Aceh, Kopi Sanger sampai Kota Santai Banget

Hello,

Jalan-jalan kali ini sebetulnya dalam rangka perjalanan dinas resmi (pergi dan pulangnya beneran ada sejumlah dokumen yang perlu diberesin) yang kerjaannya berhubungan dengan event Sail Sabang 2017. Kami pergi berlima, cuma 2 orang yang pernah ke Aceh sebelumnya, yang itupun sudah sekian tahun sebelumnya.

Saya termasuk dalam kelompok belum pernah ke Aceh walaupun lahir dan besar di provinsi sebelahnya, Sumatera Utara. Perjalanannya cuma 3 hari 2 malam, tapi selain mengunjungi Banda Aceh, kami juga menyeberang ke Sabang.

Karena cukup sibuk dengan kegiatan lain juga, bisa dibilang persiapan saya minim sekali untuk perjalanan kali ini. Sama sekali enggak baca review ngapain aja yang seru kalau bepergian ke Aceh, bawa baju pun seadanya koleksi baju gombrong dan pashmina dengan jumlah yang ngepas. Akibatnya, saya melewatkan sesi snorkling yang kata teman-teman bagus banget *cry*

Kalau kerjaan enggak perlu dibahas lah ya, jadi bagian seru-serunya aja.

Kopi Sanger Aceh

Saya bukan peminum kopi. Paling banter minum caramel macchiato di Starbucks. Cupulah intinya. Nah, penasaran kan minum kopi khas Aceh, jadilah saya ikut memesan Kopi Sanger panas (bisa pake es juga). Jadi gini, itu kopi rasanya pahit manis terus diakhiri kayak letupan alkohol sebagai penutupnya. Sedap banget kan! 

Walau kopinya dalam gelas kecil, saya akhirnya hanya minum setengahnya. Ngeri-ngeri sedap habis minum enggak bisa tidur hehe. Seriusan, kopinya wajib banget buat dicoba.

Fokus sama Mie Aceh & Kopi Sanger


Penginapan Banda Aceh (The Pade Hotel) & Sabang (Casanemo Resort)

Pemilihan hotel berdasarkan rekomendasi dari teman-teman baru kami yang tinggal di Aceh. Ekspektasinya yang penting aman, bersih, dan enggak aneh-aneh. Toh, paling cuma numpang tidur aja di hotel. Ternyata oh ternyata, tempat menginapnya kece-kece banget.

Yang saya suka dari The Pade, desain bangunannya ala Moroko gitu. Kamarnya luas dan bisa connecting door. Pas banget buat ngobrol2 sampai ketiduran.

Ternyata, Casanemo resort lebih cihuy lagi. Tempat tidurnya pakai kelambu putih dan pintu kamar mandinya dari kaca transparan #uhuy, langsung kepikiran buat honeymoon lagi hehe.

Paling juaranya, untuk kamar di area bawah langsung memghadap pantai, yang OMG bagus banget! Berasa kayak punya pantai pribadi.

Casanemo – berasa punya pantai pribadi

Front area The Pade Hotel

Bukit barisan view dari hotel lobby



Transportasi (pesawat dan kapal) 

Agenda kita dari kedatangan sampai Kepulangan cukup padat jadi sepakat untuk penerbangan dengan Garuda Airlines. Semua jadwalnya on time! Jadi runtutan agenda kegiatan masih bisa dikejar satu demi satu. Kejadian lucu pas diingat tapi gak banget pas kejadian, kami sebetulnya sudah tiba di T3 Soekarno-Hatta sekitar jam 9-10 pagi, penerbangan jam 12. Boarding pass udah di tangan, jadi kami ngobrol2 di salah satu kafe dekat counter check in. Kami baru jalan ke gerbang keberangkatan jam 11:30, semua berasumsi gate-nya dekat. Ternyata oh ternyata, Gate 24 itu paling ujung, mungkin jaraknya lebih dari 1KM dari eskalator turun. Jadilah 5 orang ini dengan ransel masing-masing lari ngepot. Capeeekkkkk.

Dari Banda Aceh ke Sabang, kami memutuskan untuk naik kapal cepat (45 menit). Fyi: kapal lambat (2 jam). Ini juga cukup bikin deg-degkan karena ada yang bilang jadwal kapalnya jam 10 pagi, jadi kita jalan jam 9 dari hotel masih santai. Ternyata Grab driver kita telpon temannya dan bilang kapal berangkat jam 9:30 pagi. Jadilah in a rush a.k.a ngepot sesi ke-2 kejadian lagi. Untunglah ternyata kapalnya beneran jam 10. Jadi masih sempat jajan snack dulu di pelabuhan (teteup!). Btw, di kapal bisa karaokean dengan koleksi lagu jaman Papa Mama hahaha.

Nah, udah 2 kali kan ya mengalami kengepotan (apa sih ini bahasanya hahaha), masih belum kapok pas pulangnya. Jadwal pesawat jam 12, jam 10 masih nyari oleh-oleh di pasar terus makan mie jala *mamak setress*. Untunglah jarak ke bandara dan proses check in cepat jadi enggak sampai kejadian ngepot part #3

Makan, makan, dan makan

Macam rombongan sapi lah ini berlima, makan terus kerjaannya. Tepatnya, saya yang mimpin agenda makan. Lapar bawaannya cranky shay hahaha.

Kita beruntung dapat teman lokal yang juga tahu tempat makan-makanan enak. Dari mie aceh yang juara banget bumbu dan pedasnya, sate gurita, mie sedap dan mie jala (yang menurut saya mirip sama bakmi di Medan), pizza di Kafe hotel yang proses pembuatannya di depan mata, sampai ikan bakar yang nunggunya sejam lebih tapi enaknya sampai bersih tinggal tulang (dan murah bangetlah).



Keramahan dan kebaikan

Aceh memang terkenal sebagai daerah yang menjalankan prinsip-prinsip agama Islam. Wajar menurut saya kalau kita kuatir salah bertindak dan konsekuensinya. Jadi, sebaiknya memang menyiapkan pakaian yang proper dan memperhatikan budaya setempat.

Di Banda Aceh, semua perempuan yang kami temui memakai jilbab. Kami pun mengenakan tutup kepala. Tetap dilihatin sama beberapa orang, karena tetap saja cara berpakaian kami berbeda. Tapi ini tidak sampai membuat kami merasa terganggu.

Hal lainnya, di jam magrib (sekitar jam 7 malam), semua aktivitas terhenti. Kami menyadarinya karena sedang bertemu salah satu vendor di tempat makan. Jadi, semua toko ditutup. Kita gpp tetap di dalam, lanjut ngobrol dan makan. Nanti jam 8 malam dibuka lagi.

Nah, kalau di Sabang, ada tambahan jam istirahat siang, jam 12 sampai jam 2. Siesta ala orang Sabang (kurang tahu apakah hal yang sama juga berlaku di Banda Aceh). Salah satu teman sampai bilang Sabang itu singkatan dari Santai Banget hehe.

Orang-orang yang kita temui juga ramah-ramah. Bahkan ada yang rela kita pinjam printernya karena lagi buru-buru mengejar tanda tangan Pemda setempat.
Overall, perjalanan kali ini menyenangkan dan ingin balik lagi suatu hari nanti. Semoga!

Advertisements

#birthdaynote 33

Pagi saya diawali dengan ucapan selamat dari suami. Kami berdua masih setengah ngantuk dalam formasi selimut, bantal, dan guling yang acak kadut. Saya minta kado yang tentunya suami langsung mengingatkan setiap belanjaan yang saya klaim adalah hadiah ulang tahun dari bulan-bulan sebelumnya hahaha.

Saya berusaha mengingat kenapa hari ulang tahun terasa spesial. Semakin umur bertambah, semakin sedikit atensi yang saya inginkan di hari ini. Walaupun hari ini saya inginkan sebiasa mungkin, tapi tadi pagi muncul niat mulia untuk menulis ke diri sendiri setiap saya ulang tahun, dimulai dari tahun ini. Semakin kesini kok ya semakin jarang menulis. Apa yang ingin ditulis lebih banyak berakhir dipikirin di pikiran berulang kali, seolah-olah perlu dipoles yang kece baru oke buat dipublish. Padahal, saya sendiri sebetulnya lebih suka membaca tulisan yang sekenanya tanpa harus memikirkan struktur awal sampai akhir. Ibarat kata, dibandingkan makan di kafe yang lagi heits, saya lebih merindukan makan di warung tenda malam-malam setelah terima transferan dari orang tua di masa kuliah dulu. It was a good moment to remember. It really was.

Dengan pembukaan yang sudah panjang lebar, mudah-mudahan niatannya terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Aminnnn.

 

Welcome 33!

Angka cantik ya hehe. Well, yang pasti hari ini saya merasa patah hati (lagi). Setelah telat 8 hari, udah lah GR dapat hadiah ultah dari yang di Atas terkabul doa hampir 4 tahun terakhir, pagi ini dimulai dengan babak berdarah alias datang bulan. Is life still good? Tentunya ada babak saya marah terus nangis terus marah lagi terus ketiduran. Kalau enggak begitu, drama kehidupan kan kurang berwarna ya hehe. Tetapi, kalau udah tua (ampun deh berasa tua banget hahaha) enggak cuma fisik yang cepet capek, emosi juga cepet capek kalau kelamaan marah. Dan banyak hal yang mengingatkan saya untuk segera baikan lagi sama yang di Atas. Kedalaman hati Tuhan tidak terukur hati manusia jadi kenapa mengukur hidup dengan pemikiran sendiri. Bisa dibilang, ini tahun yang saya belajar makna berserah. Ya tentunya bukan yang “terserah lo aja deh” gitu ya. Kalau kata teman saya, sikap hati kita seperti apa saat melewati ujian hidup. Tentunya ya berdarah-darah shay! Disanggup-sanggupin lah buat punya sikap hati yang benar.

Walau sudah nyicil beli kado (udah dipake juga sih), hari ini saya menghadiahi diri sendiri kado: 2 es krim. Soalnya cuaca lagi panas bokk, enak banget deh siang-siang sambil goler-goler di lantai makan es krim *hidup mamak-mamak abis nyuci gorden jendela 1 rumah (note: cuma 2 gorden padahal hehe). Pengalaman bertahun-tahun, walaupun senang dengan ucapan selamat di Facebook dari kerabat dekat sampai teman yang hanya ketemu di dunia maya tapi juga rasanya menguras energy untuk merespon satu demi satu. Kalau tidak direspon, saya yang merasa tidak enak hati. Serba salah ya kan. Minggu lalu saya akhirnya berhasil mengubah settingan hari lahir di Facebook sehingga hanya bisa dilihat oleh saya sendiri *uhuyyy bahagia. Intinya, ternyata semakin tua saya semakin menikmati hidup dengan hal yang kecil. I am a happy introvert person.

Saya merasa di titik sudah dan belum dewasa. Dengan tingkat kepedean sedengkul, ada hal-hal yang saya rasa bisa saya sikapi dengan dewasa, tapi pemikiran saya juga semakin pintar mengkritisi dirinya sendiri. Apa yang sudah saya tahu belum tentu sudah tahu sepenuhnya, termasuk kedewasaan. Saya jenuh melihat postingan di social media (khususnya instagram) yang sudah di “crafting”, sejenuh postingan hoax yang tidak jelas sumber beritanya. Saya tidak menikmati berada dalam kelompok yang membicarakan skin deep topic, tapi ya kan enggak mungkin juga cuma temenan sama yang ngobrol serius aja kan. So, I guess my 3rd lesson is to find the balance in every aspect of life.

So, that’s it! I am happy with the content of this post. Till next year 🙂

 

birthday from google

google says happy birthday!

Day 4 & 5: Tokyo, an Affair with Unexpected Things

Dari awal bikin itinerary, sejujurnya saya tidak terlalu tertarik untuk pergi ke Tokyo. Hanya saja, rasanya sayang kalau sudah sampai Jepang tapi belum berkunjung ke ibukota-nya. Jadi, 2 hari terakhir kami habiskan di Tokyo dengan pertimbangan akan jadi hari berbelanja *big grin hehe


Dari Kyoto kami naik Shinkansen jam 6.14am, tiba di Tokyo jam 8.30am. Dari stasiun Tokyo, kami masih akan naik kereta ke Shinjuku, kemudian ganti kereta lagi yang mengarah ke Yoyogi Hachiman yang merupakan stasiun terdekat dengan penginapan. Tips: tiket Shinkansen-nya masih bisa digunakan untuk dari Stasiun Tokyo ke stasiun Shinjuku. Hal yang sama juga berlaku dengan tiket Narita Express (Narita Airport – Yokohama) masih berlaku digunakan saat ganti kereta di stasiun Yokohama ke stasiun Sakuragi-cho.

Karena ini adalah last minute reservation, saya sudah pasrah sih dapat tempat menginapnya seperti apa. Di website airbnb cuma ada 1 foto, yaitu kamar (tempat tidur dengan drawer merah di sampingnya). Saya cuma mempertimbangkan, harganya murah (sekitar 500rb/malam dan dekat stasiun).

Kami janjian jam 9.30am dengan host airbnb untuk drop barang baru rencananya akan jalan-jalan. Host kali ini adalah keluarga muda, dengan bayi, anjing jenis corgy, dan kelinci. Rame ya hihi. Nah, karena mereka tinggal di apartemen, saya udah pasrah kalau perlu angkat koper ke lantai berapa (udah gak kepikiran buat lihat detailsnya pas bikin reservasi). Di Jepang normal untuk apartemen 5 lantai tidak pake lift. Puji syukur mereka tinggal di lantai 1 *sujud syukur hahaha.

Kamarnya homey banget, ada welcoming snack dan air mineral 2 botol, flat TV yang lumayan besar, dan colokan serba guna *tepuk tangan berasa kayak di hotel*. Letak kamar kita di dekat pintu masuk dan berdekatan dengan bath room / toilet, jadi selain privasi juga enggak repot kalau butuh bolak-balik ke toilet dan pergi/masuk rumah. Host yang menyambut kita adalah isteri dan anak perempuannya (suaminya lagi kerja). Dia sampai jemput kita di stasiun karena kuatir kita nyasar haha (padahal dua host sebelumnya cukup memberi petunjuk arah). Selain ramah, dia juga senang cerita dengan bahasa inggris yang cukup lancar dicampur bahasa Jepang. Terkadang dia ngobrol dengan suami saya pakai bahasa Jepang, dan mereka lupa menterjemahkannya. Zzzzz. Rencananya kita mau drop koper saja karena jam check in jam 3 sore tapi malah sekalian istirahat sebentar di kamar untuk bikin ulang itinerary.


 

1st stop: Harajuku & Meiji Shrine

Letak penginapan kita itu dekat dengan Harajuku ternyata. Yeay! Host-nya bilang masih walking distance tapi karena kita udah jompo banget kakinya, kita memilih untuk naik subway metro (sekalian beli 1 day pass. Bisa dipake selama 24 jam, bukan hitungan per-hari/tanggal). Jaraknya pun cuma 1 stasiun.

Kita niat banget hari ini mau makan ramen. Kepengen nyobain Ippudo yang heits juga di Indonesia. Ternyata dari google maps, Ippudo terdekat di daerah Ebisu padahal kita terlanjur keluar stasiun di Harajuku *salah lihat info pas googling sebelumnya. Karena udah lapar dan cranky, akhirnya kita memilih ramen terdekat yang masih daerah Harajuku, yaitu Ichiran. Ulalaa… pilihan yang tidak terduga ini ternyata bikin kita menyesal banget. Rasanya semua ramen yang pernah kita makan lewat deh saking enaknya. Untuk pertama kalinya, saya dan suami makan ramen sampai kuahnya pun habis. Ichiran hanya menyajikan 1 jenis ramen, yang nantinya bisa kita pilih tambahan topping, jenis mie (lurus, keriting) & tingkat kelembutannya, dan side dish lainnya (pudding, etc). Dan mereka jual ramen yang bisa dimasak sendiri di rumah. Wuwuu… tentunya kita beli hahaha.


Setelah makan siang, kita baru jalan-jalan lagi ke area pertokoan. Baru masuk beberapa toko, saya sudah cranky lagi hahaha. Determinasi saya untuk jalan kaki jauh dengan jari kaki lecet, lutut mau copot, betis pegel ternyata hanya berlaku di wisata alam, budaya, dan kuliner. Masuk area belanja rasanya pengen cepat-cepat keluar lagi. Padahal suami senang banget keluar masuk toko. Seingat saya, kami hanya bertahan masuk 2 toko (ABC dan H&M). Melihat saya udah misuh-misuh tidak sabaran, suami mengalah dan mengajak untuk pergi ke Meiji Shrine (masih satu area dengan Harajuku). Beneran semangat 45 jalan lagi padahal jarak dari gerbang depan sampai ke dalam lumayan jauh.


Untuk melihat shrine-nya tidak perlu bayar, tapi kalau mau merasakan pengalaman para kaisar Jepang menghabiskan waktu berwisata di taman bunga (bunganya berganti sesuai musim pula), melihat danau dengan water lily, dan salah satu sumur bersejarah, ada area tur-nya yang berbayar ¥500 / orang. Menurut petugas, waktu yang dibutuhkan jalan kaki sekitar 20-30 menit. Kita memutuskan tidak ikut akhirnya. Entah kenapa, ini mengingatkan akan Kebun Raya Bogor.

 

2nd stop: Asakusa – shopping

Suami niat banget untuk agenda itinerary ini (tadinya mau ke Ginza dan Akihabara juga). Kali ini giliran saya yang mengalah, ngekorin suami belanja hahaha. Dari Harajuku, kami naik kereta metro subway menuju Asakusa. Nah, keluar dari stasiun, tepatnya masih di dalam area stasiun, kita sudah disambut berbagai toko. Mental ibu-ibu langsung sumringah lihat aneka hasil tani berjajar segar-segar dan besar. Keluar stasiun terhampar lah pemandangan yang membahagiakan suami. Jajaran toko-toko dan ada 1 jalan khusus untuk tempat berbagai penjual makanan (seperti china town). Dan itu rameee banget.

Pencarian pertama kami ke toko Magazine (btw, tokonya sama sekali tidak menjual majalah hehe) yang merupakan supplier resmi tas Anello (ada yang titip beliin tas merk ini). Ternyata saya juga suka dengan model tas ranselnya, resleting-nya dikasih tambahan rangka dalam jadi bentuknya firm saat di kancing.  Ini menjadi barang pertama yang saya beli sebagai oleh-oleh untuk diri sendiri. Dan, nantinya berguna banget untuk tempat oleh-oleh karena 2 koper kita + 1 tas jinjing besar ternyata tidak muat dengan berbagai macam pesanan dan oleh-oleh yang dibeli hahaha.

Pas lagi cari sepatu (titipan lagi), kita menemukan sepatu ASIC untuk laki-laki warna cokelat diskon 50%. Wuwuuw… suami senang banget karena pas dengan ukuran kakinya. Sepatu titipan malah enggak ketemu dicari sampai bandara *sigh. Setelahnya karena hujan cukup deras, kita mampir di restoran yang menunya seperti yoshinoya. Ada porsi mini jadi lumayan bisa berteduh sekalian menghangatkan badan dan perut enggak terlalu merasa bersalah hehe.

Setelah hujan tinggal gerimis, kita lanjut belanja ke Don-Q untuk beli oleh-oleh makanan dan lainnya. Ini semacam supermarket++, 5 lantai dengan berbagai macam barang ada (makanan, elektronik, sampai hal-hal untuk 18+). Nah, kalau belanjaan lebih dari ¥5.000, bisa klaim untuk tax free. Kita masuk dari sinar matahari masih ada, keluar udah gelap hahaha. Habis belanja lapar lagi dong ya hahaha. Sekalian mengarah ke subway, kita ketemu restoran yang menyajikan curry. TIPS: untuk porsi standar ternyata nasinya banyak banget + chicken katsu-nya juga dalam potongan besar. Saya setengahnya saja enggak habis. Nah, sebetulnya ada pamphlet di meja yang menjelaskan kalau nasinya bisa dikurangi, lumayan bisa menghemat dan biar tidak mubazir.


 

Last day in Japan

3rd stop: Shinjuku Shrine

Hari terakhir di Tokyo, kita sesantai mungkin. Bangun pagi, saya dan suami gantian mandi sekalian packing. Setelah beres tinggal diangkut baru kita pergi cari sarapan di convenience store. Btw, ternyata host kita bangun lebih siang. Kita pergi sarapan mereka belum ada tanda-tanda beraktivitas.

Di dekat penginapan, ada kuil yang usianya 8000 tahun (sayangnya saya lupa namanya). Jadi kita sekalian mampir dan lihat, penduduk lokal pagi-pagi berdoa di kuil. It was truly a peaceful morning. Yang menariknya lagi, saat mau berdoa, mereka akan minum air dari sumur, kemudian memutari gerbang bundar yang terbuat dari entah daun atau tanaman apa sebanyak 3x. Suasananya damai dan tenang banget. Tidak ada yang mengobrol. Semua orang melakukan kegiatannya dalam diam. Yang datang berdoa juga macam-macam, dari pekerja kantoran sampai yang masih pake baju lari.


Kembali ke penginapan, host kita sudah sibuk di area ruang tengah. Kita akhirnya berkenalan dengan suaminya. Suaminya bekerja untuk perusahaan otomotif Jerman dan sangat fluent berbahasa inggris. Setelah pamitan dengan host, kita memutuskan naik bus ke Shibuya. Jarak jalan kakinya lebih dekat ke halte bus daripada ke halte subway, selain itu kita juga tidak perlu naik/turun tangga. Sampai di Shibuya, koper kita simpan di loker, baru lanjut lagi jalan-jalan.

 

4th Stop: Shibuya ramble and Hachiko Statue

Agenda kali ini dipersembahkan oleh kegiatan mainstream para turis ke Tokyo yaitu bikin postingan di Shibuya ramble dan lihat patung Hachiko. Karena masih pagi, area pertokoannya banyak yang belum buka dan orang-orang yang jalan di Shibuya ramble juga tidak terlalu ramai. Pas lihat patung Hachiko, saya sebetulnya lumayan sedih karena mengingatkan saya dengan Kenji, anjing kami di rumah.

Sebelum menuju Ebisu untuk makan siang di Ippudo, kami beli tumbler starbuck. Pokoknya, jalan-jalan ala turis mainstream lah.

5th Stop: Ippudo, Ebisu

Daerah Ebisu sedikit lebih ramai daripada Shinjuku, ada mal kecil tapi cantik dan modern. Ini buat pertimbangan kalau next time memutuskan memilih area penginapan. Di stasiunnya juga banyak toko-toko dan tempat duduk kayu dengan tanaman bunga. Jadi areanya memang cantik. Letak Ramen Ippudo-nya masih walking distance dari stasiun. Kami sampai stasiun Ebisu sekitar jam 10, jadi saya sempat melihat isi mal-nya sementara suami menunggu di kursi stasiun ditemani bunga hehe.

Sepertinya, Ippudo ini banyak dikunjungi oleh turis atau non-Japanese, karena di depan restoran pun sudah ada nama Ippudo dalam huruf alfabet dan menunya pun sudah tersedia yang bahasa inggris. Yang bikin happy, di meja sudah tersedia toge (yang sudah dibumbui seperti kimci), jahe merah, dan satu lagi entah apa hehe. Jadi bisa puas-puasin tuh makan toge hahaha. Dari segi rasa, menurut saya lebih enak ramen Ichiran. Ramen disini rasanya mirip dengan ramen di Indonesia.

 

6th stop: Narita Terminal 2 Airport

Karena ini hari sabtu, host kami menyarankan untuk naik kereta ke airport. Kalau naik bus, takutnya lebih macet. Dari Ebisu kami kembali ke Shibuya untuk ambil koper. Tadinya saya pikir kami perlu ke Tokyo untuk naik kereta ke Narita karena Narita Express tidak berhenti di semua stasiun. Ternyata, Narita Express berhenti di Stasiun Shibuya, yeay! Kami kecepatan tiba di peron keberangkatan sekitar 30 menit. Ya maklum karena bawa tentengan banyak dan jarak dari pintu depan ke peron lumayan jauh, kami sengaja berangkat lebih awal.

Untuk kereta Narita Express, di tiketnya tercantum jam keberangkatan dan nomer tempat duduk (sistemnya hanya reserved seat). Sebelum jam keberangkatan kereta kita, ada kereta lainnya dan berhenti cukup lama (lebih dari 2 menit), jadi suami sempat nanya petugas/masinis kereta apakah boleh kita naik kereta tersebut walaupun tidak sesuai tiket kita. Ternyata boleh, yeay. Mungkin karena yang naik kereta tidak terlalu ramai. Jadinya kita duduk di kursi paling belakang (tidak sesuai no tempat duduk) dan berharap tidak ada yang memesan kursi tersebut, biar kita tidak repot pindah. TIPS: koper bisa ditaruh di area koper (cukup luas, dan 2 tingkat) di dekat pintu. Kalau koper kecil bisa ditaruh di depan kaki kita karena area untuk kaki lumayan luas.


Sampai di airport, setelah check in, tentunya suami heboh buat keliling lagi. Saya sampai ditinggal duduk sendirian (2x) untuk dia jalan-jalan sendiri. Buat yang tidak sempat belanja, jangan kuatir hehe. Di bandara masih banyak toko yang menjual berbagai makanan oleh-oleh, parfum, elektronik, sepatu, dll.

Pas ditinggal sendiri yang kedua kali inilah terjadi insiden hampir ketinggalan pesawat. Saya sudah ingetin suami kalau boarding time jam 5.50pm. Dia dengan pede-nya bilang masih lama. Padahal udah jam 5. Yaudah saya biarin dia pergi keliling lagi. Eh, ternyata sampai jam 5.45pm orangnya belum balik, saya panik dong. Padahal jarak antara meeting point kami ke gerbang boarding masih lumayan jauh. Ditelepon beberapa kali juga enggak diangkat. Saya lumayan panik dan kesal bukan main.

Akhirnya saya memutuskan untuk jalan duluan ke gerbang keberangkatan dengan membawa ransel saya yang berat + ransel suami yang berat juga. Makin kesal kan hahaha. Sambil jalan, saya bolak balik lihat ke belakang. Suami akhirnya muncul dari belakang jam 5.50pm. Saya memutuskan untuk menyimpan sesi ngomel belakangan karena kami berdua harus segera lari ke gerbang keberangkatan. Ugh, enggak cuma betis yang berasa ketarik, syaraf di betis sampai kepala pun berasa ketarik. Puji syukur, boarding time-nya delay sampai jam 6pm. Mau nangis rasanya lihat antrian di gate keberangkatan masih rame.

Saat duduk di pesawat, saya masih bisa mengingat semua rasa cape selama 6 hari perjalanan liburan kami. Fisik dan mental sejujurnya capek banget. Tapi, di dalam hati rasanya semangat banget untuk mengulang liburan lagi ke Jepang (amin!). Kalau dipikir lagi, perjalanan ke Jepang kali ini seperti survey untuk perencanaan liburan yang lebih matang berikutnya *amiiinnn lagi. Setidaknya, sudah 4 kota yang mulai dikenal ya kan hehe. Mudah-mudahan diberi umur panjang dan rejeki untuk kembali lagi. Aminnnn.

Day 3: Kyoto, in between of traditional and modern #JapanTrip

Akhirnya bertemu pak suami hari ini. Yeay! (baru berapa jam ketemu udah berantem lagi sih, uhuk). Hari ini ada 3 titik point utama yang ingin kita kunjungi: Fushimi Inari, Gion, dan Arashiyama. Saya sudah pesan via online untuk paket Yukata-couple di Yumeyakata, Gion, sebelum berangkat ke Jepang. Sayangnya jadwal pagi sudah penuh, jadi kami ambil yang jam 14:30 siang. Kata atasan suami, ke Fushimi Inari baiknya pagi karena makin siang makin rame.
Nah, perkiraan kita akan mulai jalan jam 8 pagi, hanya saja suami ternyata baru sampai Kyoto sekitar jam 9 pagi. Untungnya, sambil menunggu suami, saya sempat menghubungi host Airbnb kami untuk menanyakan apakah bisa nge-drop luggages pagi, dan cepat dapat balasan. Lumayan menghemat uang sewa loker. Dan ternyata, tempat menginapnya dekat banget sama stasiun Kyoto. Jadi letaknya strategis banget untuk kemana-mana.


Kami memutuskan untuk beli buss one day pass karena mau menghindari naik turun tangga hahaha. Di beberapa lokasi tetap pindah naik kereta sih tapi lumayan lah mengurangi beban kaki.
1st stop: Fushimi Inari

Kalau niat dan punya tenaga ekstra, disini kita bisa menghabiskan waktu setidaknya setengah hari karena dari pintu masuk sampai ujung (katanya sampai bisa lihat gunung di puncak tangganya) itu luas banget.

Cuma kita memutuskan untuk lebih menikmati suasana di area dasarnya saja. Sempat gantian foto sama orang Indonesia, akhirnya punya foto berdua yang full body. Terus, suami minta dibikinin insta-story dia lari-lari seperti Chio di film Memoirs of Geisha (yang menurut saya jadi lucu banget hahaha), dan ditutup dengan beli jus jeruk yang diblender di dalam jeruknya, Mie goreng porsi super besar untuk berdua saja kenyang abis, dan takoyaki lagi karena suami belum makan takoyaki. Masing-masing harganya ¥500. Sepertinya untuk memudahkan para penjual dan pembeli. Mereka hanya menerima pecahan ¥500 paling kecil untuk transaksi pembelian. Btw, pas kita makan Mie goreng, sempat terjadi kejadian lucu. Si penjual menawarkan Mie gorengnya ke orang-orang yang lewat, tentunya dalam bahasa Jepang, dengan mengatakan (kurang lebih terjemahannya) “ayo yang gendut beli Mie goreng biar tambah gendut” hahaha. Btw, tidak ada tempat duduk disediakan jadi kita berdiri sambil makan atau duduk di pinggiran seadanya apa yang bisa diduduki. Kata suami (lagi), tidak sopan kalau makan sambil jalan.

2nd stop: Gion – mencoba pakaian tradisional Jepang

Memakai kimono merupakan cita-cita saya sejak kenal komik Jepang hehe. Nah, karena udah masuk musim panas, suami menyarankan pakai Yukata saja. Kimono lebih berat dan akan lebih gerah dipake. Untungnya saya setuju karena dengan Yukata saja udah lumayan tebal terutama di dibagian perut/dada karena berlapis-lapis.

Nah, prosesnya terbagi di 5 lantai (kasir/pendaftaran sampai tempat hair do/make up). Saya hanya memilih baju+hair do (tanpa make up) saja baru selesai sekitar jam 4. Prosesnya kurang lebih 1.5 jam. Tadinya kita mau mampir ke Gold temple karena searah sama Arashiyama tapi karena bajunya paling lambat dibalikin jam 19:30 (bisa besok dibalikin tapi extra charge ¥1.000/baju) jadi kita langsung ke Arashiyama naik kereta. Suami lumayan kerepotan dengan sandal bakiaknya dan bunyi lumayan kencang saat beradu dengan jalan/trotoar jadi lebih lambat jalannya hihi.

3rd stop: Arashiyama dan %Arabica

Menurut saya, kesini juga baiknya pagi atau sore hari karena areanya lumayan luas dan menyenangkan untuk jalan kaki santai. Buat yang mau nyobain naik ricksaw juga banyak disini. Abang-abangnya berotot dengan short pants, kalau beruntung dapat yang ganteng dijamin makin salah fokus hahaha.

Lokasinya berdekatan dengan coffee shop (beneran cuma jual kopi & biji kopi) yang terkenal di review, sampai antri panjang katanya. Menurut saya yang bukan coffee addict, kopinya biasa aja sebetulnya. Apalagi di Indonesia kita bisa dengan mudahnya pesan kopi Tuku di go-food atau ngopi cantik di SRSLY atau kopi Bersahaja di Roti Eneng (intinya banyak pilihan lah). Bahkan untuk duduk di dalam kafe-nya pun bayar (kalau gak salah ¥1000/30 menit). Nah, yang menarik justru di depan coffee shop nya ada sungai yang lebar dengan latar belakang bukit berpohon hijau gitu. Dan kita bisa duduk sambil bengong di tepi sungai.

Baliknya kita naik bus. Ini perlu banget untuk cek jadwal bus sebelumnya karena datangnya per-20 menit sekali. Jarak dari %arabica sebetulnya dekat ke halte bus, tapi karena kita jalan santai dan gak cek jadwal jadinya kita telat 1 menit aja sampai halte bus huhu. Sebagai isteri sekaligus manager keuangan tentunya lumayan panik karena takut telat balikin Yukatanya. Lumayan ¥2.000 bisa buat beli tumbler Starbuck #eh. Busnya sampai halte Kyoto tapi karena letak Gion sebelum halte Kyoto, kita perlu pindah bus 1x. Untunglah jalanan tidak macet jadi kita sampai di Gion sekitar jam 19:15.

Selesai ganti baju, udah lapar banget dong. Beda berapa bangunan dari Yumeyakata ada tempat makan (yang tidak ke-detect namanya di gmaps). Pertama kalinya saya nyobain beli makan dengan order di mesin, dibantu suami tentunya karena tidak ada bahasa inggrisnya. Happy hehe. Dan pertama kalinya saya makan ikan makarel yang bukan kalengan. Gede dan enak banget. Double happiness.

Sebelum balik ke penginapan kita beli tiket Shinkansen dulu sekalian mengecek jalur ke tempat naiknya. Stasiun Kyoto luas banget dan kejadian kita lupa simpan koper di loker area mana (ada 1 koper yang kita tinggal di stasiun biar gak berat dibawa jalan ke penginapan).


Balik ke penginapan, uwuuuww senang banget karena kamarnya luas dengan model tatami. Eh, ternyata kamar mandinya juga gede pisan. Macam horang kayah banget lah. Tapi saya hampir gak bisa tidur, takut telat bangun dan pas udah tidur mimpi buruk pula. Eh, suami juga mimpi buruk pake acara manggil-manggil nama saya lagi. Kebangun berapa kali sepanjang malam jadinya berasa banget kurang tidurnya pas pagi hari.

Nah, kita akhirnya keluar penginapan jam 5:30 (btw, jam 5 aja udah terang banget). Saya lagi-lagi takut telat dong ya karena masih perlu ambil koper di loker. Jadilah mamak satu ini lari di jalanan Kyoto ninggalin suami bawa koper satu lagi. Untunglah ku pernah lari pagi/sore dan yoga. Kita sampai di jalur Shinkansen jam 6 lewat dikit. Fiuh. Oh, episode lari ini ternyata berulang lagi di bandara. Till next story 😀

Day 2: Hello Osaka! #JapanTrip

Waktu memutuskan untuk pergi ke Osaka, di kepala kebayang Takoyaki dan Okonomiyaki, mureh deh kalo sama makanan hehe. Karena jarak antara Tokyo/Yokohama ke Osaka/Kyoto agak jauh jadi memang perlu diniatkan. Tidak cuma materi (dana) tapi juga tenaga.
Saya lumayan kecapean seharian jalan-jalan di Yokohama sebelumnya, nah demi nyobain Willer Bus (penyedia jasa over night bus) dan penghematan budget, sudah capek ternyata saya kesulitan untuk tidur nyenyak di bus. Tidur sih tetap tidur tapi kurang berasa recharging tenaga. Karena masih akan lanjut 2 kota lagi setelah Osaka, jadi di sini hanya beberapa daerah yang saya kunjungi.
Willer Bus

Untuk perjalanan Yokohama ke Osaka (bisa juga ke Kyoto), pick up locationnya di YCAT (Yokohama City Air Terminal). Masih terhubung dengan Stasiun Kereta Yokohama (dan juga terminal bus), jadi tinggal ikuti petunjuk arah YCAT. Seperti biasa, tentu saja saya kesasar kesana kemari. Jadi saya biasanya menunjukkan tulisan “Willer Bus” di HP saat bertanya ke petugas. Tidak semuanya bisa berbahasa Inggris tapi dengan bahasa isyarat cukup mengerti.

Nah, rute bus nya tidak cuma 1 jadi ada beberapa bus yang datang sebelum bus saya. Jadi, setelah menginfokan ke petugas Willer Busnya, bisa menunggu di Starbuck (lokasinya bersebelahan). Oia, Starbucknya hanya buka sampai jam 11 malam. Jadi bisa manfaatin waktu untuk nge-charge Gadget sambil ngopi atau ngemil.

Untuk pemesanan Willer Bus bisa via online. Seingat saya bisa juga langsung go show tapi ya availability seat-nya tidak dijamin. Busnya juga bisa milih yang khusus perempuan atau umum. Kalaupun umum, yang perempuan akan diatur untuk duduk sebelahan sama perempuan. Dari Yokohama, yang naik cuma 2 orang. Dan bus-nya ternyata memang udah penuh juga padahal sekarang termasuk low season.

Note: untuk pemesanan via online kita akan diminta untuk memasukkan No Telepon & email. Nah, No teleponnya cuma maksimal 11 karakter padahal No Indonesia pada umumnya lebih dari 11. Jadi No depan saya tidak masukkan. Karena kalau lebih, website nya tidak bisa processing. Info/konfirmasi dikirim ke email jadi masih aman.
1st Stop: Osaka Castle

Di Osaka saya janjian sama sepupu (yang entah sudah berapa tahun tidak bertemu) untuk menemani jalan-jalan dan sekalian menginap di rumahnya hehe.

Sebetulnya, perhentian busnya di area Umeda Building. Tapi karena masih pagi kita belum bisa naik untuk lihat city panorama view. Jadi, kita putuskan untuk langsung ke Osaka Castle.


Buat yang senang sejarah dan museum, seru buat mengikuti cerita dalam bentuk visual. Teringat beberapa cuplikan cerita novel Jepang yang pernah saya baca. Tapi kalau tidak suka ya foto-foto sambil keliling di tamannya juga cukup, karena lumayan gempor naik-turun tangga.

Menurut saya, sebaiknya kalau mau kesini pagi karena tempatnya luas aja. Masih untung bulan Juni walau sudah panas tapi masih ada sisaan angin dingin jadi masih bearable untuk jalan. Selain itu, kalau mau masuk ke dalam bisa naik lift langsung ke lantai 5 tapi biasanya antriannya panjang. Jadi yang masih muda naik tangga sajalah ya *elus2 betis talas bogor. Jangan lupa menikmati City view dari lantai paling atas!


2nd stop: Dotonbori & Shinsaibashi 

Yang paling ditunggu-tunggu! Makan Takoyaki hehe. Siangnya kita sempat makan yakiniku yang all you can eat. Eh liat Takoyaki lapar lagi mwahahaha. Takoyakinya enak banget. Kata sepupuku memang tepungnya khusus. Jadi dia bikin sendiri di rumah pun dengan tepung itu, rasanya sama. Makanya rasa takoyaki di Indonesia beda ya.


Buat yang senang belanja, ini surga banget sih. Tapi karena malas repot nenteng belanjaan pindah-pindah kota, jadi disini cuma window shopping aja.

Sebelum balik ke rumah, kita duduk-duduk sore #halah di Stasiun Osaka. Tempatnya gede pisan dan modern banget.


Oia, menutup hari kita sempat belanja buah di supermarket. Senang banget deh buah yang biasanya mahal di Indonesia bisa murah banget disini. Makan malamnya akhirnya cuma Momo (peach) dan buah ceri. *happy

Day 1: Getting Lost #JapanTrip

Kami tiba di bandara Narita sesuai jadwal 4.25pm. Tau kan inang satu ini gemar bikin rencana into details. Jadi saya perkirakan dengan ambil bagasi + beli mini wifi/sim card, jam 6pm kami sudah keluar bandara. Saya naik kereta, suami bareng timnya naik mobil yang jemput atasannya suami. Eh, ternyata dari rombongan kami ber-4, 3 lolos dengan mulus di imigrasi, suami saya malah ditahan oleh immigration inspector. Ternyata memang kejadian juga dengan teman kantor suami yang ke Jepang bulan lalu. Dan itu makan waktu 1.5 jam. Duh, sebelumnya saya sudah mulai kesal karena pas melewati x-ray checking di Soetta, jam tangan suami ketinggalan di tray. ITU JAM TANGAN HADIAH ULTAH. YAUDAHLAH CUKUP NGILANGIN DOMPET MEREK YANG SAMA DENGAN JAMNYA JUGAK *mbaknya gak sante ngitung biaya kerugian hahaha. Btw, setelah sampai hotel ternyata jamnya nyelip di tas #sujudsyukur

Petugas Imigrasinya pun sampai keluar nanya2 saya pake bahasa Jepang. Untunglah salah satu teman kantor suami bisa bahasa Jepang dengan lancar. Jadi dia yang menjawab pertanyaan si petugas. Nah, 2 hari sebelum berangkat, salah satu tim volunteer saya cerita kalau dia ditanyain petugas imigrasi juga rincian itinerary  selama di Jepang (tempat menginap, transportasi untuk kesana, dst). Jadi, saya makin kekeuh untuk itinerary lengkap buat pegangan. Dan bener aja si petugas imigrasi nanya detail alamat saya menginap. Ya dengan bahasa tarzan saya jelasin dari print-an itinerary. Petugasnya minta untuk di fotokopi, kemudian barulah suami keluar dari ruang pemeriksaan.

Selesai urusan2 di bandara, saya baru naik kereta Narita Express jam 7:15 menuju Yokohama. Harusnya tiba jam 8 jadi molor sampai jam 9 kurang. Untunglah tempat menginapnya dekat stasiun. Jadi begitu sampai penginapan bisa langsung mandi dan tidur. #hayatilelah

Kebangun sekitar jam 6 pagi dan hujan deras sodara-sodara. Jadi saya tidur lagi sampai sekitar jam 7. Bangun pun karena ada beberapa email & WA yang urgent untuk direspon. Jadi jam 9an baru jalan. Koper ditinggal di penginapan.

1st stop – Yokohama Landmark Tower (Sky Garden, 69 floor)

Jadi, untuk naik ke Sky Garden ini kita perlu membayar ¥1.000. Dengan lift khusus, dari lantai dasar ke lantai 69 hanya sekitar 40 detik. Terus kita bisa menikmati city view dari 4 jendela kaca-nya deh. Menurut saya, ini worth it banget apalagi dengan waktu liburan yang terbatas setidaknya bisa puas melihat kota dari atas ya kan.
Nah, pas turun ternyata tidak ke lantai dasar tapi ke lantai 5 plaza. Di Indonesia aja, saya sering nyasar di mal. Lah ini keluar lift kanan-kiri kafe & toko. Jadi, saya mencoba mencari jalan keluar ke arah Yokohama Museum Art. Beneran nyasar bolak-balik enggak jelas. Btw, ini murni kesalahan saya yang memang bermasalah dalam mengartikan petunjuk jalan dan direction. Petunjuk jalannya banyak kok.


2nd stop: Yokohama Art Museum

Saya bukan orang yang menggemari seni & lukisan. Jadi, waktu memutuskan kesini selain karena sekalian satu area, mau tahu seperti apa art culture di sini. Hasil karya seni adalah representasi dari budaya pemikiran dan sejarah yang dialami oleh si pelakunya.

Biaya masuk untuk galeri umum saja ¥500. Biasanya ada pameran, nah yang ini saya skip karena biayanya jadi ¥1.500 *mending buat makan yak haha. Oia, untuk foreign visitor kita diminta untuk isi survey di information desk, cuma pertanyaan umum kok, terus di kasih post card *happy. Setelah puas keliling Museum, mampir ke cafe & souvenir shop nya.


3rd stop: Yokohama World Porters 

Tadi pagi saya cuma sarapan sandwich roti+telur. Setengah pagi, setengah buat siang. Porsinya memang besar dan telurnya dibuat dalam 4 cara. Enak. Nah, seharian jalan di tengah gerimis, perut enggak terlalu lapar, tapi kaki gempor gilak. Untunglah, saya udah pernah latihan jalan kaki. Bayangkan, 23.600 lebih total jumlah langkah kaki saya hari ini 😅

Saya memutuskan untuk mampir kesini karena kaki pegal banget. Tempatnya sebelahan sama Cosmos Ferish Wheel, jadi setelah hujan-hujanan buat foto, lumayan banget bisa duduk2 disini sekalian ke toilet. Eh, senang deh bolak balik ke toilet. Apalagi baru kena hujan hohoho.

Nah, World Porters ini sebetulnya mal juga. Luasnya sekitar sebesar Citos. Jadi setelah keliling sebentar, saya memutuskan untuk nyobain yokohama egg tart-nya. Kalau Hokkaido egg tart yang saya cobain di Kokas kan baru banget tuh keluar dari oven, jadi krim kejunya meleleh. Nah ini, ya egg tart dingin. Tetep enak kok, crunchy & cheesy. Saya cuma beli 1 (¥200) dan cukup banget buat cemilan sore.


4th stop: Red Brick Warehouse 

Ini tempat favorite sayah! Bangunan 3 lantai dengan warna merah bata yang khas. Di lantai 3 ada seafood restaurants, lantai 2 berbagai barang lucu khas daerah wisata. Nah di lantai 1 rata2 coffee shop yang area luarnya dari kaca jadi bisa sekalian buat bengong2 liatin port, perahu, atau apalah hahaha.

Kebayang sih, seru banget kalau perginya bareng pasangan. Di area taman di sebelahnya juga romantis banget buat duduk-duduk. Nah, karena saya pergi sendirian & gerimis. Yaudahlah disini cuma numpang foto dan bikin IG story aja.



5th stop: Yamashita Park

Ini terkenal untuk orang lokal berakifitas. Papasan dengan yang lari sore, bawa anjing jalan2, atau sekedar duduk di taman sambil ngemil. Bunga-bunganya juga cantik dan banyak variasinya.
6th stop: China Town

Jadi ada 3 orang native Jepang yang merekomendasikan kita untuk kesini. Karena baru “ngemil” seharian belum kena makanan berat, rasanya bahagiaaa banget liat jajaran toko makanan. Akhirnya, tetap memilih yang paling sepi sih. Jiwa introvertku butuh ketenangan untuk beristirahat.
Tapi, menurutku ini enggak wajib didatangi sih. Lah, makanannya kayak kita lagi ke daerah Kota kok hahaha. Harga makanan beratnya sekitar ¥750-¥2.000 (menu umum yang dipajang di depan toko).
Nah, ke-6 lokasi ini jaraknya berdekatan. Dari yang sebelahan, nyeberang jalan, sampai beda jarak kurang dari 1KM. Saya bolak-balik nyasar karena arahan google map beberapa kali kebalik 😅 Jadi, 6 tempat ini saya kelilingi dengan berjalan kaki dari jam 9.30am – 6pm.


Balik ke penginapan untuk ambil koper baru menuju ke YCAT (Yokohama City Air Terminal) untuk naik Willer Bus menuju Osaka.

Till next story…

Day 0: Hello Japan!

Karena saya: pelupa + perfeksionis =  banyak ide tulisan yang tidak ditulis akhirnya, jadi kali ini seada-adanya cerita aja.

Sebetulnya rencana ke Jepang tidak masuk agenda tahun ini. Mendadak suami terima agenda perjalanan dinas 3 hari di minggu terakhir Mei lalu, dan dia berinisiatif untuk mengajak saya dengan #kode bisa jadi 3 tahun kedepan kami tidak akan pergi jalan-jalan. Entah kenapa saya percaya #kode nya 😅 Jadilah saya panik siapin semua, dari perpanjang passport (iyaa baru perpanjang tgl 29 Mei), suami beli tiket padahal belum apply visa, dan sempat drama permohonan visa dibalikin karena kurang dokumen. (Note: Saya apply visa via kantor suami jadi ada dokumen tambahan yang ternyata diperlukan), dan itinerary baru kelar hari minggu siang. Alam semesta membantu bookingan airbnb sesuai yang diinginkan, lokasi (dan budget) padahal last minute booking. Proses persiapannya diantara kehebohan saya menyiapkan acara TEDxJakarta jadi adalah beberapa malam (atau bermalam-malam ya tepatnya) yang kurang tidur sampai mimpi buruk.

Puji syukur, semua beres dan berangkatlah kami tanggal 12 Juni 2017, direct flight CGK-NRT, jam 6:45am. (Hint: ya tidur terus di pesawat, kecuali pas makan hehe).

Nah, karena waktunya mepet ada 2 hal yang akhirnya saya tidak lakukan: pesan JR pass dan pocket wifi. Ternyata butuh sekitar 3 hari untuk prosesnya jadi keburu saya sudah di Jepang pas waktu mau pesan. Untuk transportasi akhirnya saya pakai hyperdia.com untuk referensi (dan beli tiketnya langsung di stasiun). Selain itu juga pesan tiket willer bus untuk midnight trip dari Yokohama ke Osaka. Ini bisa online, bayar pake kartu kredit. Nah, di bandara sebetulnya banyak yang sewain pocket wifi tapi lumayan lebih mahal dibandingkan kita pesan sebelumnya. Rata-rata ¥1,290 per-hari. Untungnya, ada 1 paket data nyempil yaitu pake simcard Jepang dengan unlimited data untuk internet (seingat saya tidak bisa dipakai untuk telepon/sms). Harganya cuma ¥4.000 untuk 7 hari pemakaian. Yeay!

Oia, karena kita mau foto-foto pakai kimono/yukata di Gion, Kyoto, ini saya booking juga sebelum berangkat. Ada diskon jika pemesanan via online dan paket untuk pasangan. Pesannya di Yumeyakata.

Lastly, beberapa info trip di bulan Juni:

– Juni termasuk low season. Masih ketemu turis sih tapi tidak banyak

– Awal Juni curah hujan masih tinggi. Hari pertama saya ditemani hujan deras & gerimis. Nah, buat anak tropis seperti saya ini lumayan dingin. Pakai sweater pun masih dingin 😅.

Cerita berikutnya dari turun pesawat yaa 🙂