Dewasa Tantrum

Beberapa tahun lalu, ada satu kejadian yang cukup berbekas dalam ingatan. Waktu itu, saya hendak pergi makan malam romantis #uhuk sama suami. Suami dari kantor, saya dari rumah. Jadi kami janjian di salah satu restoran dekat rumah. Tidak perlu tempat fancy untuk membuat suasana romantis kan *iyain aja hehe.

Karena dekat, saya memesan ojek online yang ternyata membawa drama yang merusak rencana malam itu. Rumah saya persis di pertigaan, jadi biasanya saya memberitahu patokan entah warna pagar rumah atau ada apa di seberang rumah. Mungkin karena sudah malam, waktu itu GPS aplikasi belum seakurat sekarang, dan abang ojek online-nya pun bukan orang setempat, terjadi telepon bolak-balik menanyakan alamat. Ojek online-nya sampai memberikan telepon ke salah satu pemilik warung untuk menengahi pertanyaan arah yang ternyata memperkeruh karena si pemilik warung tidak bisa menjelaskan posisi warungnya dimana, dekat apa dengan patokan yang saya sampaikan. Ujung-ujungnya, ojek online menyalahkan saya karena saya tidak tahu nama warung yang dia sebutkan, dianggap tidak becus bertetangga. Yhaaaa!

Singkat cerita, ego saya terluka hehe. Saya marah balik. Dan saat abang ojeknya sampai depan rumah (yang ternyata dia tadi sudah dekat, cuma berada di jalan yang salah), saya teriak-teriak melampiaskan kemarahan. Dari yang akan melaporkan ke pihak pengelola aplikasi sampai saya kuliahi tentang emotional blackmail. You go far, I go farther (alias lo jual, gw beli marahnya)

Nah, minggu lalu saya waktu sedang mengurus sesuatu di CS sebuah bank, di belakang saya ada customer yang marah-marah. Intinya, dia ingin menarik sekian ratus juta di hari itu, sudah datang ke bank kemarin, dan menurut dia pihak bank menjanjikan uangnya bisa diambil hari ini. Jadi teriakan yang cukup terdengar “Saya tidak mau tahu…”, “Itu kan uang saya, kok dibuat susah…”, dan seterusnya. Kan ruangan bank-nya kecil jadi otomatis semua mata memandang ke sumber keributan tersebut. Si mbak CS yang ada di depan saya kemudian cerita kalau sebetulnya, dialog yang terjadi di hari sebelumnya adalah pihak bank akan menelepon si ibu saat uangnya sudah tersedia. Jumlah yang mau ditarik tersebut terlalu besar, tidak tersedia di kas bank. Jadi perlu ada prosedur untuk pengiriman uang dulu, dan seterusnya.

Dari dua cerita ini, bukan perihal siapa yang benar dan salah yang ingin saya bahas. Tentunya, akan selalu ada reasoning yang membuat/menjadikan kita berada di pihak yang benar atau berhak atas sesuatu. Tetapi, reaksi/respon kita terhadap situasi menunjukkan tingkat kedewasaan. Dan ini juga bukan tentang anggapan salah satu gender lebih emosian, saya sering kok melihat laki-laki juga gampang terpancing emosi hehe. Saat emosi mengambil alih pikiran, kita cenderung melontarkan ucapan sekenanya, tidak peduli itu benar/salah, menyakitkan/tidak, tepat/tidak. Itu seperti pelampiasan rasa kecewa dan marah. Yang terkadang membuat kita jauh dari pikiran logis untuk mencari solusinya. Ya kadang kita mendapatkan apa yang kita mau dengan melampiaskan emosi sih, tetapi ujungnya rasanya tidak enak, melelahkan.

Suami saya jauh lebih dewasa akan hal ini dibandingkan saya. Dia jarang menaikkan suara saat sedang marah atau menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Kalaupun suaranya naik beberapa oktaf, tetapi runutan kata-katanya biasanya masih logis. Salah satu kejadian terakhir saat mobil kami ditabrak truk dari belakang, di jalan tol dengan kondisi macet, yang mengakibatkan kaca belakang pecah total. Ada asuransi sih, tetapi membayangkan mobil masuk bengkel sebulan dan kerepotan yang ditimbulkan. Dia menanganinya dengan tenang (dari ceritanya saya asumsikan begitu). Dia minta surat tanda pengenal supir dan surat jalan pengiriman untuk jaminan ganti rugi dan sampai minta nomer kontak perusahaan yang memakai jasa truk tersebut. Akhir cerita, mobil masuk bengkel, ada mobil pengganti dari kantor, dan ganti rugi dari perusahaan pemakai jasa trus.

Saya masih perlu belajar banyak dari suami sih ini hehe. Soalnya kalau diingat lagi, pengalaman saya dan si ibu di bank tersebut, mirip sama anak-anak yang sedang tantrum. Maunya teriak-teriak melampiaskan rasa kesal dan marah tetapi belum tentu membuat orang yang mendengar menjadi mengerti apa yang kita inginkan. Yuk, belajar untuk tidak menjadi dewas yang tantruman, setidaknya mengurangi lahhhh….

Advertisements

1st Trimester Story

Apa yang terjadi selama trimester pertama kehamilan?

Sebelum hamil, saya cuma sebatas tahu kalau ada dua kategori (setidaknya) yaitu kehamilan yang mudah/lancar dan yang sulit (morning sickness, dll). Walaupun saya pernah melihat saudara/teman hamil, tetapi tidak pernah sampai pada pertanyaan apa yang sebetulnya terjadi dan perasaan yang mereka alami. Hingga tibalah giliran saya.

Jeng…jeng… *sedikit bumbu drama untuk memulai

Setelah dokter memastikan kami hamil anak kembar di pemeriksaan BHCG kedua, seluruh keberadaan fisik dan emosi saya sepertinya ikut mengaminkan perubahan situasi yang terjadi di badan saya. Saya mengalami mual yang cukup parah, sepanjang hari (uhuk); kepala pusing, padahal dalam kondisi normal saya jarang, hampir tidak pernah sakit kepala; eneg dengan berbagai hal (bau suami, makanan, aktivitas memasak, dll); cepat merasa lelah. Jadi bisa dibilang, sehari-hari saya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.

Urusan perdapuran sempat mengandalkan go-food selama beberapa minggu yang kemudian diganti dengan katering. Sementara urusan bersih-bersih rumah didelegasikan ke tetangga yang bersedia untuk datang 2x dalam seminggu (pulang hari). Jadi, kalau ada hari dimana rumah berantakan dan tidak dibersihkan, saya sudah pasrah (tepatnya tidak sanggup memikirkannya).

Puji syukur, nafsu makan tidak terganggu (hahahaha). Walaupun eneg, saya masih bisa makan. Hanya saja biasanya bawang goreng adalah penambah kenikmatan makan, kali ini berubah menjadi musuh #dropshay. Setelah makan, biasanya eneg lagi sih. Jadi, saya menerapkan tips makan 6x porsi kecil sepanjang hari, biar sedikit tapi sering. Mama mertua juga rajin mengirimkan makanan, padahal kaki beliau juga masih belum sembuh total dari operasi pengapuran. Dan, bisa dibilang rasa makanan mertua lah yang paling pas selama hamil. Beberapa makanan yang dibeli atau dari katering terkadang menimbulkan rasa pahit atau aneh di lidah setelah memakannya.

Hingga suatu hari, saya ngobrol melalui dunia maya dengan seorang yang saya panggil “Ibuu”, kebetulan dia baru melahirkan jadi awalnya saya hanya ingin bertanya seputar tips kehamilan. Di akhir obrolan, saya sempat cerita kalau ternyata trimester pertama cukup berat buat saya dan merasa bersalah kalau mengeluhkannya karena rasa tidak nyaman yang saya rasakan sekarang tidak sebanding dengan perjuangan mendapatkannya. I should survive this phase too. This too shall pass *rapal mantra. Dan kemudian satu kalimatnya yang menyadarkan saya akan emosi tersembunyi “I understand the feeling going through this kinda situation without your mom”. She lost her mom few year ago too. Jadilah kami berdua menangis di dunia maya.

Saya tidak melupakan ibu, tetapi terkadang memang seperti otomatis kenangan (dan harapan) untuk ibu saya masih ada disimpan di memory paling jauh untuk dipanggil lagi. Karena saya tahu tidak mungkin mengharapkan ada sosok ibu tempat saya mengadu atau bertanya tentang kehamilan, jadi memory ini seperti disisihkan sejauh-jauhnya. Tetapi, ternyata tidak sehat juga mengabaikan emosi/memory yang demikian. Setelah proses menerima harapan yang tidak mungkin ini, saya merasa lebih dikuatkan untuk melalui hari. Dan benar sih, masuk ke trimester kedua, semua gejala morning sickness bisa dibilang hilang atau jarang sekali terasa lagi.

Catatan ini mengingatkan saya betapa berharganya jika kita masih memiliki ibu saat menjalani kehamilan, sebuah pengalaman yang saya tidak akan alami. Jadi, kalau yang masih punya ibu, hayuk atuh disayang dan didoakan ibunya panjang umur. Kalaupun situasinya sama dengan saya, tidak apa-apa, kita juga akan dikuatkan karena kitalah yang segera menjadi ibu dan bisa mengajarkan anak kita untuk menyayangi orang tua dengan perspektif yang mungkin lebih dalam.

 

#birthdaynote 34

Ulang tahunnya sebetulnya bulan lalu, apa daya saat itu perjuangan sehari-hari berkutat dengan morning sickness jadi baru sekarang punya tenaga untuk menuliskan catatan per-tahun ini.

Ada beberapa hal yang terasa nyata di usia sekarang:

1. Makin sering lupa hitungan usia. Beberapa kali mendapat pertanyaan “Usianya berapa?” (khususnya saat mengisi berkas dokumen) dan saya lupa mendadak. Kalau dulu entah karena gelisah usia bertambah dibandingkan dengan “pencapaian hidup”, sekarang hampir tidak pernah memikirkan angka usia lagi.

2. Ini hidup terbaik, kalau mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu, saya memilih untuk tidak melakukannya. Memang beberapa pengalaman mengajarkan arti hidup yang pahit, tetapi itu pun berperan penting membentuk siapa saya sekarang.

3. Saya semakin mencintai suami (uhuk!). Tahun ini memang banyak perjuangan yang kami lakukan bersama, khususnya dalam perjalanan kehamilan. Apa yang dia lakukan membuat saya semakin menghargainya sebagai pasangan, dan menumbuhkan keyakinan yang semakin mantap dia akan menjadi ayah terbaik untuk anak-anak kami. Salah satu indikatornya, saya semakin nyaman untuk menceritakan hal-hal yang saya rasakan tidak nyaman sehari-hari.

Catatan ini untuk mengingatkan saya bahwa di tahun-tahun mendatang pengalaman mungkin membawa perspektif berbeda yang mengubah cara pandang, semoga ke arah yang lebih baik tentunya. Tetapi, untuk sekarang, saya mau bersyukur untuk semua yang saya miliki.

Mencintai kehidupan, apa adanya.

-i

Our IVF Result

Halo lagi!

Dua bulan terakhir, minat untuk menulis hilang sama sekali, bahkan instagram pun cuma bertambah 2 foto. Sebetulnya tidak ada maksud untuk menghilang tetapi selama dua bulan terakhir, pertemanan dengan kasur melebihi apapun yang terjadi di luar sana (terdengar eh terbaca lebay ya hehe).

 

30 Mei 2018 – Tes BhCG (pertama) 

Setelah melewati masa tunggu dua minggu (two weeks wait), kami dijadwalkan untuk melakukan tes darah untuk menghitung hCG (Human chorionic gonadotropin). Rasa di hati pastinya campur aduk karena setelah darah diambil, kami masih menunggu sekitar 2 jam untuk hasil tes keluar, ditambah sekitar 1 jam antrian dengan pasien lainnya.

IMG_8836

yang lagi stress nunggu hasil tes BhCG part.1

Saya pribadi sebetulnya pasrah apapun hasilnya. Tetapi, dalam berbagai cara, saya seperti selalu diingatkan, pasrah tidak berarti lemah atau menyerah. Pasrah saya seperti sebuah determinasi, cuma ada satu pilihan yaitu Tuhan memberikan apa yang kami minta. Apakah itu seperti memaksa? Tidak, menurut saya. Karena yang saya rasakan adalah suatu semangat dan keyakinan yang terfokus pada satu tujuan.

Hasil BhCG-nya menunjukkan angka 44!

Senang dong pastinya :). Dokter belum melakukan USG karena kemungkinan masih belum kelihatan juga. Dan kita juga lupa bertanya perkiraan usia janin (kemudian hari, setelah saya hitung lagi, usianya baru sekitar 3 minggu). Kami diminta untuk kembali 2 minggu lagi untuk tes BhCG (lagi) untuk memastikan janin bertumbuh atau tidak. Pesan dari dokter Devindran, jangan terlalu excited dulu karena worst scenario masih sangat mungkin terjadi. Jadi kami sepakat untuk membatasi informasi ke keluarga inti dan beberapa teman dekat saja, sekalian minta didoain #FakirDoa

Sesudah urusan rumah sakit selesai, sorenya kami langsung terbang kembali ke Jakarta. Masa tinggal saya di Penang sudah 29 hari, dan saya tidak mau ambil resiko harus perpanjang visa karena tinggal lebih dari 30 hari. Mungkin banyak yang bertanya apakah aman untuk naik pesawat? Pertama, tentunya dengan seijin dokter. Kedua, jika rute penerbangannya bukan daerah turbulensi luar biasa dan tidak terlalu lama, harusnya aman walau usia kandungan masih muda. Saya justru terkadang lebih kuatir naik mobil dengan jalan berlubang atau polisi tidur yang terlalu tinggi, lebih berasa hentakannya di perut.

Note: penerbangan kami sempat ditunda, pesawat kembali ke gerbang keberangkatan padahal sudah ke area lepas landas karena ada kendala teknis (info yang kami dengar ada kendala mesin tidak bisa lepas landas). Untunglah, cuma butuh sekitar 30 menit untuk perbaikan #DramaPenerbangan babak kesekian

11 Juni 2018 – tes BhCG (kedua)

Menuju hari tes BhCG kedua ini, rasanya jauh lebih stress. Saya tahu kalau sedang hamil tetapi apa rasanya kalau ternyata tes kedua malah jadi tidak hamil. Saya bolak-balik menelusuri artikel dan review apa makna dari angka 44, apakah ini angka minimal yang bagus atau sebetulnya bisa jadi terlalu rendah. Stress deh pokoknya.

Bulan Agustus 2017, saya sedang ada acara huddle bersama Nina dan Mas Sunu. Nina baru kembali dari silent retreat di Bali, dan dia menceritakan hal positif yang dia rasakan dari retreat tersebut. Saat itu, entah kenapa ada dorongan dihati saya untuk cerita, kalau tahun 2017 itu saya merasa didorong untuk berdoa yang spesifik terkait program hamil kami. Saya berdoa untuk mendapatkan anak kembar. Waktu itu, kalau saya pikir kembali, pertimbangannya karena usia, saya ingin menjadi orang tua yang maksimal, menemani pertumbuhan anak-anak kami selama mungkin. Jadi kalau anak pertama baru lahir di tahun 2018, berarti anak kedua paling cepat usia saya sekitar 37 tahun. Perhitungan sederhana dari logika matematika rumah tangga juga.

Dari blog yang saya baca, hasil tes BhCG dari kehamilan kembar biasanya diatas 500 sampai hampir 1000, jadi sebetulnya saya tidak terlalu memikirkan doa di tahun sebelumnya itu. Fokus-nya cuma si janin sehat, titik. Tetapi, saat duduk di ruang tunggu pasien, seperti ada pertanyaan yang muncul di hati (ehm, gimana ya menjelaskannya. Semacam pertanyaan yang muncul tiba-tiba padahal lagi enggak kepikiran lah), gimana kalau saya hamil anak kembar? Saya kaget sendiri sih kok tiba-tiba kepikiran pertanyaan tersebut. Sejujurnya, saya lagi takut dengan hasil tes darahnya dan ditambah pertanyaan tersebut. I said to God “I’m scared but let Your will be done because I know You will strengthening us to do Your will”.

Di meja dokter Devindran, secarik kertas hasil laporan tes BhCG kami menunjukkan angka 6,995. Dari hasil USG sudah kelihatan ada 2 kantong janin. Senangnya minta ampun, antara mau menangis, ketawa, campur aduk deh.

IMG_8877

oh, hello you two ;*

 

PHOTO-2018-05-31-05-03-27

Mandatory picture with our doctor & team (missing Nurse Mei & Nurse Lim)

 

PHOTO-2018-05-31-05-03-26

Found Ms. Lim, one of caring nurse we treasured

 

Dari angka statistik, untuk pasangan dibawah usia 35 tahun, kemungkinan program IVF berhasil hamil sekitar 40% (jumlah ini menurun lagi kalau dilihat sampai kelahiran, saya lupa persisnya). Jadi, bisa dibilang kami sangat beruntung berhasil di percobaan pertama. Walaupun penuh drama selama 5 bulan terakhir, bolak-balik Jakarta-Penang.

Keberhasilan ini tidak membuktikan kami lebih baik dari pasangan lainnya yang belum berhasil. Kami hanya sudah berada di ‘waktunya’ saja. To all my dearest TTC fellows, our thought and prayer are always with you. May the ‘right time’ come to your way, as soonest! Tetap semangat yaa…

Note: #DramaPenerbangan Penang-Jakarta, pesawat kami harusnya berangkat pagi tetapi kemudian pesawat dari Jakarta tak kunjung hadir, delay pertama kemungkinan berangkat siang/sore. Kemudian, ternyata delay lagi dan mungkin baru berangkat malam. Oh well, karena pengalaman sebelumnya pesawat dari Jakarta baru tiba di Penang jam 10 malam, kami tidak mau mengambil resiko. Untuk pertama kalinya, passport kami dicoret karena tidak jadi berangkat. Kami kembali ke hotel dan memesan tiket penerbangan esok hari, dengan maskapai berbeda. Refund tiket sudah diurus, karena delay-nya lebih dari 10 jam, tetapi sampai hari ini belum ada kabar.

Part 9: IVF ~ Frozen Embryo Transfer

Warning:

Kalau sedang ikut program IVF, sedang menunggu jadwal ET atau FET, dan/atau bukan tipe berhati baja menerima kabar buruk, sebaiknya skip tulisan ini.

 

Beberapa hari sebelum embryo transfer dilakukan, saya bertemu dokter kembali untuk pemeriksaan. It was a wonderful day. Dokter Devindran sepertinya sedang in a really good mood karena sepanjang pemeriksaan banyak tertawa. Dia menanyakan pendapat saya tentang dr. Voon (saat saya sedang menstruasi beliau sedang cuti jadi digantikan oleh dr. Voon yang adalah isterinya sendiri). Dia cerita kalau dr. Voon sering mengaku sebagai his girlfriend instead of his wife, LOLs. Actually, I had really a good time with dr. Voon, my first female Obgyn. She was really nice and gentle.

Saya akan menjalani proses embryo transfer sendirian karena suami sedang ada pekerjaan di kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Adik saya yang di Bandung masih belum mendapat jadwal antrian passport padahal sudah dari beberapa bulan lalu dia coba daftar (blame it to current online registration system!), dan adik ipar saya juga sudah menghabiskan cukup banyak cuti di awal bulan ini saat kami menemani mama mertua operasi di Penang juga. Entah kenapa, insting saya merasa saya lebih nyaman untuk melalui ini sendiri. I need to cherish every minute of the process alone *my introvert side spoke*

I wore my comfy new bought dark blue dress and strolled excitedly (and nervously) from new building to the clinic. Then, I met Ms. Lim,

Embryo-nya tidak bertahan setelah di thawing

Itu adalah kabar yang saya terima di jam 10 pagi. Saya mencoba tersenyum ke Ms. Lim yang berusaha menyemangati saya. Dua embryo berikutnya (our last embryo) sedang dicairkan dan hasilnya baru akan dikabari di jam 2 siang.

Saya menahan untuk tidak langsung menginformasikannya ke suami, keluarga dan teman di Jakarta karena saya tidak siap dengan segala bentuk emotional responses apapun saat itu. Saya bimbang antara pilihan balik ke hotel atau duduk menenangkan diri di antara pasien lainnya di ruang tunggu. I chose the later option.

Kebetulan, ada Fitri (room-mate saya di apartemen sebelumnya) yang sedang menunggu hasil OPU sebelum kembali ke Jakarta sorenya. Lucunya, kami menjalani OPU di hari yang sama di bulan Maret lalu, tetapi suami saya yang ngobrol dengan suami Fitri di ruang tunggu operasi. Selain itu, juga ada teman baru yang kebetulan namanya Fitri juga. Jadi kami ngobrol bertiga. Setelah berpisah, saya bertemu dengan cici Francy (isteri Edward Suhadi) juga, jadilah ngobrol dan berbagi pengalaman. Terakhir, saya bertemu Anggi, room-mate saya waktu di ruang rawat inap setelah operasi beberapa bulan lalu. Unfortunately, satu pun saya tidak ingat untuk ngajak foto bareng *teteup ya*

Sejujurnya, walaupun saya ngobrol sana-sini seperti biasa, tetapi di dalam hati seperti ada bolongan yang rasanya ngilu sekali. Embryologist pernah menginformasikan kalau ada kemungkinan embryo yang di-thawing turun atau naik grade, tetapi seingat saya tidak dengan kemungkinan embryo-nya tidak bertahan. I guess I was too shock about the news and too numb to cry. Saya pasrah dan merelakan kesempatan pertama kami hilang dan berharap yang terbaik untuk dua embryo berikutnya. I just need to wait couple hours more that felt so long…

Saya masuk ke ruangan klinik untuk dokter melakukan pemeriksaan terakhir saat jam menunjukkan hampir pukul 2 siang. Situasinya, dokter Devindran tidak banyak berbicara, sementara saya duduk dengan cemas menunggu karena embryologist belum memberi kabar juga. Ms. Lim mondar-mandir di belakang saya sambil menelepon, she spoke in Chinese, intentionally I guessed. Saat dia pindah ke sebelah dokter Devindran dan tersenyum barulah saya bisa bernafas lega. Embryo-nya bertahan. That’s the only news I need to hear.

Akhirnya, kami sampai juga di tahap embryo transfer. Prosesnya sendiri cuma sekitar 15 menit (kebetulan ada jam di ruang operasi jadi saya sempat mengecek waktunya), proses menuju tahap ini aja yang lamanya lumayan ya. Saat prosesnya selesai, Ms. Elaine yang menjemput saya kembali ke klinik untuk diberikan suntikan pregnyl di lengan. Ruangan klinik sudah sepi, tetapi saya masih bertemu Anggi dan suaminya.

Yang lucu adalah saat saya menjelaskan ke Ms. Elaine kalau saya akan jalan kaki pulang ke hotel (letaknya persis di seberang gedung baru rumah sakit, memang jalannya cukup jauh dari gedung lama tetapi kalau pelan-pelan harusnya tidak apa-apa), dia insisted untuk saya naik taksi saja. Sampai akhirnya, Ms. Lim yang mendengar pembicaraan kami menawarkan untuk mengantar saya pulang, sekalian dia juga sudah selesai jam kerjanya. See! I once told dr. Voon  that these nurses are really like a true sisters for me. I truly mean it.

Back to hotel, safe and sound, and so tired. So, here we’re now on our r(n)esting days! Be good and grow healthily there, our twinny embryos!

Part 8: IVF ~ Get Used to The Word ‘Surprise!’

Somehow, I did really look forward to start the IVF program (bring it on, needles!). Setelah tiga bulan terakhir telah melewati fase laparoscopic surgery, olahraga yang intens (3-4x yoga + 5-6x jogging per minggu), dan makanan organik yang lumayan menguras dompet, I was so damn ready, I thought.

Kenyataannya, banyak sekali surprise dan drama lanjutan yang terjadi. Setelah drama pesawat yang kembali ke Jakarta di cerita ini, ternyata ada drama lainnya yang terjadi di bandara.

Di kunjungan ketiga ke Penang, kami tiba lebih awal di bandara Soetta untuk penerbangan jam 12:40pm. Karena paginya baru makan buah untuk sarapan (baru!), kami memutuskan untuk brunch di salah satu restoran setelah mencetak boarding pass. Setelah brunch, suami memilih untuk pergi ke boarding lounge lebih dulu karena sekalian ingin ke toilet, kebetulan toilet di dekat tempat kami makan penuh. Karena masih kekenyangan, saya memutuskan untuk menyusul.

Jam 11 kurang, saya menuju ke antrian imigrasi. Untung sepi jadi tidak menunggu lama. Tetapi, ternyata boarding pass saya tertukar dengan punya suami. Petugas tidak mengijinkan saya lewat sesuai SOP. Jadi saya mencoba menelopon suami dengan asumsi dia belum masuk, karena pasti ditahan petugas juga. Eh, ternyata suami sudah di boarding lounge (lah lewat mana tadi pak suami). Alamak!

Jadilah, saya balik lagi ke mesin cetak boarding pass yang ternyata tidak bisa mencetak boarding pass yang sama 2x (note: jarak imigrasi ke lokasi mesin check in di T3 Soetta lumayan ujung ke ujung). Petugas menyarankan saya untuk ke counter check in drop bagasi. Udahlah gelisah kuatir ketinggalan pesawat, antriannya bergerak lama karena yang bawa bagasi banyak banget koper-kopernya, eh akhirnya sampai giliran saya petugasnya bilang tidak bisa di cetak lagi karena kuatir boarding pass saya disalahgunakan. Mau ngamuk enggak sih? *rapal mantra keep calm ask for solution*

Setelah didiskusikan dengan rekan/atasannya, akhirnya si petugas mencetak boarding pass atas nama saya dengan titipan pesan boarding pass satu lagi nanti segera dirobek agar tidak membingungkan petugas. Lalu, larilah saya kembali ke pos imigrasi. Untunglah antrian imigrasi cukup cepat sehingga saya tidak terlambat tiba di boarding lounge. Engap juga sih lari-larian sambil panik hahaha.

Di kunjungan kali ini, program IVF dimulai dengan menyuntik di bagian perut setiap hari di jam yang sama. Saat Ms. Lim (we call them sister or nurse) menanyakan siapa yang akan menyuntik, saya mengajukan diri dengan semangat. Sedikit cerita tentang sister Lim, dengan perawakannya yang mungil, dia yang paling sering mondar-mandir menemani dan sumber informasi untuk pasien IVF, dari cara menyuntik diri sendiri sampai menemani ke ruang operasi (terakhir Ms. Elaine, the newest addition of the nurse team, gantian melakukan peran ini).

Awalnya memang agak cemas dengan proses meracik obatnya, takut ada tahapan atau takaran yang salah. Tapi ya, sebagai seseorang yang punya kecenderungan perfeksionis, saya lebih cemas kalau orang lain yang melakukannya terus salah hahaha. Pas disuntik, cuma sebentar kok ada rasa ‘sakit’nya (seperti ada cairan yang mengalir di sekitar perut dengan sensasi menggigit). Katanya lebih sakit buat orang yang perutnya rata atau tidak berlemak (thanks to my fat belly!).

Saya berangkat bersama suami di hari Jumat, tes darah dan bertemu dokter hari Sabtu, kemudian hari Minggu kembali ke Indonesia dengan bekal 1 tas berisi obat dan jarum suntik. Menurut informasi sister, tidak perlu bawa surat keterangan dokter untuk isi tas tersebut karena rumah sakit sudah bekerjasama dengan pihak penerbangan (note: kalau ada rencana penerbangan lain yang tidak terkait ke Penang, sebaiknya tetap minta surat keterangan).

Hari ke-7 suntikan, saya kembali ke Penang sendirian, siap dengan berbagai amunisi stay jangka panjang. Booking apartemen sebelah rumah sakit untuk 2 minggu, bawa beras merah dan alpukat segala (niat banget deh!). Sampai di Penang, saya bahkan sampai belanja groceries untuk persiapan masak sesudah ET.

Surprise! adalah kata yang sangat akrab di telinga para pejuang IVF. Datang dalam berbagai bentuk dan situasi.

Hari ke-8 suntikan, saat pemeriksaan dokter menemukan kalau ada gumpalan (endometriosis) kembali di rahim saya sehingga tahapan ET tidak bisa dilakukan setelah sel telur diambil (ovum pick up – OPU. Selain itu, sel telur saya masih kurang cukup besar jadi diresepkan tambahan suntikan 2 hari lagi, puji syukur jumlahnya cukup banyak.

Mata saja jelas sudah ngembeng saat dokter menjelaskan situasi tersebut. I felt disappointed and lonely (lah iyalah kan suami tidak ikut menemani konsultasi hehe). Dokter Devindran mengingatkan untuk sabar dan chance-nya yang masih cukup besar untuk pasien seumur saya.

Sehari setelahnya, saya mulai terkena flu dan sakit di tenggorokan. Mungkin karena cuaca yang memang panas dan gerimis dadakan bergantian dan juga karena sempat merasa down sebelumnya. Flu, sakit tenggorokan dan 9 putih telur setiap hari bukan kombinasi yang menyenangkan. Berbagai cara olahan putih telur dan campurannya saya coba tetapi tetap rasanya tidak enak. It was one of my emotional break downs.

Di masa seperti ini, dukungan suami, keluarga, dan teman-teman dekat dari Jakarta sangat membantu. Their thoughtful kind words were the treasures I hold during such times. Selain itu, saya mengingatkan diri untuk fokus pada tujuan. Beberapa hari lagi saya akan menjalani OPU, dan saya butuh kondisi fisik dan mental yang paling optimal. Jadi walau badan rasanya kemeng dan lidah berasa kebas, saya berusaha untuk tetap olahraga rutin dan makan yang sehat.

Tibalah hari OPU…

Setelah mengurus administrasi, saya dan suami yang tiba sehari sebelumnya diminta menunggu di ruang rawat inap. Sambil menunggu jam masuk ruang operasi, saya minta suami pergi makan dulu. Ternyata dia lama perginya, sampai sister yang bertugas membawa dari ruang rawat inap ke ruang operasi datang, suami belum balik juga. Ditelponin tidak diangkat, pas diangkat ternyata katanya lagi makan di Komtar (jaraknya sekitar 2KM dari rumah sakit) *why oh why can you eat at hospital canteen instead (katanya enggak selera sama makanan kantin). Sungguh memang punya suami yang tengil macam ini butuh kesabaran tingkat dewa. Jadilah, saya dibawa ke ruang operasi tanpa sempat pamitan sama suami. Untungnya pas banget di pintu masuk ruang operasi masih papasan sama suami dengan muka panik dan bersalahnya hahaha. Duh, naga-naganya anaknya pun nanti kelakuannya tengil juga nih kayak bapaknya *sigh*

Nah, drama berikutnya terjadi di ruang operasi.

Kalau baca blog orang lain, mantranya dokter Devindran sih sama, pasiennya disuruh relaks, tutup mata, dan senyum. He warned me though that I might hear them talking to each other and that’s normal. I did as instructed. Matter of fact, I was doing well, until…

I had this initiative to have a good conversation with the nurse who stood/sitted near my head. I felt/thought she patted my head, and that was so thoughtful and comforting. So, out of the blue, I asked her nicely how long the procedure would take time. She responded saying I didn’t need to worry about that, just back to my sleep. For her, I might just another ‘ngigo’ patient, but I do really appreciate how she comforted me.

Seingat saya, belum ada yang cerita kalau kita bisa merasakan sakit saat OPU *hiks* (mungkin memang kecil kemungkinannya). Jadi, setelah merasa seperti ‘tertidur’ saya merasakan sakit sekali. The pain recalled my memory of the time I woke up from curette surgery few years back, it had the similar pain-effect. So, I screamed couple times. I heard people said something that I couldn’t recall.

Dua kejadian ini terjadi dalam kondisi saya ‘tertidur’ (I don’t have any visual memory of the events) dan saya tidak ingat urutannya yang mana duluan.

Sel telur yang berhasil diambil sebanyak 27 (kalau punya riwayat PCO biasanya memang banyak katanya), yang berhasil jadi embrio sebanyak 11, kemudian yang disimpan: 2 grade 5 dengan pembuahan alami, dan 1 grade 5 dan 1 grade 3 dengan pembuahan buatan (ICSI). Note: grade level-nya dari 1 sampai 5, yang paling bagus grade 5.

Walau belum bisa menjalani embryo transfer, tapi bersyukur karena kita punya 4 embryo dengan grade yang bagus. Ini seperti punya sesuatu yang menunggu kita kembali ke Penang.

So, excited for our next trip back to Penang!

The White Eggs Affair

Saya bukan tipe picky eater dalam hal makanan, jadi pada saat harus makan putih telur setiap hari dengan sekian jumlah, I thought I would be okay. Tiga hari pertama sih masih oke ya, setelah itu, mencium baunya saja aku sulit hehe.

Anyway, sebetulnya tidak ada pantangan tertentu apa yang tidak boleh cara masak/makannya, jadi berkreasilah sekreatif mungkin. Beberapa yang sudah saya lakukan:

 

My favorit (I found it after OPU, which I still need to eat white eggs till period came)

Telur ayam kampung direbus selama 9-10 menit (pakai timer, jangan pakai hati ngitungnya), setelahnya masukkan ke air dingin, setelah panasnya mulai tinggal hangat-hangat kuku, seperti pelukan suami di pagi hari #eaaa, kupas/belah dua, langsung dimakan.

Sebagian kecil putih dan kuning telurnya masih ada yang bentuknya creamy padat gitu (me laff) dan lebih enak dimakan pas hangat.

Apakah wajib telur ayam kampung? Enggak sih. Tetapi, menurut saya bau telur ayam kampung yang paling minimal dan bisa ditoleransi oleh hidung saya. P.S.: dan ukurannya lebih kecil hahaha

 

My 2nd favorit

Masak putih telurnya bersama kuah kaldu (apa pun yang sehat). Kuahnya jangan banyak ya, semangkuk kecil cukup. Caranya: panaskan kuah sampai mendidih, masukkan putih telur mentah (yang sudah dipisah dari kuning telur), aduk cepat sampai matang. Voila, jadi sup putih telur! Silakan kalau mau ditambah dengan toping lainnya.

Ini saya lakukan waktu tinggal di apartemen selama di Penang, kalau kita beli noodle soup, biasanya kuah-nya dipisah. Jadi kuah-nya ini yang saya pakai.

 

Other option (pake topping atau side dish yang disukai)

  • Dimasak dengan cara di-scramble (pake minyak/butter sedikit, panaskan, masukkan putih telur, aduk sampai matang) atau omelet (pake minyak/butter sedikit, panaskan, masukkan telur, gulung-gulung ke tengah atau ke salah satu sisi sampai semua telur matang)
  • Dimasak jadi telur mata sapi (tips: kalau suka atau pernah lihat telur mata sapi di warung makan yang bulatnya bagus dengan pinggiran yang crunchy kecokelatan, and you like them, cara masaknya gampang kok. Cuma perlu wajan masak yang cekung dan minyak yang agak banyak. Caranya: Panaskan minyak, pecahkan telur di mangkuk biar gampang pas dimasukkan ke wajan. Setelah minyak panas, masukkan telur perlahan. Biasanya telur akan naik sendiri ke permukaan, tinggal dibalik. Tunggu matang, baru angkat. Note: kadang untuk telur pertama suka lengket di wajan)

Nah, untuk topping/side dishnya yang pernah saya coba: tumisan sayuran (jamur, brokoli,toge, pok coy, asparagus, dll), buah-buahan (jeruk, blueberry, alpukat, dll), pernah juga pake grilled fish (salmon, snapper) tetapi malah jadi eneg *ngana pikir protein tambah protein jadi apa hahaha

Untuk menambah rasa bisa pake bumbu garam dan lada putih bubuk. Hindari menggunakan mayoneise dan sambal botolan. Well, lebih karena ada kemungkinan mengandung zat pengawet atau lainnya yang katanya tidak baik untuk tubuh.

Enjoy this phase (shall pass too) dan tetap semangat yaa!

 

P.S.: Beberapa foto-foto hasil masakannya (yang keingat buat difoto) ada di IG: @rumahkopi 🙂