. Akhir cerita, mobil masuk bengkel, ada mobil pengganti dari kantor, dan ganti rugi dari perusahaan pemakai jasa trus.

Saya masih perlu belajar banyak dari suami sih ini hehe. Soalnya kalau diingat lagi, pengalaman saya dan si ibu di bank tersebut, mirip sama anak-anak yang sedang tantrum. Maunya teriak-teriak melampiaskan rasa kesal dan marah tetapi belum tentu membuat orang yang mendengar menjadi mengerti apa yang kita inginkan. Yuk, belajar untuk tidak menjadi dewas yang tantruman, setidaknya mengurangi lahhhh….

1st Trimester Story

Apa yang terjadi selama trimester pertama kehamilan?

Sebelum hamil, saya cuma sebatas tahu kalau ada dua kategori (setidaknya) yaitu kehamilan yang mudah/lancar dan yang sulit (morning sickness, dll). Walaupun saya pernah melihat saudara/teman hamil, tetapi tidak pernah sampai pada pertanyaan apa yang sebetulnya terjadi dan perasaan yang mereka alami. Hingga tibalah giliran saya.

Jeng…jeng… *sedikit bumbu drama untuk memulai

Setelah dokter memastikan kami hamil anak kembar di pemeriksaan BHCG kedua, seluruh keberadaan fisik dan emosi saya sepertinya ikut mengaminkan perubahan situasi yang terjadi di badan saya. Saya mengalami mual yang cukup parah, sepanjang hari (uhuk); kepala pusing, padahal dalam kondisi normal saya jarang, hampir tidak pernah sakit kepala; eneg dengan berbagai hal (bau suami, makanan, aktivitas memasak, dll); cepat merasa lelah. Jadi bisa dibilang, sehari-hari saya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.

Urusan perdapuran sempat mengandalkan go-food selama beberapa minggu yang kemudian diganti dengan katering. Sementara urusan bersih-bersih rumah didelegasikan ke tetangga yang bersedia untuk datang 2x dalam seminggu (pulang hari). Jadi, kalau ada hari dimana rumah berantakan dan tidak dibersihkan, saya sudah pasrah (tepatnya tidak sanggup memikirkannya).

Puji syukur, nafsu makan tidak terganggu (hahahaha). Walaupun eneg, saya masih bisa makan. Hanya saja biasanya bawang goreng adalah penambah kenikmatan makan, kali ini berubah menjadi musuh #dropshay. Setelah makan, biasanya eneg lagi sih. Jadi, saya menerapkan tips makan 6x porsi kecil sepanjang hari, biar sedikit tapi sering. Mama mertua juga rajin mengirimkan makanan, padahal kaki beliau juga masih belum sembuh total dari operasi pengapuran. Dan, bisa dibilang rasa makanan mertua lah yang paling pas selama hamil. Beberapa makanan yang dibeli atau dari katering terkadang menimbulkan rasa pahit atau aneh di lidah setelah memakannya.

Hingga suatu hari, saya ngobrol melalui dunia maya dengan seorang yang saya panggil “Ibuu”, kebetulan dia baru melahirkan jadi awalnya saya hanya ingin bertanya seputar tips kehamilan. Di akhir obrolan, saya sempat cerita kalau ternyata trimester pertama cukup berat buat saya dan merasa bersalah kalau mengeluhkannya karena rasa tidak nyaman yang saya rasakan sekarang tidak sebanding dengan perjuangan mendapatkannya. I should survive this phase too. This too shall pass *rapal mantra. Dan kemudian satu kalimatnya yang menyadarkan saya akan emosi tersembunyi “I understand the feeling going through this kinda situation without your mom”. She lost her mom few year ago too. Jadilah kami berdua menangis di dunia maya.

Saya tidak melupakan ibu, tetapi terkadang memang seperti otomatis kenangan (dan harapan) untuk ibu saya masih ada disimpan di memory paling jauh untuk dipanggil lagi. Karena saya tahu tidak mungkin mengharapkan ada sosok ibu tempat saya mengadu atau bertanya tentang kehamilan, jadi memory ini seperti disisihkan sejauh-jauhnya. Tetapi, ternyata tidak sehat juga mengabaikan emosi/memory yang demikian. Setelah proses menerima harapan yang tidak mungkin ini, saya merasa lebih dikuatkan untuk melalui hari. Dan benar sih, masuk ke trimester kedua, semua gejala morning sickness bisa dibilang hilang atau jarang sekali terasa lagi.

Catatan ini mengingatkan saya betapa berharganya jika kita masih memiliki ibu saat menjalani kehamilan, sebuah pengalaman yang saya tidak akan alami. Jadi, kalau yang masih punya ibu, hayuk atuh disayang dan didoakan ibunya panjang umur. Kalaupun situasinya sama dengan saya, tidak apa-apa, kita juga akan dikuatkan karena kitalah yang segera menjadi ibu dan bisa mengajarkan anak kita untuk menyayangi orang tua dengan perspektif yang mungkin lebih dalam.

 

#birthdaynote 34

Ulang tahunnya sebetulnya bulan lalu, apa daya saat itu perjuangan sehari-hari berkutat dengan morning sickness jadi baru sekarang punya tenaga untuk menuliskan catatan per-tahun ini.

Ada beberapa hal yang terasa nyata di usia sekarang:

1. Makin sering lupa hitungan usia. Beberapa kali mendapat pertanyaan “Usianya berapa?” (khususnya saat mengisi berkas dokumen) dan saya lupa mendadak. Kalau dulu entah karena gelisah usia bertambah dibandingkan dengan “pencapaian hidup”, sekarang hampir tidak pernah memikirkan angka usia lagi.

2. Ini hidup terbaik, kalau mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu, saya memilih untuk tidak melakukannya. Memang beberapa pengalaman mengajarkan arti hidup yang pahit, tetapi itu pun berperan penting membentuk siapa saya sekarang.

3. Saya semakin mencintai suami (uhuk!). Tahun ini memang banyak perjuangan yang kami lakukan bersama, khususnya dalam perjalanan kehamilan. Apa yang dia lakukan membuat saya semakin menghargainya sebagai pasangan, dan menumbuhkan keyakinan yang semakin mantap dia akan menjadi ayah terbaik untuk anak-anak kami. Salah satu indikatornya, saya semakin nyaman untuk menceritakan hal-hal yang saya rasakan tidak nyaman sehari-hari.

Catatan ini untuk mengingatkan saya bahwa di tahun-tahun mendatang pengalaman mungkin membawa perspektif berbeda yang mengubah cara pandang, semoga ke arah yang lebih baik tentunya. Tetapi, untuk sekarang, saya mau bersyukur untuk semua yang saya miliki.

Mencintai kehidupan, apa adanya.

-i

Our IVF Result

Halo lagi!

Dua bulan terakhir, minat untuk menulis hilang sama sekali, bahkan instagram pun cuma bertambah 2 foto. Sebetulnya tidak ada maksud untuk menghilang tetapi selama dua bulan terakhir, pertemanan dengan kasur melebihi apapun yang terjadi di luar sana (terdengar eh terbaca lebay ya hehe).

 

30 Mei 2018 – Tes BhCG (pertama)ย 

Setelah melewati masa tunggu dua minggu (two weeks wait), kami dijadwalkan untuk melakukan tes darah untuk menghitung hCG (Human chorionic gonadotropin). Rasa di hati pastinya campur aduk karena setelah darah diambil, kami masih menunggu sekitar 2 jam untuk hasil tes keluar, ditambah sekitar 1 jam antrian dengan pasien lainnya.

IMG_8836

yang lagi stress nunggu hasil tes BhCG part.1

Saya pribadi sebetulnya pasrah apapun hasilnya. Tetapi, dalam berbagai cara, saya seperti selalu diingatkan, pasrah tidak berarti lemah atau menyerah. Pasrah saya seperti sebuah determinasi, cuma ada satu pilihan yaitu Tuhan memberikan apa yang kami minta. Apakah itu seperti memaksa? Tidak, menurut saya. Karena yang saya rasakan adalah suatu semangat dan keyakinan yang terfokus pada satu tujuan.

Hasil BhCG-nya menunjukkan angka 44!

Senang dong pastinya :). Dokter belum melakukan USG karena kemungkinan masih belum kelihatan juga. Dan kita juga lupa bertanya perkiraan usia janin (kemudian hari, setelah saya hitung lagi, usianya baru sekitar 3 minggu). Kami diminta untuk kembali 2 minggu lagi untuk tes BhCG (lagi) untuk memastikan janin bertumbuh atau tidak. Pesan dari dokter Devindran, jangan terlalu excited dulu karena worst scenario masih sangat mungkin terjadi. Jadi kami sepakat untuk membatasi informasi ke keluarga inti dan beberapa teman dekat saja, sekalian minta didoain #FakirDoa

Sesudah urusan rumah sakit selesai, sorenya kami langsung terbang kembali ke Jakarta. Masa tinggal saya di Penang sudah 29 hari, dan saya tidak mau ambil resiko harus perpanjang visa karena tinggal lebih dari 30 hari. Mungkin banyak yang bertanya apakah aman untuk naik pesawat? Pertama, tentunya dengan seijin dokter. Kedua, jika rute penerbangannya bukan daerah turbulensi luar biasa dan tidak terlalu lama, harusnya aman walau usia kandungan masih muda. Saya justru terkadang lebih kuatir naik mobil dengan jalan berlubang atau polisi tidur yang terlalu tinggi, lebih berasa hentakannya di perut.

Note: penerbangan kami sempat ditunda, pesawat kembali ke gerbang keberangkatan padahal sudah ke area lepas landas karena ada kendala teknis (info yang kami dengar ada kendala mesin tidak bisa lepas landas). Untunglah, cuma butuh sekitar 30 menit untuk perbaikan #DramaPenerbangan babak kesekian

11 Juni 2018 – tes BhCG (kedua)

Menuju hari tes BhCG kedua ini, rasanya jauh lebih stress. Saya tahu kalau sedang hamil tetapi apa rasanya kalau ternyata tes kedua malah jadi tidak hamil. Saya bolak-balik menelusuri artikel dan review apa makna dari angka 44, apakah ini angka minimal yang bagus atau sebetulnya bisa jadi terlalu rendah. Stress deh pokoknya.

Bulan Agustus 2017, saya sedang ada acara huddle bersama Nina dan Mas Sunu. Nina baru kembali dari silent retreat di Bali, dan dia menceritakan hal positif yang dia rasakan dari retreat tersebut. Saat itu, entah kenapa ada dorongan dihati saya untuk cerita, kalau tahun 2017 itu saya merasa didorong untuk berdoa yang spesifik terkait program hamil kami. Saya berdoa untuk mendapatkan anak kembar. Waktu itu, kalau saya pikir kembali, pertimbangannya karena usia, saya ingin menjadi orang tua yang maksimal, menemani pertumbuhan anak-anak kami selama mungkin. Jadi kalau anak pertama baru lahir di tahun 2018, berarti anak kedua paling cepat usia saya sekitar 37 tahun. Perhitungan sederhana dari logika matematika rumah tangga juga.

Dari blog yang saya baca, hasil tes BhCG dari kehamilan kembar biasanya diatas 500 sampai hampir 1000, jadi sebetulnya saya tidak terlalu memikirkan doa di tahun sebelumnya itu. Fokus-nya cuma si janin sehat, titik. Tetapi, saat duduk di ruang tunggu pasien, seperti ada pertanyaan yang muncul di hati (ehm, gimana ya menjelaskannya. Semacam pertanyaan yang muncul tiba-tiba padahal lagi enggak kepikiran lah), gimana kalau saya hamil anak kembar? Saya kaget sendiri sih kok tiba-tiba kepikiran pertanyaan tersebut. Sejujurnya, saya lagi takut dengan hasil tes darahnya dan ditambah pertanyaan tersebut. I said to God “I’m scared but let Your will be done because I know You will strengthening us to do Your will”.

Di meja dokter Devindran, secarik kertas hasil laporan tes BhCG kami menunjukkan angka 6,995. Dari hasil USG sudah kelihatan ada 2 kantong janin. Senangnya minta ampun, antara mau menangis, ketawa, campur aduk deh.

IMG_8877

oh, hello you two ;*

 

PHOTO-2018-05-31-05-03-27

Mandatory picture with our doctor & team (missing Nurse Mei & Nurse Lim)

 

PHOTO-2018-05-31-05-03-26

Found Ms. Lim, one of caring nurse we treasured

 

Dari angka statistik, untuk pasangan dibawah usia 35 tahun, kemungkinan program IVF berhasil hamil sekitar 40% (jumlah ini menurun lagi kalau dilihat sampai kelahiran, saya lupa persisnya). Jadi, bisa dibilang kami sangat beruntung berhasil di percobaan pertama. Walaupun penuh drama selama 5 bulan terakhir, bolak-balik Jakarta-Penang.

Keberhasilan ini tidak membuktikan kami lebih baik dari pasangan lainnya yang belum berhasil. Kami hanya sudah berada di ‘waktunya’ saja. To all my dearest TTC fellows, our thought and prayer are always with you. May the ‘right time’ come to your way, as soonest! Tetap semangat yaa…

Note: #DramaPenerbangan Penang-Jakarta, pesawat kami harusnya berangkat pagi tetapi kemudian pesawat dari Jakarta tak kunjung hadir, delay pertama kemungkinan berangkat siang/sore. Kemudian, ternyata delay lagi dan mungkin baru berangkat malam. Oh well, karena pengalaman sebelumnya pesawat dari Jakarta baru tiba di Penang jam 10 malam, kami tidak mau mengambil resiko. Untuk pertama kalinya, passport kami dicoret karena tidak jadi berangkat. Kami kembali ke hotel dan memesan tiket penerbangan esok hari, dengan maskapai berbeda. Refund tiket sudah diurus, karena delay-nya lebih dari 10 jam, tetapi sampai hari ini belum ada kabar.

Part 9: IVF ~ Frozen Embryo Transfer

Warning:

Kalau sedang ikut program IVF, sedang menunggu jadwal ET atau FET, dan/atau bukan tipe berhati baja menerima kabar buruk, sebaiknya skip tulisan ini.

 

Beberapa hari sebelum embryo transfer dilakukan, saya bertemu dokter kembali untuk pemeriksaan. It was a wonderful day. Dokter Devindran sepertinya sedang in a really good mood karena sepanjang pemeriksaan banyak tertawa. Dia menanyakan pendapat saya tentang dr. Voon (saat saya sedang menstruasi beliau sedang cuti jadi digantikan oleh dr. Voon yang adalah isterinya sendiri). Dia cerita kalau dr. Voon sering mengaku sebagai his girlfriend instead of his wife, LOLs. Actually, I had really a good time with dr. Voon, my first female Obgyn. She was really nice and gentle.

Saya akan menjalani proses embryo transfer sendirian karena suami sedang ada pekerjaan di kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Adik saya yang di Bandung masih belum mendapat jadwal antrian passport padahal sudah dari beberapa bulan lalu dia coba daftar (blame it to current online registration system!), dan adik ipar saya juga sudah menghabiskan cukup banyak cuti di awal bulan ini saat kami menemani mama mertua operasi di Penang juga. Entah kenapa, insting saya merasa saya lebih nyaman untuk melalui ini sendiri. I need to cherish every minute of the process alone *my introvert side spoke*

I wore my comfy new bought dark blue dress and strolled excitedly (and nervously) from new building to the clinic. Then, I met Ms. Lim,

โ€˜Embryo-nya tidak bertahan setelah di thawingโ€™

Itu adalah kabar yang saya terima di jam 10 pagi. Saya mencoba tersenyum ke Ms. Lim yang berusaha menyemangati saya. Dua embryo berikutnya (our last embryo) sedang dicairkan dan hasilnya baru akan dikabari di jam 2 siang.

Saya menahan untuk tidak langsung menginformasikannya ke suami, keluarga dan teman di Jakarta karena saya tidak siap dengan segala bentuk emotional responses apapun saat itu. Saya bimbang antara pilihan balik ke hotel atau duduk menenangkan diri di antara pasien lainnya di ruang tunggu. I chose the later option.

Kebetulan, ada Fitri (room-mate saya di apartemen sebelumnya) yang sedang menunggu hasil OPU sebelum kembali ke Jakarta sorenya. Lucunya, kami menjalani OPU di hari yang sama di bulan Maret lalu, tetapi suami saya yang ngobrol dengan suami Fitri di ruang tunggu operasi. Selain itu, juga ada teman baru yang kebetulan namanya Fitri juga. Jadi kami ngobrol bertiga. Setelah berpisah, saya bertemu dengan cici Francy (isteri Edward Suhadi) juga, jadilah ngobrol dan berbagi pengalaman. Terakhir, saya bertemu Anggi, room-mate saya waktu di ruang rawat inap setelah operasi beberapa bulan lalu. Unfortunately, satu pun saya tidak ingat untuk ngajak foto bareng *teteup ya*

Sejujurnya, walaupun saya ngobrol sana-sini seperti biasa, tetapi di dalam hati seperti ada bolongan yang rasanya ngilu sekali. Embryologist pernah menginformasikan kalau ada kemungkinan embryo yang di-thawing turun atau naik grade, tetapi seingat saya tidak dengan kemungkinan embryo-nya tidak bertahan. I guess I was too shock about the news and too numb to cry. Saya pasrah dan merelakan kesempatan pertama kami hilang dan berharap yang terbaik untuk dua embryo berikutnya. I just need to wait couple hours more that felt so longโ€ฆ

Saya masuk ke ruangan klinik untuk dokter melakukan pemeriksaan terakhir saat jam menunjukkan hampir pukul 2 siang. Situasinya, dokter Devindran tidak banyak berbicara, sementara saya duduk dengan cemas menunggu karena embryologist belum memberi kabar juga. Ms. Lim mondar-mandir di belakang saya sambil menelepon, she spoke in Chinese, intentionally I guessed. Saat dia pindah ke sebelah dokter Devindran dan tersenyum barulah saya bisa bernafas lega. Embryo-nya bertahan. Thatโ€™s the only news I need to hear.

Akhirnya, kami sampai juga di tahap embryo transfer. Prosesnya sendiri cuma sekitar 15 menit (kebetulan ada jam di ruang operasi jadi saya sempat mengecek waktunya), proses menuju tahap ini aja yang lamanya lumayan ya. Saat prosesnya selesai, Ms. Elaine yang menjemput saya kembali ke klinik untuk diberikan suntikan pregnyl di lengan. Ruangan klinik sudah sepi, tetapi saya masih bertemu Anggi dan suaminya.

Yang lucu adalah saat saya menjelaskan ke Ms. Elaine kalau saya akan jalan kaki pulang ke hotel (letaknya persis di seberang gedung baru rumah sakit, memang jalannya cukup jauh dari gedung lama tetapi kalau pelan-pelan harusnya tidak apa-apa), dia insisted untuk saya naik taksi saja. Sampai akhirnya, Ms. Lim yang mendengar pembicaraan kami menawarkan untuk mengantar saya pulang, sekalian dia juga sudah selesai jam kerjanya. See! I once told dr. Voonย  that these nurses are really like a true sisters for me. I truly mean it.

Back to hotel, safe and sound, and so tired. So, here weโ€™re now on our r(n)esting days! Be good and grow healthily there, our twinny embryos!